Webinar Homeschooling #2: Metode apa yang cocok?

Setelah sebelumnya belajar soal apa itu Homeschooling, Kamis lalu aku mengikuti webinar Homeschooling sesi ke-2 yang membahas soal berbagai metode dalam Homeschooling. Wih, makin seru loh!

 

Singkatnya, metode dalam homechooling ini beragam banget. Tinggal pilih mau yang mana. Adalah tugas setiap keluarga untuk menemukan metode yang sesuai dengan tujuan akhir (grand plan) pendidikan anak. Jangan terintimidasi atau sekedar ikut-ikutan model yang dipakai keluarga lain. Tiap keluarga pastilah unik. Toh kalo sudah coba satu metode dan ternyata nggak cocok, bisa dimodifikasi atau segera ganti metode lain.

 

Dalam homeschooling ada dua metode yang berbeda layaknya kutub utara dan selatan. Dari ujung yang satu, ada metode SCHOOL-AT-HOME, dan diujung yang lain ada metode UNSCHOOLING. Diantara kedua ‘ekstrim’ ini, juga ada beberapa metode lain yang bisa diaplikasikan.

 

SCHOOL-AT-HOME (SAH)

 

Seperti namanya, metode ini “memindahkan” sekolah ke rumah. Ia terstruktur, materi belajarnya berbasis mata pelajaran sekolah (seperti Matematika, IPA, IPS, dll), dan prosesnya terpusat pada guru (guru mengajarkan sesuatu kepada anak). Ciri dari SAH adalah menggunakan kurikulum yang (biasanya) sepaket: ada mata pelajarannya, ada referensi/bukunya, ada soal latihan/tugas, juga ada panduan untuk guru yang mengajarnya. Kalau mau ikut kurikulum Indonesia, ada kurikulum keluaran Diknas. Kalau mau pakai kurikulum di luar negeri, ada berbagai macam kayak Cambridge, ACE, dll. Ada yang gratis, tapi ada juga yang beli.

 

Keuntungannya ya kita sudah kenal metode ini sejak lama. Kita juga nggak repot, karena sudah ada panduannya berupa kurikulum tadi. Namun tantangannya adalah, praktek di lapangannya nggak mudah. Sekolah itu cenderung formal, sedang di rumah biasanya informal. Pasti beda lah cara anak komunikasi ke guru dengan anak ke orang tuanya. Selain itu ada kecenderungan anak belajar cuma buat lulus ujian, bukan karena memang pingin tau. Jadi, kalau memang mau pakai metode ini, sepertinya kita mesti berinovasi dan fleksibel. Misalnya, kalau mau ikut kejar paket A (setara SD), mungkin anak bisa belajar intensif satu atau dua tahun sebelum ujian. Sebelum itu mungkin anak boleh dibebaskan untuk mengeksplorasi minatnya.

 

USCHOOLING

Pemikiran dasar metode ini adalah anak itu bukan ‘selembar kertas kosong yang harus diisi’, melainkan seorang individu yang telah membawa berbagai potensi, tinggal dikeluarin aja. Keinginan belajar anak adalah alami, justru campur tangan orang dewasa dan lingkungan yang mematikan minat belajar anak. Larangan nggak jelas dan komentar negatif membuat anak takut berekspresi.

 

Menurut metode ini, dunia nyata merupakan ruang belajar paling baik. Materi belajarnya bukan berupa mata pelajaran, tapi bisa jadi apapun yang menarik minat anak. Umumnya anak-anak belajar dari kegiatan sehari-hari. Misalnya dengan membantu orang tua memasak, anak juga bisa belajar soal kesehatan (nutrisi dalam makanan), soal manajemen waktu (persiapan memasak), berhitung (takaran dalam resep), dan lain sebagainya. Intervensi dari orang tua dalam metode ini sangatlah minimal. Yang dilakukan orang tua adalah menjadi inspirator dan menyediakan lingkungan belajar yang kaya stimulus. Lingkungan yang “kaya stimulus” ini contohnya adalah travelling. Dengan pergi ke tempat baru dan melihat hal-hal baru, rasa ingin tau anak jadi bertambah.

 

Nah, diantara kedua kutub ini, ada berbagai metode lain, seperti:

– Model classical, yang meniru model peradaban Romawi dan Yunani intelektual.

– Berdasarkan pemikir: ada metodenya Charlotte Mason yang juga sudah ada grupnya di Indonesia, Montessori yang sudah banyak di praktekkan di sekolah-sekolah swasta, dll.

– eklektik: yaitu campuran dari berbagai metode, yang dikustomisasi sesuai dengan kebutuhan keluarga.

 

 

Seru kan? Bagiku sendiri, yang paling menarik adalah metode Unschooling (langsung google dan beli buku online malam itu juga, hihihihi!). Dari hasil baca singkat sana sini, kok sepertinya kami sudah menjalankan metode ini tanpa kami sadari ya? Mungkin yang baca blog ini (dih, GR amat din!), tau aku kalau aku menggunakan metode Baby-Led Weaning (BLW) saat mulai memberi makanan pendamping ASI ke BabyM. Nah, si metode unschooling ini kerap disebut sebagai Child-Led Learning.

 

blwBLW = “Berantakan Lah yaW”, hahaha, maksa! Ini BabyM, sudah bisa buka kulkas, ambil yogurt dan makan sendiri. It’s messy, but it’s superfun!

 

Prinsipnya mirip. Dalam BLW, anak makan sendiri, tidak disuapi (kalau unschooling, anak belajar sendiri, tidak diajari – seperti guru yang mengajari murid). Dalam BLW, orang tua menawarkan makanan biasa yang dimakan keluarga, tidak berupa bubur, hanya bentuknya disesuaikan dengan perkembangan motoriknya (kalau unschooling, orang tua memaparkan anak dalam dunia nyata yang real yang kompleks, bukan ‘mengisolasinya’ dengan kenyamanan dan perlindungan berbentuk sekolah). Dalam BLW, makan bersama keluarga adalah penting, disitu anak belajar sambil melihat orang tuanya (kalau unschooling, kegiatan belajar dilakukan dengan aktivitas sehari-hari bersama orang tua). Nah, mirip kan?

 

Nah, konsep unschooling ini semakin mudah aku cerna sebab metode BLW dalam memberi makan BabyM itu sesungguhnya jadi ngikut ke berbagai hal lain yang kami lakukan. Pola pikirnya sama: bahwa kami (orang tua), harus ‘let it go’ aja, belajar mempercayai insting yang dimiliki anak. Selama ini, kami berusaha mengekspos BabyM kepada banyak hal (baik dengan cara melibatkannya dalam kegiatan sehari-hari, juga membawanya travelling kemana-mana), melihat mana yang menarik bagi BabyM, dan kemudian memfasilitasinya.

 

Sejauh ini, kecepatan belajar BabyM sukses buat kami takjub! Ya orang tua mana sih yang nggak ngerasa anaknya paling pinter sedunia? Hahahahah! Kami memang nggak pernah buat target dan ekspektasi apapun ke BabyM, jadi rasanya takjub aja kalau di umur 1,5 tahun ini dia udah bisa naik turun tangga dan main perosotan yang hampir setinggi aku, tanpa harus dipegangi. Atau, sudah bisa makan sendiri dengan sendok dan minum dengan gelas tanpa tumpah. Juga sudah bisa bersalaman dan mencium tangan jika bertemu orang baru. Mengucapkan ‘terimakasih’, ‘permisi’, ‘tolong’ dan ‘maaf’ dengan benar.

 

Vokabulari BabyM juga lumayan kaya, terlebih sejak kami ajak roadtrip keliling jawa selama 17 hari, plus pulang kampung ke Medan dan Aceh saat puasa dan lebaran lalu. Obsesinya dengan urusan memasak (iya, bener, anak laki-laki kami suka banget masak-masak) membuat BabyM kini sudah bisa membedakan (dan mengucapkan dengan cukup jelas) mana wajan, panci, teflon, sudip dan telenan. Mana bawang merah, bawang putih dan bawang bombay! Sebagai ibu newbie yang males masak, aku merasa terharu, hahahhaha!

 

masak Lagi goreng bawang 😀

 

Begitupun, apakah ini artinya kami sudah sepakat memulai homeschooling dan memakai metode unschooling untuk BabyM? Hehehe…. Tunggu dulu ah! Tunggu webinarnya selesai duluuuuuu!

 

2 Responses

  1. agustin January 14th, 2016 at 9:29 pm

    Hai mba dinda salam kenal yaa…
    Seneng banget baca blog mba dinda, nambah wawasan ttg HS yg selama ini membuat aku bingung. Jadi ngerti dikit2 deh, & perlu banyak belajar terus nih aku.
    Kebetulan bulan depan aku mau pindah rumah mba, dan rumahku yg baru agak jauh dikit dengan sekolah anak2. Latihan nyetir gak lulus2. Stres mikirin segudang aktifitas anak sekolah kalo rumah agak jauh. Anakku 3 mba, kelas 1 SD, TK A dan yg kecil baru mau 3 th. Anak2 minta kalo kita pindah rumah, kita HS aja ya mahh… wow kebayang kan dengan 3 anak yg masih kecil, HS dan gak ada yg bantuin, semua kukerjain sendiri. Mikir juga bisa gaakkk yaaa?
    Tp dengan baca blog ini jadi agak cerah dikit walau masih agak takut. Hehehe… kasih masukan dunk mba buat aku…

  2. dindajou January 15th, 2016 at 5:12 pm

    hai mbak agustin! Merasa takut, tapi terus berjalan, itulah keberanian, eheheheh!
    Duhhh, saya ini juga masih baru banget soal homeschooling mbak. Anak pun cuma satu, masih toddler pulak. Mana mungkin aku kasih masukan, ehehehehe…. Kalau Mbak serius, mungkin bisa ikutan webinar tentang hoemshooling juga dengan http://www.rumahinspirasi.com Mereka sedang mau buka kelas webinar lagi tuh. Bisa tanya-tanya langsung sama praktisinya. Mudah-mudahan berguna ya! :-*

Any comment?