Webinar Homeschooling #7: Internet Untuk Homeschooling

Minggu lalu, kelas webinar Rumah Inspirasi membahas tentang penggunaan internet untuk homeschooling. Walaupun sesungguhnya bebas-bebas aja, tergantung kita mau pakai internet atau tidak, tapi dalam keluarga Mas Aar dan Mbak Lala, internet menjadi elemen yang penting dalam proses homeschooling mereka.

 

Penggunaan internet ini memang ‘ngeri-ngeri sedap’, kalo kata orang Medan. Peluangnya banyak banget. Tapi seperti dua sisi koin, ancamannya juga nggak sedikit. Dengan internet, anak-anak yang tinggal di pelosok desa bisa mengakses informasi yang sama dengan anak-anak yang tinggal di New York atau Tokyo. Ia seperti perpustakaan atau sekolah terbesar di dunia. Tidak hanya bahan bacaan atau referensi, kita juga bisa menemukan guru dan sumber belajar dari segala penjuru dunia. Bumi menjadi tanpa batas dan kita bisa bersosialisasi dengan siapa saja, dimana saja.

 

Tapi, internet membuat kita kebanjiran informasi dan itu bukan hal yang menyenangkan. Memilah informasi, mencari yang benar-benar kredibel, menjadi tugas yang relatif sulit dan butuh tenaga ekstra banyak. Susah sekali untuk focus dengan distraksi macam-macam. Pernah kan, kita niatnya mencari A, tapi udah sejam browsing malah nggak dapet hasil apa-apa karena sibuk klak klik link lain yang menarik? Belum lagi soal kecanduan internet, soal pornografi atau kejahatan internet.

 

Terlepas dari peluang dan tantangannya, nggak bisa dipungkiri bahwa generasi sekarang sudah kenal teknologi sejak lahir. Aku aja udah termasuk generasi millennial, apalagi BabyM, kan? Aku aja udah susah kalo hidup nggak ada internet, apalagi BabyM nanti?

 

Soal internet ini (dan soal screen time secara umum), juga menjadi salah satu perhatianku dan Abang. Saat BabyM lahir, ada semacam kesepakatan tidak tertulis bahwa sebisa mungkin kami menjadi orang tua yang present. Kami membatasi penggunaan smartphone jika sedang bersama. Kami juga jarang sekali menghidupkan TV (ya pada dasarnya emang nggak terlalu suka nonton TV juga sih). Tapi, seiring tumbuh kembang BabyM, ya makin sulit banget untuk menjaga agar BabyM tidak terpapar dengan screen, entah itu smartphone, laptop, atau TV. Sebab, kini BabyM sudah melihat banyak hal, dan ia sudah mulai mengerti.

 

Setelah selama ini tidak pernah memberikan gadget kepada BabyM, sekitar tiga bulan lalu, aku akhirnya “menyerah”. Awalnya, ia meminta diputarkan video “kakak nari”, yaitu pertunjukan tarian di Saung Angklung Mang Udjo yang aku rekam di smartphone. Ia meminta rekaman itu diputar berulang-ulang di laptop. Setelah diulang untuk kesekian ratus kali, ibu ini tentunya sangatlah bosan, hahahaha! Akhirnya, muncul ide untuk mencari video di youtube. BabyM saat itu sangat senang main “pam pam”, alias memukul gendang, atau mukul apapunlah yang bersuara. Aku mencari video dengan keyword ‘best drummer in the world’, dan dari beberapa yang ada, akhirnya pilihan jatuh ke video ini:

Ya baru ngerti kalau Mike Portnoy ini eks drummer Dreamtheatre. Aku nggak ngerti sama sekali soal drum, hihihi!

 

Keren ya? Aku dan BabyM melongo dibuatnya! Dan sejak itu, video “Om pam-pam” ini juga sering diputar. Sejak nonton video ini, BabyM makin eksploratif dalam skill pam-pamnya 😀 Dulu dia hanya menggunakan tangan untuk pukul-pukul. Sekarang, dia akan minta sepasang sumpit, dan bahkan menyusun gendang, beberapa kaleng, atau apapun yang bisa dia temui, untuk dipukul bergantian, biar mirip “Om pam-pam” (artinya Om yang pintar pam-pam alias main drum).

 

Setelah itu, aku semakin membuka diri untuk menggunakan gadget bersama BabyM. Selain drum, BabyM sangat suka masak-masak. Aku jadinya mencari video masak yang atraktif. Yang pertama disukai BabyM adalah video ini, video “Om sreng-sreng” (artinya Om yang pintar sreng-sreng alias masak-masak) 😀

 

Sejak nonton video ini, BabyM suka menirukan gaya masak ini. Dengan menggunakan botol air minum, dia akan pura-pura membuat api. Atau pura-pura menambahkan kecap dan merica. Selain ini, ada beberapa video lain yang dia suka, termasuk salah satu favoritnya ini, video “Oma Tusing” (artinya Oma yang pintar tossing pancake), yang membuatnya pintar memainkan Teflon 😀

 

Begitulah, aku ‘menyerah’ dan memilih untuk menggunakan teknologi dna internet dalam urusan parenting. Tapi, tentunya dengan tetap melakukannya secara sadar dan diawasi. Toh dalam sehari paling hanya setengah jam. Itu juga nggak sekaligus. Dan sejauh ini, hasilnya justru positif.

 

Kalau dari webinar kemarin, Mas Aar menyebutkan bahwa kunci pemanfaatan internet adalah menjadi orang tua yang kuat dengan kepemimpinan yang efektif. Kitalah yang memimpin, tidak dipaksa atau disandera anak. Kita harus bisa bilang tidak, meskipun anak merengek, merajuk, marah, atau segala trik lain. Kalau anak kita tidak bisa diatur, itu masalahnya bukan pada anak, tapi pada leadership ortunya. Kita juga mesti memberikan batasan koridor yang jelas. Kapan dan berapa lama anak-anak bisa menggunakan gadget, dan konsisten dengan itu.

 

Orang tua memang musti punya strategi untuk urusan internet ini. Kenali dulu kebutuhan dan tujuannya apa. Apakah untuk belajar, atau hiburan? Beda tujuan pasti beda caranya. Selain itu, orang tua juga sebaiknya melakukan kurasi atas materi yang diakses anak. Apakah layak? Apakah sesuai dengan nilai yang akan ditanamkan? Durasi juga harus ditetapkan, karena anak-anak perlu punya batasan yang jelas. Dan yang tak kalah penting adalah evaluasi secara teratur, sehingga bisa menghindari kecanduan. Kalau sudah ada tanda-tanda kecanduan, misalnya, bisa puasa gadget sejenak dan lebih banyak kegiatan fisik.

 

Tapi pada akhirnya, menurutku, semua kembali ke orang tua. Godaan internet ini banyak banget. Orang tua aja kadang nggak sanggup menahannya, apalagi anak-anak kan? Kalau aku dan si Abang, kami berdua sepakat untuk melatih diri sendiri dulu, mumpung anaknya masih kicik dan belum perlu-perlu amat sama internet. Mudah-mudahan pada waktunya nanti, kami sudah jadi orang tua yang bisa dicontoh anaknya. Aaamiiinnn….

 

Sekarang, offline dulu yaaaaa… mau ngobrol-ngobrol sama si Abang, mumpung BabyM udah tidur. Eaaakkk…

Any comment?