Roadtrip with a Toddler, Day 14 of 17: Dieng!

Day 14 : Dieng – Banjarnegara – Purwokerta, dan semua keajaiabannya 😀

 

Berhenti di Wonosobo, membuat kami tergoda untuk sekalian melihat Dieng. Usai sarapan, kami checkout dari hotel sambil bertanya-tanya soal Dieng dengan resepsionis. Kami diberikan selembar peta sederhana yang berisi banyak tempat tujuan wisata di Dieng.

 

Berbekal peta itu, kami menuju Dieng. Setelah membayar tiket masuk, kami sepakat untuk menuju lokasi terjauh, yaitu Desa Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa (lebih dari 2000m dpl). Kami mendatangi camping ground di Bukit Sikunir, di pinggiran danau. Tapi karena lokasi ini terkenal dengan golden sunrise-nya, kami tentunya datang kesiangan. Areanya sudah sepi dan hanya ada dua tenda yang masih berdiri. Ya nggak apa-apa lah, mungkin lain kali saja kemping disini. Hehehe…

 

Di desa ini kami juga membeli manisan carica (baca: karika). Carica ini adalah papaya gunung. Bentuknya lebih kecil dari papaya biasa dan pohonnya juga banyak cabangnya. Aslinya, papaya ini dari Andes, Amerika Selatan, tapi dibudidayakan disini dan dijadikan oleh-oleh khas. Carica ini dioleh menjadi keripik, manisan dan sirup. Rasanya lumayan enak. BabyM doyan sama manisannya.

 

Setelah itu, kami menuju Dieng Plateu Theatre. Ini adalah gedung tempat menonton film pendek soal Dieng. Soal kekayaan alam, sejarah, budaya dan berbagai keunikan lain soal dataran tinggi ini. Daerah ini memang unik. Lokasinya indah dan kaya akan sumber panas bumi. Tapi juga pernah terjadi musibah akibat menyebarnya gas beracun yang menewaskan banyak orang. Dieng juga terkenal dengan budaya, seperti fenomena anak berambut gimbal. Anak-anak ini biasanya terlebih dahulu demam panas, dan kemudian muncullah si rambut gimbal. Tapi rambut ini tidak boleh langsung di potong. Ada ritualnya. Aku sempat melihat seorang anak perempuan berambut gimbal bermain di sekitar teater.

 

Tak jauh dari teater, ada jalur kecil menanjak menuju batu pandang tempat melihat Telaga Warna dari atas. Namun apa daya. Hujan deras tiba-tiba turun. Kami menunggu cukup lama tapi hujan tidak berhenti juga. Paling hanya rintik-rintik. Dengan kondisi itu, kasihan membawa BabyM naik keatas. Tapi, kami berdua juga ingin melihat. Gimana dong? Akhirnya kami memutuskan untuk naik bergantian, hehehe. Dan saat aku di atas, baru mengambil foto beberapa buah, kabut langsung datang dan menutup pemandangan. Yah, nggak apa-apa deh, yang penting udah liat. Bagus banget!

roadtrip2015_102Liat pemandangan kayak gini, gimana nggak mau berhenti, coba?

roadtrip2015_103Selamat datang di Dataran Tinggi Dieng!

roadtrip2015_104Desa Sembungan, desa tertinggi di Pulau Jawa (2000-an dpl)

roadtrip2015_105Camping ground Bukit Sikunir di desa Sembungan.

roadtrip2015_106Kiri: Carica yang masih mentah. Kanan: Manisan carica yang enak!

roadtrip2015_107Kawasan theater Dieng, hujan 🙁

roadtrip2015_108Telaga Warna yang berkabut, dilihat dari batu pandang di dekat theatre.

roadtrip2015_109

roadtrip2015_110Udah keluar dari Kawasan Dieng, tapi bolak-balik berhentiin mobil untuk menikmati cantiknya Wonosobo 😀 

 

Karena masih hujan, akhirnya kami memutuskan untuk langsung jalan tanpa melihat objek wisata lain di Dieng. Kami bertekad malam itu harus sampai di Purwokerto. Namun, saat magrib, kami baru tiba di Banjarnegara. Karena jalan masih agak panjang, kami berhenti sebentar untuk makan dan sholat. Kebetulan ada sebuah warung bebek di pinggir jalan yang terlihat cukup lega. Ya sudah, berhenti disitu.

 

Kami memesan makanan dan sholat bergantian. Sambil makan, aku sempat mengedarkan pandangan ke seisi warung dan melihat ada sekelompok bapak-bapak di ujung ruangan yang sedang berbicara serius. Tapi kok rasanya ada satu wajah yang familiar ya? Tapi nggak enak juga mendatangi meja itu dan bertanya. Saat mereka mau bubar, aku meminta si Abang untuk bertanya, apakah salah satu dari bapak-bapak itu asalnya dari Medan dan pernah sekolah di salah satu SMP negeri? And guess what? Ternyata benar! Dia adalah Hendra, teman SMP dan SMA ku di Medan! Astaga, kebetulan yang luar biasa deh bisa ketemu di Banjarnegara. Kami ngobrol sebentar, dan ternyata Hendra sedang bertugas di kepolisian setempat. Sebelum pergi, kami dikasih oleh-oleh sekotak gede, coba? Makasih banyak yaaaa!

 

Kami meninggalkan Banjarnegara masih dengan perasaan takjub. Setibanya di Purwokerto, kami langsung kembali menuju Hotel Santika Purwokerto kesayangan, heheheh…

roadtrip2015_112

 

***

Hotel Santika PurwokertoJl. Gerilya Barat No. 30A, Purwokerto, Jawa Tengah – INDONESIA | Phone : (62-281) 657 8080 | Fax : (62-281) 657 8090| Email :purwokerto@santika.com

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *