Rumah Papa: Desain dan RAB

Setelah kami menyetujui draft awal denah, plus perbaikan dan masukan disana-sini, Bang Doni mulai menggarap desain rumah. Beliau bilang, ia berusaha membuat beberapa desain alternatif dengan konstruksi ringan, sehingga butuh waktu cukup lama. Kami sih tidak masalah dengan waktu. Toh rencana pembangunan tidak akan dimulai hingga awal tahun 2016. Bahkan kami sesungguhnya tidak keberatan sama sekali jika harus molor sedikit, sebab mesti menabung lebih banyak, hahhaha!

 

Sekitar tiga bulan setelahnya, Bang Doni mengirimkan desainnya. Bersama gambar, ia kirimkan keterangan. Katanya, untuk mengurangi biaya bangunan lantai tiga, rumah ini tidak akan menggunakan sturktur beton, melainkan memakai baja ringan yang biasa dipakai di atap. Dindingnya akan memaka seng zyncalum pada bagian luar dan kalsiboard di bagian dalam. Ditengahnya diberi glasswool untuk mengurangi panas. Untuk mengurangi tampias dan panas yang menerpa dinding itu, akan dibuat dinding dari wiremesh yang diberi potongan seng zyncalum. Tanaman rambat juga akan dipakai supaya lebih adem.

 

Untuk lantai duanya, material yang dipakai lebih solid, yaitu batu bata ekspos. Di bagian pagarnya akan ada sedikit permainan – meski tidak semua, sehingga ada rongga untuk udara. Sedangkan untuk lantai satu, materialnya lebih solid lagi, yaitu dinding diplester dengan mortar. Perbedaan material pada tiap lantai ini akan membuat rumah ini terlihat bergradasi.

 

Oke, yang nggak ngerti dengan bahasa yang agak teknis, mungkin akan lebih kebayang kalau lihat gambarnya berikut ini.

 

rumahpapa 006

rumahpapa 007

 

rumahpapa 008

 

Bagus yaaaaaaa!

 

Kami sekeluarga nggak terkagum-kagum liat gambar yang keren ini. Ada sih kekhawatiran soal tampias air di lantai tiga, atau banyaknya debu yang akan masuk karena permainan batubata di bagian fasade lantai dua. Tapi, kami semua sepakat, bahwa itu sepertinya hanya masalah teknis yang bisa diakali nanti. Secara prinsip, kami sangat menyukai desain Bang Doni. “Memang lain ya, kalau arsiteknya serius,” kata Papa, membuat aku senyum-senyum. It’s a compliment!

 

Setelah ada revisi kecil disana-sini, akhirnya kami menyetujui desain itu dan membiarkan Bang Doni melanjutkan tugasnya membuat gambar kerja untuk keperluan mendapatkan IMB.

 

Saat tahun berganti menjadi 2016, urusan renovasi rumah papa semakin terpampang nyata. Papa sudah mulai menyewa rumah untuk tempat tinggal sementara. Untungnya, ada rumah kontrakan yang kosong, yang letaknya pas di depan rumah. Jadi urusan pindahan bisa dicicil pelan-pelan.

 

Saat gambar kerja sudah selesai dibuat, Bang Doni membantu menguruskan IMB. Aku tidak tau banyak seluk-beluk pengurusan ini karena aku di Jakarta. Tapi yang pasti, selain fotokopi KTP, PBB, dan sertifikat tanah, ada surat yang harus dibuat, yaitu persetujuan tetangga kiri-kanan. Papa juga sempat beberapa kali berurusan dengan kelurahan. Begitupun, tidak ada masalah berarti selain harus bolak-balik.

 

Yang memakan waktu lebih lama adalah membuat RAB. Bang Doni mendapatkan beberapa rekomendasi dari timnya mengenai struktur bangunan. Ini membuat ia harus menyesuaikan macam-macam hal sebelum mempresentasikannya kepada kami.

 

Pertengahan Februari 2016, aku sekeluarga pulang kampung ke Medan. Begitu pesawat landing di Bandara Kuala Namu, tiba-tiba Bang Doni mengirim pesan, bahwa RAB-nya sudah jadi. Wah, pas sekali! Langsung kami membuat janji untuk berjumpa di rumah.

 

Bang Doni datang bersama dengan Bang Rahman. Beliau ini adalah kontraktor yang akan mengerjakan rumah kami. Mereka membawa gambar kerja yang telah dijilid rapi, bersama dengan RAB yang sudah ditunggu-tunggu. Sekalipun Bang Doni sudah memperingatkan, tetap saja begitu melihat angka yang tertera aku harus menarik napas paaaaaannnjjjaaaaaangggg… hahaha!

 

rumahpapa 009Bang Doni datang bersama Bang Rahman. Saking selow-nya, diskusi pun gak perlu meja kursi. Semua nggelesor aja di lantai!

 

rumahpapa 010

 

Kami berdiskusi soal spek-spek rumah. Tapi, RAB ini tampaknya harus kembali disesuaikan. Ada hal-hal baru yang dimasukkan, juga ada yang dikurangi. Yang pasti, RAB ini harus aku endapkan dulu di kepala, sampai benar-benar meresap. Karena kami hanya beberapa hari di Medan, aku Bang Doni dan Bang Rahman sepakat untuk kembali membahas RAB ini via telepon.

 

Dan saat kami meninggalkan Medan, itu adalah kali terakhir aku melihat rumah tempat aku tumbuh besar masih berdiri utuh…

One Response

  1. 2016: A Rough Patch | Dindajou December 6th, 2016 at 8:52 am

    […] terakhir di blog ini bercerita soal awal pembangunan Rumah Papa di Medan. Sepanjang tahun 2016, aku memang banyak berkutat dengan urusan ini. Rencana […]

Any comment?