Selingkuh

Menikah selama hampir 6 tahun, aku dan si abang sepakat kalau ‘dosa terbesar’ dalam hubungan ini adalah berselingkuh. 

Aku bukan malaikat. Duluuuuu, sewaktu masih muda *uhuk* aku pernah berselingkuh. Sudah punya pacar yang baik, sebut saja A. Lalu, karena ‘situasi dan kondisi’, aku malah pacaran lagi sama yang lain, si B. Meskipun nggak ketahuan selingkuh, tapi aku minta putus ke A dengan alasan ‘nggak cocok lagi’. A sih cuma bisa pasrah. Jahat, ya? Iya, aku tau.

Lalu balasannya datang bertahun-tahun kemudian: aku diselingkuhi. Karma itu perih jendral! Kejadian ini membuat hati patah berkeping-keping dan menghancurkan rasa percaya diri. Untuk waktu yang cukup lama, diam-diam aku merasa tak pernah cukup baik untuk siapapun.

Sampai si abang datang. Dan kami menikah… *ciee… suit suiiitttt…*

Namun sesungguhnya, kesepakatan aku dan abang soal perselingkuhan bukan sepenuhnya disebabkan oleh pengalamanku yang diselingkuhi. Tapi karena we really love each other dan tak bisa membayangkan pengkhianatan. Juga, karena keadaan kami yang berjauhan. Pekerjaan si abang mengharuskan dia bekerja selama lima hingga enam minggu, dan kembali ke Jakarta selama tiga hingga empat minggu untuk liburan. Dengan kondisi ini, gampang sekali untuk meleng dan berselingkuh. Makanya, kepercayaan adalah hal yang mutlak. Kalau ada kekhawatiran bahwa pasangan nggak akan setia selama berjauhan, mendingan bubar deh.

Oleh karenanya, kami sepakat membuat worst-case scenario: apa yang akan kami lakukan kalau salah satu dari kami ketahuan berselingkuh. Terlepas dari keinginan si abang memutilasi si pria lain (atau lebih tepatnya, doing One Piece’s Trafalgar Law mutilation style – yang baca komik pasti ngerti deh!), dan keinginanku menggiles perempuan lain itu (juga si abang tentunya!) dengan traktor sampe gepeng, kami ternyata sepakat: tidak akan ada kesempatan kedua. Begitu tau ada yang selingkuh, tanpa ba-bi-bu, langsung dikembalikan kepada orang tua yang bersangkutan. Tidak perlu pembicaraan. Tidak perlu rekonsiliasi. Tak ada pertimbangan. Pulang. Titik.

Ada juga orang bilang mestinya ada kesempatan kedua karena mungkin khilaf. Well… bagi kami itu bullshit. Selingkuh itu perlu proses panjang. It takes two to tango, butuh dua orang. Jadi pasti dilakukan secara sadar, bukan sekedar khilaf. Dimaafkan sih harus ya, Tuhan juga Maha Pemaaf. Tapi kalau untuk kembali bersama, tidak, terimakasih. 

Ada juga yang bilang alasan berselingkuh itu umumnya manusiawi: karena pasangannya tidak bisa memberikan apa yang diinginkan. Mungkin terlalu termperamental dan diktator, tidak romantis, tidak bisa memberikan keturunan, atau bahkan melakukan kekerasan rumah tangga. Bagi kami berdua alasan ini juga tidak membuat selingkuh bisa dibenarkan. Kalau memang punya masalah dengan pasangan, ya selesaikan dulu dong. Setelah itu terserah deh mau jungkir balik juga tidak masalah. Sudah tidak ada urusan.

Yang pasti, dari hasil ngobrol panjang dengan si abang, kami sadar bahwa pernikahan itu semakin lama tidak semakin mudah. Khatam dengan masalah A, akan ada B, C, D sampe Z yang masih menanti.

Banyak sekali orang – terutama perempuan – yang merasa tidak bisa berkomunikasi dengan pasangannya. Tapi kalau aku lihat lagi, mereka ini juga nggak berusaha untuk berkomunikasi. Kalau ada sesuatu, lebih baik di pendam di hati. Alasannya: males, daripada berantem. Yah, menurutku, mendingan berantem satu kali, tapi bisa ketemu solusi yang disepakati bersama. Daripada nggak berantem tapi makan hati terus. Dan belum tentu juga pasangannya menganggap itu adalah masalah.

Sejauh ini, Alhamdulillah semua permasalahan yang muncul antara aku dan si abang selalu bisa diselesaikan dalam satu hari. Sebab kami bersepakat untuk tidak menumpuk masalah dan menyelesaikan masalah sesegera mungkin, begitu SOP-nya. Tapi – just-in-case –  kami berdua menemui jalan buntu, kami sudah menunjuk dua orang yang kami percaya dan kami anggap netral untuk membantu mencari solusi. Alhamdulillah sampai sekarang belum pernah yah, mudah-mudahan sampai nanti juga begitu.

Begitulah. Jadi maaf yah. Bagi yang berselingkuh, anda tidak akan mendapatkan simpati dariku sama sekali. Dan bagi yang bertanya harus bagaimana kalau diselingkuhi, yah silahkan bilang sama pasangannya: Lo. Gue. End. *halah*

Dan oh, kalau mau bertanya pendapatku soal poligami, urungkan saja niatnya. Kalau orang lain sih terserah, urusan masing-masing. Tapi kalau aku, over my dead body. Sekian.

3 Responses

  1. agara March 6th, 2013 at 10:34 am

    saya dulu juga pernah pegang prinsip, selingkuh fisik OK, asal jangan selingkuh hati (maksudnya berdiri semalaman karna sama-sama mabuk bisa ditolerir, but thats all).
    setelah semakin tua, jadi semakin kaku dan rigid, dan sekarang pegang prinsip exactly the same as yours.
    selingkuh = lo.gue.end.
    menua ternyata juga bisa merubah prinsip hidup anda ya….well, some 🙂

  2. Dinda March 6th, 2013 at 12:00 pm

    moneeet! selamat datang kembali *wink* iya kayaknya. menua membuat banyak perubahan padaku! *elus-elus jenggot* 😀

  3. vira May 10th, 2013 at 5:42 am

    saya belum tua sih. tapi devotion itu hal utama.

    seperti yang ada di tulisan ini jika salah satu ada yang berselingkuh : end.

Any comment?