Webinar Homeschooling #8: Evaluasi dalam Homeschooling

Nggak terasa webinar homeschooling Rumah Inspirasi udah masuk minggu ke-8 ya. Udah menjelang akhir. Apalagi temanya kemarin adalah soal evaluasi. Makin kerasa deh aura perpisahannya. Huhuhhu…

 

Soal evaluasi ini sesungguhnya buat aku bingung. Kalau di sekolah kan evaluasinya rapor ya? Setelah belajar sekian bulan, lalu anak-anak ikut ujian, kemudian dikeluarkanlah rapor berisi nilai yang sebagian besarnya merupakan skor ujian akhir. Nah, Kalau homeschooling gimana dong evaluasinya? Gimana caranya mengukur sudah sejauh apa anak kita belajar?

 

Menurut Mas Aar, pertama dan yang paling utama, sudut pandang evaluasi menggunakan rapor atau nilai-nilai ini perlu diformat ulang. Meskipun rapor bisa digunakan untuk menilai hasil, tapi ia hanyalah bagian kecil dalam proses pendidikan anak-anak. Dalam homeschooling, evaluasi tidak hanya soal angka, tapi juga bagaimana memberi perhatian soal prosesnya.

 

Setiap evaluasi tentunya mempunyai titik awal pengukuran. Nah, dalam homeschooling titik awalnya tentulah si Visi Pendidikan Keluarga. Visi ini kan kemudian dijabarkan dalam bentuk kurikulum atau rencana kegiatan. Lalu, dalam jangka waktu tertentu, barulah kita bisa mengevaluasi, apakah yang terjadi di lapangan itu sudah sejalan dengan yang dicita-citakan. Proses ini idealnya dan seharusnya dilakukan secara terus menerus. Bisa evaluasi tahunan, bulanan, mingguan, bahkan harian.

 

Hah? Evaluasi harian? Nggak salah nih? Itu yang ada dalam pikiranku pada awalnya. Kalau yang di kepala adalah rapor, tentunya membingungkan ya. Tapi seperti yang dijelaskan sebelumnya, evaluasi bukan melulu soal angka. Dan homeschooling (terutama pada anak usia dini) tentunya menitikberatkan pada pembentukan karakter dan kebiasaan baik. Jadi, kalau misalnya dalam visi pendidikan keluarga dicantumkan bahwa ingin anaknya menjadi manusia yang berakhlak baik, saat anaknya berkata kasar kepada orang lain, orang tua bisa langsung mengingatkan, memberi masukan dan contoh bagaimana bicara yang sopan. Itu juga namanya evaluasi, loh! Dan mengingat toddler macam BabyM itu bisa berbuat macam-macam hal yang “ajaib”, pastinya ada aja tingkahnya tiap hari yang harus dikoreksi. Jadi, masuk akal juga bahwa untuk evaluasi seperti ini, bisa dilakukan tiap hari.

8 tanggaContoh evaluasi harian: Tangga udah ditutup agar tidak dinaiki, tapi anaknya ketahuan naik sendiri, dan tiba-tiba meluncur bak main perosotan. *Jantung ibu mau copot* Langsung deh dinasihati supaya tidak melakukan itu sendirian. “Kalau mau main itu, harus ditemani oleh Ibu atau Bapak, ya!” Lalu menghela nafas panjaaaaaaaaaaang banget T.T

 

Dalam homeschooling, ada dua sudut pandang evaluasi. Yang pertama adalah evaluasi sebagai alat refleksi orang tua. Apakah kegiatan homeschooling ini sudah efektif? Apakah anak senang dan menikmati prosesnya? Cukup variatifkah kegiatannya? Sudah sesuai dengan Visi Pendidikan Keluarga? Sudut pandang ini terus terang baru bagiku. Aku tau sih, bahwa orang tua harus refleksi. Tapi, kalau dipandang sebagai evaluasi proses pendidikan anak, ya baru ngeh saat denger webinar. Ini sangat masuk akal dan menohok. Ibaratnya, kalau anaknya salah, atau kurang baik dalam satu bidang, yang pertama dilakukan adalah refleksi diri dulu. Kali aja kita yang memberi contoh kurang baik atau tidak konsisten dalam keseharian.

 

Yang kedua adalah evaluasi untuk menilai hasil belajar anak. Untuk evaluasi ini, cara dan alat evaluasinya bisa macam-macam. Bisa dengan tanya-jawab informal atau meminta anak melakukan narasi atau menceritakan ulang hal-hal yang baru saja ditemui/dilakukan/ditonton/dibaca. Bisa juga dengan menyuruh anak membuat essay atau presentasi. Bisa dengan mengerjakan soal-soal atau ikut tes. Atau bisa juga membuat portofolio hasil karya anak, Membuat dokumentasi kegiatan dan hasil belajar akan sangat membantu dalam melihat perkembangan skill anak dari waktu ke waktu.

 

Menurut pengalaman keluarga Mas Aar, ada beberapa tipe evaluasi yang selama ini mereka lakukan. Saat anak-anak masih pra-sekolah, fokus utama evaluasi adalah seberapa baik tumbuh-kembangnya, motoric halus-kasarnya, sosialisasinya dan logikanya. Apakah anaknya terlihat menikmati kegiatan. Sesekali, perkembangan itu dicocokkan dengan ceklis tumbuh kembang yang ada.

 

Saat anak-anaknya beranjak besar, ada evaluasi harian dan mingguan yang dilakukan secara informal. Biasanya, saat sarapan anak-anak ditanya rencana mereka hari ini dan saat makan malam mereka me-review kembali kegiatan hari itu. Lalu, ada evaluasi peristiwa, evaluasi yang dilakukan sewaktu-waktu jika anak melakukan tindakan yang kurang terpuji. Jadi setelah kejadian, anak langsung diberi masukan agar tidak melakukan hal demikian dimasa yang akan datang.

 

Selain itu, ada evaluasi karya. Saat berusia 8 tahun, anaknya diberi hadiah blog. Ibarat orang tua memberikan modal sebidang tanah untuk digarap ke anaknya, blog ini juga diserahkan sepenuhnya kepada anak untuk dikelola. Evaluasi berupa ujian juga ada. Bisa berbentuk online atau buku soal.

 

Walaupun aku baru paham seluk beluk evaluasi pada sesi ini, tapi sejak mengikuti webinar Rumah Inspirasi kami (sedikit banyak) ternyata sudah melakukan evaluasi. Selain mencocokkan tumbuh kembang BabyM dengan checklist yang ada, belakangan ini kami juga sering meminta BabyM untuk menceritakan ulang apa-apa yang dilakukan atau dilihatnya.

 

Misalnya, saat pergi piknik ke Kebun Raya Bogor beberapa waktu lalu dengan mengajak mbak-mbak pengasuh anak tetangga, aku bertanya pada BabyM lihat apa disana? Main apa? Dia sudah bisa menjawab “Main sama Mbak,” dan “Lihat Anggrek”. Itu aja udah buat takjub. Karena sering ditanya-tanya, belakangan dia malah berinisiatif untuk cerita sendiri. Seperti saat membaca buku, BabyM sudah bisa menerangkan apa yang dilihatnya. Bahkan dia menunjukkan hal-hal yang aku tidak perhatikan di buku. Terharu tingkat tinggi deh dibuat BabyM.

 

8 krbPergi ke Kebun Raya Bogor dengan para Mbak tetangga. Lihat apa tadi, nak? “Anggrek!” WAH!

 

8 walterBulan ini baca buku Walter The Baker-nya Eric Carle. BabyM sudah bisa cerita, “Susunya tumpah, bu”. Siapa yang tumpahin ya? “Kucing, bu”. Abang Walter sedang apa? “Adon-adon kue”. Aaaww…

 

Sesungguhnya, capaian-capaian kecil itu membuat hati hangat. Hasil “evaluasi” yang membuat segala capeknya jadi ibu rumah tangga jadi lumer. Klise sih, tapi yaaa… emang bener, hihihhi! Duh, ini jadi beneran pengen buat blog khusus untuk dokumentasi perkembangan dan capaian BabyM deh. Buat aja apa ya?

Any comment?