Roadtrip Life is A Beach: Lima Pantai di Sawarna

Day 7

 

Kami bangun pagi-pagi lalu jalan beberapa ratus meter dari Penginapan Malibo, Sawarna, untuk main ke pantai pasir putih yang terbentang didepannya. Si abang lari pagi di pinggir pantai, sementara aku dan BabyM bermain pasir sambil membuat sarapan roti. Kang ojek sudah mengirim sms dan bilang mereka siap menjemput kapan saja. Tapi kami belum berminat untuk kemana-mana. Pagi itu santai sekali, kami seolah-olah tidak perduli dengan waktu dan hanya ingin menikmati pantai yang berpasir halus dan bersih itu.

 

Satu persatu warung mulai buka. Kami memesan teh dan meminumnya sambil bermain pasir. Setelah capek bermain pasir, kami sarapan di warung sambil ngobrol-ngobrol dengan pemilik warung, Kang Uday namanya. Dia bercerita betapa sulitnya membangun Sawarna. “Soalnya semua batu, semen ya harus diangkut pakai gerobak kecil. Jalannya kan cuma bisa dari jembatan gantung itu,” kenangnya. Kang Uday yang baru punya bayi berusia tiga bulan itu juga bilang, jembatan besar sedang dibangun agar mobil bisa masuk. “Mungkin tahun depan sudah bisa,” katanya.

 

Kami sempat mandi di kamar mandi umum milik warung Kang Uday, karena air di penginapan mati lagi. BabyM bahkan sempat tertidur di dipan depan warung sambil menikmati angin yang sepoi-sepoi. Saat BabyM bangun, barulah kami memanggil ojek untuk bersiap-siap jalan. Saat pamitan dengan pemilik warung, dengan baiknya dia menawarkan untuk mengantar makanan jika diperlukan. “Telepon atau sms aja mau makan apa, nanti dianterin!” Mantap kaliiiiii!

 

SW09 Nelayan baru pulang melaut di pantai pasir putih, Sawarna.

SW11 Kami sarapan sementara si Bapak lari-lari di pantai kayak di pelem-pelem

SW12 Main-main pasir

SW13 Ecieee… ada yang minum teh nih yeeee….

SW14 Lagi ngapain nak? Lagi masak pasir!

SW15

Ini cuma aku atau si Abang memang terlihat ganteng banget ya pagi ini… *YA MENURUT NGANAAAAA*

 

Matahari sudah cukup tinggi. Aku melihat jam dan sudah menunjukkan pukul 11 siang saat aku naik ke jok motor. Sebenernya sih lebih enak goler-goler di penginapan ya, heheheh. Tapi ya sudahlah, itung-itung sambil cari tempat asyik buat makan siang ini.

 

Bersama Dery, sang guide merangkap ojek driver nan handal, kami menuju tiga lokasi yang berdekatan: Karang Beureum, Lagon Pari dan Karang Taraje. Walau tidak seekstrim jalan menuju Pantai Ombak Tujuh di Ujung Genteng kemarin, kami juga melewati ladang-ladang penduduk dan hutan-hutan kecil.

SW18Kami mau ke lokasi di ujung bawah kanan.

SW16Bukan cuma di jalan masuk, di jalan ke Karang Beureum juga mesti lewat jembatan gantung begini. 

SW17Pemandangan di jalan. Ada beberapa spot yang lebih ekstrim, tapi nggak terlalu parah. 

 

Karang Beureum (yang berarti karang merah) sendiri adalah pantai dengan batu karang yang luas. Mirip Batu Keris di Ujung Genteng, tapi bebatuannya lebih tajam dan masih banyak genangan air. Jalan harus hati-hati. Kenapa namanya Karang Beureum? Aku tanya Dery. “Itu ada karang yang warnanya merah” katanya sambil menunjuk sebuah tempat. Tapi aku hanya ngeliat seonggok batu kecil warna kecoklatan, hahahah! Begitupun, kami senang memperlihatkan ke BabyM ikan-ikan kecil, umang juga kepiting di sela-sela karang.

 

“Tante, mau lihat nggak? Ada yang lagi mancing ikan,” tiba-tiba Dery menyapaku yang membuat aku kaget. Kagetnya sih karena dipanggil “tante”, hahahah! Dari kejauhan kami melihat dua orang memancing namun separoh badan mereka berada di air. Kami mendekat dan ternyata mereka sudah mendapat ikan. Ikan berbentuk panjang bergigi tajam, Ikan Cendro, namanya (Latin: Tylosurus spp.). Ikan yang masih hidup tapi luka karena kail itu diletakkan begitu saja dalam kubangan air di karang.

 

Bisa kita beli nggak ya, buat makan siang? Harganya berapaan ya? Eh, tapi masaknya dimana ya? “Paling harganya dua puluh ribuan, Tante. Nanti masaknya di sana aja, ada warung. Sering kok begitu,” kata Dery menjelaskan. Dia pun pergi menemui sang pemancing dan bertanya harga. Sang pemancing kemudian mendatangi kami. Dia mengatakan harganya duapuluh ribu. Sesungguhnya ikan itu besar sekali. Dan katanya enak banget. Kalau di Jakarta pasti udah mahal deh kayanya. Aku menyuruh Si Abang memberikan lebih. Kami akhirnya memberi 25 ribu.

 

Sebelum kami beranjak pergi mencari warung, pemancing yang satu lagi mendapatkan ikan! Kami menyaksikan prosesnya ‘bertarung’ melawan ikan yang kayaknya cukup kuat ini. Setelah bisa menguasai ikan, dia juga berjalan kea rah kami untuk memasukkan ikannya ke kubangan air. Kasihan juga dia kalau ikannya nggak dibeli. Tapi kami sudah punya ikan untuk makan siang? Ya udah lah, untuk makan malem sekalian, hahaha! Akhirnya kami juga membeli ikan (yang ukurannya lebih besar pula daripada yang pertama!) dari bapak pemancing itu. Dia bilang harganya 25 ribu, dan kami berikan 30 ribu.

SW19Pantai Karang Beureum. Lihat nggak itu disana karang warna merah? Aku sih nggak 😀

SW20 Mesti jalan dengan hati-hati karena karangnya tajam dan banyak kubangan air. 

SW23 Kanan: Cara mancing Ikan Cenro. Kiri: Yay! Dapet deh ikannya. Gede banget!

SW25Buat makan siang dan makan malam! Maksudnya ikannya ya, bukan orangnya 😀

 

Dengan menenteng dua ikan besar, kami ke Lagon Pari, pantai nelayan yang sering dijadikan tempat main pasir juga. Hanya ada satu warung yang buka. Saat ditanya apakah bisa memasak ikan, jawabannya bisa. Tapi nggak ada sayur, paling hanya lalap timun dan sambel. Ya udah nggak apa-apa.Di depan warung ada banyak nelayan yang sedang beristirahat. Langsung aja mereka semua kami ajak makan dua ikan besar tadi!

 

Ikannya sebagian di bakar dan sebagian di goreng. BabyM bahagia luar biasa! Dia ikutan kipas-kipas ikan yang sedang dibakar bersama Pak Uton, suami ibu warung. Dan saat si ibu sedang mengulek-ulek bumbu, dia juga ikutan ulek-ulek. Untungnya ibu warungnya baik banget dan membiarkan BabyM kesana kemari, hihihi.

 

Setelah penantian yang (terasa) lama (karena udah laper banget!), akhirnya ikan pun siap! Kami makan bersama para nelayan, yang punya warung, dan tentunya dua guide kami. Ternyata ikannya ENAK BANGET! Tapi yaaa, memang ikan segar pasti enak ya. Apalagi abis di pancing dan langsung dimasak. Surga! Kalau udah sampe pasar di Jakarta sih udah mati berkali-kali tuh ikannya. Mendingan makan yang lain deh.

 

Walaupun udah dimakan banyak orang, ternyata masih banyak sisa. Kami hanya mengambil beberapa potong, secukupnya untuk makan malam nanti. Sisanya, kami berikan ke ibu warung yang awalnya menolak, tapi aku paksa, hihihi. Dan saat ditanya berapakah semuanya? Si Ibu bingung dan aku membantu dia menghitung perkiraan. Akhirnya keluar angka 120 ribu saja! Ya ampun, segitu banyak kok cuma segitu. Akhirnya aku melebihkan 50ribu, hitung-hitung ucapan terimakasih karena udah mau dirusuhin BabyM.

SW24Cieeee… udah kayak si Bapak aja yang abis mancing 😀 

SW27Satu-satunya warung yang buka. Untung bisa masakin ikannya!

SW26Sementara nunggu ikan masak, sholat dulu. Abis sholat, ngajarin anaknya main kartu. Hidup harus seimbang 😀

SW28 Wiiii… tampaknya enaaaakkkk! *Abaikan sarungnya* *Berasa kayak lagi di kampung sendiri soalnya*

SW29Daaaannn… anak kicik pun turut membantu membakar ikan. Betah dia berlama-lama dekat sambil kipas-kipas.

SW30Dimanapun, kapanpun, anak kami tetep mainannya seputar masak-masak. Dia memang konsisten!

SW31 Selamat makaaaaan! Ikannya enak bangeeett!

SW32

Selesai makan, BabyM masih terus aja main. Kali ini bantuin bapak pemilik warung yang sedang benerin dinding dapur warungnya. BabyM terkesan banget dengan kegiatan ini. Sampe pulang pun dia masih ingat. Setiap ada orang bertukang, dia akan bilang “Ketok-ketok kayak Pak Uton!” :’)

 

Selepas sholat Asar, kami pamitan dan beranjak menuju Karang Taraje. Karang Taraje yang artinya karang tangga ini bentuknya memang berundak-undak. Katanya, tempat ini bagus kalau dilihat saat sunrise saat air masih pasang. Ombak dari balik karang akan meluap dan membuat efek seperti air terjun. Kalau air sedang surut di sore hari, efek air terjun ini tidak bisa dinikmati. Hanya saja, pengunjung bisa naik keatas karangnya. Dengan menggendong BabyM, kami naik ke atas karang. Dan pemandangannya baguuuuuusssss!

SW35Ada yang mau jalan sendiri, nggak mau dipegangin!

SW34Terus ada yang tiba-tiba pengen nenen -.-

SW37Cantik!

SW36Kalau lagi air pasang, airnya tumpah kesini dan membuat efek air terjun yang keren. Tapi kalau sedang surut, bisa dipanjat untuk ngeliat laut dibaliknya.

SW38Taraaaaa! Ini pemandangan dibaliknya! Bagus banget yaaaa! Jadi kayaknya mesti dua kali deh kemari. Sekali pas pasang, sekali lagi pas surut. 

SW39

SW40

 

Puas berfoto-foto di Karang Taraje, kami menuju pulang. Kami akan singgah ke Pantai Tanjung Layar untuk melihat sunset. Jalan pulang ternyata menggunakan rute yang berbeda dari jalan pergi. Saat pulang, kami melewati “Bukit Senyum” yang ternyata ada di atas penginapan kami. Kenapa namanya bukit senyum? Karena kalau lewat sini pasti senyum lihat pemandangan bagus. Yayayaa… bolehlah, hahahah!

 

BabyM sudah tertidur dalam gendongan saat kami tiba di Pantai Tanjung Layar. Pantai ini terkenal karena ada dua batu karang besar yang bentuknya seperti layar kapal. Siluet batu dengan latar matahari tenggelam dibelakangnya terlihat memesona. Begitupun, karena BabyM sudah tidur pulas dan hujan gerimis mulai turun, kami hanya foto-foto sebentar lalu kembali ke penginapan.

 

Huah! Hari yang sungguh menyenangkan! Capek, tapi menyenangkan sekali! Sesungguhnya masih ada beberapa lokasi keren lain untuk dikunjungi. Ada beberapa goa dan pantai-pantai lain yang tak kalah eksotis. Kami menghitung-hitung hari. Ini sudah hari ke tujuh, dan kami masih berniat untuk ke Ujung Kulon. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap hanya semalam lagi di Sawarna, dan akan meneruskan perjalanan besok. Sekarang, istirahat dulu yaaa!

SW41 Kiri: Jalan pulang. Kanan: Sunset dari Bukit Senyum

SW43Sunset di Pantai Tanjung Layar.

SW42Let’s call it a day…

 

***

 

PS: Itinerari perjalanan 12 hari Roadtrip Life is A Beach:

Rumah Cibubur – Sukabumi (2 hari) – Ujung Genteng (4 hari) – Sawarna (2 hari) – Ujung Kulon (3 hari) – Tanjung Lesung – Rumah Cibubur.

Day 1: Rumah – Sukabumi | Day 2: Selabintana, Sukabumi | Day 3: Sukabumi – Ujung Genteng | Day 4: Pantai Tenda Biru dan melepaskan tukik di Pangumbahan, Ujung Genteng | Day 5: Pantai Ombak Tujuh, Batu keris dan Cibuaya, Ujung Genteng | Day 6 : Amandaratu, Ujung Genteng | Day 7: Lima pantai di SawarnaDay 8: Perjalanan, Sawarna – Ujung Kulon | Day 9: Pulau Peucang, Ujung Kulon | Day 10: Cidaon, Ujung Kulon | Day 11: Karang Copong, Ujung Kulon | Day 12: Tanjung Lesung dan pulang…

One Response

  1. udinpoto January 2nd, 2016 at 5:23 pm

    Jd kepengen……… *sarungnya*

Any comment?