Category Archives: Photography

Buku Tahunan Keluarga 2015

Alhamdulillaaaaahhh…. Setelah berbulan-bulan setres sendiri, milihin ribuan foto sampe mata nanar, mikirin alur cerita sampe bingung, mendesain halaman dengan kemampuan seadanya… akhirnya buku tahunan keluarga kami untuk tahun 2015 sudah kelar, SUPERYAY!

Inilah dia penampakannya…

yearbook201501

Eaaa… cover-nya nggak nahaaannn 😀 Album tahunan ini terdiri dari dua buku yang diberi judul “2015: The Traveling Year”. Buku Satu yang tebalnya 208 halaman, berisi 306 buah foto keluarga kami sepanjang Januari hingga Juli 2015. Sedangkan Buku Dua tebalnya 224 halaman, berisi 308 buah foto dari Agustus hingga Desember 2015.

yearbook201502

Dibandingkan dengan buku tahunan sebelumnya (2014) yang aku buat pertama kali, buku tahunan 2015 ini jauh lebih baik dari sisi penceritaan. Kalau tahun lalu aku hanya mengikuti kronologis foto dan memberikan caption seadanya, di tahun ini aku membuat semacam pembatas tiap bulannya dan bercerita apa saja yang terjadi pada bulan itu.

yearbook201503

Dari segi desain tata letak, yah… mendingan sih dari buku sebelumnya. Hanya saja tetap masih ada ruang-ruang perbaikan untuk tahun depan. Ya habis gimana ya, aku nggak bisa dan nggak punya software desain di computer. Jadi menggunakan apa yang ada aja: ngerjainnya pakai pakai photosop. Yang CS5 pula. Hahahah!

yearbook201505

Secara keseluruhan, aku senang sekali dengan buku tahunan ini. Saking senangnya, malah untuk tahun 2016 sudah mulai dicicil pengerjaannya. Buatku, ini bukan hanya sekedar kumpulan foto, tapi merupakan dokumentasi penting keluarga kami: apa yang telah kami lakukan, siapa-siapa yang kami temui serta bagaimana perkembangan milestone BabyM. Buku ini juga jadi sumber bahan belajar buat BabyM. Dengan menunjukkan foto-foto di dalamnya, BabyM sudah bisa mengingat apa yang pernah dia lakukan dan bisa menceritakan kembali pengalaman tersebut.

Bukan hanya itu, buku ini juga kami cetak sebanyak tiga set. Satu set untuk di rumah, satu set untuk Atok dan Nenek BabyM di Medan dan satu set lagi untuk Nyaksyik BabyM di Aceh. Buku ini sangat membahagiakan buat mereka. Mengingat jarak yang jauh, buku ini seolah-olah membuat mereka tidak ketinggalan hal-hal yang terjadi pada cucunya.

Bagi teman-teman yang ingin membuat buku tahunan semacam ini, berikut ini ada sedikit “tips”.

1. Memilih foto adalah pekerjaan yang paling berat dari keseluruhan pekerjaan, jadi cicil dari sekarang! Contohnya nih ya, untuk bulan November, saat kami roadtrip menyusuri pantai barat Jawa, aku punya sekitar 2500an foto. Dan aku harus peras-peras otak untuk akhirnya bisa memilih 100 foto. Dan itu hanya November doang. Secara keseluruhan, sepertinya foto keluarga kami dalam setahun itu ada sekitar 8000an foto *tenggelam di lautan foto*

yearbook201504

2. Masukkan foto yang bervariasi. Mengingat bukunya lumayan tebal, fotonya jangan hanya foto kita sekeluarga melulu. Masukkan juga foto suasana dan detail, atau foto dengan angle berbeda agar yang baca tidak bosan. Misalnya, acara ulang tahun anak. Selain foto seluruh keluarga bersama kue, masukkan juga foto dekorasi, foto hadiah, foto close up anak sedang meniup lilin, foto tamu dan foto ruangan secara keseluruhan. Dengan begitu, foto-foto akan lebih “bercerita”.

yearbook201508

3. Buat desain halaman yang rapi dan bersih. Tidak perlu terlalu banyak foto dalam satu halaman. Model desain seperti ini klasik dan bertahan lama dibandingkan dengan model desain yearbook sekolahan.

yearbook201507

4. Cari tempat mencetak dan minta jilid benang. Penjilidan model ini lebih cocok untuk buku yang isinya banyak foto sehingga halamannya bisa terbuka lebih lebar. Begitupun, aku harus mengingatkan bahwa tidak banyak percetakan yang mau menerima jilid benang satuan.

Mudah-mudahan membantu ya! Selamat membuat buku tahunan juga! Kalau udah buat, kabar-kabarin yaaaa!

Abangku Menikah!

Saat menikah lima tahun lalu, bisa dibilang aku tidak berperan banyak untuk menyiapkannya. Namanya juga menikah hit-and-run yang super singkat (yak, dalam 10 hari saja!). Jadi, tidak punya kemewahan untuk menentukan jenis undangan, model kebaya, makanan catering, apalagi memilih fotografer.

Saat itu, semua keluarga bahu-membahu mengerjakan proyek ala bandung bondowoso itu. Jadi aku hanya tahu beres. Bahkan aku sempat “diancam”: pokoknya jangan minta macam-macam! Aku ya nurut, salah sendiri menikah dadakan!

Tapi, bulan Mei kemarin aku ‘akhirnya’ punya kesempatan untuk ngurusin pernikahan. Abangku satu-satunya, Bang Kanda, menikahi pacarnya, Denita. Yay! Jiwa ‘bridzilla’ yang terpendam akhirnya tersalurkan! Yang pasti, aku tidak berubah jadi monster-in-law bagi kakak iparku kok (eh, iya nggak ya? :P) Soalnya keluargaku, bahkan keluarga besar dari pihak mama dan papa juga senang banget si Bang Kanda akhirnya menikah. Jadi semuanya terkesan santai dan menyenangkan.

Sebelum aku tiba di Medan, si mama menyiapkan macam-macam dibantu oleh kakakku tersayang, Yuli. Tapi begitu aku datang, huuu… Yuli langsung deh kegirangan tugasnya jadi ringan. Dia jadi bebas dan bisa mengurus kepindahannya ke Jogja (mudah-mudahan nggak dijitak kalau dia baca ini!)

Pada awalnya tidak banyak yang dikerjakan. Aku ‘hanya’ didaulat untuk memotret. Tapi, saat diputuskan kami juga menggelar acara ‘ngunduh mantu’ yang sederhana di rumah, otomatis harus menyiapkan macam-macam juga.

Sebenarnya tugasku tidak terlalu banyak. Aku bertanggung jawab atas souvenir, segala macam hal yang berkaitan dengan foto, menemani Bang Kanda untuk belanja-belanja baju dan printilannya, dan bantu-bantu jadi liason keluarga pas hari-h. Termasuk menjadi ‘penasehat spiritual’ semua pihak, ya mama, papa, dan calon pengantennya :D.

Overall, acaranya santai dan menyenangkan. Tamunya banyak, walaupun temanku hanya satu yang datang :D. Tapi, yang paling membahagiakan adalah melihat Bang Kanda dan Denita, senyum terus. They look so happy together.

Mudah-mudahan rumah tangga mereka penuh kasih sayang, toleransi, dan berlimpah berkah. Aku tunggu ponakan secepatnya yaaaa! (Yang ini sih ngeles biar aku dan papin nggak ‘diminta’ terus, hahahah!)

PS: ini fotonya banyak banget deeehhh! 😀

Engagement session


 hayooo… ngapain? belum sah looooh!  


karena keukeuh pengen pake baju bola, jadinya motret ke stadion aja gitu!


ganti venue


i heart u

Akad Nikah


Awww… look at that happy faces! 


Yes. Aku motret akad nikah ini pakai kebaya lengkap dengan kain. Wedding fotografer mana coba yang bisa gini? 😀


Janji suami itu harus ditepati loh bang. 


Mama. Lega. 


Oh no… the bride went crazy!


My two sisters! Love em!

Resepsi 
Karena Denita orang Jawa, jadi pakai adat jawa. Aku nggak motret banyak, soalnya udah ada fotografernya.


Kanan: mau ndalang dimana mas? OVJ ya?  Kiri: Dengan si adek dan calon mantu satu lagi *uhuk!*


My lovely family! *Papin nggak ada karena belum cuti :(*

Ngunduh Mantu


Untuk acara ini pakai baju adat Mandailing. Duuh.. i remember wearing that headpiece back then. oh, the pain!


Ini siapa yang kawin sih? Trus, kenapa kumisnya gondrong begitu? Fans Foke ya?


Sore-sore santai dan berganti baju. Baju Denita itu desainku loooh 😀


May you have beautiful journey ahead. Amin. I love you both!

Kejutan Februari!

Siapa yang suka difoto? Difotoin sama aku pula, hahahah! Dan yang pasti: GRATISSSS!!! Pasti pada mau kan? kan? kannn???

Kalo iya, yuuukk… intip blog ‘kerjaan’ ku: PERSONALÉ photo. Jangan lupa jadi Fans-nya di Facebook dengan mengklik ini.


Yaaa… itung-itung ngasih hadiah unik untuk Valentine atau Imlek ke orang yang disayang: sesi foto yang tak terlupakan, hhehehehhe!

Ditunggu yaaaaa!

Tentang membahagiakan diri

“When I loved myself enough I learned to say yes when I want to and no when I want to”

Kim McMillen

Aku memutuskan untuk berhenti dari tempat aku bekerja. Bukan sebuah keputusan spontan, ini sudah melalui proses berfikir yang cukup panjang. Tidak gampang, tapi ada kelegaan. Cukup ‘menakutkan’, tapi aku pikir ini keputusan yang terbaik.

Empat tahun lebih aku bekerja disana. Lengkap dengan suka dukanya. Belajar banyak dan juga bersenang-senang. Bersusah-susah dan banyak kenangan. It was fun.

Now, it’s time to move on.

Berbagai hal yang terjadi belakangan ini membuat aku kerap kembali ke pertanyaan itu: what do I want, really? Jika berbagai atribut yang melekat dan topeng yang menempel di tanggalkan, sebenarnya aku mau apa?

Aku mau membahagiakan diriku. Kalau aku tidak bahagia, aku tidak akan bisa membahagiakan orang lain. Aku ingin melakukan yang aku suka. Walaupun itu akhirnya harus memulai segalanya dari nol lagi. But then again, that’s the beauty of life.

Jadi, dengan bangga aku memulai yang aku suka. Sebuah project yang sudah lama ingin dimulai, dan baru kini terlaksana. Perkenalkan, my new baby:

Ia membuatku kembali bersemangat, it brings back my passion. I have big plan, and I don’t care where I will end up. But I have faith. Oh, I do have faith!

So, let’s watch it grow. Together!