Webinar Homeschooling #9: Manajemen Keseharian

Sebelumnya, maafkan yaaaa… ini postingannya terlambat, huhuhu. Kami sekeluarga kemarin sedang travelling, jadi terlalu sibuk bersenang-senang hahahaha! Dengerin webinar-nya aja pas lagi jalan, hihihi. Tapi, lebih baik terlambat lah ya, daripada tidak sama sekali *alesan*

 

Pembahasan terakhir dalam rangkaian webinar tentang homeschooling dari Rumah Inspirasi adalah soal “Manajemen Keseharian”. Utamanya yang dibahahas adalah soal manajemen keluarga dan manajeman waktu, plus mengulang sedikit soal manajemen materi belajar dan manajemen proses belajar. Sebab, tidak seperti sekolah yang sudah punya sistem belajar dan alokasi waktu yang tetap, homeschooling yang punya fleksibilitas tinggi bisa menyebabkan chaos jika kita tidak bisa mengelolanya dengan baik.

 

Intinya (dan juga tantangannya!) dalam manajemen keseharian ini adalah mencari pola yang sesuai dengan keluarga kita. Pola ini tentunya berbeda bagi tiap keluarga, jadi tidak bisa sekedar meniru apa yang dilakukan orang lain. Ngomongnya sih gampang ya, hahahaha! Kenyataannya? Ya mungkin kita emang mesti pakai model coba-coba, lalu dievaluasi. Dari satu sisi terdengar melelahkan banget yah, tapi di sisi lain, proses coba-coba ini sesungguhnya adalah proses menemukan diri sendiri: keluarga kita tuh sebenernya senengnya apa sih? Proses ini membuat keluarga menjadi satu tim, sebuah kesatuan. Dan ini berharga banget.

 

Dalam Manajemen Keluarga, yang dibicarakan adalah peran masing-masing anggota keluarga. Apa peran Bapak, peran ibu, dan peran anak sebagai bagian dari tim yang saling mengisi dan menuju ke arah yang sama. Hal yang penting dalam manajemen keluarga adalah:

 

Nyaman bersama anak & keluarga. Kenyamanan seluruh anggota keluarga adalah hal penting yang harus diperhatikan dalam manajemen keluarga. Nyaman disini bukan berarti semua serba gampang dan mudah. Nyaman berarti kita semua menikmati prosesnya. Kalau dalam bahasa Mas Aar, center of gravity atau pusat hati kita adanya di rumah, sebab dalam homeschooling, segalanya berpusat di rumah.

 

Sepakati pembagian peran ibu-bapak. Setiap keluarga punya model hubungan sendiri antara suami istri. Ada yang bapak-ibu benar-benar bekerja sama masing-masing 50%-50%. Atau, bisa jadi bapaknya kerja full-time dan hanya menyediakan resource, jadi ibu yang lebih banyak berperan. Yang manapun boleh, sesuaikan saja dengan kondisi keluarga. Tapi yang harus ditekankan adalah, apapun modelnya, kedua orang tua harus tetap update dengan perkembangan anak.

 

Mengatur pola aktivitas keluarga. Ini lebih kepada teknis pelaksanaan. Misalnya, secara umum dalam soal pendidikan, bapak lebih fokus mengajarkan bidang A dan ibu bertanggungjawab pada bidang B. Atau dalam soal pembagian tugas rumah tangga, bapak mengerjakan apa, ibu mengerjakan apa dan anak-anak diberi tugas apa.

 

Sepakati apa yang penting & apa yang dapat ditolerir. Idealnya, hidup ini berjalan teratur sesuai yang kita rencanakan. Tapi yaaaaa, namanyapun hidup ya. Umumnya sih perlu kompromi. Jadi, daripada terus-terusan capek karena mengejar kesempurnaan, ada baiknya seluruh keluarga menyepakati apa yang penting, dan apa yang dapat di tolerir. Misalnya: idealnya sih rumah selalu bersih rapi dan anak-anak makan tepat waktu. Tapi, kalau memang kenyataannya tidak bisa begitu, ya sepakati saja: yang penting adalah makan tepat waktu. Rumah berantakan ya masih bisa di tolerir lah. Dengan demikian, mindset kita bisa disesuaikan: Kalau pagi, yang penting adalah memasak dulu. Membereskan rumah paling hanya sekenanya. Membersihkan dengan seksama mungkin bisa dua atau tiga hari sekali.

9 berantakanYang penting, anak bisa senang belajar, plus bisa sosialisasi sama anak-anak tetangga juga. Kalo sudip dan pompa bertebaran, ember pun bisa nyampe taman, ya sudah lah ya, nggak usah setres-setres amat 😀

 

Membuat rutinitas dapat membatu membentuk pola. Bahkan jika menggunakan metode unschooling yang serba tidak teratur, sekalipun, adanya rutinitas itu penting untuk membangun pola. Misalnya saja, pola tidur atau pola makan. Walau sederhana, tapi pola ini bisa membantu anak membuat ekspektasi.

 

Rutinitas ini cukup erat kaitannya dengan manajemen waktu. Ngomongin soal manajemen waktu ini emang, yaaaa… gitu deh. Hahahah! Kadang-kadang, orang tua dengan anak yang sekolah aja masih bisa keteteran ngurusin ini itu. Gimana lagi dengan orang tua yang anaknya homeschooling yaaaaa! Seperti yang aku tuliskan di awal tadi, memang perlu banyak coba-coba. Apalagi, kegiatan keluarga kan nggak stagnan. Semakin anak bertumbuh, semakin banyak aktifitasnya, sehingga, kalaupun sudah bikin jadwal yang cocok, kemungkinan untuk berubah lagi itu sangatlah mungkin.

 

Empat belas tahun ber-homeschool-ria, pasangan Mas Aar dan Mbak Lala juga terus-terusan berproses soal manajemen waktu. Namun, dari hasil trial and error selama itu, mereka jadi punya beberapa strategi dalam manajemen waktunya. Bolehlah, dijadikan “contekan” buat coba-coba sampe ketemu pola buat diri sendiri, hehehehe…

 

Manajemen waktu ala Rumah Inspirasi:

Strategi 1: Jadwal => Rencanakan – Tulis – Pasang – Evaluasi

Strategi 2: Menyederhanakan Target => Cukup 3 hal penting saja dalam sehari – Fleksibel – Pokoknya jalan terus

Strategi 3: Slot Waktu => Sarapan adalah waktunya ‘bel pagi’ – Makan siang adalah waktunya cek kegiatan – Makan malam adalah waktu evaluasi harian.

 

Tiga strategi ini dipakai bolak-balik. Kalau sedang dalam kondisi “prima”, ya pakai Strategi 1. Semua direncanakan dengan baik, lalu ditulis entah itu di whiteboard, di buku diary/planner, di apps handphone, di tempel di dinding, (atau bahkan gabungan semuanya, biar inget, hahaha!) lalu dievaluasi dengan teratur. Terkadang, dalam beberapa bulan semuanya berjalan sesuai rencana, sampai tiba-tiba ada masalah. Entah ada yang sakit, atau ada kejadian luar biasa yang tidak bisa diabaikan, digantilah jadi Strategi 2. Jadwal yang sudah ada disederhanakan. Misalnya dalam sehari ada 10 to-do-list yang harus dikerjakan, dalam keadaan “darurat”, pilih 3 saja yang diprioritaskan dan fleksibel dalam hal-hal lain. Pokoknya, walapun tidak sempurna, kita harus jalan terus. Strategi 3 biasanya juga selalu dipakai sehari-hari untuk memudahkan pengecekan. Keluarga Mas Aar dan Mbak Lala membiasakan makan bersama. Sarapan pagi menjadi bel sekaligus menanyakan kegiatan apa yang mau dilakukan pada hari itu. Pada saat makan siang, adalah waktunya istirahat sebentar, untuk kemudian anak-anak melanjutkan kegiatan yang bersifat olahraga. Saat makan malam dipakai untuk ngobrol, evaluasi kegiatan pada hari itu.

 

Mbak Lala juga memberikan tips untuk manajemen waktu. Selain yang diuraikan diatas, seperti membuat rutinitas, membuat rencana di depan, dan berdamai dengan ketidaksempurnan, ini ada beberapa tips yang bagiku sangat bisa dilakukan dalam keseharian:

  • Buat target yang ingin dicapai. Ini fungsinya untuk menyamakan ekspekatasi antara orang tua dan anak. Misalnya dalam minggu ini targetnya apa. Dalam bulan ini targetnya apa.
  • Tentukan skala prioritas dan belajar mengatakan tidak. Banyak kegiatan ‘keren’ yang pengen diikuti (atau bisa jadi di ajak sama orang), tapi waktu kan terbatas. Mendingan pilih yang paling berdampak besar dan fokus pada itu.
  • Buat daftar kegiatan. Misalnya kalau teringat ingin melakukan sesuatu, bisa langsung ditulis dalam daftar. Nanti, jika ada waktu kosong, tapi bingung mau ngapain, bisa liat daftar ini.
  • Kenali waktu terbaikmu. Mana yang paling ‘on’. Pagi? Siang? Malam? Belajar dulu baru main? Atau main dulu baru belajar?
  • Jangan menunda pekerjaan.
  • Atur barang di rumah.

 

Satu hal lain yang juga tak kalah penting dari semua pengaturan ini adalah menjaga agar orang tua (terutama sih ibu-ibu ya) supaya tidak burnout, alias kelelahan tingkat akut. Soalnya, ini sangat mungkin terjadi. Kalau kata Mas Aar, ibu itu matahari keluarga. Kalau ibunya happy, maka keluarganya akan bersinar-sinar ceria. Kalau ibunya kusut, seluruhnya juga ikutan kusut, ehehehe. Makanya, penting banget menjaga mental ibu. Kalau sudah mulai terasa agak-agak capek, mendingan stop dulu rutinitasnya, istirahatlah, cari me-time atau lakukan hal-hal yang disenangi bersama. Selain itu, dalam jangka panjang ada baiknya untuk mendorong anak untuk belajar mandiri dan membiasakan anak mengevaluasi diri sendiri. Kalau anak sudah terbiasa, maka beban orang tua akan banyak berkurang.

 

Isi webinar kali ini kayaknya emang ‘kena’ banget deh ke keluarga kami. Sudah cukup lama kami berusaha bongkar-pasang jadwal, tapi masih belum ketemu juga ritme yang pas. Apalagi, model pekerjaan si Abang yang 7 minggu kerja dan 5 minggu off. Sulit sekali membuat aktivitas rutin. Hal-hal rutin yang sering aku bangun saat si abang bekerja, biasanya langsung bubar saat si abang cuti (soalnya dia kalo udah dirumah bawaannya mau leyeh-leyeh melulu sih!) Apalagi, kami adalah model orang yang sangat spontan. Contoh paling mutakhir: rencananya hanya liburan beberapa hari ke Sukabumi, jadinya malah roadtrip 12 hari menyisir pantai-pantai di Jawa Barat dan Banten. Hyukkkkk!

 

Begitupun, kami berdua berkomitmen untuk berlatih membuat rencana dan membuat jadwal. Kami sepakat mulai menerapkan beberapa tips dari rumah inspirasi. Kemaren barusan beli whiteboard, dong, heheheh! Susah memang, tapi bukan berarti nggak bisa kan? * singsingkan lengan baju*

 

 

Any comment?