Homeschooling, Perkenalan yang Menyenangkan!

Jadi Kamis malam lalu adalah webinar pertamaku seumur hidup. Webinar ini diselenggarakan oleh Rumah Inspirasi. Dalam 10 minggu kedepan, setiap Kamis malam aku akan mantengin laptop untuk mengikuti webinar tentang hal-hal yang berkaitan dengan homeschooling. Hasilnya: Seruuuuuu! Menyenangkan sekali!

 

Eh, tapi tunggu. Homeschooling? Apa ini? BabyM mau homeschooling? Lho kok?

 

Hehehe… ceritanya begini. Kalau ditarik ke belakang, jauh sebelum BabyM lahir, ada kekhawatiran yang amat sangat soal mempunyai anak. Aku dan abang khawatir kami tidak bisa membesarkan dan mendidik anak menjadi seseorang manusia seutuhnya. Apalagi bapak-ibunya ya “cuma gini-gini doang”. Menjelang BabyM lahir, kami berdua berdiskusi panjang lebar soal kekhawatiran ini (tapi soal ini dibahas lain kali aja deh ya, panjang aja!), dan akhirnya kami sepakat bahwa anak itu adalah hak Tuhan. Anak adalah ibadah kami kepada-Nya. Jadi yah, kami hanya bisa berusaha berbuat yang terbaik dan selalu berdoa: semoga kami jadi orangtua yang baik, yang bisa mengeluarkan potensi terbaik anak, sesuai dengan fitrahnya dan dengan tujuannya dilahirkan ke dunia oleh-Nya. Insya Allah, diberikan jalannya. Aaaamiiiinnnn!

 

Sejak itu, kami belajar macam-macam soal bagaimana menjadi orang tua, istilah kerennya: ilmu parenting. Kami baca buku, baca artikel di internet dan aku punya grup whatsapp isinya para mamah muda nan kece dan pintar untuk berbagi ilmu parenting (ya segitu doang sih belajarnya, hahaha!). Pengetahuan baru ini kami saring dan jika bisa, kami terapkan dalam mengasuh BabyM. Dan sejauh ini – 1,5 tahun jadi orang tua – perjalanannya sangat menyenangkan sekali. Nggak ada pekerjaan di dunia yang lebih adventurous tapi sangat rewarding seperti menjadi orang tua.

 

Nah dari situ, perlahan tapi pasti, aku merasa karakterku berubah, Alhamdulillahnya sih jadi lebih baik, hahahah! Yang dulu sumbu pendek banget, senggol dikit bacok, sekarang ya ampunnnn… sabarnya luar biasa deh! Eaaakkkk… hahahah! Maksudnya sabar ini ya jadi bisa mentoleransi hal-hal yang dulu sulit diterima. Intinya, bisa lebih empati sama orang lain, jadi lebih santai nggak langsung marah-marah kayak dulu. Selain itu, pikiran juga makin terbuka. Ilmu parenting ini kan banyak mahzabnya. Jadi, sebelum memilih mana yang paling cocok untuk keluarga kami, aku baca macam-macam dan berusaha untuk tidak menghakimi mahzab tertentu. Begitulah efek punya anak untukku 😀

 

Oke, kembali ke homeschooling. Dari berbagai bacaan parenting, kami membaca bukunya Ayah Edy yang sering menyinggung konsep homeschooling. Lalu, dari situ konsep ini sering kami jadikan semacam ‘candaan’. “BabyM homeschooling aja. Kan enak tuh, kita tetep bisa travelling kemana-mana”. Atau, “Dih, sekolah-sekolah mahal banget sih, homeschooling aja deh!” Dan macem-macemnya.

 

Lama-lama, kok rasanya semua candaan itu ada benernya. Dengan kondisi kerja si abang yang 7 minggu kerja dan 5 minggu cuti, kasian juga kalau pas lagi dirumah anaknya malah sekolah seharian. Aku juga sempat melihat-lihat kelas bermain untuk toddler, ya ampun, mahal banget. Tapi pas ikut free trial, heemm… kok kayak main di rumah yah? Lebih seru main di rumah juga.

 

Jadi, ya kenapa nggak beneran homeschooling aja? Tapiiii, begitu diseriusin, jadi clueless, lah ini mulainya dari mana? Apa itu sesungguhnya homeschooling? Apa yang mau diajarin ke anaknya? Bingung! Pas browsing, ketemulah Rumah Inspirasi, keluarga praktisi homeschooling Mas Aar dan Mbak Lala dengan tiga anak mereka. Dan mereka menyelenggarakan webinar soal homeschooling. Nggak pake mikir dua kali, langsung daftar! Gimana pengalaman perdananya? Begini ceritanya…

 

Sebelum webinar perdana, Rumah Inspirasi sudah mengirimkan serangkaian materi yang bisa di download. Ada referensi, ada ebook, juga ada podcast-nya. Aku melahap semua materi ini dengan semangat. Dibaca dan didengerin satu-satu sambil membuat catatan supaya nantinya bisa didiskusikan dengan si Abang.

 

Oh iya, sebelumnya ada tes perangkat webinar juga. Bagi aku yang gaptek, ini cukup penting. Rumah inspirasi memakai platform WizIQ untuk webinar, jadi mereka juga memberikan tutorial step-by-step untuk mendaftar dan menggunakan WizIQ. Sebelum hari-H, ada pra-webinar untuk memastikan peserta sudah paham caranya sehingga nggak kesulitan teknis pas acara.

 

Webinar ini diselenggarakan pada hari kamis jam 19.00-21.00 WIB. Setengah jam sebelumnya, kelas sudah dibuka. Tantangannya bagiku adalah: jam segitu BabyM belum tidur! Jadilah sejak habis magrib aku membiarkan BabyM bermain sampai puas, lalu jam setengah tujuh aku memintanya untuk bermain di kamar saja. Aku juga menjelaskan kepadanya bahwa laptop harus dibuka, karena “Ibu mau belajar”. Senangnya, dia mengerti dan tidak mengutak-atik laptop. Tapi yahh… sambil buku berantakan, pensil dan kertas bertebaran, dan anaknya lompat-lompatan sesukanya, hahahah!

 

photoSuasana webinar di rumah >.<

 

Mengikuti webinar ini seperti mendengarkan radio (kelas ini hanya audio). Yang menjadi nara sumber dan moderatornyanya ya Mas Aar dan Mbak Lala. Peserta bisa bertanya via chat, dan nantinya dijawab langsung. Tadinya aku sudah siap dengan notes dan pensil untuk mencatat, tapi apalah daya, anaknya langsung merebut karena, “Mau tulis-tulis ibu….” Hahahah… ya sudahlah tidak mengapa. Prioritasnya kali ini mendengarkan saja. Lagipula, nanti materi ini akan tersedia untuk diunduh. Jadi bisa lebih konsen didengarkan saat anaknya tidur, hehehe….

 

Webinar perdana ini adalah mengenai dasar-dasar homeschooling. Dari hasil denger-gak-denger, plus baca-baca materi sebelumnya, ini adalah kesimpulan (sementara) yang aku tangkap. Summary-nya aku buat bergaya 5w+1H yah, biar gampang 😀

 

What: Apa itu Homeshooling?

Homecshooling atau home education atau pendidikan rumah adalah model pendidikan alternatif yang berbasis di rumah. Kegiatan pendidikannya diselenggarakan oleh orang tua yang disebut praktisi homeschooling. Jadi, tidak ada lembaga yang menyelenggarakan homeschooling. Kalo ada lembaganya, dan disuruh mendaftar dan sebagainya, ya itu namanya sekolah. Walaupun mungkin sekolahnya tidak setiap hari atau yang sering disebut flexy-school. Jadi, tidak ada lembaga yang menyediakan ‘jasa’ homeschooling. Yang ada hanyalah komunitas-komunitas para orangtua atau praktisi homeschooling melakukan kegiatan atau belajar bersama.

 

Where: Dimana belajarnya?

Ya di rumah. Tapi jangan mikir anak dikurung di rumah sepanjang hari. Rumah itu hanya “basis”. Di rumahlah semuanya berpusat. Kalau anaknya mau belajar sesuatu yang spesifik, katakanlah musik, anak bisa diikutkan kursus musik yang banyak di masyarakat. Atau kalau anaknya pengen belajar bisnis, bisa magang di perusahaan. Anak yang tertarik dengan alam dan budaya bisa diajak traveling. Atau anaknya mau belajar secara mandiri, bisa berlangganan internet dirumah, dan cari kelas-kelas belajar online. Jadi rumah hanyalah basis, namun sesungguhnya ruang kelasnya bisa selebar dunia!

 

When: Belajarnya kapan?

Ya kapan saja! Tidak seperti sekolah yang belajar selama waktu tertentu, dengan homeschooling waktu belajar bisa disesuaikan dengan ritme keluarga. Karena tidak ada dua keluarga yang persis sama, maka jadwalnya mungkin tidak sama antara satu anak dan anak lain. Kecepatan belajar pun disesuaikan dengan kemampuan anak. Ibaratnya makanan, sekolah adalah makanan paket, kalo homeschooling itu a la carte. Kalau di sekolah, yang dipelajari sudah ada paket khusus dalam waktu khusus juga. Kalau ada satu mata pelajaran yang dikuasai dengan baik, tidak bisa melesat maju, harus menunggu sampai naik kelas. Begitupun kalau ada satu pelajaran yang gagal misalnya, anak harus mengulang semuanya/tinggal kelas. Nah, kalau homeschooling, belajarnya modular, mirip sistem SKS kuliah. Kalau ada satu hal yang memang disenangi, ya bisa terus diperdalam dan kalau ada yang tidak terlalu disuka, ya bisa dipelajari sekadarnya menurut kebutuhan saja.

 

Who: Siapa yang mengajar? Orang tua?

Yang mengajar ya bisa siapa saja, bisa orang tua, bisa juga tidak. Dalam HS, orang tua memang berperan sangat penting, tapi tidak musti berperan sebagai guru. Yang pasti, orang tua harus menjadi fasilitator anak untuk belajar. Karena sangat fleksibel, orang tua harus punya semacam rencana besar atau grand plan untuk pendidikan anaknya, apa yang menjadi tujuan pendidikan ini. Nah, grand plan inilah yang menjadi benang merah kegiatan pendidikan. Tugas orang tua adalah lebih kepada memastikan bahwa semua kegiatan pendidikan ini sejalan dengan tujuan akhir. Jadi, fungsi orang tua jadi semacam kepala sekolah yang membuat perencanaan, menjaga agar rencana dijalankan dengan baik, dan mengevaluasi hasilnya. Jadi, siapa yang mengajar, ya disesuaikan dengan grand plan tersebut. Kalau orang tua mampu mengajari, ya kenapa tidak?

 

Why: Mengapa harus homeschooling?

Tidak ada yang “harus”. Homeschooling adalah alternatif cara mendidik anak. Tidak semua anak cocok belajar dengan model sekolah biasa (yang umumnya terpusat, standar, terstruktur), dan tidak semua juga sanggup berkomitmen menjalankan homeschooling (yang terdistribusi, customized, fleksibel). Ini hanya masalah pilihan. Yang satu tidak lebih baik dari yang lain.

Dari survey di Amerika, tiga alasan utama mengapa memilih homeschooling adalah, (1) Orang tua ingin meningkatkan kualitas pendidikan, (2) Alasan agama, (3) Buruknya lingkungan belajar di sekolah. Selain itu ada juga karena orang tua yang berpindah-pindah, karena sekolah bagus makin mahal, anak-anak memiliki kebutuhan khusus, membangun ikatan keluarga, dan lainnya. Jadi memang sebelum memutuskan, orang tua mesti bertanya kepada diri sendiri, apa alasan dan tujuan mereka sesungguhnya. Sebab, “resiko” homeschooling adalah orang tua mesti belajar tanpa henti, dan menjadi perintis. Belum lagi pandangan yang cenderung ‘negatif’ dari keluarga dan masyarakat. Bisa jadi, solusi masalah pendidikan anak bukan homeschooling, melainkan model sekolah lain seperti sekolah alam, pesantren, flexy-school, dan lainnya.

 

How: Bagaimana memulainya?

Sebelum memulai, sebaiknya dipastikan kesiapan diri, pasangan dan anak. Sadari resiko dan konsekwensinya. Setelah itu, buatlah gambaran besar atau grand plan pendidikan sebagai panduan. Apa visi besarnya dan langkah-langkah untuk mencapainya. Lalu praktekkan semuanya dalam keseharian. Selain itu, berjejaringlah dengan para praktisi homeschooling lain. Bagi orang tua yang mempunyai anak yang belum mencapai usia sekolah (seperti kami), mungkin bisa mencobanya sekarang, katakanlah untuk latihan dan tes mental. Biasanya, pressure untuk masa ini lebih ‘ringan’, dibanding memulai homeschooling saat usia sekolah.

 

Jadi begitulah kesimpulan yang aku dapatkan dari sesi webinar perdana kemarin. Bagiku, konsep homeschooling (dengan segala kelebihan dan resikonya!) ini sangat menarik dan sepertinya bisa dijalankan dalam keluarga kami. Toh BabyM masih 1,5 tahun dan kami masih bisa ‘latihan’ sampai dia benar-benar sekolah. Meski begitu, tentulah hati ini masih ragu, apakah aku bisa? *lirik profilnya Mas Aar dan Mbak Lala yang keren banget, lalu jiper. Apalah aku iniiiii huhuhu* Ya marilah kita tunggu sesi-sesi berikutnya, mudah-mudahan pedenya nambah. Aaaamiiiinnn!

 

4 Responses

  1. Dita September 15th, 2015 at 8:07 am

    aku mau jadi guru tamu matematika sama karya seni

  2. dindajou September 17th, 2015 at 11:45 pm

    yay! aku juga mau dong diajarin seni sama dita!

  3. Anne September 17th, 2015 at 12:08 pm

    Keren mbak, sudah mempersiapkan sejak dini. Two thumbs up.

  4. dindajou September 17th, 2015 at 11:45 pm

    hehehehe.. makasih mbak 😀 Namanya juga usaha hahahaha

Any comment?