Webinar Homeschooling #4: Belajar apa aja sih?

Oke, jadi setelah minggu lalu membahas langkah-langkah memulai homeschooling: yaitu membuat visi pendidikan keluarga, sekarang yang dibahas adalah materi pelajarannya. Apa sih yang mau diajarkan? Disini, aku akan lebih fokus untuk membahas kurikulum, materi dan pola belajar untuk anak usia dini, meskipun waktu webinar banyak juga penjelasan soal anak usia sekolah.

 

“Kalau homeschooling pakai kurikulum apa ya?” Bisa jadi ini adalah pertanyaan yang sejuta umat banget. Terus terang, ini juga pertanyaanku waktu pernah ketemu sama temen yang anaknya homeschooled, hehehe… Ini lazim, sebab di kepala kita (Kita? Elu aja kali, din!) masih terpatri model sekolah yang pernah kita jalani. Tapi, seperti yang dijelaskan pada webinar #2 soal metode homeschooling, kurikulum itu dipakai jika kita memang menggunanakan metode school-at-home.

 

Kalau untuk babyM dan anak-anak usia pra-sekolah, bisa memakai kurikulum PAUD yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kalau mau pakai metode Montessori juga bisa. Boleh juga cari kurikulum dari luar negeri. Google aja ‘preschool curriculum’ plus nama negara. Keluar deh berbagai kurikulum.

 

Kalau untuk aku yang lebih tertarik dengan metode unschooling, pertanyaan soal kurikulum ini tentunya tidak relevan. Sebab metode unschooling kan tidak punya struktur dan lebih mengikuti keinginan anak untuk beraktifitas. Orang tua hanya memfasilitasi. Begitupun, kadang-kadang kan pengen tau juga ya, apa benar perkembangan babyM berjalan baik. Nah, untuk pegangan dalam memantau tumbuh kembangnya, Mas Aar memberikan tips untuk menggunakan checklist dan parameter perkembangan anak. Buku yang di rekomendasikan oleh Mas Aar untuk check list ini adalah Slow And Steady, Get Me Ready karangan June Oberlander.

 

Lah, kalau nggak ada kurikulum, terus ngapain aja dong? Ternyata bisa macam-macam banget! Selain melibatkan anak dalam kegiatan orang tuanya sehari-hari, bisa juga cari berbagai materi di internet sebagai sumber ide. Atau, baca-baca buku dan majalah parenting. Bisa juga tanya-tanya ke teman atau keluarga yang sudah punya anak. Rumah Inspirasi bahkan memberikan e-book berisi ide kegiatan indoor dan outdoor!

 

Jalan pagi/sore, naik sepeda, ke kebun binatang, menggambar jalan dengan kapur, bercocok tanam, bermain pasir, mencuci mobil/mainan, bermain bola, berenang, main layangan, pergi ke pasar, main gelembung sabun, baca buku, main masak-masakan dengan daun, membuat craft, menggambar, mengecat, mengejar capung, memelihara ulat hingga jadi kupu-kupu, main sembunyi, ke stasiun kereta api, main hujan dan lumpur, dan masih banyak lagi kegiatan yang dicontohkan dalam e-book.

 

Menurut mas Aar, apapun kegiatan yang dilakukan bersama anak usia dini sebaiknya selalu berfokus pada rasa aman dan nyaman. Sebab, dalam rentang usia tersebut, itulah yang paling dibutuhkan anak. Kalau dikit-dikit ngancem (Misalnya: ‘Abisin dong makannya, kalo nggak nanti dipanggilin satpam loh!’ Sering banget denger beginian kalau sedang main bareng anak tetangga huhuhu), anak tidak akan merasa nyaman dan tertekan.

 

Selain pada rasa aman dan nyaman, kegiatan anak lebih banyak pada kegiatan ekplorasi sesuai dengan perkembangannya. Urusan baca tulis dan berhitung bukan hal utama. Diajarkan dengan menyenangkan boleh aja, tapi jangan jadi prioritas dan nggak ada target. Akan jauh lebih baik kalau energinya dipakai untuk mengajarkan kebiasaan baik dan menerapkan aturan/nilai yang jelas. Apa yang boleh dan tidak boleh. Dengan begitu, anak sudah terbiasa dengan peraturan dan disiplin sejak kecil dan jika dia beranjak remaja, orang tuanya nggak perlu lagi teriak-teriak karena mereka sudah terbiasa.

 

Kalau dikeluarga kami, beberapa contoh kegiatan diatas sudah sering kami lakukan dengan BabyM. Selama ini, BabyM selalu aku libatkan dalam aktifitasku sehari-hari dengan memintanya melakukan apa yang dia bisa. Misalnya, saat membereskan tempat tidur, aku memintanya meletakkan kembali buku yang semalam dibaca ke tempat semula. Kalau aku sedang berkebun, aku akan memintanya membantu menyiram bunga, atau membuang rumput liar yang sudah dicabut ke tong sampah.

 

Setiap pagi dan sore, biasanya kami akan jalan keliling kompleks atau bermain di luar bersama beberapa anak tetangga. BabyM akan bebas berlari-larian atau main di taman dekat rumah. Selain travelling ‘besar’ ke luar kota yang membutuhkan persiapan khusus, di hari-hari biasa kami juga mengunjungi berbagai tempat yang menarik. Kebun binatang, museum dan galeri, air terjun, piknik di kebun raya dan taman kota, atau bersilaturahin ke rumah teman dan saudara.

 

Makin kesini, aku makin percaya ucapan John Holt, sang pencetus konsep unschooling, yang ini:

“When you teach less, the children will learn more.”

 

Anak-anak itu sesungguhnya pintar. Mereka nggak perlu diajari dan dijejali ini-itu. Dengan melakukan kegiatan bersama dengan sepenuh hati, betapapun sederhananya, akan membuat anak belajar banyak tanpa kita perlu menggurui. Plus, kegiatannya juga jadi sangat menyenangkan! Bukan cuma anaknya yang nagih, orang tuanya juga nagih 😀

 

Processed with VSCOcam with m5 presetJalan pagi di sekitar kompleks

 

4 main pasirMain pasir di taman dekat rumah

 

4 bungaBantu ibu siram tanaman

 

4 kapurMain kapur dengan kakak-kakak tetangga

 

4 cuci mobilCuci mobil yang seru!

2 Responses

  1. Ann October 16th, 2015 at 2:46 pm

    Halo mba dinda,salam kenal ^^
    Asik jg ya mba melibatkan anak dlm kegiatan sehari2,tp buat jalan2 keliling komplek rada males soalnya di komplek saya byk anak sd-smp yg ngebut naik motor,kapan tu pernah jln2 pdhl jalannya uda di pinggir(ga ada trotoar)&saya disebelahnya tau2 anakku ditabrak sepeda dr belakang(masi untung sepeda,bukan motor/mobil) 🙁

  2. dindajou October 16th, 2015 at 4:28 pm

    hai mbak Ann, salam kenal juga. waahhh, kasian ditabrak 🙁 Mungkin bisa cari lapangan yang deket rumah trus main bola? 😀 Atau wiken bisa nyobain taman-taman umum mbak, mudah-mudahan lebih aman 😀

Any comment?