Roadtrip Life is A Beach: Cidaon dan Karang Copong

Day 10

Kami memulai hari dengan santai. Tadi malam tidurnya nyenyak banget di kapal. Mungkin karena musim sedang bagus, anginnya tidak banyak sehingga goyangan kapal hampir tidak terasa.

Pagi ini kami berencana pergi ke Cidaon yang letaknya di seberang dermaga Pulau Peucang. Paling hanya lima belas menit naik perahu. Cidaon ini adalah salah satu atraksi yang wajib dikunjungi di Ujung Kulon. Tiap pagi, berbagai binatang berkumpul di padang savanna Cidaon. Ada banteng, rusa, dan burung merak.

Begitu BabyM bangun, kami menghidupkan mesin. Dan seperti yang diprediksi, dia takut lagi., meskipun kadarnya terlihat berkurang. Aku segera menghidupkan musik dari handphone untuk mendistraksinya dari suara mesin. Kali ini BabyM mendengarkan ‘Shake It Off’- nya Taylor Swift, bergantian dengan ‘New York, New York’-nya Frank Sinatra. Ho oh!

Jam 7.30 pagi kami tiba di dermaga Cidaon. Pak Nung dan Om Ji ikutan turun karena nggak ada siapa-siapa juga di pos ranger. Kami jalan masuk hutan yang jalan setapaknya cukup besar. BabyM terlihat senang sekali. Nggak mau dipegang sama Bapak atau Ibu, maunya jalan dengan Pak Nung dan Om Ji, dambil sebentar-sebentar berhenti memungut ranting dan daun sambil bertanya, “Pohon apa nih?” atau “Bunga apa nih?”.

Setelah jalan sekitar 15 menit, terlihatlah padang savana Cidaon. Ternyata kami sedikit telat karena jam sudah menunjukkan hampir jam 8 pagi. Biasanya, binatang berkumpul disini sejak jam 6 dan kembali ke hutan jam 8 karena matahari mulai tinggi. Tapi, senangnya… walaupun tidak banyak, kami sempat melihat sekawanan kecil banteng plus seekor banteng jantan yang gagah, dan tiga ekor burung merak betina. Nggak bisa dekat sih, kayak di kebun binatang. Tapi buatku, melihat binatang langsung di habitatnya itu rasanya luar biasa. Semacam gabungan rasa beruntung, bangga dan terhormat.
Kelar liat banteng dan merak, BabyM ngambek. Dia bilang, “Mau disini aja,” sambil duduk di rerumputan nggak mau berdiri. Usut punya usut, ternyata dia sudah ngantuk. Akhirnya digendong, dan tidur seketika. Langsung aja kami suruh Pak Nung dan Omji untuk duluan ke kapal dan menghidupkan mesin supaya kami bisa langsung jalan balik ke Pulau Peucang. Begitu mendekati kapal, aku langsung puterin musik di handphone dan mendekatkannya ke telinga BabyM. Awalnya nangis sedikit, tapi karena dengar musik langsung tenang. Yayyy! Setelah sampai langsung deh dipuji bertubi-tubi karena sudah berani dan nggak nangis. Begitulah jadi orang tua ya. Mesti percaya sama proses 😀
Kembali ke Pulai Peucang, kami langsung lanjut main air dan main pasir sampe jam makan siang. Setelah makan lalu tidur siang dan sorenya main air lagi. Island life, how awesome!

 

UK18 Kiri: Kabin kapal yang cukup nyaman buat bertiga. Kanan: Sarapan dulu gaesss…

UK20 Akrab bener… sampe lupa sama bapak ibu 😀

UK22Tadaaa… ini dia savana Cidaon. Beruntung masih bisa lihat kawanan banteng. Itu yang hitam adalah jantannya. Gagah ya! 

UK25 Masih setia dengan Pak Nung. Mungkin dia lagi negosiasi biar bisa magang jadi ABK 😀 

UK26Kiri: Ada yang nggambek nggak mau pulang. Kanan: Ternyata ngantuk…

UK27Dermaga Cidaon dan pose ala ala 😀

UK28Balik lagi ke Pulau Peucang dan main pasir sepuasnya. Ibunya mau berenang, anaknya dicuekin bentar 😀UK29

Model main airnya BabyM: minta air laut dimasukkan dalam ember, lalu diciduk pake mangkok, disiram ke badan. Berenang? Apa itu? 

 

 

Day 11

Bangun pagi, si Abang langsung nyemplung snorkeling karena liat ikan banyak banget di sekitar kapal. Saat BabyM bangun, aku mengajaknya sarapan di dermaga sambil liat si Abang berenang. Eehhh… taunya dia malah minta masuk air, berenang dengan si Abang. Akkk… langsung bahagia doonngg! Soalnya, walaupun BabyM sangat suka pasir, dia masih nggak bisa menikmati air. Selama ini, baik di pantai maupun kolam renang, kami selalu memasukkannya dengan sedikit memaksa (baca: langsung cemplungin aja!). Kali ini, dia minta dan dengan sukarela dicelup-celupin ke air. Walau nggak lama-lama, tapi ini sebuah kemajuan yang sangat berarti buat kami!
Selesan snorkeling, mandi dan sarapan, kami berencana untuk trekking masuk hutan, ke lokasi bernama Karang Copong. Letaknya masih di Pulau Peucang, tapi ada di sisi lain. Biasanya, wisatawan kesana untuk melihat sunset. Tapi, sekali jalan jaraknya sekitar 2,5km. Berarti pulang-pergi 5km. Waktu tempuh biasanya sekitar 1 jam. Perginya sih mungkin enak ya. Tapi kalau pulangnya selepas sunset, berarti kan satu jam-an dalam hutan bergelap-gelapan. Kalau bawa BabyM ya nggak usah dulu liat sunset kali ya! Lagian, ini adalah hari terakhir kami di sini.

Kami masuk hutan ditemani seorang ranger yang bertugas, Pak Saad namanya. Sepanjang jalan, Pak Saad bercerita macam-macam. Ia menerangkan beberapa pohon yang kami lewati. Kami juga sempat melihat rusa berkeliaran dalam hutan, babi, juga burung merak. Berberapa burung rangkong juga terdengar melintas di atas. Menurut Pak Saad, kalau sedang musim buah pasti lebih banyak burung.
Awalnya BabyM mau jalan. Sebentar-sebentar dia berhenti dan bertanya pohon apa, bunga apa. Dia bahkan mau lihat pohon-pohon di dalam hutan yang tidak dilewati jalur trekking. Tapi lama-lama gelisah dan merengek. Yah, tanda-tanda ngantuk nih. Jadilah dia aku gendong. Lumayaaaannn… jalan dua kilo di hutan sambil gendong anak 10kg *Nggak usah latihan freeletics seminggu*

Sampai di Karang Copong, pemandangannya baguuusss! Tapi harus naik lagi ke tempat yang lebih tinggi. Karena BabyM agak rewel, aku dan Abang naik bergantian. Setelahnya, kami istirahat di pantai sebentar. BabyM tidak terlalu tertarik main pasir, apalagi main air. Jadi kami duduk-duduk aja menikmati angin sambil memakan bekal roti coklat. Sebelum kembali jalan, kami mengumpulkan sedikit pasir, kerang dan pecahan karang yang warna-warni untuk dibawa pulang.

Kami menghabiskan empat jam lebih trekking. Iya, jalannya memang super-duper santai. Setibanya di camp, kami berpamitan dengan para ranger yang ada disitu, dan langsung naik kapal untuk balik menuju Desa Sumur. Di dermaga sudah ada beberapa kapal lain tertambat dan di pantainya sudah banyak pengunjung yang main air. Itu hari Sabtu, jadi wajar ada banyak orang. Kami pulang di saat yang tepat, heheheh…

BabyM mulai menangis saat mesin mulai hidup, tapi kami semakin santai menanggapinya. Aku langsung menyodorkan nata de coco, menghidupkan Creep-nya Radiohead di handphone, dan memberikan wajan untuk mainan. Tak lama, tangisnya pun berhenti.

Di tengah perjalanan, hujan deras turun! Daripada sibuk menghindari air, kami memutuskan untuk main hujan sekalian! Seru sekaliiiiii! BabyM juga sangat menikmati. Dia main masak-masakan dengan wajan dan air hujan, hahahha!

Saat hujan berhenti, kamipun berganti baju. Tak lama kemudian, kami sudah tiba di Desa Sumur. Saat mau turun, ternyata hujan kembali deras. Kami harus menunggu beberapa saat sebelum turun kapal. Dan BabyM tertidur saat menunggu. Hingga akhirnya kami turun, dan naik ke mobil, BabyM masih tidur. Sedih sekali karena dia tidak sempat berpamitan dengan Pak Nung dan Om Ji.

Setibanya kembali di Wisma Sarang Badak, BabyM sempat bertanya dimana Pak Nung dan Om Ji. Tapi, begitu lihat penginapan, dia langsung terlihat bahagia. Ditanya: “Mau kapal lagi?”, dijawab dengan tegas, “Nggak!” Huhuhuhu… mungkin masih agak lama lagi baru bisa ngajakin BabyM naik kapal. But we had sooooo much fun! Ujung Kulon was spectacular!

 

UK30Yaaaayyy… hari terakhir di Ujung Kulon, baru mau nyebur laut dengan sukarela! Good job, son! 

UK31Memulai trekking di hutan. Itu foto di kanan indiahe banget sih, dua-duanya pegang pohon sambil tatap-tatapan 😀

 UK32Waaahhh… ketemu rusa dalam hutan!

UK33 Hai cantik!

UK34 Wah, ini akarnya besar sekali!

UK35

Pohon-pohon yang unik!

UK36

Foto kanan itu BabyM sedang… nyanyi… *yeah, i know….* 

UK37 End of trekking: Pemandangan cantik Karang Copong. Kabarnya ini juga salah satu spot buat diving.

UK38 Pantai Karang Copong, istirahat dulu lah sebentar sebelum jalan 2 jam lagi 😀

 UK40 Pas sampe camp dan mau naik kapal, eh ketemu dua keponakan yang sedang outing kantor. Di Jakarta aja jarang ketemu, hahahah!

UK41 Naik kapal, kembali ke Desa Sumur. Siap dengan wajan dan nata de coco, tentunya!

UK43Waaaaa… hujaaannn! Alhamdulillah!

UK45Wiii… sekalian main ujan aja ah!

UK46Makin ujan, main masak-masaknya makin seru!

UK44Believe me, it was one of the happiest day of 2015! 

 

***

 

PS: Itinerari perjalanan 12 hari Roadtrip Life is A Beach:

Rumah Cibubur – Sukabumi (2 hari) – Ujung Genteng (4 hari) – Sawarna (2 hari) – Ujung Kulon (3 hari) – Tanjung Lesung – Rumah Cibubur.

Day 1: Rumah – Sukabumi | Day 2: Selabintana, Sukabumi | Day 3: Sukabumi – Ujung Genteng | Day 4: Pantai Tenda Biru dan melepaskan tukik di Pangumbahan, Ujung Genteng | Day 5: Pantai Ombak Tujuh, Batu keris dan Cibuaya, Ujung Genteng | Day 6 : Amandaratu, Ujung Genteng | Day 7: Lima pantai di SawarnaDay 8: Perjalanan, Sawarna – Ujung Kulon | Day 9: Pulau Peucang, Ujung Kulon | Day 10: Cidaon, Ujung Kulon | Day 11: Karang Copong, Ujung Kulon | Day 12: Tanjung Lesung dan pulang…

One Response

  1. Wisata Tanjung Lesung Banten January 17th, 2016 at 12:16 pm

    masih alami sekali tempatnya..

Any comment?