Roadtrip Life is A Beach: Pantai Tenda Biru dan Pantai Pangumbahan

Day 4

 

Kami menghabiskan sepagian di Turtle Beach Hotel. Main di pantai, olahraga (cieee… yang lagi demen Freeletics… olahraga dimana aja nih yeee), sarapan, dan main di kolam renang. Walaupun pantainya banyak karang, suasananya cukup lumayan kok. Memang sih harus harus benar-benar milih spot yang nggak bikin kaki sakit. Tapi, selama hati hepi, pasti semuanya hepi-hepi aja deh kayaknya. Ya kaaaannn?

 

Check-out di hotel ini ternyata jam 11 siang. BabyM masih tidur pula. Jadilah, aku beres-beres kamar duluan, dengan harapan begitu dia bangun nanti kami bisa langsung pergi. Pas masuk-masukin barang ke mobil, kebetulan ada satu keluarga lain yang juga checkout. Ternyata mereka dari Bogor, hihihi. Ngobrol-ngobrol sebentar, kami sepakat pantainya agak kurang asyik buat main anak-anak. “Lebih seru di Sawarna, Mbak,” katanya. Wah, dimana itu? “Itu masih satu jam-an lagi dari Palabuhan Ratu. Tapi pantainya panjang. Bisa asyik main ombak. Bagus.” Oohh… kirain deket-deket sini, hihihi!

 

Setelah BabyM bangun, kami sebenarnya tidak tau mau kemana. Begitupun, kami sepakat untuk menginap satu hari lagi. Sebagian sih karena capek di jalan aja kalau mau langsung pulang. Jadi kami menyusuri saja jalan yang ada. Dari Pantai Pangumbahan tempat hotel kami berada, sampai ke ujung pantai Ujung Genteng dimana ada desa nelayan dan tempat pelelangan ikan.

 

Kami melihat nelayan memilah-milah dan menimbang ikan hasil tangkapan untuk dijual. Kami sempat berusaha bertanya itu ikan apa yang panjang-panjang. Niatnya supaya BabyM bisa belajar nama ikan langsung sama nelayan (latihan belajar ala unschooling nih, hehehe!). Tapi karena mereka juga sibuk sekali, pertanyaan kami dijawab lama dan sekenanya, “Ikan Golok.” Hehehe… ya tidak apa-apa. Mereka juga kan sedang bekerja. Begitupun, BabyM cukup terkesan dengan tempat pelelangan ikan itu. Hingga kami selesai liburan pun dia masih ingat ‘Ikan Golok’ (atau latinnya chirocentrus dorab).

UG01Main di pantai belakang hotel. 

UG02Gara-gara pasirnya yang banyak karang, Baby M jadi mau main di air, YAY!

UG03Cieee… yang lagi ber-Freletics-ria. Walaupun konstum kurang mendukung, yang penting olahraga ya jeung! Ho oh!

UG04Bye hotel! Sampai ketemu lagi!

UG05Ke perkampungan nelayan dan melihat Tempat Pelelangan Ikan.

UG06Pantai nelayan Ujung Genteng dekat Tempat pelelangan Ikan. Anginyaaaaa… kenceng banget dah!

 

 

Pantai Tenda Biru

Setelah sholat Dhuhur di masjid kecil di desa nelayan itu, kami berniat untuk mencari penginapan. Di sepanjang jalan yang kami lalui tadi banyak homestay, dan ada beberapa yang terlihat cukup lumayan. Jadi kami tidak terlalu khawatir harus buru-buru. Tapi tiba-tiba ada yang menarik perhatian kami. Ada sebuah tanda bertuliskan “Pantai Tenda Biru” tapi tanda panah menunjukkan sebuah hutan. Wah apa ini?

 

Setelah tanya-tanya, hutan itu adalah area tempat latihan perang Angkatan Laut. Untuk mencapai pantainya, ya kita masuk hutan itu. Tapi tenang aja, mobil bisa masuk kok. Hanya saja memang dipungut retribusi untuk masuknya. Nggak banyak kok, limaribu perak doang. Waktu masuk, kami sempet khawatir juga dan bertanya ke bapak penjaga berkaos tentara, “Nggak ada yang sedang latihan perang kan, Pak?” Bapaknya senyum, “Nggak adalah, nanti itu latihannya. Bulan April Mei, gitu biasanya.” Oohh… kirain, ‘nanti’-nya itu nanti sorean dikit. Ya bisa panik juga kalau lagi main pasir ada suara tembakan. (Yaelah, din!)

 

Mobil kami masuk hutan dan kami kegirangan. Sudah lama sekali rasanya kami tidak masuk hutan dan lihat segitu banyak pohon, hahaha! Dengan medan yang nggak terlalu berat, kami tersadar bahwa BabyM sepertinya sudah mulai bisa kami ajak ke tempat-tempat yang lebih alami dan adventurous, nggak cuma ke resort-resort cantik dan ‘baby-friendly’ (itu sih ibunya juga kali!). Tapi tak berapa lama kemudian… BabyM mulai gelisah, hahahah! “Mau hotel ajaaaa….” katanya sambil merengek. Bahahahaha! Adventurous sebelah manaaaaa!

 

Kami berusaha mengalihkan perhatian BabyM. Tak sampai sepuluh menit menyetir dalam hutan itu, akhirnya kami tiba di pantainya dan memarkir mobil. Ternyata, pantainya juga banyak karang. Sepertinya, ciri khas pantai Ujung Genteng ini memang begini ya. Karangnya membentuk semacam lantai sehingga kita bisa jalan lumayan jauh ke tengah karena airnya cetek. Ombak pun hampir tidak ada di pinggirnya. Tapi, memang harus pakai sandal kalau tidak mau kakinya sakit.

 

BabyM sama sekali tidak tertarik untuk berpanas-panas ria di pantai yang pasirnya juga tidak bisa dimainin sama dia. Tengah hari bolong, panasnya memang terik banget. Sudah berkali-kali dia bilang mau balik ke hotel aja. Ya sudahlah, kita foto-foto aja sebentar abis itu langsung cari penginapan. Eehh.. ternyata, pas foto-foto di pohon dia malah senang! Dia manjat-manjat dahan dengan bahagia. Akhirnya kami nggak main di pantai sama sekali, dan main di pohon-pohon aja.

 

Setelah satu jam lebih main, kami pun keluar dari area Pantai Tenda Biru untuk mencari penginapan. Ternyata beberapa hotel yang kami datangi di sekitar pantai Ujung Genteng sudah penuh karena hari itu memang hari Sabtu, jadi lumayan banyak wisatawan yang datang. Dari hasil browsing-browsing sebelumnya, akhirnya kami menelepon Penginapan Pondok Alief. Ternyata letaknya malah di Pantai Pangumbahan, dekat Turtle Beach Hotel. BabyM langsung girang bertemu ‘hotel’. Dia langsung masuk kamar dan gogoleran.

 

Penginapan ini lumayan menyenangkan. Kamarnya cukup luas (3x5m) dan areanya juga luas untuk ukuran homestay. Dari gerbang depan, menyebrang jalan raya, sudah langsung pantai (yang tentunya berkarang juga). Tak hanya itu, Pondok Alief ini juga punya restoran. Kami memesan makan siang disini juga: Ikan bakar dan tumis kangkung (lagi! Hahahha).

 

UG07Wiiii…. hutaaaan!

UG08Sepuluh menit bermobil dalam hutan lalu pantainya sudah kelihatan.

UG10Nggak tega mau foto dekat air. Panasnya ampun!

UG30 Pantai Tenda Biru, pasir dengan banyak karang.

UG11Ada yang senang banget manjat pohon!

UG12 UG13Lalu kami pun juga ikutan main di pohon, hahahha! Udah lama nggak manjat-manjat 😀

UG14Begitu sampe penginapan Pondok Alief, BabyM udah berasa pulang ke rumah 😀 

 

 

Pelepasan Tukik di Pantai Pangumbahan

 

Sambil makan, kami ngobrol dengan penjaganya. Dia juga dengan baik hati menawarkan untuk mengantar kami melihat pelepasan tukik (anak penyu). Berangkatnya paling telat jam setengah lima sore. Kami tentunya mengiyakan tawaran itu. Selesai makan dan istirahat sebentar, kami berangkat dipandu oleh motor. Sekitar setengah jam melewati jalan yang lumayan berbatu, kami tiba di pusat konservasi penyu yang letaknya di Pantai Pangumbahan. Kami membayar tiket dan masuk ke lokasi yang juga terdapat bangunan kantor, perumahan pegawai dan fasilitas lain seperti mushola dan aula.

 

Kami langsung masuk dan melihat lapangan pasir tempat penetasan penyu yang semi-alami. Ada banyak lingkaran berpagar kawat dengan tanggal dan angka-angka. Tidak ada petunjuk apapun soal ini. Kami hanya mendatangi orang yang berkerumun, bertanya-tanya pada pengunjung lain, sebenernya sedang lihat apa?

 

Dari pengunjung yang kebetulan mendengar penjelasan dari guide sebuah rombongan yang datang sebelumnya, kami mendapat sedikit informasi. Jadi, para ibu penyu datang ke pantai ini malam-malam dan bertelur. Setelah ibu penyu menguburkan telur-telurnya dalam pasir, ia kembali lagi ke laut. Nah, kemudian petugas menggali lagi telur yang dikubur si ibu penyu, untuk dipindahkan ke tempat penetasan yang lebih aman yaitu lapangan pasir ini. Tidak lupa, diberi keterangan tanggal dan jumlah telurnya.

 

Kalau telur-telur ini mau menetas, pasir diatasnya akan terlihat ambles secara perlahan. Tak berapa lama, tadaaaaa… muncullah si baby penyu! Setiap hari, saat matahari tenggelam, baby penyu atau tukik ini dikumpulkan oleh petugas dan dilepaskan di pantai, sehingga mereka bisa berenang sendiri ke laut. Kami sempat melihat seekor baby penyu keluar dari pasir, dan rasanya luar biasa! Jadi ingat waktu BabyM lahir ke dunia, hihihih! Oh iya, jangan salah ya. Ini penyu, bukan kura-kura. Gampangnya, kura-kura itu punya kuku, kalau penyu tidak.

 

Menjelang sunset, kami berjalan ke arah pantai tempat pelepasan. Dan ternyataaaaa… pantainya menyenangkan sekali! Tidak ada karang dan pasirnya halus! BabyM langsung girang ketemu pantai yang beneran bisa buat main. Langsung deh dia lepas sepatu, lari-lari dan main pasir dengan bahagia. Aku dan Abang juga ikutan senang lihat dia main. Apalagi pemandangannya ada sunset yang bagus, jadi berasa kayak di iklan-iklan pasangan romantis gitu hahahah! Bagitupun, di area pantai sini tidak boleh berenang. Main air dikit-dikit boleh lah sekedar cuci kaki. Tapi kalau berenang memang dilarang karena ombaknya lumayan besar.

 

Tak lama, dua orang petugas datang dengan sebuah ember dan menyuruh pengunjung berkumpul. Sontak semuanya berkerumun di tepian garis batas yang memang sudah disiapkan. Lalu, mereka berkeliling, memperlihatkan ember yang berisi sekitar 50 tukik kepada semua pengunjung. Tenang, semuanya kebagian melihat isi ember kok, jadi nggak perlu sikut-sikutan. Selesai diperlihatkan, ember kemudian diletakkan di pasir dan perlahan digulingkan seperti roda. Tukik-tukik kecil itu keluar dari ember dan berjalan mengarah ke laut! Mungkin seperti bayi manusia yang langsung tau dimana letak puting ibu, bayi tukik juga punya insting untuk langsung berjalan ke “rumahnya”.

 

Melihat mahluk yang begitu kecil dan ringkih berjuang terseok-seok itu bikin terharuuuuuu! Belum lagi kalau ombak datang. Mereka terguling dan terlempar jauh, harus berusaha dari awal lagi. Para pengunjung juga ikutan emosional melihat perjuangan mereka yang berat. Tapi, ya mereka memang harus bisa sendiri, tidak bisa dibantu. Ombak, adalah proses mereka belajar. Tidak menyenangkan, tapi justru itu yang membuat mereka kuat. Dan 30 tahun lagi, jika mereka masih hidup dan sehat, tukik-tukik ini akan kembali ke pantai ini, untuk bertelur. Amazing. This is nature, reminding me to learn and gain wisdom from hardship. *usap air mata haru*

 

Setelah semua tukik berhasil ke laut, aku mengajak BabyM bercakap-cakap dengan salah satu staf konservasi yang ada disitu, Pak Ujang namanya. Menurut beliau, di sepanjang pantai pasir putih di Pantai Pangumbahan ini – sekitar 2,3km – ada 6 pos yang memantau kedatangan penyu tiap hari. Di bulan Agustus sampai Desember, tiap hari hampir selalu ada penyu yang bertelur disini. Kebanyakan adalah Penyu Hijau (chelonia mydas). Dulu, kata Pak Ujang, ada beberapa jenis penyu lain, termasuk Penyu Belimbing (dermochelys coriacea). Tapi sekarang sudah tidak tampak lagi. Mungkin sih mereka mencari tempat bertelur di daerah lain yang lebih sepi. Mudah-mudahan mereka masih punya tempat yang baik untuk berkembang biak yaaaa.

 

Kami kembali ke penginapan dengan hati senang. “Bye bye baby penyu,” kata BabyM saat kami meninggalkan pantai. Yay! BabyM punya kosakata baru lagi, ‘penyu’! Aahh, hari yang menyenangkan!

 

UG15Lapangan pasir tempat penetasan telur penyu. Kalau cuma lihat begini doang tanpa keterangan, bingung juga kan ya?

UG16Kiri: Dalam pagar kawat ini ada telur penyu. Keterangannya adalah nomor urut, tanggal ibu penyu bertelur, dan jumlah telurnya. Kalau sudah mau menetas, pasirnya akan mulai ambles (kelihatan tidak?). Kanan: Yaaayy, baby penyu mulai muncul! Welcome to the world!

UG17Jalan menuju pantai untuk melepaskan baby penyu.

UG18Baca baik-baik ya, tanda-tandanya!

UG19Nggak bisa liat pasir halus dikit, bawaannya udah mau gogoleran aja 😀

UG21Sunset yang cantik dan ehm, romantis 😛

UG22 Karena anaknya heboh main sendiri, Bapak-Ibu pacaran, eh, wefie dulu yaaa…

UG24Pas enak-enak liat sunset, tiba-tiba staf konservasi datang dan dalam hitungan detik semua orang berlarian dan berkerumun!

UG23 Kiri: Staf konservasi bersiap menjelaskan siklus hidup penyu. Kanan: Baby penyu diperlihatkan kepada semua pengunjung.

UG25Wiiiii….

UG26Ember digelindingkan dan baby penyu berjatuhan ke pasir.

UG27“Heii… lihat itu baby penyunya jalan,” kata Bapak ke BabyM.

UG28Baby penyu berjuang menuju laut dan kadang-kadang kena ombak lalu terhuling :_(

UG29Bye bye baby penyu… sehat-sehat sampai kembali 30 tahun lagi untuk bertelur disini yaaa…

 

***

 

PS: Itinerari perjalanan 12 hari Roadtrip Life is A Beach:

Rumah Cibubur – Sukabumi (2 hari) – Ujung Genteng (4 hari) – Sawarna (2 hari) – Ujung Kulon (3 hari) – Tanjung Lesung – Rumah Cibubur.

Day 1: Rumah – Sukabumi | Day 2: Selabintana, Sukabumi | Day 3: Sukabumi – Ujung Genteng | Day 4: Pantai Tenda Biru dan melepaskan tukik di Pangumbahan, Ujung Genteng | Day 5: Pantai Ombak Tujuh, Batu keris dan Cibuaya, Ujung Genteng | Day 6 : Amandaratu, Ujung Genteng | Day 7: Lima pantai di SawarnaDay 8: Perjalanan, Sawarna – Ujung Kulon | Day 9: Pulau Peucang, Ujung Kulon | Day 10: Cidaon, Ujung Kulon | Day 11: Karang Copong, Ujung Kulon | Day 12: Tanjung Lesung dan pulang…

Any comment?