Eleven is a Strange(r) Thing

Tahun yang aneh, bukan begitu, sayang? Lebih satu dekade bersama, kita pikir kita sudah khatam tiap kelok, turunan dan tanjakan. Tapi pada akhirnya, kita hanyalah manusia yang tak luput dari kesalahan. Sekeras apapun kita mencoba, itu adalah hal yang tak terelakkan.

Ada banyak air mata yang mengalir, tahun ini. Kadang ia tertahan di kerongkongan, lebih banyak lagi yang mengucur tak berhenti. Kesedihan yang menggumpal bersama kekecewaan pada diri sendiri. Emosi yang sering kali hilang kendali.

Kita menyalahkan jarak. Mengutuk waktu yang terserak. Membenci suara-suara sumbang yang kerap bersorak. Menyumpahi isi kepala dan ego yang tak kunjung melunak.

Tapi kurasa Tuhan memang mendengar doa yang terlantun dengan sungguh. Kita selalu meminta dijauhkan dari penyesalan, dari pikiran yang keruh. Kita selalu memohon untuk diberikan kekuatan dan hati yang teguh. Untuk selalu bisa mencintai satu sama lain dengan utuh.

Memaafkan diri sendiri bukan perkara yang mudah. Ia mewajibkan kita untuk berkaca demi mengenali dan mengakui semua ketakutan yang kerap tersamar sebagai amarah. Butuh keberanian yang besar untuk mengaku salah. Memaafkan, tidak dilakukan oleh orang yang lemah.

Pada akhirnya kita akan kembali pada pertanyaan paling klise sedunia: percayakah kita pada cinta? Dan mata kita yang beradu, serta tangan yang bergenggaman menyatu, adalah jawabannya. Cinta saja memang tidak cukup untuk membina rumah tangga. Tapi cinta adalah fondasinya. Aku percaya.

Selamat ulang tahun perkawinan ke-11, abang.

I love you, I really do.

This one is for you :-*

 

Looking back on anniversaries: 10th, 9th, 8th, 7th, 6th, 5th, 4th, 3rd, 2nd

2 Responses

  1. mariskova March 24th, 2018 at 11:59 pm

    Happy anniversary! Refleksi yang dalem banget.

  2. dindajou March 26th, 2018 at 7:17 am

    @mbak mariskova: ahahhahaha pake perasaan banget nulisnya inih

Any comment?