Category Archives: Communication

Jongos Indonesia*

Apa jadinya kalau seniman Batak tulen, ketemu sama seniman Jawa yang juga tulen, dan diminta bekerja sama menggelar sebuah acara?

Oh, tidak. Ini sama sekali bukan anekdot. Ini beneran kejadian. Lalu, apa jawaban pertanyaan diatas? Well… It’s complicated! 😀

Sang seniman Batak adalah Bapak Rizaldi Siagian, seorang etnimusikolog dari kampung halamanku, Medan. Ia juga sempat menjadi dekan di Etnomusikologi almameterku, USU, sebelum hijrah ke Jakarta dan total bermusik. Salah satu karyanya, Megalitikum Kuantum, pernah membuat aku begitu excited, sampai membeli baju baru khusus untuk menontonnya!

Dan sang seniman Jawa adalah Bapak Suprapto Suryodarmo, atau Mbak Prapto, begitu ia sering dipanggil. Kerap dianggap sebagai ‘penasihat spritual’ para seniman tari, ia adalah pencipta Meditasi Gerak Joget Amerta yang kini tersebar di berbagai belahan dunia. Padepokannya Lemah Putih yang terletak di Karanganyar, Surakarta, hingga kini menjadi wadah kolaborasi kesenian lintas disiplin bagi seniman seluruh dunia.

Kedua orang hebat ini menggagas sebuah konsep festival budaya yang disponsori oleh salah satu kementerian. Acaranya sendiri adalah festival tiga hari yang mendatangkan delapan komunitas adat ke Jakarta untuk melaksanakan upacara adat mereka, plus pagelaran kesenian tradisional dan kontemporer. Yang pertama umumnya adalah domain Pak Rizaldi, yang berikutnya umumnya adalah domain Pak Prapto.

Terus, apa hubungannya dengan aku? Aku berkenalan dan bekerja sama dengan kedua bapak-bapak ini karena “dijeburkan” dengan penuh sengaja oleh Bunda Sari Madjid. Bundaku tersayang dan tercinta (sambil cubit pipi dikit nih, hahaha!) ini juga merupakan salah seorang tim kreatif untuk acara tersebut, bersama dengan mas Muhammad Cahyo Novianto, seorang arsitek handal asal Surabaya, dan Om Nano Riantiarno, pimpinan Teater Koma. Job description-nya sih gampang: jadi asisten para tim kreatif ini. 

Tapi, yaaaa… orang waras manapun pasti tau ya, nggak ada yang gampang kalau jadi asisten, hahahha! Apalagi jadi asistennya orang-orang sekaliber ini. Analoginya, aku yang baru lancar baca tulis, sudah disuruh ngetik desertasi Einstein. Modyar kowe!!!

Berbagai drama mewarnai hidupku yang abu-abu ini (halah!) sejak pertengahan September hingga acara selesai terlaksana di akhir Oktober. Sehabis diskusi berapi-api khas Medan dengan Pak Rizaldi (yang kalo dilihat sekilas mungkin kayak orang berantem!), lantas harus bersikap lembut halus dan bersuara pelan menghadapi Pak Prapto (tak lupa sambil senyum manis).

Setelah kepala ini berusaha berfikir sistematis dan terencana dengan pak rizaldi (ya secara beliau juga akademisi ya!), langsung terobrak-abrik lagi saat ketemu Pak Prapto yang otak kanannya hebat banget, bisa dapat berbagai ide baru dalam sekejap, sehingga membuat rundown acara terus berubah!

Sehabis ‘cakap-cakap’ pake Bahasa slang Medan/Melayu yang asli bikin ngakak sampe perut keriting sama Pak Rizaldi (contohnya: “Tau kau apa itu STM kan? Sibuk Tak Menentu!”, atau “Jangan awak disuruh ngajari tupai melompat dan limau berduri, bekeringat awak dibuatnya!”), plus anekdot-anekdot ‘saru’ khas Pak Rizaldi tentunya, alisku langsung bersatu, meringis begitu nerima sms dari Pak Prapto yang berisi bahasa Jawa halus. (Ini sms yang dikirimnya hari ini kepadaku: “Hehehe.. jawane theklek. Theklek kejegur kalen katimbak golek lowung balen”). Mamaaakkk… apalah katanya ini???

Sementara Pak Rizaldi sangat techie – menginstall whatsapp di blackberry, bekerja lewat email yang sangat efisien, membuat mindmap di Ipad, menenteng voice recorder HD dan DSLR kemana-mana, Pak Prapto tak pernah membuka email, dan mempertahankan ke-oldschool-an Nokia bututnya. Beliau akan tertunduk khidmat, mengetik sms yang kalau diketik ulang di word, bisa jadi setengah halaman. Kenapa aku bisa tau? Karena aku sering mengetik ulang sms-nya untuk kemudian di sebarkan lewat email ke semua orang. Daaan.. email-email dari orang juga harus kembali dikirimkan dalam bentuk sms ke Pak Prapto. Heeeee…!

Dan Dinda, si jongos ini harus tabah menghadapi keduanya. Sekarang sih lucu. Tapi kemarin, rasanya udah pengen getok kepala sendiri pake martilnya Thor. 

Tapi terlepas dari semua chaos itu, ada begitu banyak hal baru yang aku pelajari dari dua orang eksentrik ini. Kecintaan mereka terhadap nusantara tak perlu diuji lagi. Hei, lihat! Aku menggunakan kata ‘nusantara’, bukan negara, bukan pula nasionalisme. Dari mereka aku paham, bahwa nusantara ini, dan masyarakat adatnya, sudah ada jauh sebelum negara ini berdiri. Kearifan-kearifan tradisional yang begitu harmoni dengan alam, sudah ada jauh sebelum kita berkoar-koar soal go-green.

Mereka membuat aku berkontemplasi soal banyak hal. Soal nasionalisme yang salah kaprah. Soal kekayaan budaya yang sesungguhnya jauh lebih dalam dari sekedar pertunjukan seni. Soal harmonisasi manusia dengan alam semesta. Hal-hal yang sesungguhnya pantas untuk dijadikan tulisan panjang terpisah.

Bangga kepada Indonesia, bukan hanya berarti tau cara menarikan tari Melayu Serampang Duabelas dengan fasih, atau menggelar pertunjukan tradisi megah dengan penari-penari cantik ke mancanegara. Tapi mengenali akar dari budaya itu, yang sarat dengan filosofi dan kearifan lokalnya. Disanalah letak kekayaan Indonesia sesungguhnya. Kalian sungguh tidak akan percaya betapa kita teramat sangat kaya akan hal semacam ini. Hal-hal yang terkadang kita anggap remeh temeh, tapi sangat luar biasa. Pergi ke sebuah kota kecil ditemani dengan seorang antropolog atau seniman yang memberitahu begitu banyak cerita behind the scene, jauh lebih berharga daripada menjadi turis keliling dunia.

Terlepas dari segala yang terjadi, adalah sebuah kehormatan besar untuk bekerja bersama dua orang hebat ini. Secuil pengetahuan mereka yang sempat aku curi, menyisakan pertanyaan-pertanyaan baru untuk berkontemplasi. Dua bulan meresapi pemikiran mereka, aku merasa terlahir baru.

Aku, adalah jongos yang paling bahagia.

***

* Tulisan ini adalah sebuah ucapan terimakasih dari hati yang paling dalam, untuk segala ilmu, pengalaman, kasih sayang, perhatian dan persahabatan yang telah diberikan kepadaku. Terimakasih Pak Prapto. Terimakasih Pak Rizaldi (juga istrinya yang hebat, Ibu Adek). Juga terimakasih untuk Bunda Sari Madjid yang telah menjeburkan aku sampai hampir kelelep. Dan tak lupa kepada Mas Cahyo, yang menjadi partner kerja hebat. 

Ubud itu obat (bagian 5)*

*oleh-oleh (yang teramat sangat) terlambat dari Balispirit Festival, Ubud, 28 April-3 Mei, 2009.

Nggak terasa festival udah sampe hari terakhir. Sudah lima hari enam malam semua orang berkumpul di Purnati. Pagi sampe sore ber-yoga-ria, dan malamnya heboh jejingkrakan.

Konser tiap malam itu selalu menghadirkan nuansa berbeda. Line up musisinya sangat variatif, dan tentunya keren-keren. Biar seharian udah capek, malemnya tetep aja loh bergairah! Musik dan seni tradisional Bali ada. Para emerging artis ada. Musisi senior juga ada. Genre-nya juga beda-beda. Jazz asli ada. Rock cadas ada. Reggae nyantai ada. Pop apalagi. DJ dengan musik elektronik aja ada. World music, jangan ditanya: udah jadi rajanya.

Yang ada aku nggak lagi selera buat belanja di butik-butik Ubud, seperti cita-cita semula. Aku malahan memborong CD para musisi ini. Beli 2 CD-nya Rocky Dawuni, ‘Bob Marley-nya Ghana’ (dan langsung minta di tandatangani Rocky, hehehe!). Beli CD-nya Khalife (juga minta tanda tangan!) dan Yeshe. Aku juga beli CD Mia Palencia, yang suaranya asleeeee keren banget! Daphne ngasih aku CDnya, lengkap dengan tanda tangan, dan Mbak Novi ngasih aku CD simakDialog yang oke punya!

Sampe akhirnya acara puncak jam bareng semua musisi dan artist yang terlibat di atas panggung, rasanya masih gak percaya ajah kalau festival ini sudah berakhir. Semuanya begitu berkesan.

Mulai dari kelas yoganya, para presenter yang ramah-ramah dan nggak berjarak, orang-orang yang nyantai dan asyik, makanan di Bazaar yang superduper enak, lingkungan yang bersih karena berkonsep zero waste (semua sampah dipisahin, minimalisasi plastic – gelas dan sedotannya pake bamboo, sendoknya pake daun kelapa! Orang-orang juga harus bawa tempat minum sendiri!), team-nya yang asyik, dan semua kenangannya… man, aku masih mau loh ikutan tahun depan!

Bahkan, ‘after-festival service’-nya masih mengejutkan, heheheh. Bernie, volunteer tersayang yang bantuin media center ngajakin aku nginep di rumahnya. Dua malam, aku nginep di Villanya yang bagus gila! Betah banget, ga pengen pulang. Imagine, ruang tamu yang tak berdinding, semua serba terbuka, dan pemandangannya hutan dan sawah! Belum lagi rumahnya yang lebih mirip galeri lukisan. Aih mateeeee… kalo ke Ubud, nggak mau nginep di tempat lain lagi deh, bener!

Selain itu, aku juga dapet ‘sesi khusus’ dengan Mbak Novi: dibacain Tarot! Dijembrengin dah tuh semua segala detail tentang diri sendiri yang bikin nangis kayak ngiris bawang dua kilo! Intinya: tante dinda itu orang yang overanalyze dan pride-nya kegedean! Wahwahwah…

Dan akhirnya, farewell party di Yoga Barn dengan semua orang. Dan ‘private party’ dengan ‘tim inti’, di Kagemusha, restoran Jepang yang bikin nagih (Sushi Tei, langsung hambar loh rasanya!).

Haaahhh… dua minggu yang teramat sangat menyenangkan! You know what, guys… you really should come next year. Tahun depan, acaranya akan dibuat 1-5 April, pas selesai Nyepi. Jadi, nabung deh dari sekarang. Nggak bakal rugi!

So… see you next year? Amiiiiinnn! (TAMAT)

My first Yoga…and my second… and… (bagian 4)*

*oleh-oleh (yang teramat sangat) terlambat dari Balispirit Festival, Ubud, 28 April-3 Mei, 2009.

Kerjaanku di Media Center emang agak sulit buat ditinggal. Orang-orang yang sering malang melintang di area ini pasti melihat aku dengan posisi yang sama: di ujung meja, menghadap laptop. Ngutak-atik jadwal, berusaha nyocokin request para wartawan dan presenter jadi kerjaan setiap hari. Sampe-sampe semua curiga aku punya love affair dengan laptop. Hmpsh.

Tapi walaupun bekerja, bekerja dan bekerja, tante Dinda ini teteup sangat penasaran dengan yang namanya Yoga. Masa kerja buat festival Yoga aku gak pernah nyobain sama sekali, sih? Wanita macam apa itu? Jadilah di hari kedua, sebelum morning tea time di Media Lounge, aku punya kesempatan untuk ikut kelas.

Ada lima kelas pagi itu. Ada kelasnya Swami Shankardev ‘Yoga Tantra Principles of Higher Sadhana and Spiritual Awakening’. Hmmm. Kayaknya bakal ‘ketinggian’ deh. Patrick Creelman juga menggelar workshop, ‘Anusara Yoga, Fantastic Flow’. Tapi ini untuk level intermediate. Kita kan masih beginner yak. Coral Brown akan ngajar di kelas ‘Yoga+psychology, Releasing Body-Mind samkaras’. Hmm… gitu deehh. Ada workshop oleh Joseph Lee, ‘Yoga 2 Peace: Yin & Yang Yoga’. Boleh juga sih. Yang terakhir ada Ines Somellera, ‘Yoga+Writing: Searching for the hints within yourself’. Nah… ini kayaknya oke nih. Kali-kali aja gara-gara ikut kelas ini novelnya bisa langsung kelar!

Dengan meminjam yoga mat Mbak Novi, aku masuk kelas malu-malu. Duduk di paling belakang. Pertama-tama sih disuruh kayak pemanasan gitu deh, peregangan, melakukan posisi-posisi unik yang lumayan buat keringetan. Nah, terus disuruh meditasi, yang dibimbing oleh suara lembut Ines. Meditasi ini cuma diem doang, bernafas teratur, terus berusaha mengosongkan pikiran. Nah, abis meditasi, disuruh nulis apapun yang terlintas pas meditasi itu.

Buset dah! Tiba-tiba kok air mata mengalir setetes yah? Dihapus, eh, keluar lagi setetes. Sementara nulisnya gak berenti-berenti, nangisnya juga gak berenti-berenti! Bok! Liat kiri kanan semua kok keliatan anteng? Pas giliran ada yang disuruh bacain tulisannya, aku makin nangis. Dan kayaknya banyak juga tuh yang pada nangis-nangis, lumayanlah nggak sendiri, hihihi. Gerakan-meditasi-menulis ini diulang sampe tiga kali, dan tiga-tiganya sukses membuat aku nangis bombay. Tapi, abis itu kok ya rasanya ringaaaaaaaan banget. Udah lama gak nangis serius kali yah. Seru deh.

Nah. Ketagihan kan ceritanya? Sayangnya waktu tidak mengizinkan, mengingat permintaan wawancara banyak banget. Di hari ke-tiga, aku juga hanya bisa ikut satu workshop. Kali ini memilih workshop musik oleh Sibo Bangoura. Dia ngajarin West African Master Drum Class. Kita diajarin menabuh djimbe sampe tangan pada merah. Sambil diajarin nyanyi-nyanyi pendek gitu. Dan paling seru, kita juga diajarin tari Africa yang langkahnya teratur mirip poco-poco. Keren!

Hari ke-empat, aku ikut kelas Laughter Yoga-nya Pak Kadek Suambara. Sesuai namanya, ini kelas emang kocak banget: Kita diajak ketawa, tanpa ada alasan sekalipun. Kita ketawa karena kita mau aja! Efeknya LUAR BIASA! Kita jadi nggak berenti ketawa. Semuanya hepi bangeeettttt! Ketawa sampe gegulingan. Ketawa sampe jungkir balik. Ketawa sampe sakit perut dan pipi pegel. Terus abis itu disuruh nari-nari, lompat-lompat, bebaaaaasss banget rasanya. Hepiiiii banget! Kalo aja semua orang bisa sehepi itu – nggak butuh banyak alasan untuk ketawa dan merasa hepi – pasti dunia jadi sedikit lebih lega yah!

Biarpun Cuma tiga kelas ini yang diambil sepanjang festival, tapi efeknya gila loh! Sumpah nggak ngerasa capek sama sekali. Yang ada cuma hepi dan lega dan berasa bebas merdeka. Gila ya, festival ini bener-bener luar biasa! (bersambung)

The Festival is here! (Bagian 3)*

*oleh-oleh (yang teramat sangat) terlambat dari Balispirit Festival, Ubud, 28 April-3 Mei, 2009.

Akhirnya festival dimulai! Malam pembukaan membuat aku cukup kerepotan. Hampir semua wartawan yang mendapatkan akreditasi datang. Dari sore, sejak para tamu mulai berdatangan dengan shuttle, hingga jauh malam, aku masih terus bekerja.

Aku harus stand-by di media registration desk, menanti para wartawan. Setelah selesai dengan registrasi, aku juga masih harus membuat press release harian dan meng-update website. Hiks, tak sempat melihat pembukaan yang katanya keren itu. Tapi tak mengapa. Yang penting pembukaannya sukses!

Hari pertama festival, tanggal 29 April, para peserta sudah berdatangan sejak pagi. Berpakaian santai, dengan yoga mat tersampir dibahu. Wajah mereka begitu antusias. Aku juga bersiap-siap di media center. Merapikan berbagai hal demi menyambut para wartawan yang akan datang. Mengecek wi-fi sudah bekerja apa belum, menyiapkan kursi, memastikan teh dan kopi ada di ditempatnya.

Untuk ini semua, aku dibantu oleh Ibu Bernie dan Senay, volunteer-volunteerku tersayang. Kami heboh menyiapkan press conference pertama kami pagi itu. Eh, istilahnya bukan press conference deng, terlalu serius! Namanya: tea time with presenter @ Sariwangi Media Lounge. Seru ya!

Jam 10.30 pagi, semua wartawan sudah berkumpul di Media Lounge. Bernie mengingatkan para presenter untuk tiba tepat waktu. Senay sudah siap dengan buku dan pulpen untuk jadi moderator. Mark Whitwell, Eoin Finn dan Katy Appleton menjadi tamu yang pertama. Perbincangannya sukses berat! Semua santai dan nyaman dan sangat personal, seperti yang kami harapkan. Nggak ada batas dan jarak, semuanya hepi!

Tea time sore hari digelar jam 16.00, menghadirkan para festival organizer. Bu Meg sebagai founder dan Amsalan, Festival Directornya, menjelaskan asal muasal festival ini kepada wartawan. Hari-hari berikutnya para presenter juga silih berganti datang meramaikan media center dan media lounge. Mbak Pujiastuti Shindu, yogini yang berada di garda depan saat heboh-heboh fatwa yoga kemaren, David Moreno, juga Ravi Vempati. Ada juga Teresa Herrera, Patrick Creelman, Ni Ketut Arini, dan tentunyaaa mas-mas dari simakDialog. Semua presenter pasti sempet deh nyicipin teh di Media Lounge.

Walau sambil ngurusin Media Center, sedikit demi sedikit, aku makin ngerti soal yoga. Dari yang aku pahami, inti yoga itu adalah mengenal diri sendiri. Yoga itu ‘hanya’ bagian dari exercise yang melatih nggak hanya fisik, tapi jiwa. Para yogi dan yogini ini juga nggak ada yang merasa bahwa yoga adalah ‘jawaban’ dari semua kesulitan di dunia. Yoga, hanya satu cara, yang harus dirangkai dengan banyak hal lain. Yoga, adalah alternatif untuk menyeimbangkan hidup.

Jadi, ya agak aneh juga kalo ada yang ngasih label haram 😀 (bersambung)

Persiapan…persiapan… (Bagian 2)*

*oleh-oleh (yang teramat sangat) terlambat dari Balispirit Festival, Ubud, 28 April-3 Mei, 2009.

Selama seminggu menjelang festival, aku berusaha belajar tentang seluk beluknya. Jadi ya, acara bertajuk Balispirit Festival ini sudah dilaksanakan sejak tahun lalu. Festival ini unik. Ia tidak hanya mengetengahkan Yoga sebagai intisarinya, tapi juga menggabungkannya dengan musik dan tari. Dari sudut pandang ini, ketiganya memang sangat berdekatan loh.

Festival ini diadakan di Purnati Center for the Arts, sekitar 15 menit dari tengah kota Ubud. Ia akan dibuka resmi pada tanggal 28 April, dengan pidato-pidato standar, dan juga konser. Lalu, selama empat hari berkutnya, akan ada workshop sepanjang hari. Kebanyakan workshop Yoga, tapi juga ada workshop tari dan musik. Saat hari berganti malam, para peserta workshop akan dihibur oleh barisan musisi yang oke punya. Dan pada hari terakhir, ada Hari Cinta Keluarga. Ini merupakan hari khusus dengan berbagai macam workshop dan kegiatan yang gratis untuk siapa saja.

Sepanjang festival ini, ada 97 kelas workshop berbagai macam. Ada 24 guru yoga datang dari penjuru dunia. Ada lebih dari 45 musisi, 10 penari senior, dan sekitar 200an musisi tradisional Bali, segala Jegog, Gender, Slonding dan Gambang. Bok, mempalajari ini semua rasanya kayak ngapalin pelajaran sistem kebut semalam pas mau ujian! Abis gimana dong. Aku kan sama sekali nggak ngerti yoga!

Belum pernah denger nama Katy Appleton yang (ternyata) ngasih kelas Yoga ke para selebritis di London. Atau Swami Shankardev, senior yogi yang katanya disegani banget. Kalau musisi kayak simakDialog besutan mas Riza dan Tohpati mungkin kenal. Juga Saharadja, kebanggan Bali. Tapi kalau Ganga Giri? Yeshe? Khalife? Atau ibu Maria Dharmaningsih, penari Jawa beken aku masih tau deh. Tapi kalau Sibo Bangoura, atau Akim Funk Buddha? Nah lho.

Dan aku harus mengerti semua aspek dari acara itu. Aku akan ditugaskan menjadi Koordinator Media Center. Pusat informasinya para wartawan yang akan meliput. Pastinya aku harus mengerti apa yang akan terjadi kan?

Untungnya team-nya kompak banget! Everybody helps each other. Dasar ya, kerja dengan orang-orang yang makanan sehari-harinya yoga dan meditasi, nggak ada tuh ceritanya stress dan marah-marah. Sebel-sebel dikit sih pasti ada lah. Tapi pasti saling mengingatkan. Atmosfirnya sangat berbeda.

Aku semakin semangat saat ngeliat lokasi festival pertama kali di Purnati. Halaman luas. Rumput rapi. Kolam renang gede. Bale yang keren. Aaaahhh! Sudah ada keyakinan merasuk dalam hati ini: THIS, IS GOING TO BE FUN! (bersambung)