Musik Malik: The Beginning

Kemampuan Malik menggebuk drum banyak membuat orang heran: masih tiga tahun kenapa sudah bermain drum dengan ketukan yang benar? Ada yang bilang Malik berbakat dan banyak yang penasaran kenapa bisa demikian. Aku sering ditanya: gimana ngajarinnya?

drum1

Malik and his ‘drum-set’ 

Sebenarnya, aku sendiri agak bingung menjawabnya. Dimataku, drum tak ubahnya mainan. Semuanya terjadi dengan proses yang normal-normal saja, nggak ada yang istimewa. Aku dan abang juga tidak punya background musik sama sekali. Kami hanya suka mendengarkan musik, itupun sesempatnya. Aku bisa sih main gitar sedikiiiiiiiitttt. Hanya tiga-empat kunci sebagai modal pergaulan (halah, istilahnya!).

Saat Malik lahir, aku pernah baca bahwa musik bagus untuk anak. Orang tua disarankan untuk memperdengarkan musik ‘beneran’, dari berbagai genre, tidak hanya sekedar lagu anak-anak. Saat dia masih bayi, aku hampir selalu bersenandung lagu ‘La Vie en Rose’ menjelang tidur, dan terkadang mengubah liriknya menjadi doa-doa untuk Malik. Aku sering memutar lagu-lagu berirama jazz yang tenang sambil menggendongnya. Atau, saat dia sudah agak besar, kami kerap memutar lagu-lagu hiphop dan joget-joget nggak jelas bersama sambil bermain.

Kalau sedang nyetir kami sering menyetel DVD konser. Alasannya sederhana: karena DVD konser itu bisa hanya didengarkan, tapi bisa juga ditonton kalau macet. Dua DVD yang sering di tonton adalah konser Michael Buble dan Josh Groban. Tapi lama-lama jadi pusing sendiri. Gara-gara ini, setiap naik mobil, Malik semacam sudah otomatis meminta diputarkan “Om Buble” atau “Om Josh” (Panggil om lah, biar akrab! Hahahaha!). Kadang-kadang sampe nggak enak sama orang yang kebetulan naik mobil kami, karena lagunya itu-itu melulu, hahaha!

Awal Malik ‘berkenalan’ dengan drum juga tidak sengaja. Namanya anak bayi, kadang-kadang suka mukul-mukul dengan tangannya. Saat dia sudah mulai bisa menggenggam, aku iseng memberikan dua buah sumpit makan dan kami berpura-pura main drum. Urusan pukul memukul ini lalu semakin sering karena kami membelikannya sebuah jimbe kecil saat kami mengunjungi Saung Angklung Udjo di Bandung.

Kegiatan bermusik ini kian berkembang sejak kami mulai memperkenalkan gadget kepadanya di usia 1,5 tahun. Awalnya sih karena dia terkesan sekali dengan pertunjukan di Saung Angklung Udjo dan sangat senang jika aku memutar video “kakak menari” di handphoneku. Karena udah diputer sekian ribu kali, si ibu ini kan bosan ya. Jadilah aku mencari video di youtube. Tapi video apa? Karena waktu itu Malik sangat senang dengan jimbenya, aku mencari video dengan key word: “the best drummer in the world” hahah! Dari situ, keluarlah video solo-nya Mike Portnoy (drummernya Dream Theatre).

Sejak itu, Malik semakin mengeksplorasi jimbenya. Segala panci, ember, gayung, kaleng cat, kemudian juga dia jejerin untuk dijadikan drum set. Setiap hari selalu memainkannya. Meski begitu, aku juga selalu berusaha mengajaknya bermain yang lain. Dalam pikiranku, ya bagus kalau dia suka satu hal dan konsisten. Tapi tidak berarti hal-hal lain juga tidak perlu diperkenalkan. Diantara bermain drum, Malik juga suka masak-memasak, bermain dengan tepung dan playdoh, main cat dan crayon, berenang, main di playground, main pasir, dan macam-macam lain. Hanya saja, kalau dihitung durasinya dalam seminggu, sebagian besar memang ia habiskan dengan bermain drum. Berbekal sumpit yang sangat mudah untuk dibawa kemana-mana, Malik selalu bisa bermain drum, hampir kapan saja, dimana saja.

Memasuki umur dua tahun, screen-time Malik bertambah. Video yang dia lihat juga semakin bervariasi. Youtube seringkali memberi suggestion video baru yang kemudian dia tonton dan memberikan inspirasi baru. Kemampuan verbalnya yang meningkat cepat, juga memberikan kontribusi signifikan. Ia bisa membedakan tiap video, dan meminta kami memutarkan video tersebut. Yang ada Bapak-Ibunya harus selalu tau apa yang dia tonton. Karena, seringkali dia akan minta video yang spesifik. Bisa bingung kalau nggak tau apa yang dia maksud.

drum3

Setelah Mike Portnoy, dia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan drummer/youtuber Casey Cooper karena videonya meng-cover lagu “Burn”-nya Ellie Goulding dengan drum stik terbakar api yang sungguh epic sekali. Dan dari fitur suggested video di youtube, kami sering memutar berbagai video drummer/youtuber, termasuk Rani Ramadhany dari Indonesia. Soal drummer/musisi kesukaan Malik ini nanti aja deh buat posting terpisah. Panjang ajeeee ahahah!

drum4

drum5

Bertemu idola: Casey Cooper dan Rani Ramadhany

Tidak hanya itu, aku juga sering mengajaknya ke toko musik. Dia tahan berlama-lama nongkrong di sini. Kalau kebetulan ada drum set atau instrumen lain yang boleh dimainkan, dia pasti akan senang sekali. Tapi kalaupun nggak ada, dia sudah bahagia bisa sekedar mengelus gitar, memencet piano tanpa suara, atau bertanya-tanya soal berbagai instrumen musik yang dia lihat.

Aku sempat membawanya beberapa kali ke studio musik jam-jaman agar ia bisa bermain drum dengan bebas. Tapi hanya beberapa kali pergi, dia sudah tidak tertarik lagi. Mungkin nanti di coba lagi.

Aku dan abang juga sempat membawanya ke beberapa kursus musik, bahkan untuk ikutan sesi drum privat di sebuah sekolah musik. Sayangnya, kami merasa kurang pas dengan instrukturnya. Padahal yang kami inginkan hanyalah supaya Malik punya teman main drum, tidak perlu belajar macam-macam. Tapi mungkin instrukturnya juga bingung dan waktunya juga belum tepat.

Jadi, balik lagi ke pertanyaan ‘gimana ngajarinnya?’, seperti yang bisa dilihat, pertanyaan itu jadi tidak relevan. Karena Malik belajar sendiri. Kami sebagai orang tua, hanya memfasilitasinya. Atau kalau boleh ditarik ke belakang lagi, apa yang kami lakukan pada dasarnya adalah mengubah persepsi atas apa yang disukai Malik. Aku melihat kegiatan “mukul-mukulnya”  itu sebagai sesuatu yang positif alih-alih mengganggu. Aku mencari cara untuk menyalurkannya secara positif, yaitu dengan bermain drum. Pelan-pelan, dari drum ini kemudian melebar menjadi musik secara umum. Dan dengan musik sebagai “pintu”-nya, aku mengenalkan Malik dengan begitu banyak hal.

Otak manusia itu belajar jauh lebih baik dalam keadaan rileks. Jadi, kalau sudah suka dengan satu hal, pasti rasa suka itu akan membuat kita dengan suka rela dan senang hati mencari tahu mengenai hal itu. Nggak perlu memaksa untuk menjejalkannya. Kuncinya adalah bermain.

Kemaren waktu aku posting video Malik bermain drum di Instagram, ada yang komen betapa lucunya Malik sudah punya hobi, nggak seperti anaknya yang hanya suka mobil-mobilan. Buatku, persepsinya lah yang harus diubah. Anak yang sangat suka mobil-mobilan bisa banget difasilitasi “to the next level”. Ada banyak sekali keahlian yang bisa dipelajar dari kesukaan terhadap mobil. Bisa ngasi liat mobil sendiri dan bercerita tentang bagian-bagian mobil. Apa fungsi-fungsinya. Kenapa mobil bisa jalan, dll. Ajak ke pom bensin, ke bengkel, ke showroom mobil, nonton formula1 di TV. The possibility is endless!

Bagiku, tiap anak sudah dilahirkan dengan potensi sendiri. Dan tugas orang tua adalah “mengeluarkan” potensi itu dengan cara memfasilitasinya. Yang perlu diperhatikan adalah tidak ada pemaksaan. Membuat anak punya hobi itu perlu waktu. Dan jika ia sudah sangat suka dengan ‘hobinya’, pada akhirnya kata hobi itu akan hilang, dan itu menjadi bagian dari hidupnya.

Begitupun, pastinya aku punya kekhawatiran sendiri soal Malik mendengarkan musik dewasa. Tapi itu bahas lain kali saja deh ya, hihihi!

So, ada anaknya disini yang juga suka gebuk drum? Yuk play date yuk sama Malik! *ketemuan mesti bekel headset dan panadol biar gak pusing, hahahaha!*

drum2

Any comment?