Enam Menyelam

Ini adalah dunia baru, bukan begitu sayangku? Ternyata, samudra yang permukaannya kerap tampak angkuh – sebab ia terlihat begitu perkasa dan kita begitu kecil dihadapannya – menyimpan hangat yang tak dibuat-buat. Ia memberikan kita pengalaman berharga, tanpa banyak berkata-kata.

Sejak dulu, aku selalu ingin melakukan satu kegiatan istimewa yang bisa kita nikmati bersama-sama sepenuhnya. Sebuah rutinitas yang sama sekali baru bagi kita berdua. Sebab, kita punya banyak pengalaman menyenangkan, tapi semua dilakukan sendirian. Dan ternyata, pada laut kita menemukannya. Menyelam, adalah hobi baru yang sempurna!

Aku menikmati perjalanan menuju tempat antah berantah. Pasir di kaki dan sinar matahari. Menikmati desau angin yang berasa asin menerpa seluruh indera. Biru laut dan angkasa. Segar air tanpa sampah. Dan tentu saja pemandangan magis yang terpampang tak habis-habis.

Kita menenggelamkan diri, menyusuri segala warna-warni. Waktu melambat, semua melambat. Bergenggaman, kita menaklukkan ketakutan dan menikmati petualangan. Mengepakkan kaki mengejar ikan Dori. Menjaga nafas di dada memperhatikan hiu dan manta. Bersama arus menikmati karang di terumbu. Atau melayang mencoba menyapa kura-kura. Kita tak perlu bicara, tapi kau dan aku tau, kita berdua benar-benar berbahagia. Jika kita bisa tersenyum lebar dan tertawa-tawa di bawah sana, niscaya kita sudah melakukannya!

Namun pemandangan indah itu tentu tidak datang dengan mudah. Ada banyak tantangan dalam proses belajarnya. Ketakutan karena ketidak-tahuan. Ketidak-pastian karena segala serba asing dan terlihat menyeramkan. Atau bahkan kenyataan bahwa di bawah sana, aku harus mempercayakan hidup dan keselamatanku sepenuhnya padamu, begitupun sebaliknya.

Tapi sesungguhnya ia mengajarkan kepada kita berdua, bahwa kita harus saling percaya. Bahwa ketakutan pasti ada, oleh karenanya kita harus saling menjaga. Bahwa dalam hidup ini  yang pasti adalah ketidak-pastian – selain kematian, tentunya! – oleh karenanya kita harus saling mengingatkan. Bahwa untuk bisa bekerja sama di bawah sana, aku harus mengenal diri sendiri, menciutkan ego, dan mengakui segala keterbatasan yang aku punya.

Hmm… tidakkah itu terdengar mirip seperti pernikahan? Menyelam sesungguhnya mengingatkanku, pada saat kita memutuskan untuk menikah enam tahun lalu!

Selamat ulang tahun perkawinan ke-6, suamiku sayang.
Aku mencintaimu seperti ombak pada pantai. Seperti camar pada angkasa. Seperti ikan pada samudra.

Cepatlah pulang, mari kita menyelam!

6 Responses

  1. parking in Islington March 24th, 2013 at 3:54 am

    K Dinda, saya sampai menitikkan air mata saking tersentuhnya. mengingatkan saya kepada si abang yang baru saya antar ke airport selasa lalu. Saya juga ingin berteriak, cepatlah pulang…..
    Saya memang belum pernah menyelam bersamanya, cuma merasakan nikmatnya berpegangan tangan saat snorkeling bersama. Belum 6 tahun kita bersama, tapi 2 tahun cukup membuat saya merasakan indahnya dunia. (Arika-Abraham)

  2. Dinda March 26th, 2013 at 12:30 am

    aaaaww.. ika! Kayaknya diving (dan petualangan apapun yang dilakukan bersama2) cukup pas buat menggambarkan pernikahan :D. Semoga dirimu dan Abraham juga senang selalu yaaaa. btw, ituh nama suami kita kenapa abraham-ismail yah 😀

  3. Mbilung March 26th, 2013 at 2:20 am

    Selamat ulang tahun perkawinan Ina dan Abang. Mari menyelam 🙂

  4. Novi March 26th, 2013 at 2:23 am

    Happy anniversary! wah bener banget nih harus ada kegiatan yang dilakukan bersama biar awet 🙂

  5. atta March 27th, 2013 at 3:40 pm

    masak udah 6 tahun??? waktu terbang banget ya. selamat hari jadi sayang. mwah. dapat salam dari lemari buku. aha 😀

  6. Tujuh Utuh | Dindajou March 25th, 2014 at 9:59 am

    […] Looking back: 2nd – dua berdua, 3rd – Tiga Bahagia, 4th – Empat Hebat, 5th – Lima Bersama, 6th – Enam Menyelam […]

Any comment?