Webinar Homeschooling #3: Bagaimana Memulainya?

Makin kesini, webinar soal homeschooling-nya makin teknis nih! Setelah tau dasar-dasar homeschooling dan berbagai model pendidikannya, kamis lalu aku belajar soal bagaimana memulainya. Hayolo….

 

Jadi, dari webinar kemaren aku bisa menyimpulkan bahwa sebelum memulai, sesungguhnya ada langkah penting yang harus dilakukan: mempersiapkan diri dan pasangan (dan tentunya anak kalau sudah bisa diajak diskusi). Selain persiapan soal pengetahuan soal homeschooling, ada baiknya juga mengisi kepala dengan ilmu-ilmu parenting. Sebab, keduanya berjalan beriringan. Tidak hanya soal pengetahuan, mental juga perlu disiapkan untuk menghadapi reaksi dari luar keluarga. Ada baiknya bertemu dengan para praktisi homeschooling untuk mendapatkan ‘feel’-nya, supaya siap lahir bathin, heheheh…

 

Begitupun, yang perlu digaris bawahi dalam proses memulai homeschooling adalah membangun koneksi dengan anak. Komunikasi adalah koentji sodara-sodara. Karena kegiatan berpusat di rumah dan bersama keluarga, orang tua harus merasa nyaman bersama anak selama 24 jam dan sebaliknya, anak juga harus merasa nyaman bersama orang tuanya selama 24 jam. Kalo ngomong masih pake urat alias teriak-teriak esmosih, mungkin mesti diperbaiki dulu ya kak, komunikasinya.

 

Nah, langkah selanjutnya adalah membuat sebuah visi pendidikan keluarga, alias gambar besar kegiatan pendidikan ini. Apa sih hasil akhir yang dicita-citakan? Bak bintang utara bagi para pelaut jaman dulu, visi pendidikan inilah yang memberikan arah dalam proses homeschooling. Bisa jadi pedoman kalo mentok di tengah jalan, kalo ada masalah, kalo kehabisan ide, pokoknya kalo tiba-tiba galau deh. Sebagai alat evaluasi juga bisa: apakah kenyataan di lapangan sudah sejalan dengan yang dicita-citakan. Dan oh, bisa juga buat disodorin ke kakek-neneknya anak-anak (atau siapapun) agar mereka paham.

 

Ngomongnya sih gampang. Prakteknya? Bingung mulai dari mana, hahaha! Untungnya, rumah inspirasi memberikan tools berupa pertanyaan-pertanyaan yang… emmm… harus dihayati sepenuh hati untuk menjawabnya. Misalnya:

– Gambaran ideal kami tentang anak‐anak saat mereka dewasa, setelah menyelesaikan pendidikannya adalah….

– Ciri, sifat, dan kemampuan penting yang dimiliki anak-anak saat mereka dewasa adalah….

– Jalan dan skenario untuk menuju ke sana….

– Rencana dalam waktu dekat untuk menuju realisasi tujuan pendidikan anak-anak adalah….

 

Yukyakyuk… kopi mana kopi? Hahahah….

 

 

Ya sebenernya sih, ada dua “strategi” dalam membuat visi pendidikan ini.

Dibuat di awal proses. Nah, strategi yang ini memang dibutuhkan diskusi intensif dengan pasangan. Dasarnya adalah idealisme orang tua, dari pemikiran dan pengalaman mereka.

Mencari bentuk sambil jalan. Kalau mau coba strategi ini, paling tidak di awal sudah ada gambar besar walaupun masih samar. Lalu, semakin lama, setelah tau ‘praktek lapangan’ gimana, bolehlah yang samar tadi semakin diperjelas. Intinya mencari titik tengah antara mimpi dan kenyataan.

 

Silahkan pilih cara mana yang lebih cocok. Tapi kalau menurutku, memang membuat visi pendidikan ini nggak bisa sambil lalu, ya. Seperti tips-nya Mas Aar, membuatnya harus benar-benar diniatkan. Suami-istri duduk bareng, ngobrol soal harapan masa depan juga segala kekhawatiran. Nggak bisa sekali jadi. Ada proses dan butuh waktu. Nggak mesti formal juga sih diskusinya (apalagi sampe berantem!). Bisa ngobrol sambil jalan pagi, sambil makan siang, sambil minum teh sore, atau sambil pillow talk malem-malem. Hemmm, jadi kangen suwamik…. *lah!*

 

Yang pasti, rumusan yang dibuat nggak perlu njelimet. Sederhana aja, yang penting bisa dimengerti dan bisa diterapkan. Beri juga ruang untuk tumbuh kembang bersama rangcangan itu. Setelah mencapai kesepakatan, sebaiknya visi pendidikan ini DITULISKAN biar formal dan nggak ada yang salah paham. Kalau perlu ditempel di tempat yang strategis kali, ya. Biar bisa dipandang-pandang buat cari inspirasi, hehehe…

 

 

Memulai Homeschooling Usia Dini

 

Proses homeschooling juga bisa diterapkan untuk anak-anak pra-sekolah. Malah, dalam banyak hal, ini lebih menguntungkan. Misalnya, pressure dari lingkungan nggak terlalu banyak. Jadi, orang tua bisa ‘latihan’ mental dulu sebelum beneran menerapkan homeschooling untuk anak usia sekolah. Selain itu, secara psikologis hal ini sangat baik untuk membangung ikatan/bonding dalam keluarga.

 

Fokus homeschooling usia dini ini adalah kedekatan dengan orang tua. Membuat anak merasa aman, sehingga perkembangannya bisa optimal. Kesehatan fisik juga menjadi fokus penting, selain mempersiapkan fondasi belajar jangka panjang agar anak bisa mengeksplorasi dunia tanpa takut. Dan yang tak kalah penting adalah membangun kebiasaan-kebiasaan baik.

 

Caranya? Yang paling gampang adalah dengan ngobrol. Nggak hanya untuk anak pra-sekolah, ngobrol adalah cara ampuh untuk membangun kedekatan dengan siapa aja. Ngobrol bisa dilakukan sambil melakukan kegiatan bersama. Sambil bermain. Sambil belanja di pasar. Sambil menggambar. Sambil masak. Sambil apa aja. Pokoknya asal dilakukan sepenuh hati, mudah-mudahan bisa menciptakan ikatan/bonding yang genuine.

 

gitarSambil nge-jam bareng? Boleeehhh…

 

 

Sejauh ini, kayaknya aku sudah menerapkan teknik ngobrol ini. Sejak BabyM lahir, aku sudah mengobrol apa saja dengannya. Ya habisnya seringnya kami cuma berdua doang di rumah, apalagi kalau si abang sedang kerja. Aku juga tidak punya babysitter. Hanya ada si emak, yang pulang pergi 5x seminggu untuk cuci setrika dan beres-beres. Praktis, 24 jam BabyM selalu bersamaku. Kalo nggak ngobrol juga, bisa bingung kali kami berdua, hahahah!

 

Tapi memang selama ini kegiatan yang aku lakukan dengan BabyM masih cenderung random dan spontan (baca: tergantung mood si ibu newbie ini lah ya!). Kalau ada ide menarik, ya langsung dilaksanakan. Kalau lagi mentok, palingan anaknya diajak jalan-jalan kemana. Belum ada benang merah yang menjadi konsep pendidikan. Apalagi visi yang jauh ke depan. Duh… jadi nggak sabar nih nunggu si Abang pulang untuk ngobrolin soal visi pendidikan!

 

 

Any comment?