Category Archives: Other

…for our future son/daughter

Dear (future) son/daughter,
I can no longer be silent about this. Keeping a secret this big is just killing me. The burden is unbearable. And I believe you – more than anyone else in the world – deserve to know.

The truth is, your father – my husband, the love of my life… is…

…(hold your breath)… a superhero

Yes. He’s the world famous Sarungman. And oh yes, he can fly…

So i guess those dreams of yours about you floating around, wasn’t really a dream. And oh, when you’re acting silly, don’t worry too much. It’s in your DNA.

Bottom line is, i will always love you no matter what. As I love your father for whatever he is.

xoxo

Makeover

Aku baru potong rambut. Pendek. Banget. Setidaknya menurut standarku sendiri. Alasannya banyak. Karena rontok yang makin nyebelin. Karena bosan dengan rambut panjang lurus yang begitu-begitu aja. Karena efek rambut panjang(ku) membuat wajah terlihat muram dan tua.

Juga karena rajin nonton Style Network, hahah! Senang aja melihat segala macam makeover. Mulai dari makeover wajah, rambut, cara berpakaian, rumah, bahkan toko. Melihat yang sebelumnya kusam/tua/berantakan/tacky, menjadi cerah/baru/rapi/stylish. Ada semacam energi disana. Energi untuk membuat segala sesuatunya menjadi lebih baik.

And I can’t help but seeing myself. Aku jadi pengen me-makeover semuanya. Ini bukan cuma soal potong rambut jadi pendek aja. Atau mengenakan pakaian yang lebih berwarna alih-alih keukeuh dengan warna netral seperti hitam-putih-biru-coklat (I recently bought a pair of RED shoes and HOT PINK cellphone!). Bukan juga soal membersihkan rumah. Mensortir barang yang tidak lagi terpakai dan memberikannya kepada orang yang lebih membutuhkan. Dan pastinya bukan soal ganti nama 😀

Ini soal merubah mindset. Merubah kebiasaan. Membuat janji kepada diri sendiri untuk bersyukur untuk apapun yang diberikan, dan nggak mudah mengeluh (apalagi mengeluh di depan publik seperti di facebook! Tolong ingetin aku kalo melakukan ini yah! Gaprok aja langsung, ga usah segan-segan!). Untuk lebih menyayangi diri sendiri, memberikan badan haknya untuk sehat seperti makan lebih bergizi dengan jumlah yang lebih banyak, istirahat yang cukup, dan olahraga yang teratur (30 menit jalan pagi keliling komplek ternyata ga terlalu susah kok!).

Juga memberikan jiwa apa yang menjadi haknya, dengan beribadah lebih banyak, mengurangi gosip sana sini, berusaha untuk ikhlas dalam melakukan apapun dan tentunya memperbanyak stok sabar. Memberikan hak jiwa untuk berbahagia.

Dan bulan ramadhan, semakin membuat kegiatan makeover ini terlaksana dengan lebih baik. Mudah-mudahan setelah Ramadhan berlalu dan Syawal datang, kebiasaan-kebiasaan baik yang telah dilakukan tidak hilang lagi.
Jadi, mohon maaf lahir bathin, ya teman-teman dan saudara-saudaraku semuanya. Maaf atas perkataan atau perbuatan yang aku lakukan, atau tidak aku lakukan, sehingga membuat kalian sedih. Aku mohon dengan rendah hati untuk bersabar, dan mengingatkanku agar aku bisa menjadi orang yang lebih baik.

Ganti Nama

Aku dan Abang sudah menikah tiga tahun tiga bulan lamanya. Tapi, baru kemaren itu dia minta sesuatu yang menurutku agak absurd: Minta aku menambahkan namanya – ‘Ismail’ – di belakang namaku.

Heh? Kenapa juga harus memakai namanya? Dan terlebih lagi, kenapa baru sekarang?

Aku langsung meradang. Karena menurutku, nama belakang seorang laki-laki itu diturunkan ke anaknya. Nggak perlu ditambahkan ke istri. Istri dan suami kan mempunyai posisi yang setara dalam rumah tangga. Kenapa juga bukan si abang yang mencantelkan ‘Jouhana’ di belakang namanya? Ya kan?

Aku berargumen, banyak sekali perempuan-perempuan di luar sana yang karyanya ‘tenggelam’ dibalik nama ‘besar’ suaminya. Perempuan-perempuan ini tidak dikenal sebagai seorang pribadi yang utuh, tapi sebagai ‘istrinya pak anu’. Dan lama-lama, tanpa terasa, semuanya kepribadiannya tergerus, hilang. Identitasnya terbawa angin dan mereka tak lagi mengenali diri mereka sendiri. Sebab nama – sebuah penanda yang membedakan orang satu dengan lainnya – sudah berganti. Aku tidak mau menjadi perempuan seperti itu. Siapa yang mau kan? Kan?

Lagipula, siapa yang tidak tau bahwa aku adalah istri Teuku Ismail? Sudah menikah tiga tahun lebih kok. Kecuali kalo si abang ingin ‘memamerkan’ power-nya atas diriku. Bahwa aku adalah sepenuhnya punya dia! Hah! Get out of here you male chauvinist pig!

Lalu dia bilang alasannya: “Biar keren aja…”

Nnggg? Sesederhana itu?

Lantas dengan santai dia bilang kalau aku mikir terlalu jauh. Over-analyzing as usual. Kalau aku nggak mau ya nggak apa-apa, nggak masalah. Tidak ada urusannya dengan mengerus kepribadian atau memamerkan kekuasaan. Dan yang paling ngejedang adalah pertanyan: “Memangnya selama ini aku bersikap superior sama kamu?” Nngg…

Ya… well… nggak sih.

Abang memang bukan tipe suami yang suka memerintah. Dia tidak merasa rendah dengan mengerjakan pekerjaan rumah. Dengan senang hati dia mencuci piring dan membantu memasak. Pergi ke pasar sendiri untuk beli sayur atau menyiram bunga. Seringkali, jika aku sedang banyak kerjaan, dia akan membiarkan aku di depan komputer seharian sementara dia menyelesaikan urusan rumah. Dan yang terpenting, dia selalu memperlakukanku dengan hormat dalam segala hal. Nggg… ya gitu deh.

Selain itu, dia tidak percaya bahwa aku akan ‘hilang tergerus’ hanya karena berganti nama. Hal-hal seperti itu hanya akan terjadi jika aku sendiri yang mengizinkannya. Abang percaya dengan kemampuanku, dan pastinya dia tidak akan membiarkan hal sedemikian terjadi. Emmm…

Jadi aku rasa aku memang overreacting, seperti biasa. A rose is a rose is a rose, right? Terlepas dari alasannya yang terlalu sederhana, sepertinya tidak ada salahnya juga meletakkan namanya di belakang namaku. Ngg… terdengar, ehm, keren juga… hihihih…

Jadi, sodara-sodara. Perkenalkan: Dinda Jouhana Ismail 😀