Webinar Homeschooling #5: Menyiapkan Pembelajar Mandiri

Minggu lalu webinar homeschooling Rumah Inspirasi membahas materi apa aja yang bisa diajarkan dalam proses belajar. Menyenangkan ya, jalan pagi atau piknik ke kebun binatang aja bisa jadi bahan belajar, hehehe. Iya sih… kalo masih usia dini alias pre-school sih masih gampang lah ngajarinnya. Lah, kalo udah mulai sekolah gimana dong? Setingkat SD masih bolehlah orang tua ngajarin, tapi kalo udah mulai SMP? SMA? Mikirinnya aja nyali langsung menciut.

 

Menurut sesi webinar kemarin, kalau orang tua mikirnya hanya fokus sama konten atau materi belajar, dan berfikir bahwa orang tua menjadi SATU-SATUNYA sumber pelajaran bagi anak, ya jelas bikin ciut nyali. Nah, disinilah kata kunci PEMBELAJAR MANDIRI masuk. Anak-anak ini, kita didik agar bisa belajar sendiri. Mencari sendiri informasi yang mereka butuhkan untuk belajar. Kita benar-benar memberikan ‘kail’ dan bukan ‘ikan’.

 

Apa sih pembelajar mandiri itu? Contohnya gini. Aku pengen bikin rendang yang enak buat lebaran. Tapi kan aku gak ngerti caranya gimana. Nah, aku lalu berusaha mencari tau dengan segala cara. Pertama-tama, yang paling gampang aku akan buka internet, meng-google dengan cara mengetikkan kata kunci. Hmmm… kata kuncinya apa ya? resep rendang? Resep rendang enak? Resep rendang padang? Resep rendang rumahan? Resep rendang gampang? Pokoknya mencoba berbagai kata kunci yang memungkinkan.

 

Dari hasil google, aku mencoba satu dari sekian banyak resep yang ketemu. Wah, ternyata rasanya belum pas. Coba yang lain ah. Tapi kali ini, coba aku telepon si Mama di Medan, untuk kasih aku tips dan trik-nya supaya makin oke. Oohh… setelah dicoba makin oke nih rendangnya. Dikasih rasa ke suami, wah, dia suka banget. Dikasih ke orang-orang, juga pada suka banget, malah ada yang minta buatin. Nah, dari sini aku akan berusaha membuat resep sendiri agar rasanya pas sesuai standarku. Coba ini coba itu sampe pas! Akhirnya, aku bisa terima orderan rendang dari orang-orang untuk lebaran nanti. Lumayan, dapat duit tambahan buat lebaran nanti!

 

Nah, itu adalah pembelajar mandiri. Ganti kata rendang dengan apapun yang dimaui anak-anak. Belajar piano? Matematika? Main golf? Prosesnya sama: tau dulu pengen belajar apa, tau dan terampil mencari bahan belajar, pandai mengelola diri (self management) seperti kemampuan membuat rencana, jadwal, penerapan yang konsisten dan mengevaluasi hasil belajar. Gampangnya: belajar secara otodidak.

 

Di era informasi ini, belajar otodidak malah jauh lebih gampang. Tinggal buka internet, kita bisa dapat informasi yang hampir tak berbatas. Pertanyaannya bukan, ‘ada nggak materinya?’, tapi lebih kepada, ‘materi mana yang paling pas untuk aku?’. Karena, kebanyakan informasi juga bikin pusing!

 

Nah, ternyata konsep ‘pembelajar mandiri’ nggak serumit itu kan? Sebagian (bahkan banyak) dari kita yang sudah melakukannya sendiri. Nah, tinggal transfer aja caranya ke anak-anak kita. Lagipula, kita nggak bisa terus-terusan ngajarin anak kan? Mereka akan hidup di dunia yang berbeda dari kita. Ibaratnya, mana bisa sih orangtua kita dulu membayangkan jaman sekarang yang serba digital dan pakai social media? Tapi kenyataannya sekarang, banyak anak-anak muda justru bisa memanfaatkan ini dan terciptalah banyak profesi baru. Seperti para buzzer yang dibayar mahal atau digital agency yang memberikan solusi marketing online kepada perusahaan-perusahaan consumer goods.

 

Kalau kata Alvin Toffler, “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write. But those who cannot learn, unlearn, and relearn!” Ho oh banget, Pak!

 

Ini ada video yang menceritakan bagaimana orang tua menjadi fasilitator dari seorang anak pembelajar mandiri. Sukses bikin aku mewek, huhuhuu…

 

 

Tapi seorang pembelajar mandiri tentunya tidak datang tiba-tiba. Ada proses yang butuh waktu panjang. Orang tua harus membangun budaya senang belajar. Membangun interaksi yang demokratis yang membolehkan anak bertanya sesuka hati tanpa dihakimi atau dimarahi. Juga, memberikan ruang luas untuk anak bereksplorasi, dan bahkan membuat kesalahan. Seperti kita yang sering belajar dari kesalahan yang dibuat, anak-anak juga butuh ini.

 

Selain budaya belajar, anak juga harus diajarin cara membangun keterampilan belajar. Keterampilan bertanya, misalnya. Tidak datang dengan sendirinya. Anak harus belajar berani dan percaya diri untuk bisa bertanya. Atau, keterampilan membaca berbagai hal – tidak hanya buku – seperti diagram, peta, resep, petunjuk manual dan lain-lain. Selain itu, juga bisa diajarkan cara mencari informasi dan menggunakan alat belajar. Gimana mengoperasikan komputer, gimana cara meng-google, gimana cara liat kamus dan sebagainya. Intinya, kalau ada anak bertanya sesuatu dan kita tidak tau jawabannya, ya tidak usah langsung dijawab. “Ibu nggak tau, yuk kita cari sama-sama yuk,” lalu kita cari buku di perpustakaan keluarga, dan tunjukkan kepada anak. Atau, “Wah Bapak nggak tau, tapi teman Bapak mungkin tau. Yuk kita bertamu kerumahnya dan kamu bisa tanya langsung kepadanya!” Orang tua (atau guru sekalipun) bukan dewa yang tau segalanya. It’s okay not to know everything 🙂

 

Dan karena pembelajar mandiri ini bukan produk instan, ada ‘tahapan’ memberikan stimulasi, sesuai dengan perkembangan anak.

 

Tahap 1 – belajar melalui keteladanan. Anak memperhatikan, meniru, ikut-ikutan. Kalo orang tuanya nunjukin kalau baca itu menyenangkan, nggak perlu pake dibilangin, anak juga akan senang baca.

 

Tahap 2 – anak membantu orang tua. Yah, awalnya pasti ini jatohnya malah ngerecokin dan bikin kerjaan lama. Tapi semakin sering dia dikasi kesempatan buat latihan, maka skill-nya akan semakin baik, kan?

 

Tahap 3 – orang tua membantu anak. Kalau anaknya udah bisa, orang tua boleh “mudur” dan membiarkan anak untuk memimpin project. Kita bisa membantu sampai selesai. Walau kadang kenyataannya kita yang lebih banyak ngerjain, , tapi kredit tetap buat mereka.

 

Tahap 4 – kegiatan bersama. Insiatif kegiatan bisa dari siapa saja. Orang tua menjadi partner.

 

Tahap 5 – kegiatan mandiri. Anak belajar sendiri tanpa bantuan orang tua.

 

Ada tips menarik dari Mas Aar untuk menyiapkan pembelajar mandiri ini. Yang pertama, tentunya tidak usah membandingkan anak kita dengan anak lain, karena ada banyak sekali factor. Lalu, dokumentasikan kegiatan anak, supaya bisa melihat perkembangannya. Dan yang tidak kalah penting adalah menjaga konsistensi hal-hal (yang terlihat) kecil, yang bisa sangat berguna. Misalnya, membaca buku 30 menit tiap hari artinya ada lebih 180 jam dalam setahun!

Tipsnya mas Aar ini sungguh membuat aku berkontemplasi untuk membuat blog baru, khusus perkembangan BabyM. Sejauh ini, aku sudah rajin menulis jurnal di buku, sih. Tiap bulan, setiap tanggal lahirnya, aku selalu mencatat perkembangannya, walau sederhana: motorik kasar dan motorik halusnya bagaimana, kemampuan sosialisasinya bagaimana, sudah makan apa aja, sudah bisa ngomong apa aja. Dan jujur, membaca kembali catatan itu, membuat aku setidaknya merasa sudah berada di jalan yang benar, ahahahaha! Menjadi ibu rumah tangga setiap harinya selalu penuh sampai kadang nggak bisa nafas. Punya catatan seperti itu seperti melihat ‘pencapaian’ yang membuat hidung kembang kempis bangga 😀 *ho oh, bahagia itu sekarang sederhana banget buatku :D*

JjurnalBabyM bisa bilang IBU di usia 1y4m :’) etapi mahapkan tulisannya acak-acakan 😀

 

Selain jurnal di buku, aku juga membuat semacam “buku tahunan”, yaitu album foto keluarga berbentuk buku. Awalnya sih dibuat karena si Abang nggak bolehin foto-foto babyM yang jelas banget di-upload di social media, jadi si ibu yang rada narsis ini memutuskan untuk membuat buku agar foto-foto ciamik BabyM bisa dilihat orang, terutama keluarga. Buku ini dicetak tiga eksemplar: satu untuk dirumah, satu untuk keluargaku di Medan dan satu untuk keluarga Abang di Aceh. Atok, Nenek dan Nyaksyik-nya BabyM senang banget punya foto-foto ini. Nggak berhenti diandang-pandang dan “dipamerin” ke semua tamu yang datang, hahahahah!

 

buku tahunan2Buku tahunan yang buatnya PR banget tapi hasilnya setimpal!

 

Yah, mudah-mudahan tetap konsisten sama semua kebiasaan baik yang udah dijalani selama ini ya! Aaaamiiinnnn!

Webinar Homeschooling #4: Belajar apa aja sih?

Oke, jadi setelah minggu lalu membahas langkah-langkah memulai homeschooling: yaitu membuat visi pendidikan keluarga, sekarang yang dibahas adalah materi pelajarannya. Apa sih yang mau diajarkan? Disini, aku akan lebih fokus untuk membahas kurikulum, materi dan pola belajar untuk anak usia dini, meskipun waktu webinar banyak juga penjelasan soal anak usia sekolah.

 

“Kalau homeschooling pakai kurikulum apa ya?” Bisa jadi ini adalah pertanyaan yang sejuta umat banget. Terus terang, ini juga pertanyaanku waktu pernah ketemu sama temen yang anaknya homeschooled, hehehe… Ini lazim, sebab di kepala kita (Kita? Elu aja kali, din!) masih terpatri model sekolah yang pernah kita jalani. Tapi, seperti yang dijelaskan pada webinar #2 soal metode homeschooling, kurikulum itu dipakai jika kita memang menggunanakan metode school-at-home.

 

Kalau untuk babyM dan anak-anak usia pra-sekolah, bisa memakai kurikulum PAUD yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kalau mau pakai metode Montessori juga bisa. Boleh juga cari kurikulum dari luar negeri. Google aja ‘preschool curriculum’ plus nama negara. Keluar deh berbagai kurikulum.

 

Kalau untuk aku yang lebih tertarik dengan metode unschooling, pertanyaan soal kurikulum ini tentunya tidak relevan. Sebab metode unschooling kan tidak punya struktur dan lebih mengikuti keinginan anak untuk beraktifitas. Orang tua hanya memfasilitasi. Begitupun, kadang-kadang kan pengen tau juga ya, apa benar perkembangan babyM berjalan baik. Nah, untuk pegangan dalam memantau tumbuh kembangnya, Mas Aar memberikan tips untuk menggunakan checklist dan parameter perkembangan anak. Buku yang di rekomendasikan oleh Mas Aar untuk check list ini adalah Slow And Steady, Get Me Ready karangan June Oberlander.

 

Lah, kalau nggak ada kurikulum, terus ngapain aja dong? Ternyata bisa macam-macam banget! Selain melibatkan anak dalam kegiatan orang tuanya sehari-hari, bisa juga cari berbagai materi di internet sebagai sumber ide. Atau, baca-baca buku dan majalah parenting. Bisa juga tanya-tanya ke teman atau keluarga yang sudah punya anak. Rumah Inspirasi bahkan memberikan e-book berisi ide kegiatan indoor dan outdoor!

 

Jalan pagi/sore, naik sepeda, ke kebun binatang, menggambar jalan dengan kapur, bercocok tanam, bermain pasir, mencuci mobil/mainan, bermain bola, berenang, main layangan, pergi ke pasar, main gelembung sabun, baca buku, main masak-masakan dengan daun, membuat craft, menggambar, mengecat, mengejar capung, memelihara ulat hingga jadi kupu-kupu, main sembunyi, ke stasiun kereta api, main hujan dan lumpur, dan masih banyak lagi kegiatan yang dicontohkan dalam e-book.

 

Menurut mas Aar, apapun kegiatan yang dilakukan bersama anak usia dini sebaiknya selalu berfokus pada rasa aman dan nyaman. Sebab, dalam rentang usia tersebut, itulah yang paling dibutuhkan anak. Kalau dikit-dikit ngancem (Misalnya: ‘Abisin dong makannya, kalo nggak nanti dipanggilin satpam loh!’ Sering banget denger beginian kalau sedang main bareng anak tetangga huhuhu), anak tidak akan merasa nyaman dan tertekan.

 

Selain pada rasa aman dan nyaman, kegiatan anak lebih banyak pada kegiatan ekplorasi sesuai dengan perkembangannya. Urusan baca tulis dan berhitung bukan hal utama. Diajarkan dengan menyenangkan boleh aja, tapi jangan jadi prioritas dan nggak ada target. Akan jauh lebih baik kalau energinya dipakai untuk mengajarkan kebiasaan baik dan menerapkan aturan/nilai yang jelas. Apa yang boleh dan tidak boleh. Dengan begitu, anak sudah terbiasa dengan peraturan dan disiplin sejak kecil dan jika dia beranjak remaja, orang tuanya nggak perlu lagi teriak-teriak karena mereka sudah terbiasa.

 

Kalau dikeluarga kami, beberapa contoh kegiatan diatas sudah sering kami lakukan dengan BabyM. Selama ini, BabyM selalu aku libatkan dalam aktifitasku sehari-hari dengan memintanya melakukan apa yang dia bisa. Misalnya, saat membereskan tempat tidur, aku memintanya meletakkan kembali buku yang semalam dibaca ke tempat semula. Kalau aku sedang berkebun, aku akan memintanya membantu menyiram bunga, atau membuang rumput liar yang sudah dicabut ke tong sampah.

 

Setiap pagi dan sore, biasanya kami akan jalan keliling kompleks atau bermain di luar bersama beberapa anak tetangga. BabyM akan bebas berlari-larian atau main di taman dekat rumah. Selain travelling ‘besar’ ke luar kota yang membutuhkan persiapan khusus, di hari-hari biasa kami juga mengunjungi berbagai tempat yang menarik. Kebun binatang, museum dan galeri, air terjun, piknik di kebun raya dan taman kota, atau bersilaturahin ke rumah teman dan saudara.

 

Makin kesini, aku makin percaya ucapan John Holt, sang pencetus konsep unschooling, yang ini:

“When you teach less, the children will learn more.”

 

Anak-anak itu sesungguhnya pintar. Mereka nggak perlu diajari dan dijejali ini-itu. Dengan melakukan kegiatan bersama dengan sepenuh hati, betapapun sederhananya, akan membuat anak belajar banyak tanpa kita perlu menggurui. Plus, kegiatannya juga jadi sangat menyenangkan! Bukan cuma anaknya yang nagih, orang tuanya juga nagih 😀

 

Processed with VSCOcam with m5 presetJalan pagi di sekitar kompleks

 

4 main pasirMain pasir di taman dekat rumah

 

4 bungaBantu ibu siram tanaman

 

4 kapurMain kapur dengan kakak-kakak tetangga

 

4 cuci mobilCuci mobil yang seru!

Webinar Homeschooling #3: Bagaimana Memulainya?

Makin kesini, webinar soal homeschooling-nya makin teknis nih! Setelah tau dasar-dasar homeschooling dan berbagai model pendidikannya, kamis lalu aku belajar soal bagaimana memulainya. Hayolo….

 

Jadi, dari webinar kemaren aku bisa menyimpulkan bahwa sebelum memulai, sesungguhnya ada langkah penting yang harus dilakukan: mempersiapkan diri dan pasangan (dan tentunya anak kalau sudah bisa diajak diskusi). Selain persiapan soal pengetahuan soal homeschooling, ada baiknya juga mengisi kepala dengan ilmu-ilmu parenting. Sebab, keduanya berjalan beriringan. Tidak hanya soal pengetahuan, mental juga perlu disiapkan untuk menghadapi reaksi dari luar keluarga. Ada baiknya bertemu dengan para praktisi homeschooling untuk mendapatkan ‘feel’-nya, supaya siap lahir bathin, heheheh…

 

Begitupun, yang perlu digaris bawahi dalam proses memulai homeschooling adalah membangun koneksi dengan anak. Komunikasi adalah koentji sodara-sodara. Karena kegiatan berpusat di rumah dan bersama keluarga, orang tua harus merasa nyaman bersama anak selama 24 jam dan sebaliknya, anak juga harus merasa nyaman bersama orang tuanya selama 24 jam. Kalo ngomong masih pake urat alias teriak-teriak esmosih, mungkin mesti diperbaiki dulu ya kak, komunikasinya.

 

Nah, langkah selanjutnya adalah membuat sebuah visi pendidikan keluarga, alias gambar besar kegiatan pendidikan ini. Apa sih hasil akhir yang dicita-citakan? Bak bintang utara bagi para pelaut jaman dulu, visi pendidikan inilah yang memberikan arah dalam proses homeschooling. Bisa jadi pedoman kalo mentok di tengah jalan, kalo ada masalah, kalo kehabisan ide, pokoknya kalo tiba-tiba galau deh. Sebagai alat evaluasi juga bisa: apakah kenyataan di lapangan sudah sejalan dengan yang dicita-citakan. Dan oh, bisa juga buat disodorin ke kakek-neneknya anak-anak (atau siapapun) agar mereka paham.

 

Ngomongnya sih gampang. Prakteknya? Bingung mulai dari mana, hahaha! Untungnya, rumah inspirasi memberikan tools berupa pertanyaan-pertanyaan yang… emmm… harus dihayati sepenuh hati untuk menjawabnya. Misalnya:

– Gambaran ideal kami tentang anak‐anak saat mereka dewasa, setelah menyelesaikan pendidikannya adalah….

– Ciri, sifat, dan kemampuan penting yang dimiliki anak-anak saat mereka dewasa adalah….

– Jalan dan skenario untuk menuju ke sana….

– Rencana dalam waktu dekat untuk menuju realisasi tujuan pendidikan anak-anak adalah….

 

Yukyakyuk… kopi mana kopi? Hahahah….

 

 

Ya sebenernya sih, ada dua “strategi” dalam membuat visi pendidikan ini.

Dibuat di awal proses. Nah, strategi yang ini memang dibutuhkan diskusi intensif dengan pasangan. Dasarnya adalah idealisme orang tua, dari pemikiran dan pengalaman mereka.

Mencari bentuk sambil jalan. Kalau mau coba strategi ini, paling tidak di awal sudah ada gambar besar walaupun masih samar. Lalu, semakin lama, setelah tau ‘praktek lapangan’ gimana, bolehlah yang samar tadi semakin diperjelas. Intinya mencari titik tengah antara mimpi dan kenyataan.

 

Silahkan pilih cara mana yang lebih cocok. Tapi kalau menurutku, memang membuat visi pendidikan ini nggak bisa sambil lalu, ya. Seperti tips-nya Mas Aar, membuatnya harus benar-benar diniatkan. Suami-istri duduk bareng, ngobrol soal harapan masa depan juga segala kekhawatiran. Nggak bisa sekali jadi. Ada proses dan butuh waktu. Nggak mesti formal juga sih diskusinya (apalagi sampe berantem!). Bisa ngobrol sambil jalan pagi, sambil makan siang, sambil minum teh sore, atau sambil pillow talk malem-malem. Hemmm, jadi kangen suwamik…. *lah!*

 

Yang pasti, rumusan yang dibuat nggak perlu njelimet. Sederhana aja, yang penting bisa dimengerti dan bisa diterapkan. Beri juga ruang untuk tumbuh kembang bersama rangcangan itu. Setelah mencapai kesepakatan, sebaiknya visi pendidikan ini DITULISKAN biar formal dan nggak ada yang salah paham. Kalau perlu ditempel di tempat yang strategis kali, ya. Biar bisa dipandang-pandang buat cari inspirasi, hehehe…

 

 

Memulai Homeschooling Usia Dini

 

Proses homeschooling juga bisa diterapkan untuk anak-anak pra-sekolah. Malah, dalam banyak hal, ini lebih menguntungkan. Misalnya, pressure dari lingkungan nggak terlalu banyak. Jadi, orang tua bisa ‘latihan’ mental dulu sebelum beneran menerapkan homeschooling untuk anak usia sekolah. Selain itu, secara psikologis hal ini sangat baik untuk membangung ikatan/bonding dalam keluarga.

 

Fokus homeschooling usia dini ini adalah kedekatan dengan orang tua. Membuat anak merasa aman, sehingga perkembangannya bisa optimal. Kesehatan fisik juga menjadi fokus penting, selain mempersiapkan fondasi belajar jangka panjang agar anak bisa mengeksplorasi dunia tanpa takut. Dan yang tak kalah penting adalah membangun kebiasaan-kebiasaan baik.

 

Caranya? Yang paling gampang adalah dengan ngobrol. Nggak hanya untuk anak pra-sekolah, ngobrol adalah cara ampuh untuk membangun kedekatan dengan siapa aja. Ngobrol bisa dilakukan sambil melakukan kegiatan bersama. Sambil bermain. Sambil belanja di pasar. Sambil menggambar. Sambil masak. Sambil apa aja. Pokoknya asal dilakukan sepenuh hati, mudah-mudahan bisa menciptakan ikatan/bonding yang genuine.

 

gitarSambil nge-jam bareng? Boleeehhh…

 

 

Sejauh ini, kayaknya aku sudah menerapkan teknik ngobrol ini. Sejak BabyM lahir, aku sudah mengobrol apa saja dengannya. Ya habisnya seringnya kami cuma berdua doang di rumah, apalagi kalau si abang sedang kerja. Aku juga tidak punya babysitter. Hanya ada si emak, yang pulang pergi 5x seminggu untuk cuci setrika dan beres-beres. Praktis, 24 jam BabyM selalu bersamaku. Kalo nggak ngobrol juga, bisa bingung kali kami berdua, hahahah!

 

Tapi memang selama ini kegiatan yang aku lakukan dengan BabyM masih cenderung random dan spontan (baca: tergantung mood si ibu newbie ini lah ya!). Kalau ada ide menarik, ya langsung dilaksanakan. Kalau lagi mentok, palingan anaknya diajak jalan-jalan kemana. Belum ada benang merah yang menjadi konsep pendidikan. Apalagi visi yang jauh ke depan. Duh… jadi nggak sabar nih nunggu si Abang pulang untuk ngobrolin soal visi pendidikan!

 

 

Webinar Homeschooling #2: Metode apa yang cocok?

Setelah sebelumnya belajar soal apa itu Homeschooling, Kamis lalu aku mengikuti webinar Homeschooling sesi ke-2 yang membahas soal berbagai metode dalam Homeschooling. Wih, makin seru loh!

 

Singkatnya, metode dalam homechooling ini beragam banget. Tinggal pilih mau yang mana. Adalah tugas setiap keluarga untuk menemukan metode yang sesuai dengan tujuan akhir (grand plan) pendidikan anak. Jangan terintimidasi atau sekedar ikut-ikutan model yang dipakai keluarga lain. Tiap keluarga pastilah unik. Toh kalo sudah coba satu metode dan ternyata nggak cocok, bisa dimodifikasi atau segera ganti metode lain.

 

Dalam homeschooling ada dua metode yang berbeda layaknya kutub utara dan selatan. Dari ujung yang satu, ada metode SCHOOL-AT-HOME, dan diujung yang lain ada metode UNSCHOOLING. Diantara kedua ‘ekstrim’ ini, juga ada beberapa metode lain yang bisa diaplikasikan.

 

SCHOOL-AT-HOME (SAH)

 

Seperti namanya, metode ini “memindahkan” sekolah ke rumah. Ia terstruktur, materi belajarnya berbasis mata pelajaran sekolah (seperti Matematika, IPA, IPS, dll), dan prosesnya terpusat pada guru (guru mengajarkan sesuatu kepada anak). Ciri dari SAH adalah menggunakan kurikulum yang (biasanya) sepaket: ada mata pelajarannya, ada referensi/bukunya, ada soal latihan/tugas, juga ada panduan untuk guru yang mengajarnya. Kalau mau ikut kurikulum Indonesia, ada kurikulum keluaran Diknas. Kalau mau pakai kurikulum di luar negeri, ada berbagai macam kayak Cambridge, ACE, dll. Ada yang gratis, tapi ada juga yang beli.

 

Keuntungannya ya kita sudah kenal metode ini sejak lama. Kita juga nggak repot, karena sudah ada panduannya berupa kurikulum tadi. Namun tantangannya adalah, praktek di lapangannya nggak mudah. Sekolah itu cenderung formal, sedang di rumah biasanya informal. Pasti beda lah cara anak komunikasi ke guru dengan anak ke orang tuanya. Selain itu ada kecenderungan anak belajar cuma buat lulus ujian, bukan karena memang pingin tau. Jadi, kalau memang mau pakai metode ini, sepertinya kita mesti berinovasi dan fleksibel. Misalnya, kalau mau ikut kejar paket A (setara SD), mungkin anak bisa belajar intensif satu atau dua tahun sebelum ujian. Sebelum itu mungkin anak boleh dibebaskan untuk mengeksplorasi minatnya.

 

USCHOOLING

Pemikiran dasar metode ini adalah anak itu bukan ‘selembar kertas kosong yang harus diisi’, melainkan seorang individu yang telah membawa berbagai potensi, tinggal dikeluarin aja. Keinginan belajar anak adalah alami, justru campur tangan orang dewasa dan lingkungan yang mematikan minat belajar anak. Larangan nggak jelas dan komentar negatif membuat anak takut berekspresi.

 

Menurut metode ini, dunia nyata merupakan ruang belajar paling baik. Materi belajarnya bukan berupa mata pelajaran, tapi bisa jadi apapun yang menarik minat anak. Umumnya anak-anak belajar dari kegiatan sehari-hari. Misalnya dengan membantu orang tua memasak, anak juga bisa belajar soal kesehatan (nutrisi dalam makanan), soal manajemen waktu (persiapan memasak), berhitung (takaran dalam resep), dan lain sebagainya. Intervensi dari orang tua dalam metode ini sangatlah minimal. Yang dilakukan orang tua adalah menjadi inspirator dan menyediakan lingkungan belajar yang kaya stimulus. Lingkungan yang “kaya stimulus” ini contohnya adalah travelling. Dengan pergi ke tempat baru dan melihat hal-hal baru, rasa ingin tau anak jadi bertambah.

 

Nah, diantara kedua kutub ini, ada berbagai metode lain, seperti:

– Model classical, yang meniru model peradaban Romawi dan Yunani intelektual.

– Berdasarkan pemikir: ada metodenya Charlotte Mason yang juga sudah ada grupnya di Indonesia, Montessori yang sudah banyak di praktekkan di sekolah-sekolah swasta, dll.

– eklektik: yaitu campuran dari berbagai metode, yang dikustomisasi sesuai dengan kebutuhan keluarga.

 

 

Seru kan? Bagiku sendiri, yang paling menarik adalah metode Unschooling (langsung google dan beli buku online malam itu juga, hihihihi!). Dari hasil baca singkat sana sini, kok sepertinya kami sudah menjalankan metode ini tanpa kami sadari ya? Mungkin yang baca blog ini (dih, GR amat din!), tau aku kalau aku menggunakan metode Baby-Led Weaning (BLW) saat mulai memberi makanan pendamping ASI ke BabyM. Nah, si metode unschooling ini kerap disebut sebagai Child-Led Learning.

 

blwBLW = “Berantakan Lah yaW”, hahaha, maksa! Ini BabyM, sudah bisa buka kulkas, ambil yogurt dan makan sendiri. It’s messy, but it’s superfun!

 

Prinsipnya mirip. Dalam BLW, anak makan sendiri, tidak disuapi (kalau unschooling, anak belajar sendiri, tidak diajari – seperti guru yang mengajari murid). Dalam BLW, orang tua menawarkan makanan biasa yang dimakan keluarga, tidak berupa bubur, hanya bentuknya disesuaikan dengan perkembangan motoriknya (kalau unschooling, orang tua memaparkan anak dalam dunia nyata yang real yang kompleks, bukan ‘mengisolasinya’ dengan kenyamanan dan perlindungan berbentuk sekolah). Dalam BLW, makan bersama keluarga adalah penting, disitu anak belajar sambil melihat orang tuanya (kalau unschooling, kegiatan belajar dilakukan dengan aktivitas sehari-hari bersama orang tua). Nah, mirip kan?

 

Nah, konsep unschooling ini semakin mudah aku cerna sebab metode BLW dalam memberi makan BabyM itu sesungguhnya jadi ngikut ke berbagai hal lain yang kami lakukan. Pola pikirnya sama: bahwa kami (orang tua), harus ‘let it go’ aja, belajar mempercayai insting yang dimiliki anak. Selama ini, kami berusaha mengekspos BabyM kepada banyak hal (baik dengan cara melibatkannya dalam kegiatan sehari-hari, juga membawanya travelling kemana-mana), melihat mana yang menarik bagi BabyM, dan kemudian memfasilitasinya.

 

Sejauh ini, kecepatan belajar BabyM sukses buat kami takjub! Ya orang tua mana sih yang nggak ngerasa anaknya paling pinter sedunia? Hahahahah! Kami memang nggak pernah buat target dan ekspektasi apapun ke BabyM, jadi rasanya takjub aja kalau di umur 1,5 tahun ini dia udah bisa naik turun tangga dan main perosotan yang hampir setinggi aku, tanpa harus dipegangi. Atau, sudah bisa makan sendiri dengan sendok dan minum dengan gelas tanpa tumpah. Juga sudah bisa bersalaman dan mencium tangan jika bertemu orang baru. Mengucapkan ‘terimakasih’, ‘permisi’, ‘tolong’ dan ‘maaf’ dengan benar.

 

Vokabulari BabyM juga lumayan kaya, terlebih sejak kami ajak roadtrip keliling jawa selama 17 hari, plus pulang kampung ke Medan dan Aceh saat puasa dan lebaran lalu. Obsesinya dengan urusan memasak (iya, bener, anak laki-laki kami suka banget masak-masak) membuat BabyM kini sudah bisa membedakan (dan mengucapkan dengan cukup jelas) mana wajan, panci, teflon, sudip dan telenan. Mana bawang merah, bawang putih dan bawang bombay! Sebagai ibu newbie yang males masak, aku merasa terharu, hahahhaha!

 

masak Lagi goreng bawang 😀

 

Begitupun, apakah ini artinya kami sudah sepakat memulai homeschooling dan memakai metode unschooling untuk BabyM? Hehehe…. Tunggu dulu ah! Tunggu webinarnya selesai duluuuuuu!

 

Homeschooling, Perkenalan yang Menyenangkan!

Jadi Kamis malam lalu adalah webinar pertamaku seumur hidup. Webinar ini diselenggarakan oleh Rumah Inspirasi. Dalam 10 minggu kedepan, setiap Kamis malam aku akan mantengin laptop untuk mengikuti webinar tentang hal-hal yang berkaitan dengan homeschooling. Hasilnya: Seruuuuuu! Menyenangkan sekali!

 

Eh, tapi tunggu. Homeschooling? Apa ini? BabyM mau homeschooling? Lho kok?

 

Hehehe… ceritanya begini. Kalau ditarik ke belakang, jauh sebelum BabyM lahir, ada kekhawatiran yang amat sangat soal mempunyai anak. Aku dan abang khawatir kami tidak bisa membesarkan dan mendidik anak menjadi seseorang manusia seutuhnya. Apalagi bapak-ibunya ya “cuma gini-gini doang”. Menjelang BabyM lahir, kami berdua berdiskusi panjang lebar soal kekhawatiran ini (tapi soal ini dibahas lain kali aja deh ya, panjang aja!), dan akhirnya kami sepakat bahwa anak itu adalah hak Tuhan. Anak adalah ibadah kami kepada-Nya. Jadi yah, kami hanya bisa berusaha berbuat yang terbaik dan selalu berdoa: semoga kami jadi orangtua yang baik, yang bisa mengeluarkan potensi terbaik anak, sesuai dengan fitrahnya dan dengan tujuannya dilahirkan ke dunia oleh-Nya. Insya Allah, diberikan jalannya. Aaaamiiiinnnn!

 

Sejak itu, kami belajar macam-macam soal bagaimana menjadi orang tua, istilah kerennya: ilmu parenting. Kami baca buku, baca artikel di internet dan aku punya grup whatsapp isinya para mamah muda nan kece dan pintar untuk berbagi ilmu parenting (ya segitu doang sih belajarnya, hahaha!). Pengetahuan baru ini kami saring dan jika bisa, kami terapkan dalam mengasuh BabyM. Dan sejauh ini – 1,5 tahun jadi orang tua – perjalanannya sangat menyenangkan sekali. Nggak ada pekerjaan di dunia yang lebih adventurous tapi sangat rewarding seperti menjadi orang tua.

 

Nah dari situ, perlahan tapi pasti, aku merasa karakterku berubah, Alhamdulillahnya sih jadi lebih baik, hahahah! Yang dulu sumbu pendek banget, senggol dikit bacok, sekarang ya ampunnnn… sabarnya luar biasa deh! Eaaakkkk… hahahah! Maksudnya sabar ini ya jadi bisa mentoleransi hal-hal yang dulu sulit diterima. Intinya, bisa lebih empati sama orang lain, jadi lebih santai nggak langsung marah-marah kayak dulu. Selain itu, pikiran juga makin terbuka. Ilmu parenting ini kan banyak mahzabnya. Jadi, sebelum memilih mana yang paling cocok untuk keluarga kami, aku baca macam-macam dan berusaha untuk tidak menghakimi mahzab tertentu. Begitulah efek punya anak untukku 😀

 

Oke, kembali ke homeschooling. Dari berbagai bacaan parenting, kami membaca bukunya Ayah Edy yang sering menyinggung konsep homeschooling. Lalu, dari situ konsep ini sering kami jadikan semacam ‘candaan’. “BabyM homeschooling aja. Kan enak tuh, kita tetep bisa travelling kemana-mana”. Atau, “Dih, sekolah-sekolah mahal banget sih, homeschooling aja deh!” Dan macem-macemnya.

 

Lama-lama, kok rasanya semua candaan itu ada benernya. Dengan kondisi kerja si abang yang 7 minggu kerja dan 5 minggu cuti, kasian juga kalau pas lagi dirumah anaknya malah sekolah seharian. Aku juga sempat melihat-lihat kelas bermain untuk toddler, ya ampun, mahal banget. Tapi pas ikut free trial, heemm… kok kayak main di rumah yah? Lebih seru main di rumah juga.

 

Jadi, ya kenapa nggak beneran homeschooling aja? Tapiiii, begitu diseriusin, jadi clueless, lah ini mulainya dari mana? Apa itu sesungguhnya homeschooling? Apa yang mau diajarin ke anaknya? Bingung! Pas browsing, ketemulah Rumah Inspirasi, keluarga praktisi homeschooling Mas Aar dan Mbak Lala dengan tiga anak mereka. Dan mereka menyelenggarakan webinar soal homeschooling. Nggak pake mikir dua kali, langsung daftar! Gimana pengalaman perdananya? Begini ceritanya…

 

Sebelum webinar perdana, Rumah Inspirasi sudah mengirimkan serangkaian materi yang bisa di download. Ada referensi, ada ebook, juga ada podcast-nya. Aku melahap semua materi ini dengan semangat. Dibaca dan didengerin satu-satu sambil membuat catatan supaya nantinya bisa didiskusikan dengan si Abang.

 

Oh iya, sebelumnya ada tes perangkat webinar juga. Bagi aku yang gaptek, ini cukup penting. Rumah inspirasi memakai platform WizIQ untuk webinar, jadi mereka juga memberikan tutorial step-by-step untuk mendaftar dan menggunakan WizIQ. Sebelum hari-H, ada pra-webinar untuk memastikan peserta sudah paham caranya sehingga nggak kesulitan teknis pas acara.

 

Webinar ini diselenggarakan pada hari kamis jam 19.00-21.00 WIB. Setengah jam sebelumnya, kelas sudah dibuka. Tantangannya bagiku adalah: jam segitu BabyM belum tidur! Jadilah sejak habis magrib aku membiarkan BabyM bermain sampai puas, lalu jam setengah tujuh aku memintanya untuk bermain di kamar saja. Aku juga menjelaskan kepadanya bahwa laptop harus dibuka, karena “Ibu mau belajar”. Senangnya, dia mengerti dan tidak mengutak-atik laptop. Tapi yahh… sambil buku berantakan, pensil dan kertas bertebaran, dan anaknya lompat-lompatan sesukanya, hahahah!

 

photoSuasana webinar di rumah >.<

 

Mengikuti webinar ini seperti mendengarkan radio (kelas ini hanya audio). Yang menjadi nara sumber dan moderatornyanya ya Mas Aar dan Mbak Lala. Peserta bisa bertanya via chat, dan nantinya dijawab langsung. Tadinya aku sudah siap dengan notes dan pensil untuk mencatat, tapi apalah daya, anaknya langsung merebut karena, “Mau tulis-tulis ibu….” Hahahah… ya sudahlah tidak mengapa. Prioritasnya kali ini mendengarkan saja. Lagipula, nanti materi ini akan tersedia untuk diunduh. Jadi bisa lebih konsen didengarkan saat anaknya tidur, hehehe….

 

Webinar perdana ini adalah mengenai dasar-dasar homeschooling. Dari hasil denger-gak-denger, plus baca-baca materi sebelumnya, ini adalah kesimpulan (sementara) yang aku tangkap. Summary-nya aku buat bergaya 5w+1H yah, biar gampang 😀

 

What: Apa itu Homeshooling?

Homecshooling atau home education atau pendidikan rumah adalah model pendidikan alternatif yang berbasis di rumah. Kegiatan pendidikannya diselenggarakan oleh orang tua yang disebut praktisi homeschooling. Jadi, tidak ada lembaga yang menyelenggarakan homeschooling. Kalo ada lembaganya, dan disuruh mendaftar dan sebagainya, ya itu namanya sekolah. Walaupun mungkin sekolahnya tidak setiap hari atau yang sering disebut flexy-school. Jadi, tidak ada lembaga yang menyediakan ‘jasa’ homeschooling. Yang ada hanyalah komunitas-komunitas para orangtua atau praktisi homeschooling melakukan kegiatan atau belajar bersama.

 

Where: Dimana belajarnya?

Ya di rumah. Tapi jangan mikir anak dikurung di rumah sepanjang hari. Rumah itu hanya “basis”. Di rumahlah semuanya berpusat. Kalau anaknya mau belajar sesuatu yang spesifik, katakanlah musik, anak bisa diikutkan kursus musik yang banyak di masyarakat. Atau kalau anaknya pengen belajar bisnis, bisa magang di perusahaan. Anak yang tertarik dengan alam dan budaya bisa diajak traveling. Atau anaknya mau belajar secara mandiri, bisa berlangganan internet dirumah, dan cari kelas-kelas belajar online. Jadi rumah hanyalah basis, namun sesungguhnya ruang kelasnya bisa selebar dunia!

 

When: Belajarnya kapan?

Ya kapan saja! Tidak seperti sekolah yang belajar selama waktu tertentu, dengan homeschooling waktu belajar bisa disesuaikan dengan ritme keluarga. Karena tidak ada dua keluarga yang persis sama, maka jadwalnya mungkin tidak sama antara satu anak dan anak lain. Kecepatan belajar pun disesuaikan dengan kemampuan anak. Ibaratnya makanan, sekolah adalah makanan paket, kalo homeschooling itu a la carte. Kalau di sekolah, yang dipelajari sudah ada paket khusus dalam waktu khusus juga. Kalau ada satu mata pelajaran yang dikuasai dengan baik, tidak bisa melesat maju, harus menunggu sampai naik kelas. Begitupun kalau ada satu pelajaran yang gagal misalnya, anak harus mengulang semuanya/tinggal kelas. Nah, kalau homeschooling, belajarnya modular, mirip sistem SKS kuliah. Kalau ada satu hal yang memang disenangi, ya bisa terus diperdalam dan kalau ada yang tidak terlalu disuka, ya bisa dipelajari sekadarnya menurut kebutuhan saja.

 

Who: Siapa yang mengajar? Orang tua?

Yang mengajar ya bisa siapa saja, bisa orang tua, bisa juga tidak. Dalam HS, orang tua memang berperan sangat penting, tapi tidak musti berperan sebagai guru. Yang pasti, orang tua harus menjadi fasilitator anak untuk belajar. Karena sangat fleksibel, orang tua harus punya semacam rencana besar atau grand plan untuk pendidikan anaknya, apa yang menjadi tujuan pendidikan ini. Nah, grand plan inilah yang menjadi benang merah kegiatan pendidikan. Tugas orang tua adalah lebih kepada memastikan bahwa semua kegiatan pendidikan ini sejalan dengan tujuan akhir. Jadi, fungsi orang tua jadi semacam kepala sekolah yang membuat perencanaan, menjaga agar rencana dijalankan dengan baik, dan mengevaluasi hasilnya. Jadi, siapa yang mengajar, ya disesuaikan dengan grand plan tersebut. Kalau orang tua mampu mengajari, ya kenapa tidak?

 

Why: Mengapa harus homeschooling?

Tidak ada yang “harus”. Homeschooling adalah alternatif cara mendidik anak. Tidak semua anak cocok belajar dengan model sekolah biasa (yang umumnya terpusat, standar, terstruktur), dan tidak semua juga sanggup berkomitmen menjalankan homeschooling (yang terdistribusi, customized, fleksibel). Ini hanya masalah pilihan. Yang satu tidak lebih baik dari yang lain.

Dari survey di Amerika, tiga alasan utama mengapa memilih homeschooling adalah, (1) Orang tua ingin meningkatkan kualitas pendidikan, (2) Alasan agama, (3) Buruknya lingkungan belajar di sekolah. Selain itu ada juga karena orang tua yang berpindah-pindah, karena sekolah bagus makin mahal, anak-anak memiliki kebutuhan khusus, membangun ikatan keluarga, dan lainnya. Jadi memang sebelum memutuskan, orang tua mesti bertanya kepada diri sendiri, apa alasan dan tujuan mereka sesungguhnya. Sebab, “resiko” homeschooling adalah orang tua mesti belajar tanpa henti, dan menjadi perintis. Belum lagi pandangan yang cenderung ‘negatif’ dari keluarga dan masyarakat. Bisa jadi, solusi masalah pendidikan anak bukan homeschooling, melainkan model sekolah lain seperti sekolah alam, pesantren, flexy-school, dan lainnya.

 

How: Bagaimana memulainya?

Sebelum memulai, sebaiknya dipastikan kesiapan diri, pasangan dan anak. Sadari resiko dan konsekwensinya. Setelah itu, buatlah gambaran besar atau grand plan pendidikan sebagai panduan. Apa visi besarnya dan langkah-langkah untuk mencapainya. Lalu praktekkan semuanya dalam keseharian. Selain itu, berjejaringlah dengan para praktisi homeschooling lain. Bagi orang tua yang mempunyai anak yang belum mencapai usia sekolah (seperti kami), mungkin bisa mencobanya sekarang, katakanlah untuk latihan dan tes mental. Biasanya, pressure untuk masa ini lebih ‘ringan’, dibanding memulai homeschooling saat usia sekolah.

 

Jadi begitulah kesimpulan yang aku dapatkan dari sesi webinar perdana kemarin. Bagiku, konsep homeschooling (dengan segala kelebihan dan resikonya!) ini sangat menarik dan sepertinya bisa dijalankan dalam keluarga kami. Toh BabyM masih 1,5 tahun dan kami masih bisa ‘latihan’ sampai dia benar-benar sekolah. Meski begitu, tentulah hati ini masih ragu, apakah aku bisa? *lirik profilnya Mas Aar dan Mbak Lala yang keren banget, lalu jiper. Apalah aku iniiiii huhuhu* Ya marilah kita tunggu sesi-sesi berikutnya, mudah-mudahan pedenya nambah. Aaaamiiiinnn!