Satu Langkah

*Story behind the scene Naturelé Yogurt 

Here’s a blatant honesty: what I fear is not failure; it’s the fear of success that has been holding me back for the past two years.

Dan membuat akun Facebook plus twitter untuk Naturalé Yogurt, bagiku adalah sebuah langkah berani untuk menghadapi ketakutan itu. Karena, ini berarti aku mengambil satu langkah lebih maju untuk serius menjalani usaha ini – dan pada akhirnya menerima segala konsekwensi yang akan ditimbulkannya.

Sejak resign dari LA Times sekitar tiga tahun lalu, kayaknya aku merasa sangat nyaman berlindung dibalik status “istri kesayangan” seorang Papin Ismail. Segala yang aku lakukan menjadi semacam pekerjaan tertier yang tak perlu banyak perhitungan. Termasuk berbisnis. Dalam kasus ini usaha Naturalé Yogurt ku.

Mungkin karena pada awalnya usaha ini dimulai dengan tidak sengaja. Dengan niatan membantu kakak iparku, aku melahirkan Naturalé Yogurt. Berdua, kami bekerja sama. Ia urusan produksi, selebihnya aku yang mengatur.

Aku sungguh tak punya ekspektasi apa-apa saat pertama memasarkannya. Lagipula, aku tak punya pengalaman berdagang. So, I’d like to keep it small, simple and manageable. Maksudnya, apa-apa bisa aku kerjakan sendiri, biar gampang.

Usaha ini pun dimulai dari sebuah meja di Bazaar Florence, Kota Wisata, Cibubur yang menjual sarapan tiap akhir minggu. Disini, aku berinteraksi langsung dengan konsumen. Mengalami berbagai hal yang sama sekali baru, karena seumur-umur aku bekerja untuk orang lain.

Lama-lama, rutinitas sabtu-minggu ini menjadi hal yang paling aku tunggu. Ia “memaksaku” belajar dari nol besar dan mengajakku berpikir dengan cara yang tidak biasa. Ada kesenangan yang susah digambarkan. Si Abang malah pernah bilang, tiap kali aku selesai bazaar, pasti aku terlihat radiant. Bahagia.

No matter how cheesy this might sound, tapi berjualan yogurt memberiku banyak pelajaran hidup: You don’t have to be ashamed of what you do. Selama itu halal dan bekerja keras, the rest wont matter.

Soalnya, pertama kali menawarkan yogurt, ada sedikit (eh, banyak kaleeee!) rasa malu. Malu karena belum pernah. Malu karena terasa aneh. Dan pastinya malu karena kok rasanya “turun kelas”. Dari reporter sebuah koran besar di Amerika, kok malah jadi tukang es. Setiap kali orang bertanya, “Kerjanya apa?”, aku akan mengawali jawaban dengan, “DULUNYA sih, di LA Times….” Hanya supaya disangka aku bukan orang ‘bego’ (padahal sih emang iyaaaaa :D)

But now, even if you offered me kerjaan seperti dulu, kayaknya I will politely say no, thank you. Berjualan yogurt, membuatku super bahagia. Ada kepuasan tersendiri yang tidak aku dapatkan dengan bekerja untuk perusahaan besar.

Kepuasan bahwa orang melihatku sebagai diriku sendiri. The real Dinda. Bukan karena dimana aku bekerja, atau berapa banyak gaji yang aku dapat. Dan sebaliknya, I see people just as people. Bukan karena embel-embel yang mengikutinya. Semua orang adalah konsumen, tak peduli siapa. Dan melihat setiap konsumen ini berbinar matanya sambil sincerely bilang, “Enaaakkkk…”, that’s the real happiness.

Selling yogurt keeps me humble. And even better, it keeps me sane. It helps me see that the world is a good place. I’m less cynical. Yogurt makes me healthy inside out. And therefore, I’m happy. That’s all that matter, right?

Dan seperti yang aku bilang tadi, dengan semua kebahagiaan yang aku terima, tak sepantasnya aku mengerjakan ini dengan setengah hati. Tak seharusnya aku “takut” bahwa segala kenyamanan yang aku punya sekarang akan hilang jika usaha ini semakin besar (termasuk kebebasan untuk bilang: ga jualan ah, lagi capek/males/ada acara)

This business is going to another level. And I have to accept it. Embrace it. Mudah-mudahan, seperti niat awalnya, ini bisa membantu lebih banyak orang.

Jadi, perkenalkan: Saya Dinda. Saya tukang es. Dan saya bahagia.



Yuk, yang mau pesan Naturalé yogurt, silahkan klik via Facebook, twitter atau email: naturaleyogurt@gmail.com

2 Responses

  1. papin.ismail December 4th, 2011 at 2:35 pm

    pengen rasa anggurrr. pengen pulang.

  2. vira May 10th, 2013 at 5:57 am

    i love cooking. just start my blog about cooking on http://www.masakankami.wordpress.com.

    I wish I had the same gut as yours. To quit working and start up my business.

Any comment?