Roadtrip with a Toddler, Day 6 of 17: Pacitan

Day 6 : Pacitan

 

Sesungguhnya ada banyak sekali tempat yang bisa dilihat di Pacitan. Di itinerary si Abang, sepertinya Pacitan punya porsi yang paling besar deh. Terkenal dengan julukan “Tanah 1001 Gua”, kampungnya mantan presiden SBY ini juga punya banyak pantai-pantai keren. Tapi ya namanya juga bawa anak kecil. Kami harus berdamai dengan kenyataan bahwa kami tak bisa mengunjungi semua tempat itu. Hidup ini pilihan, kakaaaakkk!

 

Kami menghabiskan pagi bermain di Pantai Teleng Ria. Dan oh, kami bertemu keluarga Jerman (bapak ibu dan anak perempuan umur tujuh tahun) yang BERSEPEDA dari Bali dan akan menuju Jakarta menginap di hotel ini. (Set dah. Kami roadtrip pake mobil aja ketar-ketir, doi udah sepedaan aja, vroh!) Kami sempat bercakap-cakap dan bertukar email sebelum berpisah. Setelah sarapan sambil menikmati pemandangan Laut Selatan, kami memutuskan untuk checkout, dan mencari hotel dengan kamar lebih besar. Kami memutari kota Pacitan dan menemukan beberapa hotel. Tapi akhirnya memutuskan untuk jalan-jalan aja dulu. Hotel gampang lah itu. Yang penting udah tau lokasinya aja. Atau kalo nggak ada kamar ya bisa nginep di rumah SBY lah (ikrib banget sis!)

 

roadtrip2015_039

(Kiri) Breakfast dengan pemandangan Laut Selatan. (Kanan) Kamar yang kicik 😀

 

roadtrip2015_036 roadtrip2015_037 roadtrip2015_038

roadtrip2015_035 Puas main di Pantai Teleng Ria, lanjut ke tujuan berikutnya.

 

Tujuan kami adalah Gua Tabuhan yang berjarak 30an km kearah Barat. Yang artinya satu jam ke arah pulang. Sempat agak gundah, apakah dari gua ini kami akan menuju pulang, atau balik lagi ke Pacitan, mengingat waktu tempuhnya yang lumayan. Tapi ya males mikir lah. Lihat aja nanti gimana, hahaha! Hari ke-6 roadtrip dan mood “liat nanti” a.k.a spontanitas yang sudah mati suri selama hampir dua tahun akibat hamil plus punya anak, kini sudah kembali sodara-sodara!

 

Gua Tabuhan yang letaknya di Desa Wareng, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan ini dulunya dikenal sebagai tempat bertapa atau bersemedi. Tapi kini juga dikenal sebagai tempat berkesenian karena ada beberapa stalaktitnya yang berbunyi seperti gamelan jika dipukul. Saat baru turun dari mobil, kami sudah didekati oleh petugas setempat dan ditanya apakah kami mau “menanggap” para pemusik dan sinden? Biayanya 150ribu untuk 1-5 lagu. Itu adalah biaya resmi, dan sudah tertulis di papan pengumuman. Kami mengiyakan. Masak sudah sampai disini nggak dengerin mereka sih?

 

Tapi sebelumnya, kami tur ke dalam gua dulu. Dengan berbekal senter, aku memasuki gua dengan menggendong BabyM. Walau gelap dan agak licin, tapi medannya tidak terlalu sulit. Sudah ada tangga-tangga yang memudahkan untuk melangkah di tempat-tempat yang curam. Hebatnya, BabyM santai aja! Nggak ada hek-hok sama sekali. Dia tampak menikmati bayangan stalaktit dan stalagmite yang tersorot senter. Begitupun, aku dan BabyM tidak sampai ke ujung gua untuk melihat tempat pertapaan. Sebab, harus jongkok dan merunduk, dan itu sulit dilakukan dengan bayi di gendongan. Jadi si Abang aja yang pergi sendiri.

 

Selesai tur, para pemain gamelan sudah siap sedia untuk bermain musik. Tapi begitu musik dimulai, BabyM nangis kenceng karena kaget, hahahah! Akhirnya aku membawa BabyM menjauh dan bermain di luar gua. Untungnya sih masih kedengeran musiknya. Tapi si Abang tidak nonton sendirian. Pengunjung yang ramai berdiri di luar, pada masuk dan menikmati musik. Yang bayar? Ya tetep kami, hahahaha! Nggak apa-apa deh, sedekah seni buat pengunjung lain, hahaha. Oh iya, selain untuk musik, senter juga dikenakan biaya “seikhlasnya”. Plus tips untuk si bapak guide, kami memberikan 200rb.

 

roadtrip2015_040 roadtrip2015_041 roadtrip2015_042Masuk ke dalam gua. Gelaaaappp!

 

roadtrip2015_043

Para sinden dan pemusik yang menabuh stalaktit-nya.

 

roadtrip2015_044

 

 

Nah, di depan Gua Tabuhan ini, ada pasar batu akik. Pacitan cukup terkenal dengan batu akiknya. Sebelum masuk gua, aku sudah lihat-lihat sebentar. Dan selepas tur gua, aku kembali lagi melihat batu akik ini. Sesungguhnya, aku nggak ikutan demam batu akik, heheheh! Tapi papaku sejak sekitar setahun lebih yang lalu, mulai suka batu gara-gara dikasi hadiah batu bacan sama sahabat lamanya. Setelah googling singkat sana-sini, Pacitan terkenal dengan batu kalsedon. Karena si papa mintanya dalam bentuk bongkahan, akhirnya aku beli batu sekilo, hahahaha! Nggak ngerti deh hasilnya gimana. Yang penting ada oleh-oleh buat si papa pas mudik lebaran nanti 😀

roadtrip2015_045 roadtrip2015_046

 

Hari sudah mulai sore saat kami meninggalkan Gua Tabuhan. Makan siang pun agak terlambat. Tapi kami benar-benar pengen ke Pantai Bayu Tibo yang katanya hanya setengah jam dari gua. Setelah dihitung-hitung, kami akhirnya sepakat untuk terus. Dan guess what? Walaupun jalannya bagus, tapi petunjuk arahnya cukup minim. Kami harus berhenti untuk bertanya-tanya apakah arahnya sudah benar. Daaaaaannn… kami tiba jam 5 lewat aja dong!

 

TAPI PANTAI BANYU TIBO ITU BAGUS BANGET! Ada air terjun yang berasal dari mata air, yang jatuh dan langsung mengalir menuju laut. Ya ampuuunnn… mau nangis loh rasanya, saking bagusnya. Tapi hari sudah mau gelap, gimana dong? Dari hasil ngobrol-ngobrol sama tukang warung dan pemuda setempat, kami tau bahwa pantai ini baru dibuka awal tahun lalu. Disini belum ada penginapan. Hanya ada toilet umum di dua tempat, sebuah mushola kecil semi terbuka, dan beberapa warung makan yang umumnya tutup selepas magrib karena rata-rata mereka belum punya listrik. Apalagi itu bukan weekend. Hari itu hanya ada satu warung yang akan buka semalaman, karena ada beberapa anak muda akan kemping malam itu.

 

Galau. Mau pergi, kami terlalu capek dan malas beranjak meninggalkan pemandangan sebagus itu. Mau nginep disitu, nggak ada penginapan. Keputusannya: MARI KITA NGINEP DI MOBIL! Solusi cerdas, kan?

 

Dulu, saat memutuskan membeli mobil ini, salah satu alasannya adalah jok tengah dan belakangnya bisa dilipat sehingga semua rata. Jadi, marilah kita tes saja kenyamanannya. Lepas magrib, kami mulai menyusun barang-barang yang segambreng itu. Carseat sementara dipindahkan ke kursi depan, dan koper di kursi supir. Barang perintilan disusun di lantai mobil, dan ditumpuk dimana ada space kosong. Sleeping bag dijadikan alas, bantal dan selimut disusun agar nyaman. Voila! Semua muat dan kami punya “tempat tidur” queen size yang nyaman untuk dua orang dewasa dan satu anak kecil.

 

Saat beres-beres itu, beberapa pemilik warung menghampiri dan menawarkan untuk menginap di rumah mereka saja. Mereka kasihan dengan BabyM. Tapi kami tolak dengan sopan. Sebab sesungguhnya, kami lebih excited untuk merasakan sensasi menginap di mobil! Dan oh, betapa jiwa muda kembali menyala, hahahah! Sembari beres-beres, ada anak muda, mahasiswa dari malang (!) mendekati kami dan bilang mereka juga akan kemping disitu. Kami diundang untuk ngopi-ngopi (atau begadang, kalau kuat!) sebelum tidur. Dan tentunya undangan ini kami terima dengan senang hati! Sambil ngopi, si abang udah kayak motivator ulung aja, bagi-bagi cerita soal dunia kerja sama anak-anak mahasiswa yang antusias mendengarkan. Benar-benar menyenangkan! Malam itu, kami tidur dengan bahagia…

 

roadtrip2015_047

Jalan menuju pantai, tak ada di GPS 😀

 

 

 

 

 

roadtrip2015_048

Taraaaaaaa! Ini pantainya!

 

roadtrip2015_049 roadtrip2015_050

Pantai di bagian kanan, setelah matahari tenggelam. 

 

roadtrip2015_051 roadtrip2015_052

Tidur di mobil, menyenangkan!

***

Gua Tabuhan, Dukuh Tabuhan, Desa Wareng, Kecamatan Punung, sekitar 25 kilometer arah barat kota Pacitan

Pantai Banyu Tibo, Desa Widoro, Kecamatan Donorojo, Pacitan, Jawa Timur

Any comment?