Renovasi Rumah Papa di Medan: Mencari Arsitek

“Kamu ini masokis sekali,” kata seorang teman sambil tertawa saat aku bilang kami bermaksud untuk merenovasi rumah. Hahahah, kalau rumah sendiri yang direnovasi LAGI, sepertinya sih memang masokis ya! Tapi nggak kok. Dengan segala kekurangan dan kelebihannya, Dreamhouse kami masih menyenangkan untuk ditinggali. Kali ini proyeknya adalah rumah Papa yang ada di Medan.

 

Walaupun sesungguhnya mikirin segala urusannya – ya cari arsitek, cari kontraktor, urusan paperwork IMB, pelaksaan proyek berbulan-bulan yang bikin banyak pusing dan kesal, belum lagi harus nabung yang bikin jajan seret dan nggak bisa seenaknya jalan-jalan – renovasi ini cukup buat kepala pening dan perut mules-mules. Tapi yah, mikirin excited-nya, proses desainnya, belanja barang-barangnya, mendekornya, dan kepuasan setelahnya, kayaknya kok bikin nagih ya, hahahah! Mungkin benar, aku masokis, hahaha!

 

Jadi begini ceritanya. Rumah papa di Medan sudah tua renta. Karena beberapa ruangan posisinya yang sudah lebih rendah dari jalan, kalau hujan deras, sering sekali air masuk rumah. Pembangunan memang menggila di daerah situ. Sepanjang gang yang dulu banyak tanah kosong, sekarang sudah penuh rumah semua.

 

Lalu kami mendapat ide. Bagaimana kalau rumah ini direnovasi saja dan sekaligus dibuat banyak kamar, Lokasi rumah papa cukup startegis untuk bisnis kos-kosan kelak. Hitung-hitung, ini adalah bentuk bakti kepada orang tua, sekaligus investasi yang bisa menghasilkan pendapatan pasif agar suatu saat si abang nggak perlu lagi kerja jauh-jauh. (Boleh amin-nya kakaaak….)

 

Setelah ide ini dilemparkan dan disetujui, akhirnya aku mulai action. Lebaran tahun lalu aku sempat sebulanan di Medan sehingga punya waktu untuk tanya kiri-kanan soal arsitek. Nggak pakai desain Yu Sing lagi, Din? Mungkin pada nanya gitu ya. Ya gimana nggak pada nanya, gara-gara blogging soal renovasi rumah itu aku jadi macam humas-nya Mas Sing, hahaha. Bahkan sampe sekarang adaaaa aja yang kirim email nanya-nanya.

 

Memang nggak pakai Mas Sing. Karena, ya jauh ya bok! Bisa-bisa mahal di ongkos, ahahaha! Mana mampuuuu. Yang kedua, kami ingin coba arsitek lain dong. Sedapat mungkin mau cari anak Medan asli, konten lokal lah hahahah! Selebihnya adalah faktor kenyamanan dan kepraktisan, mengingat aku tidak bisa mensupervisi langsung project ini. Papa lah yang sehari-hari akan berkutat dengan pembangunan. Jadi ya sedapat mungkin tidak membuat si Papa pening.

 

Terus terang, awalnya kami hanya mencari arsitek ‘sedapatnya’. Yang penting arsitek deh. Dari saudara dan kenalan, kami bertemu dan berdiskusi dengan dua orang arsitek senior. Keduanya adalah dosen di universitas teknik di Indonesia. Keduanya kami temui terpisah dan kami menjelaskan keinginan-keinginan kami. Kami ingin rumah dua lantai dengan kamar sebanyak mungkin karena ada rencana akan dijadikan kos-kosan ke depannya. Tentunya ada juga ruang-ruang lain seperti ruang tamu, ruang keluarga dan ruang servis. Kami juga butuh dapur yang besar plus area kerja untuk usaha catering Mama. Tapi yang terpenting, rumah ini haruslah sehat dengan cahaya dan ventilasi udara yang baik. sebab daerah ini sepertinya akan jadi pemukiman padat.

 

Dari diskusi tersebut, tampaknya akan cukup menjanjikan. Yang satu sudah seumuran Papa, dan gayanya “orang lapangan” banget. Kayaknya si Papa lumayan nyaman karena dari omongannya, semua urusan terdengar mudah. Sedangkan yang satunya, lebih serius ala dosen, tapi sangat perhatian dan sepertinya sangat mempertimbangkan usulan kami. Setelah diskusi, kami menunggu mereka untuk menyampaikan penawaran.

 

Setelah beberapa minggu, penawaran pun datang. Ternyata…. Wak waw… kok begini? Arsitek yang pertama memberikan sketsa denah yang tanpa memberikan kisaran budget seraya bilang: “Soal budget gampang lah, yang penting oke aja dulu. Saya juga nggak bakal minta banyak-banyak kok.” Mmmm… okay. Tak hanya itu, sketsanya juga tidak banyak mempertimbangkan keinginan kami. Aku bersikeras untuk minta kisaran soalnya untuk urusan seperti ini kan harus jelas di awal. Begitupun, si bapak arsitek ini juga berkeras menggampangkan. Baiklah.

 

Arsitek yang kedua tidak memberikan sketsa tapi memberikan gambaran harga dengan detail. Sayangnya, budgetnya alamak, nggak sanggup rasanya. Haduh, bagaimana ini? Mau kemana lagi cari arsitek di Medan?

 

Tunggu posting berikutnya yaaaa 😀

 

rumahpapa 001

Penampakan rumah yang sekarang, photo by Papa.

 

PS: Seluruh cerita soal Rumah Papa ini bisa dilihat di kategori Rumah Papa

3 Responses

  1. Novi May 25th, 2016 at 7:24 pm

    Aaak… paling seneng deh baca soal bangun rumah (padahal sendirinya males posting). Jangan-jangan saya masokis juga 😀

    Semoga proses renovasi rumah Papa berjalan lancar ya…

  2. dindajou May 26th, 2016 at 7:35 am

    Ahahahahah iyakan yaaaa! Masokis abis

  3. rotation group August 23rd, 2016 at 3:45 am

    jika diperbolehkan, kami ingin membantu mengerjakan desain rumah anda sesuai keinginan.

Any comment?