Roadtrip Life is A Beach: Tebing Amandaratu dan Menuju Sawarna

Day 6

Kami check out dari Penginapan Pondok Alief, Ujung Genteng, setelah si Bapak selesai lari pagi. Sebelum kami meneruskan perjalanan ke Pantai Sawarna, Banten, yang akan memakan waktu 4 jam menurut google map, kami sepakat untuk melihat Amandaratu yang hanya 15 menit naik mobil.

 

Katanya, Amandaratu adalah sebuah resort dengan pemandangan layaknya Tanah Lot di Bali. Namun, resortnya sendiri sudah tidak berfungsi lagi. Saat mencari lokasinya, kami sempat nyasar karena tidak ada tanda-tandanya. Saat bertanya ke warung pinggir jalan, ternyata namanya telah diganti jadi Asaba Land. Jadilah kami putar balik dan menemukan sebuah plang yang tidak terlalu menyolok di pinggir jalan. Setelah membayar retribusi, kami memasuki areal resort itu.

 

Sepanjang jalan masuk resort tersebut ditanami banyak sekali pohon kelapa. Dan saat tiba di halaman resortnya, pemandangan menakjubkan langsung terhampar. Lokasi resort ini luar biasa: diatas tebing dengan pemandangan sungai yang kemudian bermuara di laut lepas. Ditengah muara sungai itu ada pulau karang, yang (dibilang) mirip dengan Tanah Lot, Bali. Yaaa… boleh lah 😀

 

Walaupun resortnya sudah tidak lagi beroperasi, masih ada “warung” yang menjual minuman dan makanan kecil. Saung-saung di pinggiran tebing juga masih bagus, pertanda masih banyak yang datang kemari untuk sekedar menikmati pemandangan. Kami sendiri sempat memesan air kelapa muda yang diambil langsung dari pohon dan duduk-duduk di saung sambil menikmati pemandangan dan angin yang lumayan kencang. Menyenangkan!

 

UG56Kiri: Jalan masuk resort yang penuh dengan pohon kelapa. Kanan: Taraaaa….

UG57Bangunan resort yang sudah lapuk. Pas masa jayanya kayaknya bagus bener deh! Denger-denger ini dulu dibangun untuk keluarga Soeharto. Katanyaaaaa…

UG58Ini lho yang dibilang mirip sama Tanah Lot di Bali. Boleh lah yaaa…

UG59Si Bapak merenungi hidup… berat banget ya pak? 😀

UG60Sesungguhnya ini pengen memberdayakan suami sebagai instagram-husband yang memotret istrinya berpose ciamik. Tapi oh… tapi… yasudahlahyaaaaa….

UG61Kelapamuda yang langsung diambil dari pohonnya. Segaaar!

UG62Anak kicik sudah banguuuun! Minum air kelapa dulu, nak!

UG63 Bilang kejuuuuuuu! *Garis horison tak bisa lurus itu kayaknya salah satu dosa besar dalam motret landscape 🙁 Tapi yah, bagaimana lagi. Tak bawa tripod. Hidup ini tiada yang sempurna, kak…* 

 

 

Puas memandangi Amandaratu, kami jalan lagi menuju Pantai Sawarna yang sudah masuk Provinsi Banten. Jaraknya masih sekitar satu jam lagi dari Palabuhan Ratu yang sudah lama eksis sebagai tempat wisata. Kami sempat berhenti di pasar Palabuhan Ratu. Tiba-tiba pengen bakso dan melihat ada plang warung bakso di situ, hahaha! Apasih, random banget! Yang pasti kami berhenti cukup lama disitu, sebelum melanjutkan perjalanan ke Sawarna. BabyM tertarik dengan para penjual burung dan ikan, plus kami jajan-jajan yang lainnya.

SW03 SW01

SW02Pemandangan yang kayak gini ini nih, yang bikin betah buat roadtrip. 

 

Sambil jalan, aku mencari penginapan lewat internet. Ketemu dengan penginapan Malibo, yang dari iklannya mengatakan paling dekat dengan pantai. Tapi, saat tiba di Sawarna, kami tidak menemukan tanda-tanda hotel yang ingin kami tuju. Yang ada hanya segerombolan pemuda yang mengatur mobil untuk parkir di sebuah lapangan yang terlalu besar di pinggir jalan. Dengan ragu, kami ikutan parkir. Lalu, dengan gaya sok cuek *padahal khawatir* kami bertanya kepada mereka.

 

Ternyata, mereka ini adalah pemuda-pemuda lokal yang nyambi sebagai ojek sekaligus guide. Dengan sopan mereka menjelaskan bahwa hotel yang kami inginkan berada “di dalam”. Mobilnya di parkir disini, nanti bisa ke dalam dengan ojek. “Mobil tidak bisa masuk, harus menyebrangi sungai,” katanya sambil menunjuk sebuah jembatan gantung kecil yang lebarnya cuma semeter, dan goyang-goyang saat ada yang naik diatasnya (Hih, Banten! Apa kabar sih gubernurnya!). Aku menelepon nomor kontak penginapan untuk memastikan kebenaran informasi. Ternyata, memang begitulah adanya, sodara-sodara. Well, another adventure, then!

 

Karena jarak yang katanya lumayan, kami terpaksa memilih-milih lagi barang yang akan dibawa ke penginapan. Nggak boleh kebanyakan karena cuma bisa pake motor, tapi jangan sampe kekurangan karena males bolak-balik. Tak lupa, kami membeli sedikit perbekalan di Indomaret di samping parkiran (sadis nih lokasinya! Tau aja orang bakal belanja :D)

 

Setelah semua siap, kami pun jalan. Aku dan BabyM di satu ojek, sedang si abang di ojek yang lain. Deg-degan juga melewati jembatan gantung yang goyang-goyang begitu. Setelah membayar retribusi di ujung jembatan, kami memasuki perkampungan penduduk yang cukup padat. Rumah-rumah warga berselang-seling dengan homestay dengan aneka nama. Lah, tapi mana pantainya? Ternyata pantainya ada di ujung pemukiman. Penginapan Malibo yang kami cari letaknya naik ke bukit, agak jauh dari perkampungan. Walaupun mengaku paling dekat dari pantai, tetap saja jarak penginapan-pantai sekitar 300 meteran. Begitupun, karena letaknya agak tinggi, pemandangannya cukup bagus. Sunset terlihat indah dari sini. Kami pun sepakat untuk menginap disini.

 

Kalau menurut Kang Ojek (yang belakangan ternyata ketahuan bahwa dia masih SMU, hihhiih!), penginapan di Sawarna memang modelnya jauh dari pantai. Namun, disini ada berbagai objek wisata mulai dari pantai-pantai eksotis, air terjun, bahkan goa. Ada setidaknya sepuluh lokasi wisata. Umumnya para wisatawan memang ditawarin “paket” sama para guide ini. Hanya banyar Rp 150rb, tapi boleh sepuasnya dianterin kemana-mana, mulai dateng hingga pulang. Kalau mau kemana-mana tinggal sms, nanti akan disamperin ke penginapan. Mau beli makanan juga tinggal bilang, langsung dibelikan dan dianter ke penginapan. Wooh! Asyik juga ya 😀 Kami juga akhirnya mengiyakan tawaran mereka. “Bayarnya nanti aja bu, kalau sudah selesai.” Baiklaaahh…

 

Matahari mulai terbenam dan kami menikmati sunset dari penginapan. Pas mau bersih-bersih… yaaahh… air di penginapannya mati-idup! Kalaupun idup, alirannya keciiillll banget. Mau pindah udah keburu dibayar. Akhirnya kami cuma bisa ketawa-ketawa. Paling nggak si Bapak penjaga penginapan cukup mau berusaha untuk ngebenerin airnya lah. Traveling kan bukan hanya soal hepi-hepi. Tapi juga soal beradaptasi dengan berbagai macam keadaan. Latihan supaya nggak terganggu dengan hal-hal kecil dan tetap fokus pada hal yang positif dan buat hati senang. Seperti hidup ini. #uhukuhuk #benerin kerudung #MamahDinda.

 

Bring it on, Sawarna! We’re ready for your adventure!

SW04Penampakan jembatan Sawarna. Tahun 2015 udah mau habis, jembatan masih begini. *memberikan tatapan laser pada gubernurnya*SW06Ini penampakan Penginapan Malibo. Kalau seandainya bagian depannya sawah, pasti cantik banget ya. Tapi kemarau kemarin emang parah banget 🙁 Dimana-mana coklat gersang.

SW05Duo dedek-dedek ojek merangkap guide nan handal!

SW08Pemandangan dari penginapan. Cantik yaaa…

SW07

 

***

 

PS: Itinerari perjalanan 12 hari Roadtrip Life is A Beach:

Rumah Cibubur – Sukabumi (2 hari) – Ujung Genteng (4 hari) – Sawarna (2 hari) – Ujung Kulon (3 hari) – Tanjung Lesung – Rumah Cibubur.

Day 1: Rumah – Sukabumi | Day 2: Selabintana, Sukabumi | Day 3: Sukabumi – Ujung Genteng | Day 4: Pantai Tenda Biru dan melepaskan tukik di Pangumbahan, Ujung Genteng | Day 5: Pantai Ombak Tujuh, Batu keris dan Cibuaya, Ujung Genteng | Day 6 : Amandaratu, Ujung Genteng | Day 7: Lima pantai di SawarnaDay 8: Perjalanan, Sawarna – Ujung Kulon | Day 9: Pulau Peucang, Ujung Kulon | Day 10: Cidaon, Ujung Kulon | Day 11: Karang Copong, Ujung Kulon | Day 12: Tanjung Lesung dan pulang…

Any comment?