Menyapih!

BabyM sudah berhasil disapih! SUPERYAY!

Sudah tiga mingguan ini BabyM tidak lagi menyusu. Sekali dua kali masih minta sambil nyengir, tapi dikasih susu UHT juga sudah selesai perkara. Dan senangnya, aku tidak merasa sakit secara fisik, dan merasa benar-benar bahagia. Tidak ada semacam perasaan sedih atau mixed feeling yang sering dilanda para ibu. Padahal, kalau dirunut ke belakang, soal memberikan ASI ekslusif dulu juga drama banget. Jadi penyapihan ini terasa seperti milestone tidak hanya untuk BabyM, tapi juga untukku.

Tapi tentunya ada cerita penyapihan (yang lumayan) panjang sebelum sampai pada titik ini. Dan yang aku pelajari sesungguhnya adalah bahwa semuanya butuh waktu untuk berproses. Kebiasaan tidak bisa diubah dengan perintah. Ia butuh dilaksanakan pada waktu yang tepat, takaran yang pas, konsistensi, dan ketabahan hati. Yang semuanya bisa dikira dengan mendengarkan insting. Ribet? Embeeerrr! Tapi buatku, disitulah seninya menjadi orang tua!

Jadi begini. Sejak awal, aku tidak ingin melakukan penyapihan dengan tiba-tiba (nenennya dikasih sesuatu yang pahit lah, dikasih lipstick lah, atau apapun yang bentuknya seperti itu). Bagiku, itu sangat tidak adil buat BabyM. Sejauh ini, aku selalu berusaha memperlakukan BabyM sebagai seorang individu dan menghormati keinginannya. Begitupun, aku juga menanamkan padanya bahwa orang lain (dalam hal ini, ibunya) juga punya keingininan DAN keterbatasan. Menyusui adalah soal hubungan dua orang, dan kami berdua harusnya punya bagian masing-masing. Aku ingin BabyM menyapih dirinya sendiri. Namun, mengingat keterbatasanku, aku juga memberikan batas waktu: cukup dua tahun.

Dalam pikiranku, penyapihan ini dilakukan dengan pelan-pelan. Sekitar 6 bulan menjelang ulang tahunnya, aku mulai memperkenalkan susu UHT. BabyM sempat terdeteksi lactose intolerant sebelumnya, tapi untungnya setelah beberapa bulan dicoba lagi, ia sudah cukup kuat minum susu UHT.

Tidak hanya itu, aku juga sudah sesekali menyatakan ide soal menyapih padanya. Pemilihan kalimat untuk memasukkan ide ini pun benar-benar dipilih: menggunakan kalimat positif dan tidak bersayap. “Kalau nanti sudah dua tahun, setelah tiup lilin, tidak nenen lagi ya. Begitupun, anaknya masih tetap nenen tak berhenti dan setiap malam masih terbangun berkali-kali untuk nenen. Aku bisa merasakan, ia sesungguhnya tak memerlukan air susunya, tapi perlu perasaan dekat dengan ibu. Sehingga, kalimat menyapih pun ditambah dengan, “Kalau mau tidur, bisa ibu pijat-pijat aja…

Setelah beberapa bulan berlalu, kalimat ini sudah melekat. Setiap nenen, kalimat ini di ulang. Bahkan, BabyM sudah bisa bilang sendiri: “Kalau sudah tiup lilin, nggak nenen lagi. Pijat-pijat aja….” Hati ibu mana yang tidak berbunga-bunga, ya kan?

Begitupun, kenyataan tak seindah ucapan, sodara-sodara. Anak sekecil BabyM sudah bisa memberikan janji manis belaka, hih! Rasanya justru dia semakin semangat nenen sampai aku tidak bisa tidur malam dengan tenang. Keinginan untuk segera menyapih tanpa menunggu dua tahun sangatlah kuat! Kalau nggak ada si Bapak yang menyabarkan, mungkin aku akan menyerah pakai cara paksa.

Tiba-tiba, temanku Meyla (yang sebenarnya adalah seorang bidadari cantik yang menyamar jadi ibu beranak satu!) memberikan sebuah link artikel tulisan Dr Jay Gordon soal “Night Weaning” atau menyapih malam. Intinya, beliau ini memberikan sebuah opsi kepada ibu-ibu (kurang tidur) yang anaknya udah mulai besar dan galau antara pengen menyapih anak atau tidak. Solusinya adalah: anak “disapih” hanya pas malem aja, supaya bapak-ibunya bisa tidur selama 7 jam straight! Siangnya sih nenen kayak biasa aja nggak masalah, yang penting malam nggak nenen agar semua orang bisa istirahat cukup dan bangun dengan happy! WOWMEJIK banget kaaaannn????

Aku langsung mendapatkan A-HA! moment saat membaca artikel ini. Proses menyapih malam ini dilakukan dengan beberapa langkah yang semuanya dilakukan dalam 10 malam. Begini caranya:

Persiapan: Tentukan jam tidur yang paling berharga buat ibu-ibu sekalian sepanjang 7 jam. Mau dari jam 11 malam sampai 6 pagi, jam 12 malam sampai jam 7, bebas. Sebagai contoh, aku pilih dari jam 10 malam sampai 5 pagi. Karena jam 10 aku sudah teler banget dan jam 5 sudah segar karena selesai sholat subuh.  Proses 10 hari ini terbagi menjadi tiga bagian: 3-3-4.

Bagian pertama 1: Tiga malam pertama. Sebelum jam menunjukkan jam 10 malam (walaupun itu jam 9.58), anak dinenenin sampai tidur seperti biasa. Kalau kebangun juga ya nenenin sampai tidur lagi. Tapi, saat anak kebangun diantara jam 10 malam – 5 pagi, kasih nenen SEBENTAR, tapi jangan sampe tidur. Nah, saat anaknya masih teler-teler ngantuk gitu, lakukan apapun yang membuat dia tidur sendiri.  Usap-usap, atau tepok-tepok, atau pijat-pijat, atau apapunlah. Nanti, setelah jam 5 pagi, silahkan di nenen lagi sampai sepuasnya. Si dr. Gordon memperingatkan, tiga malam pertama ini bakal heboh. Persiapkanlah mental! Tapi kalau dirasa nggak sanggup, ya mungkin boleh dicoba beberapa bulan lagi.

Bagian ke dua: Tiga malam berikutnya. Kalau anaknya kebangun antara jam 10 malam – 5 pagi, JANGAN dikasih nenen. Boleh di peluk, di gendong, di usap-usap, diomingin baik-baik biar tidur lagi.

Bagian ke tiga: Empat malam berikutnya. Kalau kebangun, nggak boleh digendong atau di angkat, hanya boleh dibilangin dengan singkat untuk tidur lagi.

Nah, di awal tahun 2016, akhirnya aku menerapkan teknik ini ke BabyM. Agak khawatir sebab aku hanya sendirian sementara si Bapak masih kerja. Tapiiii… ternyata CARA INI SUKSES! Saat terbangun tengah malam, sebelum dia nenen, aku berbisik: “Nenennya satu menit aja ya,” sambil menghitung detik jam dan melepaskannya saat sudah satu menit. Sempat drama juga di hari ke tiga, nangis-nangis sampe minta keluar kamar, tapi tetap bisa aku handle dengan tenang. Tapi setelah 10 malam, BabyM bisa mulai bisa tidur nyenyak semalaman. Begitu juga ibunya! Kadang-kadang masih bangun juga sih, tapi ya namanya proses. Pelan-pelan dia sudah bisa tidur lebih pulas.

Keberhasilan night weaning ini membuatku “ngebut” pengen menyapih total. Setelah si Bapak pulang ke rumah, kami sepakat untuk mencoba dengan cara membiarkanku ber-me-time ria seharian, sementara BabyM di rumah dengan si Bapak. Setelah tiga hari berturut-turut pergi pagi pulang petang, BabyM baik-baik saja ditinggal! Tapiiiii… saat aku dirumah, dia nggak terima kalau aku nggak mau nenenin. Jadinya drama luar biasa!

Walaupun sedih, tapi masih ada harapan saat ulang tahunnya. Seperti yang sudah dia bilang sendiri, “Setelah tiup lilin, nggak nenen lagi.” Ternyata oh ternyata, selepas tiup lilin, masih nenen dengan semangat 45, sodara-sodara. Hih!

Disinilah akhirnya aku berdamai dengan diri sendiri dan benar-benar belajar soal proses. Orang dewasa aja kalau disapih dari apapun (mantan, misalnya? #eh) pasti galau. Apalagi anak kecil yang belum bisa mengontrol emosi kan?

Jadi yang aku lakukan adalah mempercayai prosesnya dan memberi waktu pada kami berdua. Aku tetap memberikannya setiap kali dia minta. Hanya saja, karena BabyM sudah paham arti satu menit, akupun konsisten hanya memberikan satu menit setiap kali nenen. Lama kelamaan, dari satu menit aku kurangi menjadi setengah menit. Selain itu, setiap dia minta nenen, aku coba tawarin air putih/susu UHT/jus jeruk atau cemilan. Kalau berhasil terdistraksi, ya Alhamdulillah. Kalau nggak berhasil, ya kasih nenen sebentar. Semakin kesini, frekwensinya semakin berkurang dan di usia 2 tahun 3 bulan, BabyM sudah tidak nenen sama sekali. Ahamdulillah….

Yang ada sekarang adalah hanya rasa bahagia. Setelah dua tahun tiga bulan yang penuh suka duka, aku dan BabyM berhasil melewati milestone ini bersama-sama. Tentunya kami juga tidak akan bisa berhasil tanpa si Bapak yang selalu bisa diandalkan. *Berpelukaaannnn*

Demikianlah kisah penyapihan BabyM 😀 Buat para Ibu dan Bapak yang juga sedang menyapih, semangat yaaaa. Sekarang kami menikmati tidur malam yang tenang dulu yaaaaaaaaa… hihii…

sapih1Fotonya pas ulang tahun aja deh ya 😀

Any comment?