Category Archives: Other

Finding Iphone

Handphone-ku hilang Selasa lalu. Walaupun sebagian besar data tersimpan di icould, tapi foto-fotonya tidak. Semua foto sejak awal tahun 2018 masih di dalam, dan belum aku backup. Namun, dengan segala keajaiban, akhirnya handphonenya bisa ketemu lagi! Jadi begini ceritanya (agak panjang nih, biar mirip cerita detektif :D)

Temanku, Galuh dan anaknya Daya sedang menginap di rumah. Rencananya, kami akan merayakan Ulang tahun Daya pada hari Pilkada lalu. Sederhana saja, dengan Malik dan teman-temannya di komplek. Tapi, Daya sudah minta kuenya special, dengan karakter Hansel dan Gretel. Jadilah Galuh heboh mencari bakery yang bisa membuatkan sejak jauh-jauh hari, dan ketemunya di Serpong.

Sehari sebelum acara, kami berempat nyetir ke Serpong untuk menjemput kue. Karena dekat banget dari IKEA, setelah mengambil kue kami melipir kesana. Makan, dan liat-liat furniture (yah, beli printilan juga sih akhirnya ahahah!). Aku masih sempat memotret anak-anak di area gudang IKEA dengan handphone-ku, sebelum kami membayar belanjaan. Saat selesai sekitar jam 5 sore, ternyata di luar hujan deras. Jadilah Galuh dan anak-anak menunggu di pintu, sementara aku mengambil mobil yang terparkir jauh di luar, di bagian yang tidak ada atap.

Aku lari-lari menembus hujan menuju mobil, lalu langsung menjemput Galuh dan anak-anak di pintu dan kami langsung mengarah pulang. Di tengah jalan, aku meminta Galuh mencarikan handphoneku di tas. Tapi nggak ketemu. Udah mulai deg-degan, tapi masih berharap nyelip-nyelip di bawah kursi. Mau langsung log in ke icloud tidak bisa, karena handphone Galuh Android. Aku minta tolong Galuh untuk me-whatsapp si Abang karena dia tau password icloud-ku. Tapi abang sedang kerja dan pesannya tidak terbaca. Alhasil kami harus sabar menunggu sampai rumah untuk ngecek dari macbook.

Saat tiba di rumah, aku langsung login icloud dan ngecek Find My Iphone. Terlihat handphone-ku berada di daerah Cinere! Waktu menunjukkan jam 7 malam dan langsung aku lock menggunakan Lost Mode. Dengan Lost Mode, aku juga mengirimkan pesan ke handphone itu untuk menghubungi nomor Galuh, sambil kami terus menerus berusaha menelepon, yang tidak diangkat-angkat juga.

Anehnya, dari Cinere, handphone itu terus bergerak ke Selatan hingga berhenti di daerah Parung, Bogor sekitar jam 9 malam. Kalau HP itu hilang di IKEA, ia sudah menempuh jarak hampir 60km! Aku masih terus berusaha menelepon sampai akhirnya handphone itu offline menjelang jam 11 malam.

20180629 IMG_6411

20180629 IMG_6449a

Beberapa foto terakhir sebelum handphone-nya hilang 🙁

Besoknya, hari Rabu adalah hari Pilkada, dan juga acara ulang tahun Daya. Jadi, tidak mungkin juga untuk keluar rumah. Apalagi lokasinya juga sekitar 60km dari rumahku. Jadilah hari itu aku hanya sempat keluar ke mall yang tak terlalu jauh dari rumah di sore hari, membeli handphone baru dan mengganti kartu di Grapari. Alhamdulillah prosesnya cepat, sebab Malik aku tinggal di rumah dengan Galuh.

Hari Kamisnya, aku berencana pergi ke lokasi handphone tersebut (yang juga masih offline). Awalnya Galuh berencana untuk kembali ke Bandung bersama suaminya. Tapi, dengan baiknya mereka mengantar aku ke lokasi, karena takut juga pergi sendirian dengan kondisi seperti itu. Kamipun jalan sekitar jam setengah dua siang.

Lokasinya ternyata berada di daerah perkampungan, dibelakang sebuah kompleks besar di daerah Parung. Jalan masuknya masih tanah, dan hanya muat satu mobil. Akhirnya aku parkir di jalan besarnya, menumpang di depan toko air minum, sambil tanya-tanya sama pekerjanya.

Sementara Malik dan Daya dijaga suami Galuh, aku dan dan Galuh menyusuri jalan kecil itu, menjumpai orang-orang yang sedang berada di luar rumah. Yah, namanya juga mantan wartawan, masih ada lah skill dan keberanian buat nanya-nanya orang asing dan menjelaskan maksud dengan bahasa sesederhana mungkin.

20180629 IMG_0047

Jalan masuk ke lokasi terakhir handphone terlihat

Awalnya, kami mendapatkan tatapan curiga penuh prasangka. Kami sempat berhenti di sebuah warung dan menjelaskan kepada mbak penjaga warung. Tak lama, beberapa orang datang ke warung dan aku kembali menjelaskan panjang lebar. Yang awalnya curiga, sepertinya berubah jadi kasian melihat kami. “Wah, rumah mbaknya di Cibubur? Jauh amat!”, “Jadi jauh-jauh kemari nyari henponnya?”, “Kok tau henponnya ada disini?”. Dan beberapa pertanyaan lain seputar itu. Begitupun, taka da yang tau. Aku lalu memberikan nomer kontakku dan berpesan akan ada imbalan, siapa tau besok-besok gossip telah beredar di kampung itu dan aku dapat informasi.

Kami meneruskan pencarian. Beberapa meter dari warung itu, ada sebuah warung jajanan anak yang lebih kecil yang letaknya di halaman sebuah rumah. Ada seorang bapak sedang bakar sampah di depannya dan aku bertanya padanya. Dia menjawab tidak tau menahu. Tapi ditengah percakapan, seorang mbak-mbak (mungkin usia kuliah gitu) mendekati dan bertanya, “Handphone Iphone ya? Warnanya putih gitu?” lalu ia menunjukkan sebuah foto di handphone-nya: ITU FOTO HANDPHONEKU!!!!

“Bapak saya ketemu handphonenya, tapi baterenya habis. Dan nggak ada charger yang cocok. Jadinya nggak bisa telepon. Tadinya mau beli charger, tapi nggak ketemu.” Ia menjelaskan. Lalu, ibunya si Mbak – yang ternyata adalah empunya warung kecil itu – keluar dari rumah. “Wah, handphonenya dibawa Bapak. Saya cari di lemari nggak ada,” katanya.

Si Mbak berusaha menelepon Bapaknya, menggunakan handphoneku, tapi nggak diangkat. “Bapak baru pulang malam. Nanti kemari aja lagi, atau besok pagi,” katanya sambil kami bertukar nomor dan berjanji untuk saling mengabari.

Akupun pergi. Kami lalu makan tak jauh dari situ. Tapi ternyata, saat makanan baru datang, si Bapak mengabari bahwa ia sudah di jalan pulang! Akhirnya aku berpisah dengan Galuh yang akan langsung pulang ke Bandung, dan balik lagi ke lokasi rumahnya berdua dengan Malik.

Setibanya di sana, si Bapak sudah menunggu dan ia mengembalikan handphoneku. Ternyata si bapak adalah driver dan dia sedang mengantar bosnya ke IKEA. “Saya ketemu handphonenya di parkiran, basah-basah kehujanan,” katanya. “Saya lihat kok, ibu lari-lari masuk mobil, karena saya parkirnya di ujung. Tapi waktu itu belum tau ada handphone jatuh. Pas saya mau jalan, baru saya lihat ada handphone jatuh. Saya ambil lalu saya taro di belakang mobil. Soalnya nggak enak juga teleponan sambil bawa bos saya,” jelasnya panjang lebar. Yang terjadi kemudian adalah handphonenya habis batre dan mereka tak punya charger, persis seperti yang dikatakan anaknya sebelumnya.

Dengan bahagia aku memberikan imbalan untuknya, dan lalu pamit pulang sebelum hari gelap, menempuh 60 km lagi untuk sampai ke rumah. Alhamdulillah, handphone dan semua foto-foto yang ada di dalamnya kembali lagi.

 

Processed with VSCO with f2 preset

Sebenernya ini kali ketiga aku kehilangan handphone. Dua sebelumnya dengan handphone lama. Dan ajaibnya, semuanya kembali. Yang pertama terjadi saat aku dan abang mengunjungi rumah kami yang sedang di renovasi. Sepertinya memang ada orang yang berniat mengambil dan menyembunyikannya di tempat yang tak terduga dalam rumah. Tapi, alhamdulillah, ditemukan oleh si abang.

Yang kedua juga kasusnya mirip dengan ini. Hanya saja saat itu aku sedang di Medan, dan lokasinya tak jauh dari rumah papa. Kejadiannya juga saat hujan, dan handphone jatuh saat buka pintu mobil dan ditemukan oleh anak-anak yang sedang mandi hujan. Aku dan papa sempat menyusuri rumah dalam gang-gang. Si anak tak menjawab panggilan karena takut dimarahi, katanya.

I think i’m one lucky girl. And God loves me that much :’) Lalu toyor kepala sendiri dan berjanji (lagi!) untuk nggak ceroboh.

Kalian pernah kehilangan handphone dan kembali?

Gerhana Matahari

Seumur-umur, baru kali ini melihat dan memperhatikan gerhana. Berbekal kacamata yang dibeli online baru hari senin lalu – walaupun mesti bayar 60 ribu untuk kacamata yang hanya terbuat dari kertas tipis plus ongkos kirim paket sehari sampai, hiks banget deh! – aku menikmati Gerhana Matahari Total di depan rumah saja. Walaupun Jakarta dan sekitarnya hanya kedapatan 88%, tapi cuaca sangat cerah dan matahari terlihat sangat jelas. And it’s very very beautiful…

 

GMT20160309Jakartabydinda

 

Tuhan Sungguh Maha Besar. Allahu Akbar.

Total Solar Eclipse, March 9th, 2016

 

 

Freeletics!

Oke, jadi sejak tulisan soal keren-nggak keren itu, aku semakin kepikiran untuk kembali berolahraga. Paling nggak, pengen badan lebih sehat lah. Kali aja kalo lebih banyak oksigen masuk ke kepala bisa nggak terlalu oon lagi, heheheh.

 

Sekitar dua tahun sebelum hamil BabyM, aku dan abang cukup rajin olahraga. Kami punya membership di sportclub yang letaknya di seberang cluster rumah. Fasilitasnya lumayan lengkap. Ada gym, kelas-kelas yoga, aerobic, dan sebagainya, kolam renang, juga lapangan olahraga seperti bulutangkis, tennis dan basket. Dan yang penting, kamar mandinya juga bersih banget. Walaupun kami hanya menggunakan gym dan kolam renang, tapi hampir setiap hari kami olahraga di sportclub. Ya bisa jadi, gaya hidup sehat kami (dan pasrah tingkat tinggi juga sih, hahaha) waktu itulah yang membuat aku bisa hamil dengan sehat dan melahirkan BabyM.

 

Namun, sejak ada BabyM, olahraga ke sportclub itu tentunya tidak lagi jadi pilihan. Ya anaknya mau dititipin ke siapa? Dulu, waktu BabyM masih bayi banget dan masih bisa didorong di stroller, aku selalu menyempatkan jalan pagi keliling cluster. Kadang-kadang sambil lari-lari kecil. Dan kalau dia tertidur, aku bisa melakukan peregangan dikit-dikit. Tapi makin kesini, mencari waktu untuk olahraga itu susah sekali.

 

Saking pengennya kembali olahraga, aku membeli running outfit pas ulang tahun kemarin. Niatnya, aku mau lari aja. Lari kan cukup gampang. Dan nggak usah lama-lama juga bisa. Mumpung abang lagi cuti, ya udahlah, dimulai saja. Kalau nanti dia pergi kerja lagi, palingan aku berhenti dulu larinya, heheheh….

 

Tapiii… ternyata tetep ajah! Susah bok, nyari waktunya. Apalagi harus juga bergantian dengan si Abang yang jadwal larinya pagi-pagi. Hiks. Olahraga apa sih, yang bisa dilakukan dimana aja, nggak usah ribet pake alat, nggak usah pake membership, nggak usah lama-lama, tapi tetep bikin sehat?

 

“Kamu coba ini deh,” kata si Abang sambil nunjukin henponnya. Ada apps olahraga, namanya Freeletics.

freeletics web

 

Awalnya aku skeptis. Aku pernah coba apps olahraga macam NTC (Nike+ Training Club), tapi yang ada aku bolak-balik liat henpon, karena lupa rangkaian gerakannya gimana. Belum lagi kalau loadingnya lama. Udah keburu turun moodnya.

 

Nah, si Freeletics ini ternyata gampang banget! Nggak perlu ruangan gede untuk melakukannya. Nggak perlu lama-lama juga. Satu workouts routine hanya ada tiga gerakan aja. Itu diulang-ulang sampai beberapa kali, tergantung level kita: apakah pemula, standar, atau yang mahir. Routine-nya juga ada beberapa macam. Kalau mau lebih banyak model, dan mau pakai coach, bisa juga. Harga yang termurah untuk 3 bulan coaching adalah Rp. 500ribu. Untuk aku sih, coba yang gratis aja lah dulu yaaaa…

 

Aku baru coba tiga kali sih, hehehe *baru tiga kali aja udah semangat banget bikin review, din!* Dan aku masih coba satu routine yang diberi nama Athena. Dalam routinenya ada tiga gerakan, yaitu Climber, crunches dan squats. Untuk level yang paling ringan, gerakannya adalah 25x climber, 25x crunches, 25x squats dan 25 detik istirahat. Lalu dilanjutkan dengan 20x ketiga gerakan dan 20 detik istirahat. Kemudian 15x, 10x dan 5x. Saat melakukan workout ini, kita harus ngidupin timer-nya. Jadi berapa lama waktunya akan terekam. Di percobaan pertama aku nggak sanggup buat coba full. Di percobaan kedua, aku bisa coba full, dengan waktu 12 menit 20 detik (tentunya dengan kaki rasanya kayak ager-ager!). Dan percobaan ketiga, aku bisa 11 menit 33 detik. Yay! Walaupun olagraganya nggak sampe 15 menit, jangan tanya keringet dan capeknya ya. WOW banget deh pokoknya!

 

Hal lain yang aku suka dari freeletics ini adalah caranya memotivasi. Lihat deh, greeting-nya yang dikirim ke email saat pertama bergabung:

Athlete. Welcome to Freeletics. You are not bound by a gym, machines or weights. You are free to work out anytime and anywhere. This is one of the main principles behind Freeletics. Tough. Together. Free. Freeletics focuses on short and efficient high intensity workouts that make sure you become more athletic than ever. You are now a Free Athlete. First off, take a photo of yourself. In a few weeks you’ll already change and you’ll want to see the difference. Train like an athlete to look like an athlete.

 

Boookkk… belum mulai aja, aku udah berasa jadi atliiittttt, hkahakhakahakha! Kalo gini kan jadi semangat yaaaa! Selain itu, tampilan apps-nya mirip facebook gitu, kita bisa saling follow teman dan lihat (semacam) status update atau foto-foto orang-orang lain yang berlatih. Buatku, ini lumayan jadi motivasi tambahan.

freeletics workout Hari minggu lalu nyobain freeletics di taman, sambil main sama BabyM. Foto diambil oleh si Bapak.

 

Pengennya, kedepan aku pengen terus nulis pengalaman ber-freeletics ria. Nggak, bukan karena pengen pamer-pamer olahraga. Tapi lebih kepada menjaga komitmen diri sendiri. Kalo udah nulis begini, kan pasti mikir beberapa kali kalo mau berhenti. Malu lah sama tulisan sendiri, hihihihi! Paling nggak jadi motivasi tambahan lah ya. Mudah-mudahan ini adalah awal yang baik buat hidup yang lebih sehat ya!

 

Ps: kalau ada yang ikutan freletics juga, saling follow yuk, biar semangat, hehehehe!

ProjectLove: Undangan untuk menghabiskan sore bersama

Teman-teman tersayang…

Sejak buku ‘mail-a love letter’ mulai diluncurkan ke publik, aku merasa benar-benar berbeda. Meskipun ini adalah project kecil yang sederhana, ia ternyata menyentuh banyak hati. Aku terharu menerima respon yang begitu tulus. Aku mendapatkan banyak teman baru, mereka yang mengirimkan email, menghubungi lewat facebook, bahkan menelepon! Tidak hanya itu, aku juga mendapatkan review-review yang membuat mata tiba-tiba memanas dan hati menghangat, serta pesan-pesan penuh apresiasi dan menyemangati. Bahkan, ada yang menghubungi untuk curhat, hal yang membuat geli sekaligus tersanjung :D. Terimakasih ya!

Untuk itu, dengan penuh sukacita, aku mengundang kalian semua untuk berbagi kebahagiaan. Kita bisa menghabiskan Sabtu sore bersama-sama. Ngobrol, ngemil dan menikmati foto-fotoku yang diambil dari buku “mail-a love letter”. Yang mau curhat, juga dipersilahkan loh 😀 Aku tunggu yaaa!

 

Galeri Foto Jurnalistik Antara dan Dinda Jouhana mempersembahkan:

“mail-a love letter”
pameran foto dan peluncuran buku oleh Dinda Jouhana

di
Galeri Foto Jurnalistik Antara
Jl. Antara no. 59 Pasar Baru, Jakarta 10710
Telp/Fax 021 3458771 |
www.gfja.org | @galeriantara

PEMBUKAAN*
“an intimate afternoon”
23 November 2013, Jam 16.00

DISKUSI*
“Mewujudkan Personal Project”
30 November 2013 Jam 15.00

PAMERAN
23 November – 3 Desember 2013
Jam 09.00-21.00 WIB

TERBUKA UNTUK UMUM. GRATIS!

*Buku di jual dengan harga khusus Rp 135.000, saat acara Pembukaan dan Diskusi.

 

Promo blog

Lupus.

Di bawah ini adalah tulisan dari seorang teman yang sering aku panggil dengan sebutan Kak Yen. Kami berkenalan pada saat aku kuliah dulu. Pada awal tahun 2000-an, aku menjadi volunteer di sebuah organisasi non-profit yang menyoal heritage di Medan dimana Kak Yen adalah salah seorang staf disitu.

Ketika dokter ‘memvonis’ aku menderita kelainan autoimun beberapa bulan lalu, dan karenanya harus menjalani berbagai
treatment hormon jika aku ingin hamil, Kak Yeyen menjadi tempat bertanya yang dapat diandalkan. Ia juga menenangkan. Meskipun ‘penyakitku’ tidak sampai taraf lupus, mudah-mudahan kita semua bisa mengambil manfaat dari cerita Kak Yeyen.
 

Sekarang, kondisi Kak Yeyen sudah sangat baik. Ia baru saja melahirkan seorang putri. This is a really happy ending story 🙂

From Blog

***

Nama saya Yenny Rahmayati biasa dipanggil Yeyen, wanita, umur saya saat ini 34 tahun. Saya sudah hidup dengan lupus lebih kurang 8 tahun. Awalnya sekitar akhir 2002 saya mengalami gejala-gejala awal lupus seperti sendi-sendi yang sakit dan bengkak memerah, rambut rontok, kelelahan yang berkepanjangan, demam yang tidak kunjung reda dan berat badan yang terus menurun drastis. Meskipun beberapa orang teman menduga saya lupus tapi karena pengetahuan yang minim saya tidak menyadari kalau itu adalah tanda-tanda lupus.

Sejak itu beberapa kali saya drop dan sempat keluar masuk rumah sakit dengan diagnosa yang selalu sama, ‘typhoid’ atau tifus dan diberi treatment untuk tifus dengan antibiotik dosis tinggi. Hingga akhir Agustus 2003, setelah 25 hari dirawat di rumah sakit dengan kondisi yang semakin menurun, akhirnya dokter mengkonfirmasi bahwa saya terserang penyakit autoimmune SLE (systemic lupus erythemathosus) atau yang biasa dikenal dengan lupus.

Tidak ingin kebobolan untuk kedua kalinya karena tidak berusaha mencari tahu tentang penyakit yang saya alami, maka kali ini, setelah dinyatakan positif SLE, saya berusaha mencari info tentang SLE sebanyak-banyaknya, baik dari internet, buku dan sumber-sumber lainnya. Tujuannya adalah supaya saya mengerti penyakit saya dan turut andil dalam proses penyembuhan saya nanti. Dukungan keluarga dan teman juga sangat membantu dalam hal ini.

Karena kondisi yang sudah lumayan parah dengan kebocoran ginjal +4, radang sendi, pneumonia, infeksi di beberapa organ tubuh, serta masalah hematologi hingga harus transfusi darah beberapa kali, maka setelah dipastikan SLE, saya langsung ditreatment dengan steroid dosis tinggi. Lebih kurang 6 bulan kemudian perlahan saya kembali sehat dengan efek samping steroid yang umum, weight gain dan moon face.

Setahun kemudian kondisi saya kembali normal dan kembali memulai aktifitas bekerja seperti dulu lagi layaknya orang sehat tanpa banyak keluhan kecuali sedikit nyeri-nyeri sendi dan fatigue atau kelelahan yang berkepanjangan apabila melakukan aktifitas fisik yang berlebihan. Saat itu saya sudah tidak mengkonsumsi steroid lagi tapi digantikan dengan Arava (Leflunominade).

Dua tahun setelah remisi, saya mendapat beasiswa dari pemerintah Australia untuk melanjutkan studi master degree ke Canberra. Ternyata kedatangan saya tepat pada saat peak winter Canberra yang berkisar antara minus 15 hingga 0 derajat celcius itu tidak mampu ditahan oleh tubuh saya. Lupus saya ‘berontak’ kambuh dan menyerang sendi hips/pinggul yang mengharuskan saya kembali ke tanah air dengan menggunakan kursi roda. Akibatnya saya terpaksa menyelesaikan final project saya di Indonesia dan akhirnya menamatkan studi saya secara jarak jauh.

Setahun lebih saya menggunakan kursi roda dan kruk, tapi itu tidak menghalangi aktifitas saya untuk melanjutkan studi dan pekerjaan. Meskipun harus ditopang kursi roda dan kruk saya tetap melanjutkan perkerjaan saya di beberapa lembaga sambil menyelesaikan final project dan kuliah jarak jauh saya.

Saya sempat beradu pendapat dengan pihak sponsor beasiswa yang awalnya nyaris membatalkan beasiswa saya, karena menganggab kondisi saya tidak memungkinkan saya untuk menyelesaikan studi. Tapi akhirnya saya bisa meyakinkan mereka kalau saya mampu menamatkan studi walapun dengan kesepakatan living cost saya distop dan hanya tuition fees yang tetap dibayar oleh pihak sponsor. Karena itulah saya harus tetap bekerja sambil sekolah sekaligus meneruskan pengobatan untuk kesembuhan penyakit saya.

Akhirnya saya bisa membuktikan kata-kata saya ke pihak sponsor untuk menyelesaikan studi tepat waktu secara jarak jauh bahkan lulus diluar perkiraan saya sendiri dengan predikat First Honour Class graduate dengan High Distinction grade dan mendapat penghargaan dari Vice Counselor The Australian National University (ANU), Canberra. Alhamdulillah, saya anggab ini mukjizat dari Allah.

Sekitar setahun kemudian saya mulai bisa berjalan tanpa kursi roda dan kruk meskipun dengan gerakan yang sangat terbatas dan tidak normal lagi. Beberapa dokter ahli tulang menyarankan saya untuk melakukan total hips replacement surgery tapi saya menolak dengan pertimbangan umur saya masih terlalu muda untuk menjalani total hips replacement yang hanya bertahan 10-15 tahun.

Kemudian saya mendapatkan informasi tentang Dokter John Darmawan di Semarang dengan John Bridge Therapy-nya. Sebuah teknik yang berbeda dari teknik konvensional untuk pengobatan penyakit-penyakit autoimmune termasuk SLE dan RA (Rheumathoid Arthritis). Sebenarnya saya sudah pernah mendengar nama beliau sejak beberapa tahun yang lalu, tapi saat itu masih banyak yang belum merekomendasikan cara ini karena terlalu berisiko, tidak konvensional dan mahal.

Dengan info awal tersebut saya mulai melakukan penelusuran informasi tentang John Bridge Therapy (JBT) selama beberapa bulan terutama melalui internet termasuk mencari testimoni pasien-pasien yang telah menjalani JBT dan berkonsultasi langsung dengan Dr. John, baik melalui email maupun telepon. Beliau konsen merespon pertanyaan-pertanyaan saya yang kritis padahal belum tentu saya mau menjalani JBT, tapi beliau dengan gamblang meladeni saya layaknya saya sudah menjadi pasien beliau.

Terus terang saya terkesan akan hal ini, pengalaman saya selama sakit dan berkonsultasi dengan berbagai dokter benar-benar berbeda saya rasakan dengan Dokter John. Ketika sebagian dokter memberikan informasi seadanya dan tidak mampu menjawab rasa penasaran dan haus informasi saya, Dokter John justru memberikan apa yang saya harapkan.

Setelah merasa informasi yang saya butuhkan sudah cukup, saya mantapkan niat untuk menjalani JBT. Alasan utama saya adalah, saya kapok dengan treatment konvensional steroid yang efek samping jangka panjangnya justru lebih beresiko seperti high blood pressure, kolesterol tinggi, osteoporosis, dan lain sebagainya. Alasan lain adalah karena saya mendapatkan beasiswa lagi untuk melanjutkan study S3 ke Singapura dimana saya harus hidup normal secara mandiri tanpa bantuan keluarga. Untuk itu saya harus sehat supaya kejadian beberapa tahun lalu di Australia tidak terjadi lagi.

Tapi niat saja belum cukup, saya harus mengumpulkan uang terlebih dahulu agar pengobatan saya tidak sia-sia berhenti ditengah jalan karena kekurangan biaya. JBT memang cukup memakan biaya karena jenis obat-obatan immunosupresan yang digunakan memang termasuk golongan obat-obatan mahal.

Saya mencari pekerjaan tambahan untuk biaya pengobatan karena selain untuk biaya pengobatan, saya juga harus menyiapkan additional cost seperti tiket dan living cost selama terapi di Semarang yang jelas bisa sangat menyita budget. Juga persiapan biaya untuk follow-up treatment selama 2 tahun setelah terapi intensif. Biaya tambahan inilah yang menjadikan biaya JBT menjadi sedikit lebih mahal dari pengobatan umumnya yang bisa dilakukan dimana saja, tidak mesti di Semarang.

6 bulan sejak mulai dari mendapatkan info tentang JBT, saya merasa tabungan saya sudah cukup, dan pada awal Nopember 2008 saya memulai treatment intensif JBT di Semarang selama lebih kurang 1 bulan. Pada saat itu, selain mengobati SLE saya, terapi juga dilakukan untuk memulihkan manifestasi-manifestasi yang sudah disebabkan oleh steroid dan progress dari lupus itu sendiri selama 7 tahun terakhir dengan kasus utama osteonecrosis (sendi yg mati) di bagian hips (kanan dan kiri), osteoporosis (pengapuran tulang) dan fibromialygia (pengkerutan otot) yang menyerang hampir di seluruh bagian kaki dan sebagian lengan saya.

2 bulan setelah terapi intensif di Semarang, saya berangkat ke Singapura untuk melanjutkan studi dengan tetap berkonsultasi via email dengan Dokter John. Beliau menunjuk salah satu rekannya di Singapura in case of emergency. Sejak menjalani JBT dan steroid dilepas sama sekali, saya tidak mengkonsumsi obat-obatan harian lagi kecuali suplemen dan obat bulanan untuk penguatan tulang. Sejak itu saya bisa hidup normal layaknya orang sehat tanpa penyakit dengan tetap menjaga kondisi tubuh terutama menjaga pantangan seperti paparan sinar matahari, stress dan pekerjaan fisik yang bisa menyebabkan kelelahan.

Sayangnya bulan-bulan pertama penyesuaian hidup sendirian di Singapura dan jauh dari bantuan orang tua/keluarga, merupakan masa-masa yang sangat berat buat saya. Kondisi ini membuat fisik saya melemah dan lupus saya menunjukkan tanda-tanda flare (kambuh). Ditambah lagi stress menghadapi diskriminasi yang saya alami di kampus saya, bukan justru stress karena masalah akademis yang saya jalanin penuh excitement.

Tampaknya SLE masih menjadi kasus langka bahkan di negara maju seperti Singapura sekalipun. Kurangnya informasi tentang SLE dan pengobatannya membuat pihak kampus menjadi khawatir akan kemampuan studi pasien lupus sehingga secara tidak langsung mereka jadi menciptakan diskriminasi. Saya tidak tahu pasti apakah kondisi ini juga dialamin oleh student-student dengan penyakit kronis lainnya seperti diabetes.

Tapi berkat dukungan para supervisor yang sangat supportive, saya bisa bertahan hingga saatnya saya kontrol kembali ke Semarang 6 bulan kemudian yang ternyata hasil check-up saat itu menunjukkan perkembangan yang memuaskan. Kepadatan massa tulang bertambah 11-18%, LED, VAS and hs-CRP yang menjadi indicator kontrol JBT menunjukkan angka penurunan yang signifikan mendekati angka remisi. Tampaknya tubuh saya merespon JBT dengan sangat baik. Alhamdulillah…

Selama menjalani JBT, saya bukan hanya merasa sebagai pasien tapi juga sebagai murid yang sedang belajar ilmu baru tentang penyakit saya sendiri. Dokter John secara terbuka menjelaskan tentang JBT dan mau meladeni diskusi dengan saya yang memang dilanda rasa ingin tau yang tinggi. Penasaran sekaligus ingin berpartisipasi aktif untuk pengobatan diri saya sendiri supaya hasilnya lebih maksimal.

Kontrol-kontrol selanjutnya juga terus menunjukkan hasil yang significant. Saya senang dengan hasil yang saya capai sampai saat ini. Tapi saya sadar perjalanan menuju kesembuhan total masih harus terus dilanjutkan karena apa yang saya raih baru sebagian dari proses itu dan saya tidak boleh cepat berpuas diri, dan tetap harus terus semangat dan optimis.

Sekarang saya masih melanjutkan studi Ph.D saya bidang arsitektur di National University of Singapore sampai 2.5 tahun ke depan. Saya optimis bisa menyelesaikan studi saya hingga selesai nanti dengan dukungan Dokter, keluarga, teman-teman, dukungan dari diri saya sendiri dan terutama dengan dukungan kasih sayang Allah yang tidak henti-hentinya buat saya..Subhanallah…

***