Homeschooling : Membuat Jadwal Kegiatan Anak 4 Tahun

Aku dan Abang telah memantapkan hati untuk memilih homeschool sebagai pilihan pendidikan untuk Malik. Namun tak bisa diingkari, minggu pertama sekolah kemarin sempat membuat aku galau. Teman-teman sepermainan Malik yang berumur sebaya, sudah mulai sekolah semua. Aku khawatir Malik jadi sedih, karena sebelumnya setiap hari selalu bermain bebas dari pagi hingga sore.

Karena alasan itu, akhirnya aku berniat membuat jadwal kegiatan untuk Malik. Tapi sesungguhnya ini membuat makin bingung lagi. Aku sudah mencoba beberapa cara untuk membuat jadwal sebelumnya. Tapi pada pelaksanaannya malah terlalu memaksakan. Akhirnya bubar jalan.

Maka, berbekal trial and error sebelumnya, aku mencoba lebih realistis. Beberapa tantangan yang harus kami hadapi juga dijadikan bahan pertimbangan, misalnya:

  1. Jadwal seperti apa yang pantas diberikan untuk anak 4 tahun yang bahkan belum mengerti konsep hari?
  2. Keluarga kami sesungguhnya lebih condong kepada metode ‘unschooling’, dimana selama ini kami mengikuti kemauan anak untuk belajar. Menyerahkan sepenuhnya kepadanya, kapan dia mau belajar, dan apa yang mau dia pelajari, alih-alih memberikan dia serangkaian materi di waktu-waktu khusus.
  3. Kami sebenernya tidak ingin mengajarkan content/materi dan ingin lebih fokus pada membangun kebiasaan baik. Yang mana hal ini -menurut kami- harus dilakukan setiap saat secara konsisten.
  4. Keluarga kami cukup ‘fleksibel’ dan spontan dengan waktu dan kegiatan (untuk tidak menyebut random :D), sehingga konsep jadwal harian agak menyulitkan buat semuanya.

Berdasarkan tantangan-tantangan itu, aku akhirnya membuat jadwal mingguan. Artinya, kami punya serangkaian kegiatan yang harus dilakukan selama seminggu, namun bisa dilakukan di hari yang acak. Misalnya, minimal kami jalan pagi/olahraga dua kali dalam seminggu, terserah kapan harinya. Minimal satu kali seminggu pergi berenang. Minimal satu kali seminggu membuat craft (sesuai keinginan anaknya mau buat apa), dan seterusnya.

Aku membuat daftar kegiatan ini berdasarkan teori ‘Multiple Inteligence’. Berdasarkan teori ini, ada sembilan aspek yang hendak kami kembangkan. Namun, mengingat Malik masih 4 tahun, tentunya kegiatannya harus sangat sederhana. Berikut adalah kegiatan yang aku rencanakan:

1. Bodily Kinesthetic (Body Smart) – jalan pagi, berenang, main sepeda, olahraga, dll.

2. Naturalist (Nature Smart)  – Mengajak Malik berkegiatan di alam, entah itu ke taman dekat rumah, atau ke tempat wisata yang dekat dengan alam.

3. Logical Mathematical (Logic Smart) – Belajar berhitung dengan mengajaknya menghitung apapun, memberikan waktu untuk bermain game matematika/logika (saat ini kami memilih game Khan Kids), melakukan ekperimen sains sederhana.

4. Spatial (Picture Smart) – menggambar, menonton film, ke pameran seni, dll

5. Linguistic (Word Smart) – membaca buku, bermain game terkait huruf, menonton film atau mendengar musik dengan berbagai bahasa, bercerita, dll

6. Musical (Music Smart) – Melakukan kegiatan yang berhubungan dengan musik. Contoh kegiatannya adalah membiarkan dia bermain drum kesukaannya, mengunjungi toko musik, bernyanyi atau menari bersama, menonton pertunjukan dll.

7. Interpersonal (Self Smart) – Belajar personal hygiene dan mengurus diri sendiri (mandi, sikat gigi, pakai baju, dll), memberikan kesempatan memilih, memberikan kesempatan untuk merencanakan, dll.

8. Intrapersonal (People Smart)  mengajak bersilaturahim ke saudara, menyapa tetangga, bermain dengan teman di sekitar rumah, playdate, dan lain-lain

9. Existential (Spiritual Smart) – Mengajarkan agama dan spiritual. Selain mengajarkan nilai-nilai kebaikan, kami juga mengajari malik soal praktek agama. Sejak Malik kecil, aku sudah membiasakan untuk berdoa sebelum tidur. Awalnya aku mengulang Al-Fatihah setiap hari, sehingga lama-kelamaan dia hafal. Jadi setiap malam ia akan membaca Al Fatihah menjelang tidur. Dulu, selain Alfatihah dan doa tidur, aku akan memperdengarkan audio Quran dan membiarkan dia memilih surah untuk didengarkan sebelum tidur (biasanya sampai tertidur). Tapi belakangan kami mengganti strategi dengan membacakan satu surah pendek berulang-ulang, hingga dia akhirnya hafal sendiri. Untuk sholat, kami tidak memaksanya, hanya sekedar mengajak. Namun, beberapa minggu belakangan ini kami memintanya untuk ikut sholat magrib berjamaah. Malik menyanggupi, tapi dia minta tidak setiap hari, melainkan selang-seling. Lumayan lah, asal mau aja.

Dari hal-hal yang ingin kami kembangkan ini, aku masih harus mengolahnya menjadi lebih sederhana. Yang dimasukkan ke jadwal adalah hal-hal yang gampang dimengerti oleh Malik.

Awalnya, aku membuat jadwal seperti ini:

HS Jadwal 1

Pada awalnya, isinya hanya musik, arts and crafts, math/logic/science, berenang, outdoor activities, dan weekly planning & review. Semua kegiatan ditempel di sebelah kiri, dan jika sudah dilakukan, dipindahkan ke kanan. Papan ini aku letakkan di ruang kerja di rumah kami.

Tapi, beberapa hari berlalu, tampaknya cara ini kurang efektif. Malik belum bisa membaca, sehingga dia kurang paham dengan tulisan-tulisan itu. Apalagi letaknya kurang strategis sehingga sulit dijangkau.

Lalu, tiba-tiba aku melihat magnet lembaran di sudut kantor. Sisa dari entah membuat apa beberapa lama lalu. Dari sini, aku punya ide untuk membuat jadwal ini dalam bentuk gambar yang ditempel di magnet. Magnet lembaran dipotong persegi kecil, bagian yang tidak lengket ke besi diberi double tape, lalu ditempel kertas yang sudah digambar lambang kegiatan. Jadwalnya pun bisa diletakkan di kulkas yang lebih mudah dilihat oleh Malik. Jadinya seperti ini:

HS Jadwal 2

Aku sengaja membuat nama-nama hari, agar Malik juga bisa belajar soal hari dan waktu. Agar ia bisa membayangkan yang disebut ‘besok’ itu hari apa (soalnya belajar hari dengan melihat kalender masih terlalu rumit untuk Malik :D).

Ternyata, Malik suka sekali dengan konsep ini! dari 5 jadwal awal yang dibuat, Malik malah minta tambah! Yang awalnya aku hanya membuat berenang, ia minta menambahkan gambar olahraga dan bersepeda. Dia juga meminta jadwal untuk belanja (anaknya tukang jajan banget deh!) dan gambar sholat (yang diwakilkan dengan tulisan Allah).

Usai magrib, kami akan me-review kegiatan hari itu. Malik mengingat apa yang dilakukannya sepanjang hari, mencabut gambar dari kolom paling kiri, dan memindahkannya ke kolom paling kanan. Setelahnya, kami juga akan merencanakan besok kira-kira mau melakukan apa. demikian seterusnya.

Selain jadwal ini, aku dan si Abang juga sepakat untuk membuat laporan kegiatan sederhana. Tujuannya adalah untuk bahan evaluasi kami dalam jangka panjang.

Setahun belakangan ini sesungguhnya aku sudah membeli buku agenda harian untuk mencatat kegiatan Malik dan sesekali memberikan catatan jika ada hal penting yang terjadi pada bulan itu. Bentuknya seperti berikut ini:

HS Jadwal 3

HS Jadwal 4

Tapi, aku rasa bentuk ‘laporan’ seperti ini perlu di-upgrade menjadi lebih baik. Setelah lihat-lihat, akhirnya aku membuat laporan kegiatan yang dibuat di lembaran yang bisa dimasukkan dalam binder. Contohnya seperti ini:

HS Jadwal 5

Terlihat agak ribet mungkin, tapi aku senang melakukannya. Hitung-hitung melatih konsistensi untuk membuat jurnal. Plus, aku juga bisa bisa lebih mindful saat menghabiskan waktu bersama Malik. Toh laporan semacam ini bisa sangat berguna untuk kami belajar menjadi orang tua yang lebih baik. Kalau di sekolah kan ada rapor dan hasil tes yang bisa dijadikan acuan. Kalau homeschool ya mesti orang tuanya sendiri yang (agak) capek, heheheh.

Begitulah ceritanya soal jadwal ini. Mudah-mudahan ini bisa memberikan ide kepada para orang tua yang juga masih newbie soal homeschooling kayak kami (yuk mari kita bingung bersama, hahahah!). Atau ada yang punya tips dan pengalaman soal buat jadwal untuk anak 4 tahun? I’d be happy to hear!

2 Responses

  1. Farida July 26th, 2018 at 7:31 am

    Keren mbak..menginspirasi..terima kasih untuk nice sharingnya..saya baru akan melakukan hs untuk anak yg usianya tujuh tahun….

    Jadi makin semangat deh…

  2. dindajou July 26th, 2018 at 7:34 am

    @farida: Sama-sama mbak, senang bisa bermaanfaat. Semangat ya mbaaaak! *saling pukpuk, heheheh

Any comment?