Finding Iphone

Handphone-ku hilang Selasa lalu. Walaupun sebagian besar data tersimpan di icould, tapi foto-fotonya tidak. Semua foto sejak awal tahun 2018 masih di dalam, dan belum aku backup. Namun, dengan segala keajaiban, akhirnya handphonenya bisa ketemu lagi! Jadi begini ceritanya (agak panjang nih, biar mirip cerita detektif :D)

Temanku, Galuh dan anaknya Daya sedang menginap di rumah. Rencananya, kami akan merayakan Ulang tahun Daya pada hari Pilkada lalu. Sederhana saja, dengan Malik dan teman-temannya di komplek. Tapi, Daya sudah minta kuenya special, dengan karakter Hansel dan Gretel. Jadilah Galuh heboh mencari bakery yang bisa membuatkan sejak jauh-jauh hari, dan ketemunya di Serpong.

Sehari sebelum acara, kami berempat nyetir ke Serpong untuk menjemput kue. Karena dekat banget dari IKEA, setelah mengambil kue kami melipir kesana. Makan, dan liat-liat furniture (yah, beli printilan juga sih akhirnya ahahah!). Aku masih sempat memotret anak-anak di area gudang IKEA dengan handphone-ku, sebelum kami membayar belanjaan. Saat selesai sekitar jam 5 sore, ternyata di luar hujan deras. Jadilah Galuh dan anak-anak menunggu di pintu, sementara aku mengambil mobil yang terparkir jauh di luar, di bagian yang tidak ada atap.

Aku lari-lari menembus hujan menuju mobil, lalu langsung menjemput Galuh dan anak-anak di pintu dan kami langsung mengarah pulang. Di tengah jalan, aku meminta Galuh mencarikan handphoneku di tas. Tapi nggak ketemu. Udah mulai deg-degan, tapi masih berharap nyelip-nyelip di bawah kursi. Mau langsung log in ke icloud tidak bisa, karena handphone Galuh Android. Aku minta tolong Galuh untuk me-whatsapp si Abang karena dia tau password icloud-ku. Tapi abang sedang kerja dan pesannya tidak terbaca. Alhasil kami harus sabar menunggu sampai rumah untuk ngecek dari macbook.

Saat tiba di rumah, aku langsung login icloud dan ngecek Find My Iphone. Terlihat handphone-ku berada di daerah Cinere! Waktu menunjukkan jam 7 malam dan langsung aku lock menggunakan Lost Mode. Dengan Lost Mode, aku juga mengirimkan pesan ke handphone itu untuk menghubungi nomor Galuh, sambil kami terus menerus berusaha menelepon, yang tidak diangkat-angkat juga.

Anehnya, dari Cinere, handphone itu terus bergerak ke Selatan hingga berhenti di daerah Parung, Bogor sekitar jam 9 malam. Kalau HP itu hilang di IKEA, ia sudah menempuh jarak hampir 60km! Aku masih terus berusaha menelepon sampai akhirnya handphone itu offline menjelang jam 11 malam.

20180629 IMG_6411

20180629 IMG_6449a

Beberapa foto terakhir sebelum handphone-nya hilang 🙁

Besoknya, hari Rabu adalah hari Pilkada, dan juga acara ulang tahun Daya. Jadi, tidak mungkin juga untuk keluar rumah. Apalagi lokasinya juga sekitar 60km dari rumahku. Jadilah hari itu aku hanya sempat keluar ke mall yang tak terlalu jauh dari rumah di sore hari, membeli handphone baru dan mengganti kartu di Grapari. Alhamdulillah prosesnya cepat, sebab Malik aku tinggal di rumah dengan Galuh.

Hari Kamisnya, aku berencana pergi ke lokasi handphone tersebut (yang juga masih offline). Awalnya Galuh berencana untuk kembali ke Bandung bersama suaminya. Tapi, dengan baiknya mereka mengantar aku ke lokasi, karena takut juga pergi sendirian dengan kondisi seperti itu. Kamipun jalan sekitar jam setengah dua siang.

Lokasinya ternyata berada di daerah perkampungan, dibelakang sebuah kompleks besar di daerah Parung. Jalan masuknya masih tanah, dan hanya muat satu mobil. Akhirnya aku parkir di jalan besarnya, menumpang di depan toko air minum, sambil tanya-tanya sama pekerjanya.

Sementara Malik dan Daya dijaga suami Galuh, aku dan dan Galuh menyusuri jalan kecil itu, menjumpai orang-orang yang sedang berada di luar rumah. Yah, namanya juga mantan wartawan, masih ada lah skill dan keberanian buat nanya-nanya orang asing dan menjelaskan maksud dengan bahasa sesederhana mungkin.

20180629 IMG_0047

Jalan masuk ke lokasi terakhir handphone terlihat

Awalnya, kami mendapatkan tatapan curiga penuh prasangka. Kami sempat berhenti di sebuah warung dan menjelaskan kepada mbak penjaga warung. Tak lama, beberapa orang datang ke warung dan aku kembali menjelaskan panjang lebar. Yang awalnya curiga, sepertinya berubah jadi kasian melihat kami. “Wah, rumah mbaknya di Cibubur? Jauh amat!”, “Jadi jauh-jauh kemari nyari henponnya?”, “Kok tau henponnya ada disini?”. Dan beberapa pertanyaan lain seputar itu. Begitupun, taka da yang tau. Aku lalu memberikan nomer kontakku dan berpesan akan ada imbalan, siapa tau besok-besok gossip telah beredar di kampung itu dan aku dapat informasi.

Kami meneruskan pencarian. Beberapa meter dari warung itu, ada sebuah warung jajanan anak yang lebih kecil yang letaknya di halaman sebuah rumah. Ada seorang bapak sedang bakar sampah di depannya dan aku bertanya padanya. Dia menjawab tidak tau menahu. Tapi ditengah percakapan, seorang mbak-mbak (mungkin usia kuliah gitu) mendekati dan bertanya, “Handphone Iphone ya? Warnanya putih gitu?” lalu ia menunjukkan sebuah foto di handphone-nya: ITU FOTO HANDPHONEKU!!!!

“Bapak saya ketemu handphonenya, tapi baterenya habis. Dan nggak ada charger yang cocok. Jadinya nggak bisa telepon. Tadinya mau beli charger, tapi nggak ketemu.” Ia menjelaskan. Lalu, ibunya si Mbak – yang ternyata adalah empunya warung kecil itu – keluar dari rumah. “Wah, handphonenya dibawa Bapak. Saya cari di lemari nggak ada,” katanya.

Si Mbak berusaha menelepon Bapaknya, menggunakan handphoneku, tapi nggak diangkat. “Bapak baru pulang malam. Nanti kemari aja lagi, atau besok pagi,” katanya sambil kami bertukar nomor dan berjanji untuk saling mengabari.

Akupun pergi. Kami lalu makan tak jauh dari situ. Tapi ternyata, saat makanan baru datang, si Bapak mengabari bahwa ia sudah di jalan pulang! Akhirnya aku berpisah dengan Galuh yang akan langsung pulang ke Bandung, dan balik lagi ke lokasi rumahnya berdua dengan Malik.

Setibanya di sana, si Bapak sudah menunggu dan ia mengembalikan handphoneku. Ternyata si bapak adalah driver dan dia sedang mengantar bosnya ke IKEA. “Saya ketemu handphonenya di parkiran, basah-basah kehujanan,” katanya. “Saya lihat kok, ibu lari-lari masuk mobil, karena saya parkirnya di ujung. Tapi waktu itu belum tau ada handphone jatuh. Pas saya mau jalan, baru saya lihat ada handphone jatuh. Saya ambil lalu saya taro di belakang mobil. Soalnya nggak enak juga teleponan sambil bawa bos saya,” jelasnya panjang lebar. Yang terjadi kemudian adalah handphonenya habis batre dan mereka tak punya charger, persis seperti yang dikatakan anaknya sebelumnya.

Dengan bahagia aku memberikan imbalan untuknya, dan lalu pamit pulang sebelum hari gelap, menempuh 60 km lagi untuk sampai ke rumah. Alhamdulillah, handphone dan semua foto-foto yang ada di dalamnya kembali lagi.

 

Processed with VSCO with f2 preset

Sebenernya ini kali ketiga aku kehilangan handphone. Dua sebelumnya dengan handphone lama. Dan ajaibnya, semuanya kembali. Yang pertama terjadi saat aku dan abang mengunjungi rumah kami yang sedang di renovasi. Sepertinya memang ada orang yang berniat mengambil dan menyembunyikannya di tempat yang tak terduga dalam rumah. Tapi, alhamdulillah, ditemukan oleh si abang.

Yang kedua juga kasusnya mirip dengan ini. Hanya saja saat itu aku sedang di Medan, dan lokasinya tak jauh dari rumah papa. Kejadiannya juga saat hujan, dan handphone jatuh saat buka pintu mobil dan ditemukan oleh anak-anak yang sedang mandi hujan. Aku dan papa sempat menyusuri rumah dalam gang-gang. Si anak tak menjawab panggilan karena takut dimarahi, katanya.

I think i’m one lucky girl. And God loves me that much :’) Lalu toyor kepala sendiri dan berjanji (lagi!) untuk nggak ceroboh.

Kalian pernah kehilangan handphone dan kembali?

Staycation di Puncak

Kalau punya waktu dan budget yang relatif terbatas untuk liburan, kalian biasanya ngapain sih? Keluarga kami biasanya paling senang ber-staycation. Leyeh-leyeh di hotel, sarapan sampai siang, main di kolam renang, pokoknya bersantai aja. Nah, minggu lalu sebelum Ramadhan, kami memutuskan untuk staycation lagi.

Tadinya, kami pengen cari hotel yang menyenangkan di tengah kota Jakarta. Tapi setelah dipikir-pikir, kok rasanya lebih pengen lihat ijo-ijo pepohonan, ya? Yah, selain males juga sih liat harga hotel bagus di Jakarta on weekdays, hahahah! (Bilang aja bokek, kak!). Diantara beberapa pilihan, tiba-tiba inget sebuah hotel yang tak jauh dari Taman Safari, Cisarua. Beberapa tahun lalu kami ke Taman Safari dan sempat melongok hotel ini dari luar sewaktu masih dalam proses pembangungan. Browsing sedikit, akhirnya jadi tau kalau hotel yang kami maksud itu adalah ‘Pesona Alam Resort’. Jadilah kami booking untuk 2 malam.

Day 1

Kami berangkat hari Minggu sekitar jam setengah tiga sore dengan perkiraan jalanan nggak macet. Soalnya pasti yang rame adalah arus balik. Tapi, ternyata salah perhitungan sodara-sodara. Jam 3, jalan menuju Puncak sudah mulai buka tutup, dan kami berada di situ jam 3 lewat sepuluh. Hhh… Tapi jangan sedih, akhirnya kami mengambil jalan alternative (makasih google maps!). Walau jadinya lebih jauh dan beberapa bagian jalan jelek, tapi justru malah senang karena jadi terasa kayak ‘liburan beneran’, ahahaha! Oh iya, buat yang juga lewat jalan alternative, ikutin aja tanda-tanda ke arah Taman Safari.

Sekitar jam setengah lima, kami tiba di estate Pesona Alam Resort. Jalan masuknya adalah hutan pinus yang cantik. Walaupun dari luar terlihat biasa, pas masuk ke lobby, kami langsung disuguhi pemandangan kayak begini:

E9879542-2FB7-4580-A9A0-C4A1AD909907

safari2

Lalu lihat ke bawah, ternyata terbentang kolam renang, plus playground yang luas.

EC97629F-0F0E-4C6C-81E5-82557F9F50F0

Whooaaaaaa! It was better than we expected, really! Nggak nyangka hotelnya akan seperti ini! Setelah welcome drink yang segar, kami diberi kamar di lantai 3. Kami memang meminta kamar dengan pemandangan gunung. Harganya lebih mahal dari kamar standar, tapi kayaknya kalau kesini yah sekalian aja kali yah liat pemandangan. Masak tembok lagi, tembok lagi 😀

03F15244-BDE2-4E96-91EB-F0F1586C9796

Kami memutuskan makan malam di hotel karena udah capek untuk ngapa-ngapain. Waktu itu kami belum tau kalau dalam kompleks hotel ini, sekitar 200an meter dari bangunan utama, ada dua tempat makan yang asyik. Begitupun, makan malam di hotel juga enak banget! Malik mencoba steak dua malam berturut-turut dan hampir menghabiskan 200gr daging plus kentang dalam sekali makan! Sementara nasi bakar kecombrangku pun bikin nagih.

Sehabis makan malam, kami bermain di playground. Dan untuk hari-hari ke depannya, kami hanya bermain di playground di malam hari. Kenapa? “Karena kalau siang-siang banyak orang”, kata Malik. Uhuk. Anaknya memang masih agak ansos ya kalau lihat keramaian. Di playground yang dialasi rumput sintetis itu ada lapangan dan gawang untuk main bola, ada ring basket, mini golf dan sofa-sofa besar untuk duduk. Walaupun dingin, kami bermain seru! Malik senang banget dibolehin main malam-malam, lari-larian pulak. Kalau capek, kami rebahan di rumput sambal melihat bintang-bintang yang banyak. Dan hati sungguh hangat setiap dia bilang betapa langitnya indah penuh bintang. It’s like he knows how to appreciate the little things in life. Mudah-mudahan sampe gede begitu ya nak.

232C3421-5FE5-4342-BF29-B87C498CACDF

Day 2

Kami memulai hari dengan sarapan yang astagaaaaa… banyak banget pilihannya! Ini benar-benar mengejutkan buat kami. Soalnya kemaren niatnya mau ke hotel bagus di Jakarta adalah karena pengen sarapan yang berlimpah, ahahah!

Nggak menyangka dengan rate yang cukup terjangkau, sarapan di hotel ini ala bintang 5 banget. Station buburnya aja ada 3 macam bubur. Lalu ada laksa, lontong dan mie ayam. Ada station omelette, nasi uduk/kuning, nasi dan lauk, gorengan dan sambal, juga salad dan buah. Ada setidaknya 10 jenis roti di bread station-nya, dan setidaknya 10 macam minuman panas/dingin. Ada juga station sereal, mesin popcorn, dan ibu jamu yang standby! Dan nggak cuma itu: rasanya ENAK!

Puas sarapan berlama-lama, kami sepakat untuk mengunjungi Taman Safari yang hanya 5 menit naik mobil dari hotel. Oh iya, hotel ini juga memberikan diskon 15% untuk tiket masuk Taman Safari. Lumayan juga!

Walaupun awalnya sangat semangat, Malik ternyata biasa-biasa aja begitu kami tiba. Ia hanya sedikit tertarik dengan beberapa binatang, dan malah sangat senang saat dipangku Bapaknya sambil menyetir. Seusai safari, ia bahkan sempat tertidur di parkiran.

safari1

Saat Malik bangun, dia melihat peta dan menunjuk dua tempat: mau lihat penguin dan air terjun. Dasar anak empat tahun, saat lihat penguin, dia malah adem-adem aja dan mau segera lihat air terjun. Aku sendiri baru ngeh loh kalo di Taman Safari ada air terjun ahaha! Jalannya agak menanjak, tapi cukup bagus. Malik senang banget lihat air terjun daaaannn… dia mau mandi aja dong! Untung aku membawa baju gantinya. Dia senang banget, padahal airnya dingin. Dan selama beberapa hari di hotel, dia nggak ada satu kalipun berenang di kolam hotel loh! Lebih milih berenang di air terjun seadanya yang sepi, ahhaha!

IMG_3951safari3IMG_4050

Setelahnya Malik merengek minta kembali ke hotel. Tapi aku sesungguhnya sangat pengen melihat Panda yang wahananya baru aja dibuka awal tahun. Tadinya aku mau pergi sendiri, tapi ternyata ke wahana ini harus naik bis segala, dan bayar tiket lagi (hih pastinya!). Untungnya, melihat bis, Malik jadi semangat pengen naik. Akhirnya kami semua pergi melihat Panda. Lumayan liat sebentar, sebelum anaknya merengek lagi. Tapi akhirnya ditodong sama anak kicik untuk membelikan boneka panda… (jago juga nih anak triknya!)

 safari4

Day 3

Harusnya hari ini kami checkout, sebab hanya booking untuk 2 malam. Awalnya kami kira puasa dimulai Rabu, ternyata Kamis. Jadi, masih ada sehari ekstra, plus kami masih pengen bersantai. Akhirnya kami sepakat untuk extend satu hari lagi. Tapi hari ini kami beneran hanya beredar di kawasan hotel.

Setelah sarapan, kami ke petting zoo di playground. Nggak terlalu bagus sih, dan harus bayar 25ribu perak per orang untuk masuk. Tapi yah lumayan lah, Malik bisa sayang-sayang kelinci dan marmut. Ada kura-kura dan kambing juga.

IMG_4139

Untuk makan siang, kami memutuskan untuk mencoba ‘Club Huis’, salah satu dari dua tempat makan di kompleks hotel itu. Tadinya mau jalan kaki, tapi stafnya menawarkan untuk diantar naik golf cart. Dan tempat ini menyenangkan sekali! Semacam rumah tua nan mungil yang berada di tengah-tengah hutan pinus dan taman. Malik lari-larian dengan bebasnya. Bahkan dia dengan sengaja memasukkan diri ke kolam-kolam dangkal di sekitar bangunan, yang sebeneranya hanya untuk estetika semata. Apapunlah nak, yang penting happy ya! Oh iya, dari segi makanan, tempat ini lebih cocok untuk ngopi sore karena menu-menunya tergolong ringan.

safari5

Sedangkan untuk makan malam, kami mencoba ke ‘Lake House’, tempat makan satu lagi dalam kompleks hotel. Makanan disini lebih berat dan lebih bervariasi, dan dari segi harga bahkan lebih murah dibanding Club Huis atau di hotel. Yang istimewa sebenarnya adalah bentuk bangunannya. Ada area outdoornya yang dikelilingi kolam. Mungkin lebih seru kalau kesini sore-sore, ya.

IMG_4275

Day 4

Setelah menikmati sarapan, kami kembali main di sekitar hotel. Malik keukeuh nggak mau berenang, karena kolamnya rame. Nggak mau juga main di kids club, katanya itu untuk baby (eaaakkk!). Akhirnya kami ke petting zoo lagi, dan lari-larian di taman. Setelah checkout, kami langsung pulang ke rumah.

safari6

Secara keseluruhan, hotel ini menyenangkan sekali. Pelayanan dan stafnya, flawless! Kami ngobrol dengan beberapa staf dan semua ramah. Fasilitasnya juha sangat family-friendly dan highly recommended. Lokasinya juga cukup strategis. Tapi untuk nilai paling optimal ya kalau nginepnya weekdays yah. Selain harga lebih murah, tamunya juga nggak terlalu rame, jadi lebih enak aja. Kalau weekend yah, kayaknya harganya lebih tinggi dan sering full booked juga sepertinya. I think we’re gonna comeback here sooner than we expected, hihihi!

Astaga, Anakku Memukul Temannya!

Kemarin Malik pulang ke rumah sambil menangis tersedu-sedu. Katanya, temannya – sebut saja A – nakal, tidak mau mengembalikan pedang-pedangan kayu Malik yang dipinjam. Saat aku berusaha menenangkannya, dua orang temannya, termasuk si A, datang menghampiri. Tapi, mereka tidak hanya datang untuk mengembalikan pedang. Dengan dramatis, mereka melaporkan kejadian barusan: Malik memukul temannya yang lain – si B – sampai bibir dan gusinya berdarah! Tak tanggung-tanggung, Malik memukul dengan roller cat kecil (yang terbuat dari besi), yang saat itu memang sedang dia pegang! Astaga….

 

Malik memang sering memainkan roller cat itu. Ia menggunakannya untuk pura-pura mengecat, untuk main pedang-pedangan, main pukul bola, macam-macam. Begitupun, ia juga sudah paham kalau roller cat itu keras dan harus dimainkan dengan berhati-hati. Jadi, saat mendengar Malik memukul – apalagi dengan alat seperti itu – terdengar sangat tidak masuk akal buatku. Lagipula, tadi bukannya dia marah dengan si A? Kenapa yang dipukul malah si B?

 

Ditengah kepanikan, aku berusaha bertanya kepadanya apa benar dia memukul si B. Tapi, dia malah diam, sepertinya bingung dan takut. Kedua temannya yang datang juga tidak memberikan penjelasan yang bisa aku mengerti, ya namanya juga penjelasan anak-anak. Setengah memaksa, aku mengajak Malik ke rumah si B yang hanya berbeda satu blok dari rumah kami. Biasanya kalau dia salah, dia akan menurut. Tapi kok ya malah dia terus diam dan nggak mau beranjak sedikitpun. Akhirnya aku menyuruh dia tinggal di rumah dan tidak kemana-mana, dan aku langsung pergi ke rumah si B dengan perasaan khawatir luar biasa.

 

Di rumah si B, ibunya – yang juga kukenal sejak kami pindah kemari dan anak-anaknya juga sering main kerumah – menyambutku dengan marah! Dia memanggil anaknya dan memperlihatkan bibir yang kena roller cat itu. Di sudut kiri bibir bawahnya ada robek sedikit dan gusinya juga cowel. Aku gemetar dan memeluk si anak dan bertanya apa masih sakit. Dia mengangguk sambil terus menempelkan es batu ke lukanya. Syukurnya, darahnya sudah tak keluar lagi.

 

Aku meminta maaf dan bertanya apa yang bisa aku lakukan. Tapi ibunya masih terlalu panik dan marah, dengan suara tinggi bilang, “Tolong jaga anaknya yang bener dong!” Jantungku berdebar kencang, rasanya ingin menangis. Aku menyarankan untuk pergi ke dokter, tapi dia bilang tidak perlu. Lalu aku ingat, di rumah ada minyak yang lumayan mujarab untuk luka. Aku bilang aku akan ambil sebentar ke rumah, mudah-mudahan bisa lekas sembuh. Ibunya bilang besok si B ada performance sekolah dan harus tampil. “Bagaimana ini mau tampil bibirnya jontor begini?”. Sejujurnya, aku pikir luka itu tidak akan jadi masalah untuk performance. Tapi ya namanya orang sedang panik dan marah, ya nggak mungkin dibantah.

 

Akhirnya aku pulang sebentar untuk mengambil minyak. Aku marah sekali dengan Malik. Sampai di rumah, aku bilang sama Malik kalau si B bibirnya luka dan berdarah. Aku mengingatkan dia soal bibirnya yang dulu juga pernah sobek dan berdarah karena jatuh. “Kamu tahu itu sakit sekali kan?” kataku ke Malik. Dia diam, tapi terlihat sudah mengerti. “Sekarang kita pergi ke rumah si B dan kamu bawakan minyak ini untuk dia supaya dia lekas sembuh. Mengerti?” Dia mengangguk dan kami pergi bersama.

 

Kami menemukan si B dan ibunya di rumah si A yang hanya berselang tiga rumah. Malik lalu mendekati ibunya B dan dengan sopan meminta maaf sembari menyerahkan minyak. “Ini untuk B, supaya cepat sembuh,” katanya terbata. Syukurnya, ibunya sudah ‘kembali normal’, tak lagi marah dan panik seperti sebelumnya. Dia lalu memeluk Malik dan bilang bahwa lain kali Malik tidak boleh begitu. Malik lalu mendekati si B yang juga sudah tidak marah. “Maaf ya. Aku tidak sengaja pukul kamu. Mana yang sakit?” tanya Malik. Si B menunjukkan lukanya. “Aku bawa minyak supaya kamu cepat sembuh. Aku janji besok-besok aku tidak begitu lagi,” katanya.

 

Walaupun sudah saling memaafkan, tetap saja kejadian ini membuat aku sungguh tidak tenang. Saat anak kamu memukul temannya, kamu akan dengan serta merta mempertanyakan kapasitasmu sebagai orang tua. What did i do wrong? Aku jadi meragukan banyak keputusan yang aku buat. Mungkin Malik memang tidak sengaja seperti yang dia katakan. Tapi belakangan ini menurutku Malik memang lebih agresif. Tidak pernah sampai memukul, tapi setiap kesal dia akan berkata-kata dengan ekstrem, misalnya “Malik marah sekali, Malik mau pukul dia sampai berdarah!” Jadi aku rasa memang ada sesuatu yang harus dievaluasi.

 

Sekarang aku ‘menghukum’ dia untuk tidak main keluar sampai beberapa waktu. Aku jelaskan padanya kalau aku sangat khawatir dia tidak bisa mengontrol amarahnya. Aku juga jelaskan, hukuman akan berakhir kalau dia sudah bisa menunjukkan kepadaku kalau dia sudah bisa berlaku baik dan tidak langsung marah-marah ke teman-temannya. Selain itu, aku juga meminta pengertiannya untuk tidak lagi menonton film superhero kesukaannya (yang lumayan banyak adegan berantemnya). Syukurnya dia bisa mengerti, dan (sepertinya) dia tahu kalau dia salah. Aku juga bilang kalau besok (maksudnya hari ini), Malik harus menjenguk si B dan menanyakan kabarnya. Entahlah keputusan ini benar atau tidak, tapi rasanya aku harus berbuat sesuatu.

 

Siang tadi, kami ke supermarket untuk berbelanja sesuatu yang bisa diberikan untuk menjenguk si B. Malik sempat mengusulkan untuk beli mainan, tapi aku menjelaskan, biasanya menjenguk orang sakit itu diberikan buah yang banyak vitamin, supaya lekas sembuh. Akhirnya dia memilih sendiri buahnya. Dia membelikan apel, pear, jeruk dan anggur, semua buah kesukaannya. Kami membungkusnya bersama dan membuatkan kartu. Dia mengarang kata-katanya sendiri dan menuliskan namanya sendiri, walau belepotan. Setidaknya, itu menunjukkan kalau dia memang bertanggung jawab.

Buah

Sayangnya, saat kami ke rumah si B, mereka belum pulang. Jadi, hadiahnya kami letakkan di teras. Dan lepas magrib tadi, si B dan ibunya ternyata datang ke rumah untuk berterima kasih atas hadiah Malik. Kami ngobrol cukup lama. Dia meminta maaf karena sempat marah dan panik. Aku bilang, aku paham dan maklum. Orang tua manapun pasti marah kalau anaknya begitu. Aku juga minta maaf dan menjelaskan kepadanya langkah-langkah yang sudah aku lakukan ke Malik. Dan saat mereka pamit, kami berpelukan. Sungguh, aku merasa jauh lebih lega. Meskipun masih ada PR yang harus dikerjakan, tapi setidaknya satu masalah terselesaikan.

 

Segininya ya, jadi orangtua…

 

Ada yang pernah begini juga? What did you do?

Eleven is a Strange(r) Thing

Tahun yang aneh, bukan begitu, sayang? Lebih satu dekade bersama, kita pikir kita sudah khatam tiap kelok, turunan dan tanjakan. Tapi pada akhirnya, kita hanyalah manusia yang tak luput dari kesalahan. Sekeras apapun kita mencoba, itu adalah hal yang tak terelakkan.

Ada banyak air mata yang mengalir, tahun ini. Kadang ia tertahan di kerongkongan, lebih banyak lagi yang mengucur tak berhenti. Kesedihan yang menggumpal bersama kekecewaan pada diri sendiri. Emosi yang sering kali hilang kendali.

Kita menyalahkan jarak. Mengutuk waktu yang terserak. Membenci suara-suara sumbang yang kerap bersorak. Menyumpahi isi kepala dan ego yang tak kunjung melunak.

Tapi kurasa Tuhan memang mendengar doa yang terlantun dengan sungguh. Kita selalu meminta dijauhkan dari penyesalan, dari pikiran yang keruh. Kita selalu memohon untuk diberikan kekuatan dan hati yang teguh. Untuk selalu bisa mencintai satu sama lain dengan utuh.

Memaafkan diri sendiri bukan perkara yang mudah. Ia mewajibkan kita untuk berkaca demi mengenali dan mengakui semua ketakutan yang kerap tersamar sebagai amarah. Butuh keberanian yang besar untuk mengaku salah. Memaafkan, tidak dilakukan oleh orang yang lemah.

Pada akhirnya kita akan kembali pada pertanyaan paling klise sedunia: percayakah kita pada cinta? Dan mata kita yang beradu, serta tangan yang bergenggaman menyatu, adalah jawabannya. Cinta saja memang tidak cukup untuk membina rumah tangga. Tapi cinta adalah fondasinya. Aku percaya.

Selamat ulang tahun perkawinan ke-11, abang.

I love you, I really do.

This one is for you :-*

 

Looking back on anniversaries: 10th, 9th, 8th, 7th, 6th, 5th, 4th, 3rd, 2nd

Today’s Happiness!

Buku ‘Happiness is Homemade’ karya Puty Puar yang di PO kemarin hari ini nyampe dan bukunya menyenangkan banget! Begitu sampai di halaman 9, langsung pengen mewek (ini sih emang cengeng aja deh kayaknya! Dikit-dikit nangis, hih!). Di halaman itu tertulis, “…and realizing that there will be just enough time for everything.” Langsung mengena sampe ulu hati, kak…

Processed with VSCO with f2 preset

 

Di tengah timbunan to-do-list yang sepertinya nggak habis-habis, rasanya selalu kekurangan waktu untuk mengerjakan semuanya. Kadang-kadang pengen toyor kepala sendiri, kenapa sih sampe segitunya. Tapi ya mau gimana lagi? Emang HARUS segitunya, kan? Membangun usaha itu kan nggak semudah mengucapkannya.

Tapi bukunya Puty mengingatkan aku untuk tarik napas sebentar dan merasa ‘cukup’ dengan diri sendiri (baca: segala kelebihan dan keterbatasan yang ada). Mengingatkan untuk bersyukur akan kebahagiaan-kebahagiaan kecil sehari-hari.

Dulu, aku dengan mudahnya menjadi ‘mindful’ akan sekitarku yang membuatku banyak sekali bersyukur. Tapi, hidup selalu berubah-ubah, dan kebiasaan-kebiasan kecil yang dulu membuat bahagia seringkali lupa untuk dilakukan. Ujung-ujungnya merasa kering dan kosong tapi nggak tau kenapa. Seringkali, kita butuh pengingat, semacam jangkar yang menjaga supaya kita tidak terbawa arus terlalu jauh. Dan karya Puty ini adalah jangkar yang manis sekali.

Sejak awal tahun, aku berjanji untuk lebih berbaik hati pada diri sendiri. Self-love, istilah kerennya. Lebih mengapresiasi apa saja yang telah dilakukan. Aku bahkan mengubah agenda tahunan – yang biasanya aku isi dengan berbagai rencana/kegiatan – menjadi gratitude journal. Setiap hari, aku menuliskan hal-hal yang membuatku senang dan karenanya bersyukur. Dulu, konsep ini terasa ‘meh’ banget buatku, karena ya seperti yang aku bilang tadi, aku cukup mindful terhadap sekitarku. Tapi, sekarang, aku sangat butuh mengingat hal-hal semacam ini untuk lebih merasa cukup dengan diri sendiri.

Di bukunya, Puty menyebutkan ini sebagai ‘reverse bucket list’ (hal. 120). Kalau Bucket List berisi tentang hal-hal yang ingin dicapai – yang sejujurnya kadang malah bikin gentar dan terintimidasi (or is it just me? Ahahahah!) – reverse bucket list adalah hal-hal yang telah dicapai. “Because success is getting what you want, but happiness is wanting what you got”. AMIN!

Jadi, terimakasih, Puty, untuk karyanya yang menghangatkan hati. Mudah-mudahan kamu diberi kebahagiaan selalu, dimanapun kamu meletakkan hatimu :-*

Processed with VSCO with f2 preset

 

So, guys. What little things that made you happy today?