Webinar Homeschooling #6: Belajar dari Keseharian

Oke, sebelum kita lanjut dengan summary webinar minggu ke-6 yang bertemakan ‘Belajar Dari Keseharian’ oleh Rumah Inspirasi, aku mau bilang bahwa materi ini sungguhlah menjawab sebuah pertanyaan sekaligus kegelisahanku selama menjadi seorang ibu:

 

Apakah aku ibu yang pelit?

 

Hhhahaha! Iya, beneran. Aku sering berkontemplasi apakah aku ini tipe ibu pelit? Pasalnya, aku hampir nggak pernah membelikan BabyM mainan. Selama hampir dua tahun usianya, mainan yang aku belikan itu bisa dihitung jari tangan. Dia punya sih beberapa mainan, hadiah dari sahabat dan kerabat waktu lahiran. Tapi itu juga gak terlalu banyak. Beberapa boneka, play mat, dua mainan ‘elektronik’yang kalau dipencet bunyi musik dan sekotak puzzle kayu.

 

Tapi yang aku belikan palingan hanya teether pas bayi, serokan pasir (yang dibeli waktu liburan ke pantai dan sampe sekarang masih suka banget dimainin), bola (obviously!), gasing (oleh-oleh dari Car Free Day), sebuah gendang kecil – atau ‘pam pam’, begitu BabyM menyebutnya – yang kami beli saat ke Saung Angklung Mang Udjo, dan sebuah kompor mini.

 

Katanya kalo punya anak bakal suka beliin macem-macem. Tapi kenapa aku enggak ya? Trus kalau nggak, babyM main apa dong?

 

Yahhh… macem-macem banget ya sebenarnya. Tergantung situasi aja. Kalo misalnya abis dari supermarket dan beli-beli sesuatu yang ada kotaknya, aku kasih aja kotaknya buat mainan. Pura-puranya itu mobil-mobilan, atau ditumpuk jadi rumah-rumahan, ala puzzle. Atau kalau lagi masak, aku kasi aja wajan dan sudip beneran. Kalau lagi mandi, bisa main botol sabun, shampo, sikat, dan segala apa yang di kamar mandi. Atau kalo lagi main di sekitar rumah, kami kumpulin daun-daun kering atau bunga-bunga jatuh. Bertamu ke tetangga untuk liat kucing/burung/ikan/kelinci mereka. Pokoknya main aja sama apa yang ada sambil ngobrolin ini itu.

bakar sateJepit jemuran pura-puranya jadi sate, dan BabyM akan bilang, “Bakar sateeeee…” sambil kipas-kipas 😀

 

gitar jepitBosan dijadiin sate, jepit jemurannya dibuat jadi gitar, dan BabyM akan nyanyi, “Wooowoodiii…. wooowoodii…”Jangan tanya lagu apa, itu dia karang sendiri 😀

 

Nah, lalu, apa hubunggannya perasaanku soal pelit dengan materi webinar ‘Belajar dari Keseharian’ kemarin? Menurut webinar kemarin, hal-hal yang kita lakukan sehari-hari itu sesungguhnya punya potensi besar untuk menjadi materi belajar. Mengutip ebook karya mas Aar, selama ini, sadar atau tidak sadar – kita dijejali pemikiran bahwa pendidikan adalah ‘scarce commodity’, sesuatu yang langka yang hanya boleh dilakukan oleh institusi dan orang-orang yang ahli. Dan tentunya, kita harus bayar mahal. Semakin mahal, semakin bagus. Jadi karena terus menerus ditanamkan dipikiran kita, lama-lama kita menjadi percaya. Percaya bahwa kita nggak mampu ngajarin anak sendiri. Kepercayaan diri kita hilang pelan-pelan. Padahal, siapa yang bisa menyangkal bahwa orang tua adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak?

 

Nggak perlu bayar mahal buat belajar. Yang gratis itu banyak banget dan nggak abis-abis buat di eksplor! Tentu saja kalau kita mau dan menyediakan waktu untuk itu.

 

Sebelum terlalu jauh, yang dimaksud KESEHARIAN itu apa aja sih? Contohnya adalah ini:

– kegiatan harian anak-anak (bangun tidur, main sepeda, mandi, makan)

– kegiatan harian ortu (bekerja/mencari nafkah, menyiapkan makanan, mengurus rumah, interaksi dengan lingkungan)

– rumah dan lingkngan sekitar (ruang-ruang rumah seperti dapur, kamar, dll, taman, fasilitas umum, bisnis rumah tangga)

– kegiatan incidental (berkendara pribadi, umum, ke pasar/bank supermarket, dll)

– kegiatan terencana (misalnya liburan keluarga, melalukan pengamatan lalu lintas, dll)

 

Apa saja di sekitar kita bisa dijadikan pelajaran. Yang penting, orang tuanya mau belajar dan sabar dengan proses. Bersedia membuka diri terhadap sekitar dan memperhatikan hal-hal sederhana. Yang terpenting, harus sering-sering praktek. Nah, dari keseharian ini ada banyaaaaaaaakkkk banget yang bisa dipelajari. Apa aja?

  1. Wawasan. Dari keseharian, anak-anak belajar tentang masyarakat, tentang nilai-nilai, lingkungan, dan bagaimana seharusnya menjalani hidup. Misalnya, saat jalan sore berpapasan dengan tetangga, lalu kita mengajak anak untuk menyapa, bertanya kabar. Anak bisa belajar untuk bersosialisasi, belajar tentang kesopanan dan pentingnya bertetangga.

 

  1. Pengetahuan. Dari keseharian, anak bisa belajar soal fakta dan informasi. Pas lagi makan siang, di meja ada tahu tempe. ‘Wah, lihat nih nak, tahu ini bentuknya seperti segitiga ya? Tempe seperti segi empat. Apa lagi ya yang bentuknya seperti itu di ruang makan kita?’. Sambil makan, anak belajar matematika.

 

  1. Keterampilan. Dari keseharian, anak bisa belajar self-management seperti bisa makan sendiri, mandi yang bersih, menempatkan pakaian kotor pada tempatnya, bisa berkontribusi terhadap pekerjaan keluarga.

 

  1. Rasa hati. Dari keseharian, anak belajar merasakan menang, kalah, berbagi, kehilangan, sabar, syukur, pantang menyerah, berterimakasih, minta maaf dan lain sebagainya, yang umumnya nggak diajarin di sekolah. Dari pengalaman sehari-hari, anak terekspos dengan perasaan-perasaan ini dan kemudian bisa memahami perasaannya sendiri

 

Selain sangat murah atau bisa dibilang gratis seperti yang aku ceritakan di awal, kelebihan belajar dari keseharian ini banyak sekali. Salah satunya adalah fleksibilitas yang luar biasa. Materi yang selalu bisa diakses dimana saja, kapan saja, membuat kita nggak akan pernah kekurangan bahan belajar. Mau tinggal di pantai, gunung, kota besar, kota kecil, semua bisa dijadikan pembelajaran. Malah, hal ini akan membuat tiap keluarga menjadi unik, karena memiliki setting/pengalaman yang berbeda. Belajar dari keseharian juga memiliki relevansi tinggi dan memiliki ikatan emosional dengan kehidupan anak sebab materinya sangat dekat dengan mereka. Kalau belajar hal-hal yang dekat dengan kita, pastinya lebih nempel kan?

 

Tidak hanya itu, belajar dari keseharian ini juga sangat berkualitas karena dia memiliki paparan multi dimensi. Maksudnya apa? Gini, kalau kita hanya baca buku tentang kuda, ya kita hanya tau teorinya doang. Tapi, kalau kita langsung ketemu kuda kita merasakannya dengan seluruh indera. Kita bisa mencium baunya, bisa memegang bulunya, bisa mendengar suaranya, bisa memberi makan, juga bisa bertanya langsung pada penjaga kudanya.

 

Begitupun, belajar dari keseharian ini juga ada tantangannya. Kebanyakan materinya adalah ‘raw material’ dengan kompleksitas tinggi. Seperti soal kuda diatas, kalau kita beri anak buku soal kuda, kita bisa menyesuaikannya dengan kondisi anak. Untuk anak yang masih kecil, kita bisa berikan buku gambar-gambar kuda. Sedangkan untuk anak yang lebih besar, bisa buku yang lebih banyak informasinya. Tapi, kalau melihat kuda langsung, bisa jadi ada pertanyaan-pertanyaan yang kompleks yang bisa buat orang tua bingung kalau tidak mampu mengelolanya.

 

Tantangan lainnya adalah kita tidak biasa dengan model belajar seperti ini, sehingga membutuhkan pendekatan berbeda. Metode ini juga membutuhkan wawasan dan keterampilan orang tua, serta memperkaya pengalaman keluarga.

 

Walaupun kadang-kadang sudah diterapkan dalam keluarga, menurut Mas Aar ada banyak praktisi homeschooling yang tetap aja merasa ‘anaknya nggak belajar apa-apa’. Sesekali mengeluh mungkin wajar ya. Tapi kalau keseringan, mungkin memang ada masalah. Apakah kurang stimulasi? Atau kurang variatif? Atau sebenernya konsep “belajar”-nya yang justru terlalu sempit?

 

Belajar toh bukan hanya tentang calistung atau mata pelajaran. Belajar juga tidak hanya dilakukan di waktu khusus dan dengan lembar kerja atau buku. Dan belajar tidak harus menunggu diajari. Belajar, adalah segala proses yang kita lakukan untuk menjadi manusia yang lebih baik dalam tataran pengetahuan, keterampilan, sikap, dan kualitas diri.

 

Mas Aar juga punya tips untuk belajar dari keseharian yang sangat sangat patut untuk dicoba dan dipraktekkan: Lapang hati dan perluas sudut pandang. Selain itu, jangan buru-buru juga mengharapkan hasil. Lebih baik melakukan sesuatu dengan waktu yang singkat tapi diulang-ulang setiap hari sehingga bisa jadi kebiasaan. Kalau anak bertanya dan ingin tau sesuatu, orang tua juga mesti bijaksana dalam menyikapinya. Nggak semua pertanyaan harus dijawab panjang lebar juga sih, nanti anaknya malah keder dan males nanya, hahaha! Yang penting lihat kondisi dan mood anak untuk menjaga agar proses kegiatan itu menarik. Soalnya, orang tua itu seringnya fokusnya pada materi/kualitas sedangkan anak pada proses. Materi seberat apapun, kalau prosesnya menyenangkan anak pasti senang dan melakukan. Sebaliknya, materi segampang apapun, kalau prosesnya dirasa tidak menyenangkan, akan sulit untuk dicerna.

 

Jadiiii, kembali ke poin pertama. Ternyata, aku bukan ibu yang pelit kan yaaaaa? Hahahaha! Aku hanya mengajak BabyM bermain dan belajar dengan menggunakan keseharian, hihihihi. Dan sejauh ini, sepertinya perkembangannya baik-baik aja. Yah, sambil tak lupa berdoa, mudah-mudahan BabyM memang belajar dari keseharian kami yah. Dan selain itu, mudah-mudahan sampai besar dia akan sadar bahwa nggak perlu hal-hal yang mahal untuk belajar dan berbahagia. Bahwa belajar bisa darimana saja dan bahagia itu sumbernya ada di diri sendiri. Amin!

 

Any comment?