Roadtrip Life is A Beach: Pantai Ombak Tujuh, Batu Keris dan Cibuaya

Day 5

 

Tadi malam saat makan, kami ngobrol-ngobrol dengan staf Pondok Alief. Katanya, di Ujung Genteng ini banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi. Kalau mau air terjun, ada Curug Cikaso. Kalau mau melihat pemandangan cantik, bisa ke Amandaratu. Kalau mau pantai lain, ada Pantai Cibuaya yang pasirnya halus banget, dan Pantai Ombak Tujuh yang sering dijadikan tempat surfing. Kabarnya, pantai-pantai di sekitar sini memang banyak surfing spot.

 

Kali ini, kami tidak terlalu berminat ke air terjun. Kalau ke Amandaratu, nanti bisa sekalian jalan pulang. Ke pantai aja kali ya. Jauhkah pantainya? Dua pantai ini jalannya searah, melewati tempat konservasi penyu kemarin. Kalau Cibuaya sih bisa naik mobil, tapi kalau ke Ombak Tujuh harus naik motor karena jalannya kecil. Hmmm… Berapa lama? Sekitar satu jam. Tapi, medannya agak lumayan. Harus lewat ladang penduduk, lewat hutan lindung, dan lewat tiga sungai. Whaattt???

 

Antara khawatir dan excited, kami sepakat untuk ke Pantai Ombak Tujuh. Menyewa 2 ojek yang dibanderol 150rb/motor, si Abang udah wanti-wanti ke kang ojeknya bahwa kami akan bawa anak kicik. Kenyamanan BabyM adalah prioritas utama yang nggak bisa ditawar. Kalau dia anteng, kita meneruskan perjalanan. Tapi kalau dia rewel dan nggak sanggup, maka kita balik kanan. Bayarnya juga nanti disesuaikan dengan perjalanan. Okelah sepakat!

 

Saat mau berangkat dan diajakin naik motor, BabyM udah merengek, “Nggak mauuu (pergi), disini ajaaaaa….” Pengalamannya naik motor memang baru bisa dihitung jari. Tapi, memang di umurnya ini, dia udah bisa bilang ‘nggak mau’ atau bahkan ‘nggak suka’. Hih, gemes. Untungnya nggak perlu waktu lama untuk meyakinkannya. Setelah aku pakaikan gendongan boba, kami udah siap melaju!

UG31Markitgo!

 

Hanya satu kata menggambarkan perjalanan ke Pantai Ombak Tujuh: DAHSYAAAAAATTTTT!!! Perjalanan ini justru menjadi high-lite liburan kami! Naik motor hampir satu jam, offroad abis! Aku dan BabyM terlonjak-lonjak di atas jok motor. Kami masuk perkampungan, jalan setapak di tengah ladang-ladang, masuk kawasan hutan lindung (kenapa setiap dengat kata hutan lindung selalu ingat Unyil dan Pak Raden?!), dan melewati sungai-sungai yang airnya kering karena kemarau yang panjang. Ada kalanya kami harus turun dari motor karena jalan terlalu curam. Kepala, tangan dan terutama kaki entah berapa kali terlibas ranting. Segitu hebohnya di jalan, bagaimanakah BabyM? Dia TIDUR, sodara-sodara, ahahahha!

 

Menurutku, pakai ojek adalah pilihan yang tepat untuk pergi ke Pantai Ombak Tujuh. Kalaupun bisa naik motor sendiri, belum tentu juga bisa sepintar itu mengendalikan motor di medan yang menantang. Butuh skill dan jam terbang tinggi! Harga 150rb langsung dirasa terlalu sedikit, hahahah! Tapiiiii, kayaknya menurutku yang paling seru adalah kalau naik sepeda. Gaya ‘offroad’-nya dapet, tapi masih santai dan menikmati sekeliling dengan seksama. Kalau naik motor terlalu berisik. Kami sempat melihat burung sebesar ayam dan berekor panjang, tapi langsung kabur begitu dengar suara motor. Kalau naik sepeda, masih bisa berhenti dan menikmati hal-hal seperti itu. Nanti deh kesini lagi kalau BabyM sudah besar dan bisa naik sepeda, Aaamiinn!

UG32Awal perjalanan sih masih santai lah jalannya…

UG33Pemandangan yang bagus :’)

UG34Oke, perlu turun nggak nih, kang? Jembatannya mengkhawatirkan…

UG35Melewati salah satu sungai. Oke, fix. Kami turun aja ya kang 😀

UG36Ini juga sungai loh. Hiks, sungai kering kerontang begini karena kemarau. 

UG37Hegghhh… iyaahh.. silahkan kang! Kami jalan aja deh kalau tanjakannya sampe begini.

UG38

Oke, mungkin fotonya kurang mencerminkan medan yang ‘ganas’ 😀 Abisnyaaa… boro-boro motret yaaa, nggak jatuh dari motor aja kayaknya prestasi 😀

 

Satu jam bermotor, kami melihat pantai. Menurut Kang Ojek kami, di sepanjang pantai ini ada beberapa spot menarik. Ke kiri ada Ombak Tujuh, dan ke kanan ada Batu Keris. Yang paling dekat (karena udah kelihatan) adalah ke kanan. Batu keris ini semacam karang yang sangat besar, udah kayak lantai permanen. Kami jalan ke balik-balik karang, naik-turun bebatuan tajam, mengikuti jalur para pemancing, dan menemukan teluk kecil dengan pantai kecil yang cukup tersembunyi. Sebagian pantainya juga berpasir halus sehingga BabyM bisa main dengan bahagia. Ombaknya lumayan besar, jadi nggak bisa berenang, tapi (bapak-ibunya) main basah-basahan seru juga kok.

 

Kami memutuskan untuk menggelar tikar dan piknik disitu. This is our kind of beach. Sepi, teduh, private serasa milik sendiri, pasir halus, ombak asyik buat mainan dan tentunya, waktu yang tak terbatas buat main bersama. Kalau sudah ketemu spot asyik begini, kami jadi agak malas untuk menjelajah pantai lain. Yang penting kan hepi-hepinya. Ya nggak? Ya nggak? *naik-naikin alis*

 

Kami main sepuasnya sampai jam makan siang. Menyerok pasir, membuat kubangan, lari-lari pura-puranya dikejar ombak, lihat umang, mengumpulkan kerang dan karang. Kami memakan bekal roti yang dibawa pagi tadi dan tidur-tiduran santai. Sampai akhirnya BabyM merengek minta pulang: “Mau nenen di hotel ajaaaa….” Bahahahaha…. anakkuuuu. Ini gara-gara sering travelling dan pindah-pindah hotel, BabyM merasa semua hotel adalah miliknya 😀 Duh, mudah-mudahan nanti kita juga bisa punya hotel sendiri ya, Nak. It’s okay to dream big, hahahah! *Mohon AMIN yang banyak ya, kak :D*

 

UG39Yaaayy…! Sampai deh di pantainya! Oke, lalu mau kemana? Kiri Ombak Tujuh, Kanan Batu Keris

UG42Memutuskan untuk ke Batu Keris, yang sebenarnya adalah karang yang luas.

UG40Foto dulu deh, anaknya masih tidur 😀

UG41Ombak Tujuh itu yang disana,” kata guide kami.

UG46Kiri: Berjalan di atas karang. Kanan: Udah mau manjat-manjat aja nih, bangun tidur 😀

UG44Melihat-lihat sekeliling sebelum menentukan spot untuk piknik.

UG43Oke, piknik disini kayaknya pas. Serasa pantai punya sendiri 😀

UG45Hati-hati turunnya, Pak!

UG48Bapaakkk… ayo mainnn!

UG49Bapaaakkk… jangan main mulu, ayo makan 😀

UG47Makan siang seadanya :D. Kami nggak banyak foto-foto disini, soalnya kebanyakan main dan menikmati pantai, jadi males foto-foto hahahah!

 

Karena BabyM sudah sangat ingin pergi dari tempat itu dan tak bisa dirayu lagi, kami memutuskan untuk berbenah dan pergi. Kami mengisi pasir kedalam beberapa botol air mineral sebagai ‘oleh-oleh’ untuk mainan BabyM di rumah. Kang Ojek lalu bertanya apa kami masih mau ke Ombak Tujuh. Kalau hanya pantainya sih itu sudah kelihatan. Tipenya miriplah dengan Pantai Pangumbahan di belakang hotel kemarin, hanya saja ombaknya memang keren. Yang senang surfing pasti suka. Tapi, kalau mau melihat pemandangan yang lebih oke, motor parkir di pantai itu, lalu kita jalan sedikit menanjak sekitar setengah jam. Pengen sih lihatnya, tapi sepertinya BabyM terlalu gelisah dan kami pun sudah agak lelah. Belum lagi jalan pulang yang lumayan ekstrim. Mudah-mudahan bisa kesini lagi deh, kapan-kapan.

 

Jalan pulang kembali ajrut-ajrutan dan BabyM tidur lagi. Saat melewati lokasi Pantai Cibuaya, kami memutuskan berhenti sebentar, supaya nggak penasaran aja. Ternyata emang lagi panasssssss banget. Enaknya sih memang pagi atau sore disini untuk main pasir. Pasirnya halus banget dan luas seperti gurun. Tapi, tidak boleh berenang atau bahkan main di bibir pantai karena ombaknya berbahaya. Jadilah kami foto-foto sebentar dan meneruskan perjalanan pulang.

UG52Pantai Cibuaya, berasa gurun daripada pantai, hihihi…

UG50Peringatan *glek*

UG51Udah ah, pulang. Panas banget dan anaknya udah gelisah.

 

Sampai di penginapan, kami istirahat sejenak sebelum makan bareng Kang Ojek. Tadinya mau dilanjutin ke Amandaratu segala, tapi sudah gempor. Enough fun for today. Palingan kami mau main di pantai depan penginapan aja sore ini. Sebelum berpisah dengan Kang Ojek nan handal dan perkasa, kami menambah tip ekstra untuk mereka. Skill bermotor dan servis mereka layak mendapatkannya!

 

Usai makan, aku dan si Abang ngobrolin rencana selanjutnya: besok mau ngapain? Pulang? Atau gimana? Sesungguhnya, dua orang ini sangatlah bahagia sampe agak nggak rela buat pulang, hahaha! Kami melihat peta dan mengira-ngira jalur pulang. lalu teringat saran sesama traveller waktu check-out hotel kemarin, “Apa kita ke Sawarna dulu?” Jika kami pulang melewati jalur Barat, kami bisa bertemu pantai-pantai lain. Palabuhan Ratu, Sawarna, lalu naik terus hingga Anyer dan pulang lewat tol Cilegon. Rencana menyusur pantai ini terdengar SANGAT menarik! “Wah boleh juga,” timpal si Abang. “Kita mungkin bisa juga nih ke Ujung Kulon!”

 

Kyaaaaa! Mata berbinar-binar, hati deg-degan membayangkan petualangan selanjutnya. Pantai-pantai… kami datang! Tunggu kami ya!

 

UG53 UG54Sunset di pantai depan penginapan. Cantik ya…

 

***

 

PS: Itinerari perjalanan 12 hari Roadtrip Life is A Beach:

Rumah Cibubur – Sukabumi (2 hari) – Ujung Genteng (4 hari) – Sawarna (2 hari) – Ujung Kulon (3 hari) – Tanjung Lesung – Rumah Cibubur.

Day 1: Rumah – Sukabumi | Day 2: Selabintana, Sukabumi | Day 3: Sukabumi – Ujung Genteng | Day 4: Pantai Tenda Biru dan melepaskan tukik di Pangumbahan, Ujung Genteng | Day 5: Pantai Ombak Tujuh, Batu keris dan Cibuaya, Ujung Genteng | Day 6 : Amandaratu, Ujung Genteng | Day 7: Lima pantai di SawarnaDay 8: Perjalanan, Sawarna – Ujung Kulon | Day 9: Pulau Peucang, Ujung Kulon | Day 10: Cidaon, Ujung Kulon | Day 11: Karang Copong, Ujung Kulon | Day 12: Tanjung Lesung dan pulang…

Any comment?