Raja Jalanan

Aku akan mengorbankan kemewahan untuk selalu duduk di bangku penumpang. Mengorbankan waktu yang selalu dihabiskan mengamati gedung dan orang-orang di jalan. Mengorbankan kesempatan untuk tidur atau istirahat di sepanjang kemacetan.

Betul. Aku sedang belajar menyetir. Sedang mempersiapkan diri untuk menjadi tumbal jika disuruh mengantar kesana kemari. Sedang mempersiapkan jiwa bertarung dengan motor-motor yang selalu bikin bergidik ngeri.

Alaaah. Bahasanya. Malas!

Jadi ya bo’, udah dua hari ini anak mudanya ikutan kursus nyetir. Bener-bener kursus, dengan mobil bertuliskan “Persemija Kursus Menyetir”. Mobilnya khusus, ada kopling dan rem tambahan di depan jok kiri. Aku ambil paket yang enam kali pertemuan, masing-masing satu jam.

Waktu hari pertama, aku pikir akan muter-muter di Senayan, atau di lapangan besar mana lah gitu, supaya bisa belok sana-sini tanpa bimbang ragu. Ternyata, itu instruktur langsung menyuruh aku duduk di belakang setir. Alamak! Pingsan lah aku!

Si bapak instruktur dengan tanpa berdosa menerangkan bagaimana mengubah posisi gigi dan bagaimana posisi netral. “Kita hari ini belajar kopling sama gas dulu. Nggak usah belajar rem. Biar saya aja yang ngerem,” katanya dengan logat betawi. Aku juga disuruh berkenalan dengan setir, juga lampu sein.

Di pinggir jalan daerah Bendungan Hilir yang padat, mulailah aku memutar stop kontak menghidupkan mesin. Dengan deg-degan, aku menginjak kopling sampai habis dengan kaki kiri, dan mengubah posisi gigi menjadi satu. Perlahan melepaskan kopling dan kaki kanan menginjak gas, juga dengan perlahan. Tangan memutar setir, juga perlahan-lahan, kearah kanan. Dan… aku mulai menyetir…

HAHAHAHHA! Hebat ya? Aku bisa loh! Padahal itu jalanan rameeee! Si bapak instruktur itu ngajak keliling-keliling ke daerah permata hijau, terus muter-muter lewat jalan yang aku nggak tau. Mau liat kiri-kanan juga nggak berani kan? Secara pandangan lurus ke depan. Liat spion aja belum berani, hahahah…

Hari pertama itu aku bertahan dengan gigi satu dan dua. Bapak instruktur tidak keberatan aku berjalan sangat pelan. Dan aku senang.

Tapi waktu hari kedua, instrukturnya beda. Yang pertama lebih menyenangkan. Trus, bapak instruktur hari kedua ini malah nyruruh ngebut-ngebut pake gigi tiga! Aku kan takuuutt! “Harus berani!” katanya. Jadilah hari ini aku kebanyakan pake gigi tiga, meskipun larinya diusahakan nggak lebih dari 40km/h.

Wah, besok aku masih belajar lagi. Doakan biar cepat bisa ya! Nanti aku ajak jalan-jalan deh!

Mainan lama

*alah judulnya!*

Setelah sekian lama ‘menghilang’ dari peredaran perfotografian Indonesia (aduh, apaan sih!), barusan aku ke Galeri Antara. Disana sedang ada pameran Kilas Balik Reformasi hingga tanggal 30 Juni nanti. Kebetulan juga, tadi ada diskusi fotografi oleh Pak Bambang Bujono (mantan pemimpin majalah D&R), Mas Alit (mantan aktivis satgas Reformasi ITB), dan tentu saja Bang Oscar.

Diskusinya menarik. Bicara tentang gambar-gambar yang menjadi ikon reformasi. Pak Bambang bercerita tentang cover majalah D&R terbitan February 1998 yang bisa dibilang ‘mengompori’ gerakan reformasi. Itu loh, cover yang mirip kartu King tapi kepalanya jadi kepala Soeharto dan kalau dibolak balik gambarnya tetep sama.

Mas Alit bercerita tentang ikon tangan reformasi yang dibuat anak-anak FSRD ITB, yang mirip rambu lalu lintas berlatar merah dan berjumlah delapan seri. Sedangkan Bang Oscar membahas berbagai foto reformasi yang terkenal, seperti foto Julian Sihombing (Kompas) yang merekam seorang mahasiswi tergeletak diatas aspal dilatar belakangi beberapa polisi yang terlihat agresif, dan foto Saptono (Antara) yang merekam ekspresi para mahasiswa berpelukan bahagia di depan TV yang menyiarkan pernyataan Soeharto untuk mundur dari kursi kepresidenan.

Tapi yang lebih menarik bagiku adalah desain baru interior galeri yang superkeren. Kini dibuat bertingkat tiga. Bagian bawah dibuat galeri dan café (yang akan launching Agustus nanti). Lantai dua dibuat kantor, perpustakaan dan museum yang bisa sekalian digunakan untuk kelas foto. Dan lantai tiga yang sebenarnya adalah atap, dibuat jadi kantor Bang Oscar dan tempat anak-anak diskusi. Galeri jadi terasa lebih luas. Lebih lapang. Menyenangkan! Aku ter-wow-wow setiap melihat detail ruangan, termasuk meja besar yang kacanya disangga oleh delapan kamera jadul. Iya, bener. Kamera dijadikan penyangga meja. Kurang keren apa coba?

Dan yang membuat hati semakin hangat, adalah teman-teman lama yang menyambut aku seperti pahlawan pulang perang (hahahah!). Eh tapi nggak juga deng. Kalau pahlawan pulang perang kan biasanya kurus; mereka menyambutku dengan, “Waaaaa… elu gendut banget sekarang! Makan apa sih?”

Yang ada kami jadi reunian angkatan XII. Pak Sihol menelepon anak-anak dan menyuruh semua datang ke galeri. Ada Dita, Gondrong, Rahmat, Dany, Buchan, Mely, dan sempat ketemu Dina. Sayang, Ronce, Putra dan Mumu nggak bisa datang. Ketemu sama Kang Rully juga, yang barusan kelar ngasih pembukaan untuk anak angkatan XIV. The usual suspect alias penghuni tetap galeri juga pastinya ada: Tole, Gueari, Gunawan, Ricky Jo, Ocep dan yang lainnya.

Ah, menyenangkan sekali ketemu teman-teman lama dengan suasana baru. Terimakasih ya semua!

Mainan Baru

Bertemu komunitas baru di waktu yang tepat sangat menyenangkan. Apalagi orang-orangnya asyik dan punya interest yang sama. Waktu pertemuan yang sebenarnya cukup panjang jadi terasa singkat: membuat selalu ingin bertemu lagi dan lagi. Adiktif!

Komunitas baruku bernama Kelas Narasi, kelas menulis yang diselenggarakan Pantau. Sebenarnya sudah sejak tahun lalu aku ingin ikut kelas ini. Melly yang memberitahukan padaku. Tapi, saat itu aku sudah keburu mendaftar kelas academic writing di Pusat Bahasa UI, Salemba.

Yang tahun ini pun sebenarnya aku sudah ketinggalan. Kelas dimulai sejak 6 Mei lalu. Tapi saking pengennya, aku nekat menelpon Pantau dan bertanya kemungkinan untuk bisa masuk. Untungnya mereka membolehkan. Walaupun sudah telat dua pertemuan, aku akhirnya bisa bergabung tanggal 27 Mei lalu.

Benar saja. Kelasnya menyenangkan. Serius tapi santai, semua bebas bicara dan berpendapat. Tidak melulu teori menulis, kami juga diberi tugas membuat tulisan. Bahan bacaan dan referensi yang diberikan juga menarik. Aku membaca semuanya seperti kesurupan. Selasa jadi hari yang ditunggu-tunggu. Biar jalanan macet, tapi semangat untuk bertemu teman-teman dan berdiskusi begitu menggebu-gebu.

Aku juga membuat blog baru untuk menampung tulisan-tulisan dari kelas. Kalau mau jalan-jalan, silahkan. Sepertinya aku akan lebih banyak menghabiskan waktu disana 🙂

Bukan Menghapus Sejarah

Empat tahun lalu, aku membuat sebuah akun di blogspot. Memposting sebuah tulisan, sebuah prosa tentang cinta. Prosa itu adalah titik nol dari prosesku bermetamorfosa: di dunia maya dan di dunia nyata.

Aku tidak mengenal istilah ‘blogger’ saat itu. Aku hanya ingin mempunyai website pribadi untuk menulis, dan seorang teman memberikan alamat blogspot. Tidak mengerti tentang komentar, tidak mengerti blogwalking, dan pembacanya hanya satu-dua – itu juga setelah aku beritahu alamatnya.

Aku juga baru saja lulus kuliah. Baru menyiapkan nyali untuk menghadap kedua orang tua: meminta inzin untuk dibolehkan melanglang buana. Dan saat izin sudah ditangan, aku langsung terbang menuju ibukota. Terus berjalan tanpa pernah menoleh kebelakang.

Empat tahun.

Terkadang terasa singkat, kadang sangat panjang.

Selama itu pula, blog ini menjadi sahabat setia. Ia menguatkan saat aku lelah. Ia mendengarkan saat aku marah. Ia ikut tertawa saat aku jatuh cinta. Ia menghangatkan saat aku kesepian. Ia ada saat aku kehilangan. Ia selalu ada, kapanpun aku ingin bercerita.

Blog ini adalah penyimpan memori. Catatan tempat melihat masa lalu. Tempat segala macam kenangan – baik dan buruk – yang mengingatkan aku tentang diri sendiri: sejauh mana sudah aku melangkah.

Kalau hari ini aku menghapus semua yang pernah tertulis, itu bukan bararti aku menghapus sejarah sendiri. Karena toh tidak ada yang abadi, apalagi di dunia maya ini.

: karena aku akan menulis sejarah yang baru lagi. Dan lagi. Dan lagi.