Nenek

*postingan yang sangat panjang, untuk nenekku tersayang, Chadijah.

Seberapa baik kamu mengenal nenekmu? Sayangnya pepatah ‘you don’t know what you got ‘till it’s gone’ berlaku padaku. Aku tidak pernah tau apa yang telah dialami nenek semasa hidupnya, hingga saat ia meninggal.

Aku dan semua cucu-cucunya yang sepantaran mengingat nenek, emak dari papaku, dalam memori yang serba menyenangkan. Kami tertawa terbahak saat mengenang nenek yang mengajarkan kami doa menghadapi anjing galak – salamun alanuhin fil alamin. Kami merapal doa itu keras-keras saat berjalan menuju rumah tante yang tak jauh dari situ. Seolah berbekal mantra sakti, kami berjalan dengan dada membusung dan tangan terkepal. Saat jarak hanya berupa tiga rumah dari si tante, tiba-tiba salakan dua anjing terdengar meraung. Seketika doa hanya sampai di kerongkongan, dan otak memerintakhan untuk melakukan apa yang biasa kami lakukan: LARI! Semua tunggang langgang berteriak tak karuan hingga sandal pun hilang.  

Atau betapa asyiknya menghabiskan akhir minggu bersama nenek. Dengan satu piring di tangan berisi nasi yang membubung, nenek akan menyuapi kami yang berbaris satu persatu. Tidak ada yang malas makan kala itu. Tak harus dikejar-kejar seperti anak sekarang.

Dan oh, betapa kami mencintai pohon jambu air di depan rumah nenek yang sudah ditebang jauh sebelum nenek berpulang. Cucu-cucu laki-lakinya akan gesit memanjat pohon yang berbuah sepanjang tahun, dan yang perempuan akan menampung dibawah dengan sarung. Ia lalu membuat sambal, dan itu adalah rujak paling enak di seluruh dunia. 

Aku suka menginap di rumah nenek. Sore hari, kami akan menunggu pedagang gerontol – pretelan jagung rebus yang diberi kelapa dan gula pasir – datang dengan sepeda dan caping bambunya yang khas, dan membeli satu dua pincuk untuk dimakan bersama. Atau mbok jamu, yang akan memberikanku segelas kecil bandrek manisnya. Saat waktu tidur tiba, tempat tidur nenek sangatlah istimewa. Berkelambu! Kami akan sibuk mengibas nyamuk keluar dari kelambu biru muda itu sebelum mulai terlelap berhimpitan di kasur kapuknya yang menipis. Ah, betapa menyenangkan.

Saat aku lulus kuliah dan pindah ke Jakarta, aku tak pernal lupa mengunjungi nenek saat pulang ke Medan. Membawakan makanan kegemarannya – KFC – dan bertanya kabar. Lebaran dua tahun lalu saat aku pulang, nenek masih ceria meski ia sudah harus duduk di kursi roda. Celotehnya masih lucu, dan tawanya yang khas masih terdengar. Tak lama setelah lebaran itu, kondisi nenek makin menurun dan ia hanya bisa tergolek di tempat tidur. Anak-anaknya setiap hari bergantian mengunjungi untuk mengurusnya. Sampai akhirnya sekitar enam bulan lalu, nenek dibawa kerumah orang tuaku, agar lebih intensif dijaga.

Aku sempat pulang ke Medan beberapa kali dan menitikkan air mata saat melihatnya terbaring. Ia tak kenal siapa-siapa, meski terkadang bisa menjawab jika ditanya. Selebihnya, ia menceracau. Meminta minum, minta dipeluk, memanggil-manggil ibunya, atau mengatakan kepalanya sakit. Matanya tak lagi bisa meliat meski pendengarannya masih tajam. Badannya begitu kurus dan ringkih.

Terakhir aku melihatnya adalah tanggal 13 Maret 2012. Setelah seminggu liburan di Medan, aku berpamit. “Nina pulang ya nek,” kataku sambil mencium keningnya. Ia selalu memanggilku dengan sebutan Nina. Tak pernah Ina, seperti aku kerap menyebut diri sendiri, atau Adin, seperti sebutan papa untukku. Apalagi Dinda, yang memang namaku sebenarnya.

Namun Nenek membalas, “Jangan nakku… jangan pulang dulu…” Permintaan yang membuatku tercekat. “Kepala nenek sakit,” lanjutnya. Mataku langsung menggenang. Kutenangkan dia dengan mengusap lembut kepalanya. Mengatakan bahwa aku akan kembali lagi bulan Mei. Dalam hati kubacakan Al Fatihah untuknya. Tak lama setelah kubelai kepalanya, ia tertidur. Kucium ia dan aku pergi dengan hati porak-poranda.

Itu adalah terakhir kali aku bertemu dengannya.

Kondisi nenek memburuk seminggu sebelum ia berpulang. Aku sempat membacakan surah Al-Waaqi’ah dan menangis tersedu-sedu saat tiba di ayat 83. Aku ingin pulang. Ingin menamani nenek. Ia adalah orang tua langsung yang terakhir dari orang tuaku. Aku tak pernah bertemu kedua kakekku. Ibu kandung mamaku juga meninggal saat ia masih gadis. Ibu tirinya telah meninggal beberapa tahun lalu. Aku begitu berharap, Nenek masih kuat saat aku pulang bulan Mei nanti. Masih bisa menyaksikan saudara laki-lakiku, Bang Kanda, cucu laki-laki pertama dari anak laki-lakinya, cucu kesayangannya menikah.

Sehari setelah ulang tahun perkawinaku, dua kata berupa sms yang dikirim mama membuatku lemas. ‘Nenek kritis, begitu bunyinya. Sms itu kubaca saat adzan Dzuhur terlantun dari masjid. Tanpa pikir panjang, aku langsung mandi, sholat dan packing. Namun diantara baju-baju yang kumasukkan dalam tas, telepon berbunyi. Dari kakakku, bertanya apakah aku telah mendengar kabar. Aku mengiyakan. Tapi ‘kabar’ yang kumaksud adalah kabar bahwa nenek kritis. Aku mengatakan padanya bahwa aku akan pulang sekarang.

Lalu kutelepon mama, tangisnya langsung pecah: nenek sudah tak ada. Ternyata, itulah ‘kabar’ sebenarnya. Aku dan suamiku memburu waktu ke airport. Hampir dua jam di jalan, aku berkali-kali membaca Yaasin. Namun, aku tak beruntung. Nenek akan dimakamkan selepas Ashar, dan aku baru mendapat tiket untuk jam 6 sore. Keinginanku mencium nenek sekali lagi menguap seperti air terjerang kelamaan.

“Tolong ciumkan nenek untuk Ina ya, pa,” kataku berlinang air mata saat menelepon papa. Kutau papa tak kuasa menahan tangis, ia hanya menjawab singkat sebelum menutup telepon diujung sana. Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun. Semua berasal dari Allah, dan akan kembali kepada-Nya.  
 

***

Hari ketiga setelah nenek berpulang, anak-anak perempuan dan menantunya berkumpul di rumah nenek. Kami hendak membersihkan kamar dan lemarinya. Membagikan baju-baju atau kainnya kepada semua anak, menantu dan cucu. Selebihnya, akan disedekahkan.

Aku menjadi satu-satunya cucu yang berada di situ. Memilah satu-satu baju nenek dan membauinya. Bau apak lemari, sebab menjelang akhir hayatnya, nenek tak bisa lagi mengenakan kebaya atau baju kurungnya yang cantik. Beberapa baju kuingat betul. Sebuah baju kurung biru bersulam merah muda sering ia pakai untuk mengaji. Atau, kurung sutra biru muda yang dibelikan mama saat aku menikah.

Kalau yang lain hanya menyimpan satu-dua, aku menyisihkan banyak baju nenek. Sengaja kupilih hanya yang berusia paling tua. Ada yang sudah pudar, bahkan ada yang sobek. Tapi tak mengapa. Sebuah songket ungu. Lima kebaya melayu panjang sederhana berbahan rubiah dengan warna pastel nan teduh. Sebuah kebaya renda model kartini. Lima selendang renda atau bordir model lama. Dan juga kurung biru berenda merah muda itu. Semuanya pas di badanku. Mungkin aku hanya ingin menyimpan kenangan sebanyak-banyaknya.

Kami juga menemukan ‘harta-harta’ lain. Selaci penuh mainan cucu-cucunya yang kerap ia rapikan jika dilihatnya terserak di ruang tengah. Paspor haji coklat Nenek tertanda tahun 1983 dan sebuah foto polaroid yang telah kehijauan bergambar nenek dan seorang perempuan dalam balutan baju ihram perempuan. SIM A milik suaminya, Atokku, tahun 1967 lengkap dengan foto Atok berpeci dan cap jempolnya. Kwitansi pembayaran bulanan asuransi jiwa Boemi-Poetera dari  tahun 1958 hingga 1963. Surat bukti pembayaran pajak radio dengan materai-materai lima rupiah berwarna merah tertempel diatasnya.

Dan surat nikah Nenek. Surat kawin yang dikeluarkan oleh Koordinator Urusan Agama Daerah Sumatera Timur, menyatakan telah menikah pada hari Ahad, 6 Januari 1952, Umar bin Djama’, berusia 40 tahun dengan Chadijah binti Sampai berusia 25 tahun dengan mahar 32 rupiah, tunai. Namun yang mengejutkanku adalah status nenek yang tertera disitu: Djanda balu dari Kasim.

Nenek seorang janda waktu menikah dengan Atok? Bagaimana aku bisa tidak tau ini? Malam sebelumnya, aku bertanya kepada papa soal hidup Nenek. Namun, papa tak banyak tau. Ia lebih tau banyak soal Atok, seorang keturunan Banten yang bekerja mengurus mesin-mesin besar di perkebunan. Ia adalah anak tertua, dengan satu saudara laki-laki dan satu saudara perempuan. Atok pertama kali menikah dengan seorang perempuan Banten. Kemungkinan besar, istrinya meninggal sehingga ia memboyong tiga anaknya ke Medan. Lalu, ia pergi ke Malaysia. Papa tidak tau pasti kenapa, tapi ada kabar bahwa ia berselisih paham dengan orang perkebunan. Di Malaysia ia menikah lagi dan punya satu anak. Istri yang kedua ini meninggal saat melahirkan anak kedua. Ia lantas kembali ke Medan. Lalu, ia menikah lagi dengan nenek dan punya delapan anak, termasuk papa, anak ketiga. Itu saja.

Aku lantas bertanya pada dua tanteku yang bersama-sama memilih baju. Apa arti janda balu dari Kasim? Seorang uwak, mengatakan, janda balu artinya janda yang ditinggal mati oleh suami. Lantas, mereka menceritakan apa yang mereka tau.

Nenek, adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang semuanya adalah perempuan. Ia lahir di Tembung – daerah pinggiran kota Medan – pada tahun 1926, dari pasangan Sampai dan Sitiani (meninggal tahun 1983). Ia sempat menamatkan sekolahnya di Madrasah Ibtidaiyah sebelum menikah dengan paribannya pada usia 14 tahun. Dalam adat Batak – nenek bermarga Nasution – pariban adalah anak laki-laki dari saudara perempuan ayah, atau anak perempuan dari saudara laki-laki ibu. Entah dari sisi yang mana pariban ini. Namun, hukum alam membuktikan, bahwa pernikahan dengan saudara yang cukup dekat tidaklah baik. Nenek tak bisa mempunyai keturunan. Empat kali ia mengandung, namun ia keguguran, atau anaknya lahir dalam keadaan meninggal.

Sesuai dengan kepercayaan waktu itu, atas perintah para orang tua, mereka harus bercerai. Langsung talak tiga. Pasangan ini harus menikah lagi dengan orang lain, baru nanti bisa kembali menikah. Meski masih sangat mencintai suaminya, Nenek terpaksa tunduk dengan perintah itu.

Nenek lantas bercerai dan menikah lagi. Ia tak peduli dengan siapa, asal bisa kembali kepada suaminya semua. Ia lalu menikah dengan seorang tentara, meski ia tak suka. Dia inilah yang mungkin bernama Kasim. Sayangnya, sang tentara ternyata sangat pencemburu dan tak rela menceraikannya. Yang ada, nenek malah ‘disiksa’ secara verbal. Bahkan, nenek pernah bercerita bahwa sang tentara pernah melepaskan tembakan. Meskipun tidak kena, namun suaranya membuat nenek trauma karena hanya berjarak sekian senti dari telinganya. “Tapi, tau sendirilah. Kadang-kadang nenek kan suka lebay,” kata tanteku, “Jadi ini juga tidak tau kebenarannya.” Namun memang, kata tanteku, nenek sering kaget dan pingsan kalau mendengar suara keras. Pastinya, nenek membenci sang tentara.

Tanteku tak tau mereka menikah tahun berapa. Namun mereka sudah bersama saat perang kemerdekaan. Menurut catatan sejarah, pemuda-pemuda Medan pernah bertempur dahsyat pada peristiwa pertempuran Medan Area. Kabar bahwa Indonesia telah merdeka didengar warga Medan pada tanggal 27 Agustus 1945 dari Mr. Teuku Moh Hassan, gubernur Sumatera kala itu. Namun, dua bulan setelahnya, tentara Inggris yang diboncengi NICA Belanda kembali menyelusup ke Indonesia, dan mendarat di Medan pada tanggal 9 Oktober 1945.

Awalnya pasukan asing ini diterima dengan baik. Namun sebuah insiden mencemarinya. Seorang serdadu asing merampas lencana merah putih dari seorang pemuda Indonesia dan kemudian menginjak-injaknya. Kemarahan berkobar, dan perlawanan pun diberikan. Tanggal 1 Desember 1945, dibentuklah Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area. Pertempuran sengit pun terjadi. Perjuangan ini berlangsung hingga dua tahun lamanya dan terkulminasi pada tanggal 15 Februari 1947, dimana pasukan Indonesia berhasil memukul mundur musuhnya.

Mungkin, Nenek menikah dengan si tentara pada masa-masa itu. Namun, keberadaan tentara ini sesudahnya juga tidak jelas. Nenek malah harus mengungsi bersama banyak orang lain ke pinggiran kota Medan. Ia harus berenang menyeberangi Sungai Ular, sungai yang cukup besar di Kabupaten Deli Serdang. Hal yang paling mungkin terjadi adalah ia tewas saat perang tersebut. Dan nenek tidak berusaha mencarinya. Ia justru lega karena tak lagi harus bersama sang tentara. Setelahnya, tidak ada yang tau kelanjutan kisah dengan paribannya. Mungkin meninggal, mungki juga memang hidup memilihkan jalan berbeda untuk keduanya.

Perihal perjumpaannya dengan Atokku, Tanteku mengatakan, adalah seorang Haji Ilyas – atau Atok Haji, demikian dia mengenalnya – seorang guru besar Islam dari Tembung, yang menjodohkan Nenek dengan Atokku. Ia dulu bahkan sempat mengira bahwa Atok Haji lah orang tua dari Nenek. Atok yang duda dengan empat anak, dikenalkan dengan nenek yang janda. Mereka lantas menikah pada tahun 1952, mempunyai delapan anak, hingga Atok meninggal pada bulan April 1971.

Sejak itu nenek membesarkan anak-anaknya sendirian. Kehidupannya tak lagi senyaman dulu, seperti saat almarhum Atok yang berpangkat cukup tinggi di perkebunan masih ada. Ia berladang, dan juga menerima santunan dari orang-orang yang merasa sangat berhutang budi kepada almarhum Atok. Hingga anak-anaknya mulai bekerja dan menikah, ia pun di rumah, menikmati masa tuanya. Hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir, menjelang pukul satu siang pada tanggal 25 Maret 2012, dikelilingi anak-anaknya.

Kendati aku tak sempat melihatnya kembali ke pangkuan ibu bumi, aku tidak terlalu menyesal. Aku telah pernah merawatnya, meski sebentar. Menyuapkan makannya, memberinya minum, mengusap kepalanya, dan membacakan banyak doa untuknya. Aku yakin, nenek tau aku sangat sayang padanya. Mudah-mudahan semua doa yang keperuntukkan untuknya didengar oleh Yang Maha Kuasa.

… dan ini sebuah Al Fatihah lagi untukmu, nek. Bukan yang pertama, dan yang pasti juga bukan yang terakhir.

 ***

Nenek saat lebaran dua tahun lalu


Ah… tawa itu… 


Surat nikah Nenek dan Atok




Atok dan Nenek saat mereka muda.

Any comment?