Drama Peliharaan

Sudah setahun belakangan ini Malik kerap menyebutkan bahwa ia ingin pelihara binatang. Dimulai dari kegemasan akan kucing anggora tetangga dan binatang-binatang lucu yang ia lihat di berbagai tempat, ia menyusun daftar peliharaannya sendiri. Ia ingin punya dua kucing, empat burung termasuk satu burung hantu, ikan, anak ayam, hamster, kura-kura dan kelinci.

Aku dan si abang sesungguhnya sangat senang dengan binatang. Saking sayangnya, kami lebih suka melihat binatang berada di habitat aslinya. Bahkan perjalanan ke kebun binatang seringkali justru membuat kami sedih. Setiap mengunjungi kebun binatang, tak lupa kami selalu menyelipkan pesan kepada Malik kalau binatang-binatang itu pasti lebih senang kalau berada di habitatnya.

Lagipula, rumah kami terlalu kecil untuk memelihara binatang. Plus kami sering berpergian, sehingga repot juga kalau masih harus memikirkan peliharaan.

Begitupun, anak kicik ini cukup konsisten soal peliharaan meski hingga kini keinginannya masih bisa ditahan. Malik paham bahwa ia masih alergi dengan bulu kucing. Ia juga mengerti bahwa rumah kami terlalu kecil. Ia toh sudah cukup bahagia dengan boneka kucing dan boneka burung hantu dari IKEA (yang saat pertama lihat, langsung dikekep, harus beli 😂).

Konsistensinya ini mau tak mau membuat aku dan abang berdiskusi soal urusan peliharaan. Dan sejujurnya, punya peliharaan juga punya dampak positif. Anak bisa belajar bertanggung jawab dan berempati. Jadi, binatang apa yang tidak ‘terlalu merepotkan’, dan bisa ditampung di rumah kami yang imut-imut ini? Kami sepakat bahwa jawabannya adalah ikan. Ikannya pun harus ikan yang kuat, seperti ikan cupang.

Kami sudah berencana akan membawa Malik untuk membeli ikan pada hari ulang tahunnya di Januari tahun depan. Kami menyusun rencana, bahwa sebelum beli, kami akan mempersiapkan dia dengan berbagai pengetahuan tentang ikan, dan nantinya dia memilih sendiri ikan yang dia mau. Kami juga bertanya ke Mbak yang bekerja di rumah, apakah dia tau tempat membeli ikan cupang di sekitar kompleks. Dan dari Mbak, kami mendapatkan beberapa tempat yang tak jauh dari rumah.

Tapiiii… ternyata Mbak menerjemahkan dengan berbeda. Perlu diketahui, Mbak kami adalah mbak harian yang pulang pergi setiap hari dan rumahnya tak jauh dari rumah kami. Kemarin, saat kami mau pergi keluar, kami berpapasan dengannya di jalan. Ia bilang mau mengantar ikan ke rumah. Aku hanya bilang ‘oke, terimakasih’, dan mengira si Mbak mengantar MASAKAN ikan, karena sebelumnya ia bicara tentang suaminya yang baru mancing.

Nah, saat kami kembali ke rumah dan aku membuka pintu, di meja sudah ada dua ikan cupang!!! Astaga, ternyata yang dimaksud si Mbak adalah ikan cupang untuk Malik! Buru-buru aku langsung keluar lagi dan mendekati si abang yang sedang memarkir mobil di carport. Untungnya, Malik masih di dalam mobil bersama si Abang.

Dengan berbisik-bisik, aku bilang bahwa ada dua ikan cupang di dalam rumah, what should we do? Si abang bengong sejenak. Setelah berfikir dan berdiskusi singkat, kami sepakat menyembunyikan dulu si ikan sampai kami tau langkah selanjutnya.

Setelah Malik tidur, kami pun menggelar rapat 😂. Setelah menimbang segala aspek, akhirnya kami memutuskan bahwa Malik boleh memelihara ikan. Tapi, status ikan adalah pinjaman dari si Mbak. Kalau Malik sampai lalai dengan tanggung jawabnya, maka ikan akan dikembalikan ke Mbak.

Paginya aku mem-briefing si Mbak tentang keputusan rapat kami. Jadi, si Mbak-lah yang harus memberikan ikan tersebut ke Malik, dan memberikan wejangan serta instruksi bagaimana cara memberi makannya.

Saat diberikan ikan, kami kira dia akan lompat-lompat histeris seperti di film-film. Tapi ternyata dia hanya senyum-senyum aja. Hahahah, antiklimaks deh! Dasar anak empat tahun! Tapi dia lumayan antusias mendengarkan penjelasan Mbak dan tak sabar mau memberitahu teman-temannya bahwa ia sekarang punya ikan.

Dua ikan cupang itu diberi nama Blue dan Orange, sesuai warnanya. Malik juga belajar memberi makan ikannya. Makanannya pelet superkecil, dan ia harus menghitung 10 butir pelet untuk satu ikan. Diberikan hanya di pagi hari.

Saat tadi pagi kami harus pergi sebentar, dia agak khawatir, apakah ikannya akan baik-baik saja kalau ditinggal. Kami berhasil meyakinkannya kalau ikannya bisa main sendiri, hahahh.

Jadi begitulah. Malik sekarang punya peliharaan. Mohon doanya agar ikan kami tetap bertahan yaaaa…

Kalau kalian, anaknya diizinkan punya peliharaan nggak? 

pet1

pet2

Any comment?