Roadtrip Life is A Beach: Drama Ujung Kulon!

Day 8

Kami checkout dari Penginapan Malibo, Sawarna, dan diantarkan oleh ojek ke mobil. Maunya sih langsung tancap gas ke Ujung Kulon. Tapi apa daya, pemandangan di jalan bagusnya, Masya Allah…. Masih di seputaran Sawarna aja kami udah berenti lama, pakai makan indomi pula di warung! Belum lagi, saat melewati jalan Bayah hingga Malingping. Walaupun jalannya jelek dan sedang diperbaiki, tapi pemandanganya jangan ditanya! Ala ala ‘great ocean road’ gitu deh. Setelah habis melihat jalanan dengan pemandangan pantai, kami memasuki hutan jati. Duh, memanjakan mata dan perasaan banget deh…

 

Soal Ujung Kulon, kami tidak tau banyak informasi. Dulu, sepertinya aku pernah mencari informasi untuk kesini, tapi karena terasa ribet (terutama banyak peringatan soal jalan yang jelek), Ujung Kulon tidak menjadi prioritas. Sambil jalan dan liat-liat pemandangan cantik di kiri kanan, aku mencari berbagai info terkini mengenai Ujung Kulon.

 

Aku menelpon beberapa tur operator dan bertanya soal kondisinya. Ternyata, kalau mau ke Ujung Kulon, kita bisa berhenti di Desa Sumur (atau Taman Jaya). Nanti disitu bisa minta izin masuk ke kantor Taman Nasional Ujung Kulon. Setelah itu, kita bisa naik kapal dan mengitari taman nasional. Penginapan ada di salah satu pulau, namanya Pulau Peucang. Tapi, saat tanya harga, aku mendadak pusing tujuh keliling. Kalau lihat dari harga di website penginapannya, harga paket 3 hari 2 malam termasuk makan dan berbagai aktivitas seperti trekking, snorkeling dan memancing, dibanderol 3,4 juta per orang. Lalu, kalau dari orang travel agent, dengan paketan yang sama tapi untuk kami bertiga, harganya bahkan sampai 10 juta. Pengsan.

 

Kalau lihat foto-fotonya yang bagus banget di internet, sesungguhnya langsung pengen teriak, “Gapapa deh! Booking aja! Gapapa nanti sampe rumah makan sepiring berdua aja!” Tapi yah… nggak bisa begitu juga. Kalau harga segitu memang diluar budget kami (dan rasanya kemahalan, ya nggak sih?). Sesungguhnya yang bikin mahal adalah biaya sewa kapal dan kami ngerti banget ini. Kalau ikutan open trip yang sekali pergi 20 orang, biaya bisa jadi murah banget. Biaya satu kapal dibagi 20, sedang makan dan penginapan masing-masing. Tapiiii… gimana mau ikut open trip yang biasanya adanya kalau weekend? Kami datang hari Rabu.

 

Akhirnya kami memutuskan untuk tetap pergi ke desa Sumur. Kali aja nanti disana ada semacam penginapan dan travel agent yang bisa ditanya langsung. Atau, paling tidak jalan-jalan di daerah itu, mungkin ada pemadangan bagus biar nggak kecewa-kecewa amat. Di dekat situ katanya ada Pulau Umang, bisa jadi alternatif. Begitupun, kami sepakat, jika memang harga-harga terlalu mahal, kami langsung pulang aja. Nginep di Ancol. Ngok.

 

Kami tiba di desa Sumur sekitar jam 5 dan sholat Ashar di masjid setempat. Setelahnya, kami nanya-nanya marbot masjid soal wisata disini. Dia bilang, kalau penginapan ada di Pulau Umang. Kapalnya juga selalu ada. Yang di darat hanya satu, Wisma Sarang Badak. Ya udah, kami pun menuju penginapan ini, yang hanya beberapa ratus meter jaraknya dari masjid.

 

Begitu nyampe, nggak ada orang ahahahha! Dengan sinyal yang parah banget, aku mencoba menelepon nomer yang tertera di banner. Nyambung. Dengan Pak Edi. Hari sudah mau magrib dan Bapaknya dateng dengan sarung, sepertinya mau ke masjid, hahahah! Untunglah ada kamar yang tersedia. Banyak pun. Tapiiii…. Karena musim kemarau yang emang parah banget, di hotel ini air mati. Kami hanya diberi jatah air satu ember besar. “Kalau mau mandi enak, di rumah saya aja, nggak apa-apa,” kata Pak Edi.

 

Lepas magrib, kami ngobrol-ngobrol dengan Pak Edi soal masuk ke taman nasional. Kayaknya kami bertemu dengan orang yang tepat banget! Pak Edi menjelaskan bahwa kalau pergi hanya sekeluarga gini, memang jauh lebih mahal. Biaya kapal jadi ditanggung sendiri. Tapi, baiknya sih, kita bisa bebas mau pergi kemana aja. Dan, nginepnya bisa di kapal aja. “Kalau menginap di pulau, kamar harga 700 ribu semalam sama dengan kamar yang disini hanya 100-150 ribu,” katanya. Ooo… baiklah. Setelah diskusi dan melihat peta Taman Nasional Ujung Kulon untuk mengira-ngira itinerary, kami akhirnya sepakat untuk liveaboard di kapal 3 hari 2 malam. Dari Desa Sumur, kami akan langsung ke pulau terjauh dan tak berpenghuni, Pulau Panaitan, untuk trekking. Lalu baru ke Pulau Peucang. Setelahnya barulah menyusuri spot-spot asyik untuk snorkeling. Berapakah biayanya? Ternyata totalnya 4,5 juta saja! Itu sudah termasuk makan dan biaya-biaya admistrasi untuk masuk taman nasional. Kami tinggal tau beres. Langsung deh kami iyakan! Duh, nggak sabar nunggu besok!

 

SW45Baru juga jalan lima belas menit dari Sawarna, udah ketemu lagi pemandangan beginian….

SW44Ya udah, berenti dulu aja deh 😀

SW48  Jalan Bayah-Malingping, ala ala great ocean road! Bagus yaaa…

SW50 Pohon di kiri kanan, tandanya mulai memasuki area Taman Nasional Ujung Kulon.

UK01Wisma Sarang Badak, Desa Sumur, Ujung Kulon.

 

***

 

Day 9

Kami bangun pagi dengan semangat. Setelah sarapan (dan babyM main dengan ayam dan kucing yang berkeliaran di penginapan), kami langsung beres-beres dan loading barang ke kapal. Aku sempat beli baju di pasar karena stok baju udah tipis, hihihih! Sampai disini sih BabyM masih senang-senang aja. Tapi, begitu masuk sampan kecil yang digunakan mengantar tamu ke kapal motor yang lebih besar, dia mulai nangis. Padahal hanya 5 menit perjalanan.

 

Sampai kapal motor, tangisnya malah makin menjadi. Dia histeris. Badannya mengejang, memelukku dengan kuat, berteriak, “Nginap hotel ajaaaaaaaaaa….” Seisi kapal hening! Pak Edi yang ikut mengantar terlihat prihatin. Begitu juga Pak Kapten kapal dan ABK-nya, yang bahkan belum aku sapa, apalagi berkenalan. Aku dan abang berpandang-pandangan. Ini anak kalau dibiarin begini bisa trauma, bisa-bisa nggak mau liat laut lagi.

 

Segala cara dicoba untuk menenangkannya. Akhirnya kami meminta kapten kapal mematikan mesin dulu. Sepertinya kalau BabyM begini histerisnya, mau tidak mau kami harus mempertimbangkan opsi pembatalan perjalanan. Kami hanya akan berangkat jika ia sudah tenang. “Mau hotel ajaaaa…,” katanya masih menangis. Mau nenen? “Nenen hotel ajaaaaa….” Wah coba lihat ini ada ikan, main sama ikan mau? “Main ayam hotel ajaaaa….” Eaaaaaakkkk! Sementara itu, ternyata Pak Kapten memutuskan untuk kembali ke darat, meminta “air putih kepada seseorang” supaya BabyM tenang.

 

Dia masih meraung-raung. Dikasih nenen nggak mau. Dikasih wajan, mainan kesukaannya juga nggak mau. Lalu tiba-tiba aku teringat: masih ada satu cup nata de coco sisa beli kemaren. BabyM suka banget cup nata de coco buatan Indomaret, tapi karena terlalu manis, kami hanya membolehkan dia makan seminggu sekali setiap hari minggu. Nah, itu sebenarnya adalah jatah untuk hari minggu depan. “Nak, mau coco?” Tiba-tiba tangisnya langsung berenti *sembah coco*. Kata Pak Edi, mungkin “air putih” yang sedang diambil sudah mulai “connect” ke BabyM. Yaaahh… percaya nggak percaya aja deh, yang penting Bismillah, yaaaa!

 

Pak Kapten yang kemudian kenalan bernama Pak Nung kembali dengan Aqua kemasan seliter. Aku disuruh membasuh wajah dan kepala BabyM dengan air itu. Aku mengusapkan air itu sambil membaca shalawat dan doa-doa, Ya Allah… berikanlah keberanian untuk BabyM dan semoga kami semua bisa liburan dengan menyenangkan. Untuk jaga-jaga, kami minta ABK untuk kembali ke darat, dan beli stok nata de coco sepuluh cup, hahaha!

 

Sebenarnya, “menyogok” anak dengan makanan adalah ‘big no no’ untuk kami. Sejak awal, kami berusaha membangun kebiasan makan yang sehat. Tapi, tapiiiiii… mau gimana? Menjadi orang tua terkadang harus ambil keputusan yang sulit. Tapi ya sudahlah. telan saja, maafkan diri sendiri, move on, dan besok mulai lagi dari awal. Bolehlah coco untuk sekarang. Begitu sampai rumah, peraturannya kita ulang lagi yaaa.
Begitu BabyM sudah tenang, kapal mulai dihidupkan dan kami jalan. Jeng jrreeeeeenggg…. BabyM nangis lagi, hahahaha *tertawa pahit* Nggak sekenceng yang tadi tapi tetep, “Nenen hotel ajaaaaa….” Dikasih coco tenang dikit tapi masih nangis. “Mau keluar buuuu…”

 

Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke pulau terdekat. Pak Nung sang kapten berhenti dan parkir di dekat bagan yang berdekatan dengan Pulau Maghir dan mematikan mesin. Kata Pak Nung, snorkeling di sini lumayan bagus. Tapi, ya ternyata nggak bisa turun ke pulau. Bisa sih, tapi harus berenang, hihihi. Ya nggak mungkin juga ajak BabyM langsung nyemplung.

 

Sesungguhnya kami hampir hilang akal. Kalau nanti memang nggak mau juga, ya udah, kita balik ke Desa Sumur. Setelah sepakat untuk realistis begitu, kami justru lebih tenang dan ketawa-ketawa. Kami jadinya bersantai aja di kapal, membiarkan BabyM bermain sesukanya. Ternyata, jika mesin kapal mati, dia tenang aja. Jadi yang bikin takut sepertinya adalah suara kapal. Pak Nung membuat pancingan dan mendapatkan seekor kerapu kecil buat mainan. Tapi BabyM tentunya lebih tertarik dengan wajan. Sang ABK, yang kami panggil dengan sebutan Om Ji, memasak makan siang dan BabyM dengan antusias melihat Om Ji masak.

 

Usai makan, BabyM main sampai kelelahan. Minta nenen dan mulai tidur sekitar jam 1 siang. Kami pun meminta Pak Nung untuk jalan. Rancana ke Pulau Panaitan yang jauh dibatalkan dan kami berjalan menyusuri garis pantai. Niatnya, kalau anaknya ngamuk lagi, kami bisa berenti di Pulau Handeuleum yang jaraknya sekitar satu jam lebih. Tapi kalo berhasil, bisa lanjut ke Pulau Peucang yang jaraknya tiga jam.

 

Begitu mesin dihidupkan, jreeennggg… BabyM kebangun dan nangisssss, hahahah! Tapi, kapal jalan terus. Aku berusaha tenang dan memeluk BabyM dan memberinya macam-macam distraksi. Yang berhasil ternyata adalah musik. Aku menghidukan handphone dan lagu pilihannya adalah: Creep-nya Radiohead. Cabikan gitar dan lengkingan suara Thom Yorke ternyata mengalahkan suara mesin kapal yang menyeramkan. Creep diputar berulang-ulang dan BabyM tidur dalam pelukanku dengan posisi duduk, nggak boleh bergerak sedikitpun. Nggak papa lah pinggang pegel, si Abang dengan baik hati mijet-mijetin, hihihi. Ya Tuhaaann… kini kutau kenapa kau menciptakan Thom Yorke dan kawan-kawannya ke dunia ini: supaya bisa bikin lagu Creep yang bisa nenangin anak kami di kapal, hahahah!

 

Karena BabyM sudah tidur pulas, kami tidak berhenti di Pulau Handeuleum dan langsung ke Peucang. Sekitar jam setengah empat sore, kami bisa bersandar di dermaga Peucang. Yay, daratan! Dan, omaigatttt… Peucang itu pantainya cantik pake bangetttttttt. Pantai panjang dengan pasir putih bersih, pohon-pohon yang begitu alami, air hijau toska… oohh… surga! Dan hei, lihat itu, ada beberapa rusa berkeliaran bebas. Dan ada monyet! Dan whattt… ada babi hutan jalan santai di pantai!

 

Setelah BabyM bangun, kami turun dari kapal. Pasirnya haluuuuuuuussssss banget waktu menyentuh kaki. Kami masuk ke area camp (atau resort, sebagaimana ia juga sering disebut), dan ngobrol-ngobrol dengan para ranger/petugas taman nasional. Kami main pasir sampai magrib dan mandi di toilet camp. Usai sholat, kami naik ke kapal dan makan malam sudah tersedia. Enak banget! BabyM sempat takut saat suara genset dihidupkan. Tapi dia makan kentang goreng kesukaannya plus dengerin Radiohead lagi. Jadi cuma kadang-kadang aja merengek karena suara mesin.

 

Setelah makan, kami menggelar sleeping bag dan selimut di dekat anjungan supaya suara genset nggak terlalu kedengeran. BabyM minta matikan lampu dan dia tidur dengan cepat. Ibunya juga ketiduran, hihihi. Sekitar jam setengah sembilan, kami pindah masuk ke dalam kabin dan tidur sampai besok. Aaahhh…. hari yang penuh drama 😀

UK03 Baru lihat laut dan naik sampan ini, BabyM sudah nangis…

UK05Berbagai cara dilakukan untuk menenangkan, akhirnya dia tenang setelah makan nata de coco 😀

UK04Sempat berhenti lama di depan sebuah bagan, bermain di kapal sampai BabyM benar-benar tenang untuk melanjutkan perjalanan.

UK06Main ikan dan main di kabin kapal.

UK07Dan tentunya, main masak-masak 😀 Untung ada dua wajan di kapal hahaha!

UK08Makan duluuuuuuu…

UK17Musik juga bikin tenang. Dengerin Otis Redding dan Lorraine Ellison. Juga Radiohead dan Taylor Swift 😀 

UK12Alhamdulillaaaaahhhh… sampe juga! Anaknya akhirnya tertidur, jadi bisa langsung kesini deh!

UK10Aaaakkk… lihat ada rusa berkeliaran begitu saja di pinggir pantai!

UK13Ada yang langsung lupa sama drama begitu liat pasir putih halus 😀

UK14Pantai di dekat dermaga Pulau Peucang ini menyenangkan banget buat main!

UK16UK15I have the feeling that this is gonna be soooooo good!

 

***

 

PS: Itinerari perjalanan 12 hari Roadtrip Life is A Beach:

Rumah Cibubur – Sukabumi (2 hari) – Ujung Genteng (4 hari) – Sawarna (2 hari) – Ujung Kulon (3 hari) – Tanjung Lesung – Rumah Cibubur.

Day 1: Rumah – Sukabumi | Day 2: Selabintana, Sukabumi | Day 3: Sukabumi – Ujung Genteng | Day 4: Pantai Tenda Biru dan melepaskan tukik di Pangumbahan, Ujung Genteng | Day 5: Pantai Ombak Tujuh, Batu keris dan Cibuaya, Ujung Genteng | Day 6 : Amandaratu, Ujung Genteng | Day 7: Lima pantai di SawarnaDay 8: Perjalanan, Sawarna – Ujung Kulon | Day 9: Pulau Peucang, Ujung Kulon | Day 10: Cidaon, Ujung Kulon | Day 11: Karang Copong, Ujung Kulon | Day 12: Tanjung Lesung dan pulang…

9 Responses

  1. Dita January 6th, 2016 at 12:22 pm

    Wah serunya nyampe pulau peucang. Aku degdegan soalnya balik dari pulau Peucang kan ombaknya tambah gede ya? Semoga BabyM gapapa.

  2. dindajou January 11th, 2016 at 2:12 pm

    untungnya nggak dit. Ombaknya tenang banget. Mungkin bulan segitu musimnya masih bagus kali ya.

  3. devi January 6th, 2016 at 2:59 pm

    Cocoknya pulang ke atjeh aja na.. biar tiap hari lht laut.. hehe. Slm u bang malik

  4. dindajou January 11th, 2016 at 2:13 pm

    hehehe… kan sering pulang juga dev 😀

  5. Vincent March 26th, 2016 at 3:41 pm

    Kak blh nanya nomor pak edi dan penginapannya?

  6. dindajou April 3rd, 2016 at 10:00 am

    ya ampun, mahap, lupa balesnya :. Pak edi bisa buka http://ujungkulonwild.com/ ada contactnya disitu. atau telp +62 813 991 65 205 (Edi J Bachtiar)

  7. The Stress Lawyer August 5th, 2016 at 10:36 am

    keren nih trip nya bang. Tapi butuh libur panjang kalau sampai 12 hari. hahaha
    Gue kemaren trip nya ambil yang 3 hari 2 malam..

  8. dindajou October 5th, 2016 at 6:12 pm

    @stress lawyer: heheh… cuti diluar tanggungan bang!

  9. Edi bachtiar April 4th, 2017 at 7:31 am

    Thanks for share ibu.
    Salam untuk keluarga semoga sehat selalu.

Any comment?