It’s Just My Imagination

Seperti nama cawapres yang mucul tiba-tiba (eaaakkk!), nama Novizet juga hadir dengan sekonyong-konyong dalam percakapan keluarga kami. Beberapa bulan lalu, Malik bercerita bahwa ia mempunyai teman baru. Awalnya aku berfikir bahwa ada tetangga baru pindah, tapi lama-kelamaan kok cerita-cerita Malik tentang anak bernama Novizet ini aneh ya?

 

Ceritanya itu semacam dikarang sendiri. Atau, seperti penegasan terhadap sebuah fakta. Seringnya sih mirip hasrat terpendam, atau kode keras ahahahah!

 

Misalnya begini: kami sedang berada di toko mainan, dan Malik melihat mainan yoyo. Ia tau bahwa ibunya nggak bakalan membelikan karena tujuannya ke toko mainan memang bukan untuk beli yoyo. Lalu ia akan berkata: “Temanku Novizet punya yoyo loh bu. Dia udah bisa main yoyo, jadi dibelikan sama ibunya.” Atau, kami sedang bermain perosotan di taman. Lalu dia bisa tiba-tiba nyeletuk, “Novizet juga pernah loh bu main perosotan yang tinggi sekali!”. Kali lain, saat bermain sepeda bersama temannya, ia akan bilang, “Novizet aja bisa naik sepeda roda dua kencang banget!”.

 

Aku akhirnya sadar bahwa Novizet ini adalah semacam teman imajiner Malik. Dan sejujurnya aku awalnya khawatir. Apakah dia berhalusinasi? Atau memang ada “teman” yang mendatanginya? Atau hanya memang murni imajinasi semata?

 

Sejauh ini sih, Malik nggak pernah terlihat ngomong sendiri sambil menatap ruang kosong, ehehehe. Jadi kemungkinan punya ‘teman’ yang tak kasat mata bisa dieliminir. Meski begitu, tetap saja mengkhawatirkan. Ada banyak mitos terkait hal ini. Katanya, punya teman imajiner itu adalah pertanda ada yang salah pada anak. Mungkin anaknya tidak berkembang secara sosial, atau bahkan ada masalah kejiwaan. Sementara di ekstrim lain, anak yang punya teman imajiner adalah indikasi kecerdasan yang superior. Bingung kan?

 

Dengan penuh rasa ingin tahu, aku mencoba mencari lebih banyak informasi soal teman imajiner ini. Dari hasil aku baca sana hasil, ada bahasan tentang sebuah buku karya Marjorie Taylor – seorang Developmental Psychologist –  bertajuk ‘Imaginary Companions and the Children Who Create Them’, yang menjelaskan banyak mengenai teman imajiner.

 

Dari artikel yang bisa dibaca di sini, hasil riset panjang Taylor menunjukkan bahwa punya teman imajiner itu adalah sesuatu yang positif. Walaupun mitos tentang kecerdasan superior itu tidak terlalu terbukti, tapi anak-anak yang punya teman imajiner cenderung memiliki lebih banyak kosa kata, tidak pemalu, dan lebih baik dalam memahami sudut pandang orang lain. Punya teman imajiner adalah salah satu cara yang dilakukan anak untuk mencerna dunianya yang semakin berkembang. Terus terang, mengetahui lebih jauh soal teman imajiner ini membuat aku tenang.

 

Ini ada video mengenai riset Taylor tentang teman imajiner. Terdiri dari tiga episode, video ini menjelaskan dengan sederhana perihal ini. Silahkan ditonton!

 

 

Menarik ya!

 

Dan karena mencoba melihat dunia dari kacamata anak 4 tahun itu sangat menyenangkan (dan penuh kejutan, tentunya!) aku malah jadi suka bertanya-tanya pada Malik tentang teman imajinernya. Aku menganggap ini sebagai cara untuk mengembangkan imajinasi. Membuat ia berfikir lebih jauh tentang karakter yang dia ciptakan itu.

 

Kembali ke Novizet, setelah ditanya lebih detail, ternyata ini adalah dua orang berbeda. Zet adalah anak laki-laki berusia 6 tahun. Sedangkan Novi, keterangannya jauh lebih detail. Novi adalah anak perempuan berusia 10 tahun yang – menurut Malik – wajahnya mirip dia dan rambutnya sering dikuncir. Bapaknya Novi bekerja sebagai chef dan rumah mereka besar sekali. Kalau Zet, Bapaknya bekerja di hotel tapi rumahnya tidak terlalu besar. Tapi belakangan ini, bapak Novi dan Zet sudah pindah kerja ke gurun, ke tempat kerja Bapaknya Malik, hahahah!

 

Semakin kesini, teman imajinasi ini juga semakin bertambah, meski yang paling konsisten muncul adalah NoviZet (ini sampai semua teman main malik di rumah juga sudah ikut-ikutan menganggap NoviZet itu ada!). Kadang-kadang, teman-teman baru ini muncul tiba-tiba.

 

Misalnya seperti minggu lalu. Kami sedang membaca buku sebelum tidur. Ia memilih salah satu buku kesukaannya, ‘House for Hermit Crab’ karya Eric Carle. Saat baru mulai baca sampulnya, tiba-tiba dia bilang kalau dia juga punya teman bernama Eric Carle. Dan beginilah percakapan kami:

 

Ibu: Loh, Eric Carle kan sudah opa-opa, memangnya kamu berteman dengan opa-opa?

Malik: Ya nggak lah. Kalau Eric Carle temanku itu umurnya 6 tahun. Dia sudah kelas sepuluh.

Ibu: Sekolahnya dimana?

Malik: Dia sekolahnya sama dengan Vito (salah seorang teman Malik di rumah).

Ibu: Kalau rumahnya dimana?

Malik: Dia itu sekarang tinggal di Camper Van (fyi, Malik ini memang terobsesi punya camper van yang atapnya bisa naik untuk jadi kamar – seperti salah satu episode Peppa Pig).

Ibu: Oh, gitu…

Malik: Eric Carle nggak suka nonton TV Bu. Karena dia pusing (fyi lagi, beberapa waktu lalu Malik nonton youtube di handphone saat kami sedang di mobil dan itu membuatnya pusing).

Ibu: Jadi dia sukanya ngapain dong?

Malik: Eric Carle ini hanya punya satu hotwheel, tapi Ibunya janji akan belikan banyak hotwheel kalau dia ulang tahun ke-7 nanti (dan fyi, Malik sedang tidak boleh beli hotwheel lagi, karena menurut kami dia sudah punya lebih dari cukup, kalaupun boleh beli, nanti bisa dijadikan hadiah saat ulang tahun).

 

Hahahahha… lihat kan bagaimana dia menjadikan teman imajinernya sebagai ‘perpanjangan tangan’ dari keinginan dan fantasinya? Teman imajiner ini seolah menjadi dunia alternatif dimana semua keinginannya yang paling gila sekalipun, bisa terpenuhi.

 

Selain itu, ia juga punya teman bernama Dustak, yang kemungkinan besar namanya dicomot dari lagu Havana (karena kalau Malik menyanyikan lagu Havana, liriknya jadi seperti ini: Havana u nana, dustak kelap kelip havana u nana 😂😂😂). Menurut Malik, Dustak ini sekarang sedang membangun rumah. Karena rumahnya belum selesai, keluarganya tinggal di dalam truk. Tapi truk ini di dalamnya ada kamar dan kasur, kamar mandi, juga TV.

 

Yang hanya muncul sekali-kali ada Avery Drummer yang suka main drum. Ada Avery Cullen yang tidak suka bermain dengan Vito (salah seorang teman malik di rumah), karena Vito suka bilang ‘hiu megalodon’ (entahlan apa artinya ini!). Ada Kunya, anak perempuan berumur 7 tahun. Ada Audrey yang juga perempuan 7 tahun dan punya kakak laki-laki. Serta sepasang saudara bernama Cayden dan Hayden. Entahlah darimana dia mendengar nama-nama ini.

 

Dan walaupun aku tidak pernah menyatakan dengan jelas bahwa itu hanya teman imajiner, aku bisa merasakan bahwa dia tau bahwa aku paham soal mana yang nyata dan yang tidak. I know that he knows that I know, hahahah! But still, it’s so fun to see him telling me those stories and he enjoys telling them to me 😁 Menggemaskan!

 

Anak kalian ada yang punya teman imajiner model begini? Kalau model yang ‘lain’, mmmm… aku nyerah deh. Takuuutttt…

2 Responses

  1. snydez August 11th, 2018 at 2:44 pm

    menarik.
    krucil sampai saat ini ga terlihat kalau punya teman imajiner.
    kayanya kalo punya teman imajiner itu jadi bisa ‘menyampaikan’ apa yg susah disampaikan ke ortu ya

  2. dindajou August 11th, 2018 at 9:42 pm

    @syndez: hehehe, kayaknya sih begitu juga

Any comment?