Guest Post: Anak Laki Main Boneka? Relaaax!

Intro: Jadi, beberapa waktu lalu, Okke si Mamamolilo mencari penulis tamu untuk blognya. Dan perempuan inpiratif ini memilih aku (yay!). Jadi, kami saling memberi challenge satu sama lain untuk menuliskan sebuah topik.

Mengenal ibu satu anak ini sejak zaman blognya masih bertajuk Sepatu Merah, Okke adalah perempuan witty yang banyak menulis tentang isu kontroversial, termasuk soal perempuan. Walau topiknya ‘berat’, tulisannya mudah dicerna dan enak dibaca.

Nah, untuk challenge kali ini, Okke memintaku untuk menulis tentang homeschooling di blognya, dan aku memintanya menulis soal urusan gender dalam mendidik anak. Aku tertarik dengan isu ini, sebab belakangan ini Malik agak ‘di-bully’ oleh teman sepermainannya karena sangat suka menonton My Little Pony yang didapuk sebagai ‘tontonan anak perempuan’. Apa pendapat Okke soal ini? Silahkan simak tulisannya!

***

ANAK LAKI MAIN BONEKA? RELAAAX!

By: Mamamolilo

Anyway, ngomongin soal gender, saya dan partner termasuk orangtua yang nggak ngikut stereotip gender dalam membesarkan anak kami.

Anak saya perempuan. Saya dan suami beri dia berbagai macam jenis mainan, dari mainan yang dikategorikan oleh masyarakat sebagai mainan anak perempuan seperti peralatan dapur dan boneka, sampai ‘mainan anak cowok’, seperti mobil-mobilan, truk, robot-robotan. Warna barang-barang miliknya pun random, pink ada, hitam ada, biru ada. Aktivitas yang dia lakukan? Macam-macam. Main boneka iya, main bola iya, main karate-karatean oke, main belanja ke pasar boleh.

Saya dan partner, alih-alih mengikuti stereotip gender dalam masyarakat untuk aktivitas/permainan dan mainan untuk anak saya, lebih memilih untuk mengikuti mana-mana yang dia suka saja.

Hal ini kami lakukan dengan dasar pemikiran bahwa anak kami harus diberi keleluasaan dalam memilih dan mengembangkan skill, potensi dan minatnya.

Contohnya begini, saya tidak berminat pada olahraga sepak bola, baik melakukan kegiatannya, mau pun menonton tayangan permainan sepak bola. Dan saya tahu, saya bukan satu-satunya perempuan yang demikian. Yang menjadi masalah, ketidaksukaan saya itu bukan karena saya sudah mencoba dan nggak suka, tapi karena di masa saya kecil, olahraga tersebut dikategorikan sebagai aktivitas anak laki-laki, sehingga saya sama sekali tidak sempat kenalan dengan sepak bola. Mungkin, kalau dulu saya diajak bermain bola, sekarang saya jadi hooligans. Eh, nggak gitu juga kali ya? 🙂

Begitulah. Saya biarkan anak saya bermain bola, karena siapa tahu ternyata anak saya minat untuk menjadi atlit sepakbola, ya nggak? Atau siapa tau ternyata dia berminat di bidang otomotif, kan? Atau, bisa jadi dia punya potensi untuk menjadi drummer. Ya sayang saja, kalau sampai potensi dan minatnya tidak tereksplorasi sepenuh-penuhnya, gegara sudah dibatasi oleh orangtua sejak dini.

Apakah ada protes untuk keputusan kami?

Syukurnya nggak. Nenek dan kakeknya Lilo, baik dari pihak partner dan dari pihak saya oke-oke saja dan mendukung.

Dan saya rasa pemikiran seperti ini tidak hanya dimiliki oleh saya dan partner saja. Beberapa kawan kami yang memiliki anak perempuan juga sepemikiran. So, kayaknya sih sudah bukan hal yang aneh lagi melihat anak perempuan dibiarkan main mobil-mobilan dan robot-robotan.

Seharusnya pemikiran seperti ini berlaku juga buat anak laki-laki ya?

Karena seharusnya sih, semua anak itu dibiarkan berkembang sepenuh-penuh minat dan bakatnya.

Namun pada kenyataannya, ya enggak.

Beberapa tahun yang lalu, jauuuh sebelum punya anak, saya pernah ‘terjebak’ dalam obrolan ibu-ibu. Topiknya? Kekhawatiran salah seorang ibu tentang preferensi seksual anak di masa yang akan datang. Gara-garanya anak ibu tersebut (laki-laki) suka bermain boneka dan masak-masakan bersama kakaknya, plus suka menonton Frozen.

“Ntar gimana ya kalau anak gue jadi homo?” katanya.

Lalu ibu-ibu yang lain menanggapi, kebanyakan melarang si anak untuk terlibat dalam permainan kakak perempuannya, “JANGAN AH! Bahaya! Ntar gimana-gimana nyesel.”, gitu katanya.

Saya memahami kekhawatiran ibu-ibu tadi.

Menurut Conversation, seorang anak baru akan memahami identitas gendernya mulai usia dua tahun. Sebelumnya, konsep gender itu fleksibel bagi mereka. So, artinya memang usia batita dan balita itu krusial untuk membangun identitas gender, supaya dia bisa hidup selaras dengan lingkungannya. Lagian kasihan juga kalau dia bingung gender kan? Tapi bukan dengan cara membatasi aktivitas dan objek, karena, balik lagi, itu bisa membatasi dirinya mengeksplor dunia.

“Jadi kudu begimana dong?” Kata buibuk.

Ada satu jawaban yang saya dapat ketika saya mengikuti sesi parenting di Kursus Pra Pernikahan di gereja Katedral, yang saya pikir perlu di-highlight, supaya orangtua nggak terlalu khawatir soal mainan/permainan anak ini. Intinya, kurang lebih : yang paling penting itu bukan mainannya, aktivitasnya atau tayangannya, karena pada dasarnya semua itu objek dan gender neutral.  Yang lebih penting penyertaan dan bimbingan orangtua saat bermain. Misal, kalau lagi bermain boneka, ya jangan dipanggil ‘Bu!’ tapi panggil dengan ‘Pak, lagi jagain anak ya, Pak?’.

Selain didampingi saat bermain, Dr Alan Greene di theparents.com menyatakan bahwa di umur 18 – 30 bulan, seorang anak akan memahami bahwa jenis kelamin (dan tuntutan perilaku yang menyertainya) itu adalah sesuatu yang permanen. Di usia sekian, keinginan untuk meniru orangtua berjenis kelamin yang sama semakin kuat. Yang laki-laki mengimitasi bapaknya, yang perempuan mengimitasi ibunya. Artinya, ya memang kudu ada role model untuk diimitasi.

Namun, mengimitasi aktivitas jenis kelamin yang lain masih dikatakan baik-baik saja.

Almost all healthy toddlers will copy and enjoy behaviors of the other gender. This kind of play is expected and desirable. Often toddlers will imitate many activities of the opposite sex. In one study, 22.8 percent of boys and 38.6 percent of girls enjoyed 10 or more gender-atypical behaviors (Nelson Textbook of Pediatrics, Saunders 2000)

Jadi, ya kalau anak laki- -laki bermain boneka atau masak-masakan (atau nonton My Little Pony, atau pakai baju pink), nggak autogay, atau autotranssexual gitu.

Lagi pula, ada kok positifnya dari seorang anak laki-laki yang main/melakukan aktivitas yang dianggap aktivitas anak perempuan, antara lain :

1. Apa yang disebut aktivitas cewek (main bonekalah, masak-masakah, rumah-rumahan) sebenarnya termasuk life-skill. Dengan membiarkan seorang anak laki-laki melakukannya, maka ia akan berpikir, itu adalah bagian aktivitas dalam kehidupannya.

Di Instastory saya sempat membuat semacam diskusi terbuka tentang peran serta suami dalam urusan domestik, ternyata kebanyakan buibuk mengeluh karena suaminya gak becus bahkan gak mau sama sekali ikut campur. Well, jangan salahkan suami, tapi salahkan background-nya yang menjauhkan mereka dari urusan domestik.

Selain buat bantuin pasangan, buat apa menguasai urusan domestik?

Karena tidak di semua tempat ada GoClean, si Mbak ART, atau warteg. Sekian.

2. Bermain boneka dan rumah-rumahan atau masak-masakan itu termasuk role-play. Sama kayak main polisi pencuri, guru murid, dokter pasien.  Role play itu menstimulasi imajinasi anak, selain itu ada beberapa keterampilan lain yang terlibat dari bermain boneka-bonekaan : berkenalan dengan emosi (sedih, senang, marah), mengembangkan motorik halus saat anak memperlakukan boneka/alat-alat masak-masakannya, belajar bahasa/memperkaya vocabulary dan lain-lain.

3. Mainan/permainan/tayangan yang dikategorikan sebagai mainan/permainan/tayangan laki-laki itu kebanyakan yang bersifat agresif dan violent. Sementara untuk yang perempuan, kebanyakan nurturing. Dengan membiarkan anak laki-laki melakukan aktivitas/mainan/menonton tayangan perempuan setidaknya bisa mengimbangi, sehingga seorang anak laki-laki nggak jadi sosok yang agresif dan violent.

Gitu deh kurang lebih. Lagipula, pada dasarnya aktivitas/mainan itu nggak bergender yak. Masyarakat aja yang suka bikin kategori-kategori demikian. Belum tentu ketika seorang anak laki-laki memainkan boneka dia sedang role play jadi ibu. Siapa tahu sebenarnya ada skenario lain yang sedang dibuatnya. Dulu saya bermain Barbie, tapi permainan saya dan teman-teman nggak melulu dress-up, lho. Kadang kami berpura-pura jadi Lima Sekawan yang sedang berusaha menangkap penjahat.

Jadi, relaaax.

mlp

Malik, si cowok gondrong yang cinta mati sama Rainbow Dash 😀

Any comment?