Ritual Lebaran

Aku nggak ingat persis kapan mulainya, tapi keluargaku punya ‘ritual’ tahunan yang selalu aku tunggu-tunggu. Yang dilakukan cuma setengah jam-an, tapi kerap berhasil membuatku bergetar.

Bukan. Bukan masak ketupat bareng-bareng kayang di iklan. Masak-memasak sih cukup dilakukan mama. Soalnya malam takbiran si papa pasti sibuk di masjid untuk urusan zakat yang seringnya sampai menjelang subuh. Dan kami anak-anaknya, yaaa..biasalah, namanya juga anak muda *uhukuhuk*, jadi seringnya jalan-jalan dengan teman.

Bukan juga berkumpul di rumah nenek di lebaran hari pertama. Berkumpul bersama seluruh keluarga dari papa, dimana makan lontong sayur berkali-kali menjadi ‘ritual’ tak terpisahkan! Atau berkumpul bersama keluarga mama di lebaran ke dua di Tembung, sekitar setengah jam-an nyetir dari Medan, dimana makan siang dengan sambal terasi super pedas dan rebusan juga merupakan ‘ritual’ wajib!

Ini bukan ritual keluarga besar, tapi hanya kami: papa, mama, abang, adek, aku (dan sekarang ditambah si abang, tentunya). Dilakukan setelah sholat Ied. Yah, biasanya sih emang makan dulu, biar ada ‘energi’ untuk melakukannya :P.

Ritual itu adalah bermaafan. Dan ini bukan sekedar sungkem dan minta maaf lantas diakhiri dengan peluk dan cium. Ini adalah saat introspeksi diri yang paling jujur. Pengakuan dosa. Mengatakan kepada satu sama lain, hal-hal yang setahun lalu mengganjal di hati. Untuk kemudian meminta atau memberikan maaf setulus-tulusnya.

Termasuk papa atau mama yang dengan terbuka meminta maaf kepada kami jika mereka merasa melakukan kesalahan. Juga kami yang meminta maaf karena kadang-kadang mengecewakan. Ritual ini membuat orang secuek dan sekeras adekku bisa nangis bombay sesenggrukan. Atau juga bisa ngakak hebat karena memang setahun kemarin penuh hal-hal menyenangkan.

Setiap tahun, ritual ini seperti menjadi pembersihan diri dan pelega hati. Dan jika aku pikir-pikir lagi, ritual inilah yang mengikat keluarga kami, membuat kami selalu dekat, apapun yang terjadi: kami tidak lupa untuk saling mengatakan betapa kami menyayangi satu-sama lain, seberapa besarpun kesalahan yang dibuat.



So, what’s your family ritual for days like Lebaran?

Any comment?