Rumah Papa: Arsitek yang Sehati

Setelah berpening-pening ria mencari arsitek dan tidak ada yang cocok, akhirnya aku menyadari bahwa perasaan itu susah ditawar. Halah. Setelah sebelumnya punya proyek rumah yang ‘agak’ idealis, tidak bisa dipungkiri kalau aku punya standar tertentu untuk bekerja sama dengan arsitek. Walau masih ada ruang-ruang untuk kritikan, tapi Mas Yu Sing has set the bar for us. Kata hati tak berdusta, kakak….

 

Akhirnya aku “menyerah”. Strategi untuk dapet ‘arsitek seadanya’ kami coret dari rencana. Kami sepakat untuk mencari arsitek yang sehati, dengan harapan tarifnya nggak mahal-mahal amat (namanya juga berharap!). Lalu bagaimana lagi mencarinya? Aku memulai dari yang aku tau: minta rekomendasi sama Mas Yu Sing, ahahahaha!

 

Setelah diedit berulang-ulang, akhirnya aku mengirimkan email yang intinya bertanya apakah beliau punya teman di Medan yang bisa diajak kerjasama membangun proyek rumah yang sehat dan fungsional, serta budget-concious, tentunya. Mas Sing lalu memberikan sebuah nama untuk di search di profil facebook.

 

Harap-harap cemas, aku mengetikkan namanya: Doni Dwipayana. Lah, kenapa ini ada 12 mutual friends? Dan semuanya aku kenal dengan cukup baik pula. Langsung aku mengontak salah satu mutual friends, Patra, yang juga tauke-nya tau ko medan, toko merchandise kota Medan yang paling hits itu. Bertanya siapakah Doni plus minta nomer teleponnya. Jawabannya: “Hah? Masak kau nggak kenal sama Doni?”

 

Dan saat aku mengontak Bang Doni, sesungguhnya kami heran juga kenapa kami tidak saling kenal, ahahaha. Tapi kayaknya dulu pasti pernah ketemu lah. Lingkaran pertemanan Medan – setidaknya jaman aku muda dulu *uhukhuk* nggak terlalu besar. Orangnya ya itu-itu melulu, hihihi.

 

Berbekal pertemanan itu, saat bertemu muka, aku dan Bang Doni langsung klik. Karena umurnya juga tidak terpaut jauh – komunikasi pun jauh lebih menyenangkan! Begitupun, aku sempat jiper juga karena foto-foto proyeknya di company profile terlihat sangat mentereng. Tapi dengan santai, cut-the-bullshit-Medan-style, dia bilang “Ah, itu kan pencitraan aja!” Hahahahahhaha! Oke deh bang! *salaman*

 

Aku langsung curhat panjang lebar soal keinginan-keinginan kami terhadap rumah papa. Pengen rumah yang sehat dengan ventilasi dan cahaya yang cukup. Pengen pembagian ruang yang fungsional. Pengen dapur yang luas untuk usaha catering si Mama. Pengen banyak tambahan kamar jika nanti pengen buat kos-kosan. Dan yang terpenting, “ngomong pahit-pahit” di depan bahwa kami hanya punya budget sekian untuk itu semua.

 

Enaknya kalau ketemu sama arsitek yang cukup idealis adalah, kadang-kadang kepuasan mendesain itu mengalahkan kepuasan dapet duit banyak, ahahahahaha! Jadi, meskipun kami punya budget terbatas, kami sekeluarga membebaskan Bang Doni untuk berkreasi. Untuk ini, tentunya tidak mudah. Soalnya aku juga sebelumnya harus negosiasi dengan papa dan mama yang tentunya punya pemikiran sendiri soal rumah. Untungnya, setelah beradu argumen panjang lebar, aku berhasil meyakinkan keluarga besar untuk percaya dengan kreativitas arsitek.

 

Singkat kata, akhirnya kami pun sepakat untuk bekerja sama. Bang Doni memberikan harga yang cukup reasonable, dan kami memberikan waktu yang cukup panjang agar Bang Doni bisa leluasa berkarya. Itu masih bulan Agustus 2015 dan kami berencana mulai membangun di tahun 2016.

 

Tak hanya itu, Bang Doni juga bisa membantu mengurus IMB! Oh, ini penting, soalnya kami nggak tega untuk membiarkan Papa bolak-balik kantor pemerintah untuk urusan ini. Dan yang terpenting adalah urusan kontraktor! Mengingat pengalaman kontraktor terdahulu yang kurang singkron dengan arsitek, Bang Doni punya kontraktor sendiri yang bekerja bersama! Ohhhh… ini tentunya sangat memudahkan sekali! Kenapa? Soalnya desain Bang Doni nantinya sudah langsung sejalan dengan harga dari kontraktor. Semua sudah dihitung! OHYES banget kan!

 

Dan ternyata, sekitar semingguan setelah bertemu dan survey kondisi rumah, Bang Doni sudah datang lagi dengan desain denah awal! Wuih! Cepat kali, Bang! Bagaimana bentuk desain Bang Doni? Bagaimana reaksi Papa? Di postingan berikutnya aja yaaaaa….

 

rumahpapa 004Si Papa sedang mengamati draft awal desain. Hemmmm…. jangan bikin Bang Doni deg-degan gitu lah, Pa! 😀

 

PS: Seluruh cerita soal Rumah Papa ini bisa dilihat di kategori Rumah Papa

Any comment?