Category Archives: MyWork

Kejutan Februari!

Siapa yang suka difoto? Difotoin sama aku pula, hahahah! Dan yang pasti: GRATISSSS!!! Pasti pada mau kan? kan? kannn???

Kalo iya, yuuukk… intip blog ‘kerjaan’ ku: PERSONALÉ photo. Jangan lupa jadi Fans-nya di Facebook dengan mengklik ini.


Yaaa… itung-itung ngasih hadiah unik untuk Valentine atau Imlek ke orang yang disayang: sesi foto yang tak terlupakan, hhehehehhe!

Ditunggu yaaaaa!

Yogurt Attack: We Go Global ;0)

Aku sama sekali nggak nyangka kalo Naturalé Yogurt bisa berkembang sampe sejauh ini. Pada titik ini, kayaknya aku bahkan nggak bisa mundur, apalagi berhenti. Like snowball, it grows bigger and bigger everyday!

Sehingga, dengan penuh sukacita riang gembira tralalala, kini aku bisa mengumumkan:


KAMI MENERIMA DELIVERY!

Cukup dengan pemesanan minimal hanya 8 cup aja! Tapi masih wilayah Jakarta dan sekitarnya yaaa… (Kalo bogor sih nggak apa-apa… *dadah-dadah ke bu jen* halo buuuu… special delivery nih!).

Nggak hanya itu, juga ada sistem berlanganan, 7 cups per minggu. Jadi nggak perlu repot-repot, stock yogurt selalu ada di kulkas!


Dan seiring dengan manajeman yang lebih baik, kini aku bahkan bekerja sama dengan para perempuan-perempuan hebat yang menjualkan kembali naturalé yogurt di beberapa tempat.

Salah satu perempuan hebat itu adalah Lia, keponakan abang yang bekerja di Menara Global *heheh… judul postingnya dari sini!*. Setiap Selasa dan Kamis, aku mengirimkan yogurt ke kantornya. Dengan kepiawaiannya, yogurtnya mendapat sambutannya yang luar biasa. Pastinya selalu habis bis bis!

Juga yang tidak kalah penting adalah Andin, sahabatku tersayang yang diantara tumpukan kerjaannya masih menyempatkan diri membantu dengan sepenuh hati. Ia menjadi teman brainstorming handal untuk berbagai hal. Ia, selalu bisa diandalkan memberikan masukan-masukan yang sangat berharga!

At this point, I realize that this could actually help many people. Para ibu-ibu yang menjualkan kembali yogurt ini menjadi terbantu dengan pendapatan sampingan yang lumayan, dan pekerjaan yang tidak terlalu ribet. Juga merekrut pekerja baru untuk memproduksi yogurt.

Jadi, jika ada yang berminat, atau mungkin tau orang lain yang mungkin bisa terbantu dengan memasarkan naturalé yogurt di lingkungan kantor atau rumah mereka, silahkan hubungi aku ya!

Tunggu update dan ekspansi berikutnya yaaaa! *wink*

*lambai-lambai ke mbak CK, mas wahyu, ipied, dewi (hoi bumil, selamat datang di ibukota!), dan kawan-kawan blogger lain yang sempet ngerasaian enaknya naturalé yogurt pas pesta blogger, ayoooo pesaaaaaaann, hahahaha!*

Yogurt Attack!

Jauh sebelum Personale photo diluncurkan – masih berupa ide, konsep, mirip angan-angan – aku membuat beberapa rencana bisnis. Rencana ‘amatiran’ ini dibuat berdasarkan hasil tanya kiri-kanan ke temen-temen yang lebih dulu berbisnis, baca-baca buku dan pengalaman orang lain, plus tanya ke diri sendiri.

Setelah meluncurkan Personale, aku kemudian mengeksekusi business plan yang lain: usaha Yogurt. Usaha ini dimulai selepas lebaran kemaren dan diberi label NATURALE – home-made yogurt, yogurt rasa buah seperti stroberi, leci, anggur, mangga dan melon.


Sebenarnya, rencana ini sudah ada sejak lama. Niat awalnya adalah membantu kakak iparku yang membuat Yogurt yang super duper enak banget (menurut aku yaaaa!) di Bandung.

Selain itu, kupikir berjualan yogurt bisa membuat aku belajar untuk bertemu langsung orang-orang. You know… doing the ‘actual’ marketing stuff yang biasanya ‘agak malu’ buat dilakukan. Yah, dengan kata lain: memperkuat mental, hahahah!

Oke, jadi wartawan juga ketemu banyak orang dan mesti siap ‘malu’. Tapi, terus terang, ada perbedaan yang BESAR antara keduanya. Jadi wartawan itu banyak previlegenya, kita ‘seolah-olah’ equal dengan nara sumber, dan selalu menempatkan diri di posisi sejajar dengan mereka. Tapi kalo jualan? Boooo… boro-boro! Kalo produk yang dijual nggak oke, dilirik juga nggak!

Serunya, Yogurt kami diterima dengan sukses! Pertama kali dibawa adalah ke acara buka puasa bersama di kompleks. Begitu bedug magrip bunyi, itu yogurt langsung abis! Lalu, aku menawarkannya ke tempat makan bubur ayam langganan aku dan abang di kompleks. Disana juga diterima dengan baik.

Sampai kemudian aku dan abang iseng bertanya ke pengurus salah satu sentra komunitas dalam kompleks yang sering rame bazaar sarapan tiap weekend. Ternyata… ada satu lagi meja kosong! Tanpa harapan tinggi kami memulai. Eeehhh… ternyata nggak sampe dua jam, semua yogurt yang dibawa udah habis!!!

Yang paling rewarding adalah melihat wajah orang-orang saat menyeruput yogurt: kayaknya menikmatiiii banget. Terus senyum sumringah dan bilang, “Enaaakk..!”. Wah, itu rasanya luar biasa! Yang ada si abang selalu ‘ngeledek’, katanya wajahku bersinar-sinar hepi dan segar setiap kali selesai dari bazaar. “Kamu jadi cantik kalo abis jualan yogurt!” Halah!

Nggak cuma itu, we took it to the next level! Thanks to Mbak Chika, dan panitia pesta blogger 2009, aku berjualan yogurt di Bazaar pesta blogger. Hasilnya??? Wuaaaahhh… dari hampir 600an cups yang dibawa, hanya ada sedikit yang tersisa! Yippee!

Bahkan, Stormtrooper (yang ternyata adalah mas wahyu aditya yang terkenal itu!) juga nagih sama yogurtnya, hahaha!

Walaupun jadi nggak bisa bebas haha-hihi di pesta blogger, tapi jadi hepi banget bisa jadi tempat buat ‘melepas dahaga’ para partisipan yang bener-bener kehausan!

Oh, I know, Naturale Yogurt rocks!

Tentang membahagiakan diri

“When I loved myself enough I learned to say yes when I want to and no when I want to”

Kim McMillen

Aku memutuskan untuk berhenti dari tempat aku bekerja. Bukan sebuah keputusan spontan, ini sudah melalui proses berfikir yang cukup panjang. Tidak gampang, tapi ada kelegaan. Cukup ‘menakutkan’, tapi aku pikir ini keputusan yang terbaik.

Empat tahun lebih aku bekerja disana. Lengkap dengan suka dukanya. Belajar banyak dan juga bersenang-senang. Bersusah-susah dan banyak kenangan. It was fun.

Now, it’s time to move on.

Berbagai hal yang terjadi belakangan ini membuat aku kerap kembali ke pertanyaan itu: what do I want, really? Jika berbagai atribut yang melekat dan topeng yang menempel di tanggalkan, sebenarnya aku mau apa?

Aku mau membahagiakan diriku. Kalau aku tidak bahagia, aku tidak akan bisa membahagiakan orang lain. Aku ingin melakukan yang aku suka. Walaupun itu akhirnya harus memulai segalanya dari nol lagi. But then again, that’s the beauty of life.

Jadi, dengan bangga aku memulai yang aku suka. Sebuah project yang sudah lama ingin dimulai, dan baru kini terlaksana. Perkenalkan, my new baby:

Ia membuatku kembali bersemangat, it brings back my passion. I have big plan, and I don’t care where I will end up. But I have faith. Oh, I do have faith!

So, let’s watch it grow. Together!

Ubud itu obat (bagian 5)*

*oleh-oleh (yang teramat sangat) terlambat dari Balispirit Festival, Ubud, 28 April-3 Mei, 2009.

Nggak terasa festival udah sampe hari terakhir. Sudah lima hari enam malam semua orang berkumpul di Purnati. Pagi sampe sore ber-yoga-ria, dan malamnya heboh jejingkrakan.

Konser tiap malam itu selalu menghadirkan nuansa berbeda. Line up musisinya sangat variatif, dan tentunya keren-keren. Biar seharian udah capek, malemnya tetep aja loh bergairah! Musik dan seni tradisional Bali ada. Para emerging artis ada. Musisi senior juga ada. Genre-nya juga beda-beda. Jazz asli ada. Rock cadas ada. Reggae nyantai ada. Pop apalagi. DJ dengan musik elektronik aja ada. World music, jangan ditanya: udah jadi rajanya.

Yang ada aku nggak lagi selera buat belanja di butik-butik Ubud, seperti cita-cita semula. Aku malahan memborong CD para musisi ini. Beli 2 CD-nya Rocky Dawuni, ‘Bob Marley-nya Ghana’ (dan langsung minta di tandatangani Rocky, hehehe!). Beli CD-nya Khalife (juga minta tanda tangan!) dan Yeshe. Aku juga beli CD Mia Palencia, yang suaranya asleeeee keren banget! Daphne ngasih aku CDnya, lengkap dengan tanda tangan, dan Mbak Novi ngasih aku CD simakDialog yang oke punya!

Sampe akhirnya acara puncak jam bareng semua musisi dan artist yang terlibat di atas panggung, rasanya masih gak percaya ajah kalau festival ini sudah berakhir. Semuanya begitu berkesan.

Mulai dari kelas yoganya, para presenter yang ramah-ramah dan nggak berjarak, orang-orang yang nyantai dan asyik, makanan di Bazaar yang superduper enak, lingkungan yang bersih karena berkonsep zero waste (semua sampah dipisahin, minimalisasi plastic – gelas dan sedotannya pake bamboo, sendoknya pake daun kelapa! Orang-orang juga harus bawa tempat minum sendiri!), team-nya yang asyik, dan semua kenangannya… man, aku masih mau loh ikutan tahun depan!

Bahkan, ‘after-festival service’-nya masih mengejutkan, heheheh. Bernie, volunteer tersayang yang bantuin media center ngajakin aku nginep di rumahnya. Dua malam, aku nginep di Villanya yang bagus gila! Betah banget, ga pengen pulang. Imagine, ruang tamu yang tak berdinding, semua serba terbuka, dan pemandangannya hutan dan sawah! Belum lagi rumahnya yang lebih mirip galeri lukisan. Aih mateeeee… kalo ke Ubud, nggak mau nginep di tempat lain lagi deh, bener!

Selain itu, aku juga dapet ‘sesi khusus’ dengan Mbak Novi: dibacain Tarot! Dijembrengin dah tuh semua segala detail tentang diri sendiri yang bikin nangis kayak ngiris bawang dua kilo! Intinya: tante dinda itu orang yang overanalyze dan pride-nya kegedean! Wahwahwah…

Dan akhirnya, farewell party di Yoga Barn dengan semua orang. Dan ‘private party’ dengan ‘tim inti’, di Kagemusha, restoran Jepang yang bikin nagih (Sushi Tei, langsung hambar loh rasanya!).

Haaahhh… dua minggu yang teramat sangat menyenangkan! You know what, guys… you really should come next year. Tahun depan, acaranya akan dibuat 1-5 April, pas selesai Nyepi. Jadi, nabung deh dari sekarang. Nggak bakal rugi!

So… see you next year? Amiiiiinnn! (TAMAT)