Webinar Homeschooling #5: Menyiapkan Pembelajar Mandiri

Minggu lalu webinar homeschooling Rumah Inspirasi membahas materi apa aja yang bisa diajarkan dalam proses belajar. Menyenangkan ya, jalan pagi atau piknik ke kebun binatang aja bisa jadi bahan belajar, hehehe. Iya sih… kalo masih usia dini alias pre-school sih masih gampang lah ngajarinnya. Lah, kalo udah mulai sekolah gimana dong? Setingkat SD masih bolehlah orang tua ngajarin, tapi kalo udah mulai SMP? SMA? Mikirinnya aja nyali langsung menciut.

 

Menurut sesi webinar kemarin, kalau orang tua mikirnya hanya fokus sama konten atau materi belajar, dan berfikir bahwa orang tua menjadi SATU-SATUNYA sumber pelajaran bagi anak, ya jelas bikin ciut nyali. Nah, disinilah kata kunci PEMBELAJAR MANDIRI masuk. Anak-anak ini, kita didik agar bisa belajar sendiri. Mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan untuk belajar. Kita benar-benar memberikan ‘kail’ dan bukan ‘ikan’.

 

Apa sih pembelajar mandiri itu? Contohnya gini. Aku pengen bikin rendang yang enak buat lebaran. Tapi kan aku gak ngerti caranya gimana. Nah, aku lalu berusaha mencari tau dengan segala cara. Pertama-tama, yang paling gampang aku akan buka internet, meng-google dengan cara mengetikkan kata kunci. Hmmm… kata kuncinya apa ya? resep rendang? Resep rendang enak? Resep rendang padang? Resep rendang rumahan? Resep rendang gampang? Pokoknya mencoba berbagai kata kunci yang memungkinkan.

 

Dari hasil google, aku mencoba satu dari sekian banyak resep yang ketemu. Wah, ternyata rasanya belum pas. Coba yang lain ah. Tapi kali ini, coba aku telepon si Mama di Medan, untuk kasih aku tips dan trik-nya supaya makin oke. Oohh… setelah dicoba makin oke nih rendangnya. Dikasih rasa ke suami, wah, dia suka banget. Dikasih ke orang-orang, juga pada suka banget, malah ada yang minta buatin. Nah, dari sini aku akan berusaha membuat resep sendiri agar rasanya pas sesuai standarku. Coba ini coba itu sampe pas! Akhirnya, aku bisa terima orderan rendang dari orang-orang untuk lebaran nanti. Lumayan, dapat duit tambahan buat lebaran nanti!

 

Nah, itu adalah pembelajar mandiri. Ganti kata rendang dengan apapun yang dimaui anak-anak. Belajar piano? Matematika? Main golf? Prosesnya sama: tau dulu pengen belajar apa, tau dan terampil mencari bahan belajar, pandai mengelola diri (self management) seperti kemampuan membuat rencana, jadwal, penerapan yang konsisten dan mengevaluasi hasil belajar. Gampangnya: belajar secara otodidak.

 

Di era informasi ini, belajar otodidak malah jauh lebih gampang. Tinggal buka internet, kita bisa dapat informasi yang hampir tak berbatas. Pertanyaannya bukan, ‘ada nggak materinya?’, tapi lebih kepada, ‘materi mana yang paling pas untuk aku?’. Karena, kebanyakan informasi juga bikin pusing!

 

Nah, ternyata konsep ‘pembelajar mandiri’ nggak serumit itu kan? Sebagian (bahkan banyak) dari kita yang sudah melakukannya sendiri. Nah, tinggal transfer aja caranya ke anak-anak kita. Lagipula, kita nggak bisa terus-terusan ngajarin anak kan? Mereka akan hidup di dunia yang berbeda dari kita. Ibaratnya, mana bisa sih orangtua kita dulu membayangkan jaman sekarang yang serba digital dan pakai social media? Tapi kenyataannya sekarang, banyak anak-anak muda justru bisa memanfaatkan ini dan terciptalah banyak profesi baru. Seperti para buzzer yang dibayar mahal atau digital agency yang memberikan solusi marketing online kepada perusahaan-perusahaan consumer goods.

 

Kalau kata Alvin Toffler, “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write. But those who cannot learn, unlearn, and relearn!” Ho oh banget, Pak!

 

Ini ada video yang menceritakan bagaimana orang tua menjadi fasilitator dari seorang anak pembelajar mandiri. Sukses bikin aku mewek, huhuhuu…

 

 

Tapi seorang pembelajar mandiri tentunya tidak datang tiba-tiba. Ada proses yang butuh waktu panjang. Orang tua harus membangun budaya senang belajar. Membangun interaksi yang demokratis yang membolehkan anak bertanya sesuka hati tanpa dihakimi atau dimarahi. Juga, memberikan ruang luas untuk anak bereksplorasi, dan bahkan membuat kesalahan. Seperti kita yang sering belajar dari kesalahan yang dibuat, anak-anak juga butuh ini.

 

Selain budaya belajar, anak juga harus diajarin cara membangun keterampilan belajar. Keterampilan bertanya, misalnya. Tidak datang dengan sendirinya. Anak harus belajar berani dan percaya diri untuk bisa bertanya. Atau, keterampilan membaca berbagai hal – tidak hanya buku – seperti diagram, peta, resep, petunjuk manual dan lain-lain. Selain itu, juga bisa diajarkan cara mencari informasi dan menggunakan alat belajar. Gimana mengoperasikan komputer, gimana cara meng-google, gimana cara liat kamus dan sebagainya. Intinya, kalau ada anak bertanya sesuatu dan kita tidak tau jawabannya, ya tidak usah langsung dijawab. “Ibu nggak tau, yuk kita cari sama-sama yuk,” lalu kita cari buku di perpustakaan keluarga, dan tunjukkan kepada anak. Atau, “Wah Bapak nggak tau, tapi teman Bapak mungkin tau. Yuk kita bertamu kerumahnya dan kamu bisa tanya langsung kepadanya!” Orang tua (atau guru sekalipun) bukan dewa yang tau segalanya. It’s okay not to know everything 🙂

 

Dan karena pembelajar mandiri ini bukan produk instan, ada ‘tahapan’ memberikan stimulasi, sesuai dengan perkembangan anak.

 

Tahap 1 – belajar melalui keteladanan. Anak memperhatikan, meniru, ikut-ikutan. Kalo orang tuanya nunjukin kalau baca itu menyenangkan, nggak perlu pake dibilangin, anak juga akan senang baca.

 

Tahap 2 – anak membantu orang tua. Yah, awalnya pasti ini jatohnya malah ngerecokin dan bikin kerjaan lama. Tapi semakin sering dia dikasi kesempatan buat latihan, maka skill-nya akan semakin baik, kan?

 

Tahap 3 – orang tua membantu anak. Kalau anaknya udah bisa, orang tua boleh “mudur” dan membiarkan anak untuk memimpin project. Kita bisa membantu sampai selesai. Walau kadang kenyataannya kita yang lebih banyak ngerjain, , tapi kredit tetap buat mereka.

 

Tahap 4 – kegiatan bersama. Insiatif kegiatan bisa dari siapa saja. Orang tua menjadi partner.

 

Tahap 5 – kegiatan mandiri. Anak belajar sendiri tanpa bantuan orang tua.

 

Ada tips menarik dari Mas Aar untuk menyiapkan pembelajar mandiri ini. Yang pertama, tentunya tidak usah membandingkan anak kita dengan anak lain, karena ada banyak sekali factor. Lalu, dokumentasikan kegiatan anak, supaya bisa melihat perkembangannya. Dan yang tidak kalah penting adalah menjaga konsistensi hal-hal (yang terlihat) kecil, yang bisa sangat berguna. Misalnya, membaca buku 30 menit tiap hari artinya ada lebih 180 jam dalam setahun!

Tipsnya mas Aar ini sungguh membuat aku berkontemplasi untuk membuat blog baru, khusus perkembangan BabyM. Sejauh ini, aku sudah rajin menulis jurnal di buku, sih. Tiap bulan, setiap tanggal lahirnya, aku selalu mencatat perkembangannya, walau sederhana: motorik kasar dan motorik halusnya bagaimana, kemampuan sosialisasinya bagaimana, sudah makan apa aja, sudah bisa ngomong apa aja. Dan jujur, membaca kembali catatan itu, membuat aku setidaknya merasa sudah berada di jalan yang benar, ahahahaha! Menjadi ibu rumah tangga setiap harinya selalu penuh sampai kadang nggak bisa nafas. Punya catatan seperti itu seperti melihat ‘pencapaian’ yang membuat hidung kembang kempis bangga 😀 *ho oh, bahagia itu sekarang sederhana banget buatku :D*

JjurnalBabyM bisa bilang IBU di usia 1y4m :’) etapi mahapkan tulisannya acak-acakan 😀

 

Selain jurnal di buku, aku juga membuat semacam “buku tahunan”, yaitu album foto keluarga berbentuk buku. Awalnya sih dibuat karena si Abang nggak bolehin foto-foto babyM yang jelas banget di-upload di social media, jadi si ibu yang rada narsis ini memutuskan untuk membuat buku agar foto-foto ciamik BabyM bisa dilihat orang, terutama keluarga. Buku ini dicetak tiga eksemplar: satu untuk dirumah, satu untuk keluargaku di Medan dan satu untuk keluarga Abang di Aceh. Atok, Nenek dan Nyaksyik-nya BabyM senang banget punya foto-foto ini. Nggak berhenti diandang-pandang dan “dipamerin” ke semua tamu yang datang, hahahahah!

 

buku tahunan2Buku tahunan yang buatnya PR banget tapi hasilnya setimpal!

 

Yah, mudah-mudahan tetap konsisten sama semua kebiasaan baik yang udah dijalani selama ini ya! Aaaamiiinnnn!

Any comment?