Category Archives: MyWork

2017: The Start Up Year – Perjalanan Menemukan (Kembali) Diri Sendiri

Aku memulai 2017 dengan sepenuh harap bahwa tahun ini akan lebih baik. Berjanji pada diri sendiri untuk lebih menyenangkan hati. Setelah mengalami episode depresi di tahun sebelumnya, sungguh aku tak ingin itu terulang lagi.

Logikanya, tahun ini harusnya menjadi tahun yang santai, penuh liburan serta leyeh-leyeh. Memang sih, aku cukup banyak berpergian untuk liburan walaupun tidak jauh-jauh. Cirebon, Garut, Bandung, Medan, Banda Aceh, Sabang dan Purwokerto kami kunjungi. Bahkan kami sempat membawa orang tuaku jalan-jalan ke Garut dan Cirebon, serta membawa ibu mertua ke Bandung untuk berlibur sekaligus cek kesehatan.

Tapi, ternyata tidak demikian yang terjadi. Perenungan atas apa yang telah aku lalui membuatku merasa harus berbuat sesuatu. Depresi telah mengikis kepercayaan diriku hingga hampir habis. Ini adalah saatnya untuk menemukan kembali diri sendiri.

Usaha catering di Medan, catering adinda, yang sudah dimulai di akhir tahun 2016, pelan-pelan mulai berjalan. Ini tentunya memberikan tambahan semangat untukku. Aku merasa lebih berharga, karena merasa melakukan sesuatu yang berbeda dan berguna.

Maka, saat muncul ide untuk menggarap usaha baru dari adikku dan seorang sahabat, aku dengan suka cita menyambutnya. Dulu, saat Malik baru saja lahir, aku ingin sekali memproduksi baju anak-anak. Business plan sudah digarap, desain sudah dibuat, namapun sudah ada: minimons. Namun, karena banyak hal, usaha ini tidak jadi diluncurkan. Jadi, saat ide untuk menghidupkan kembali Minimons datang, aku jadi bersemangat.

Tapi, memulai sesuatu dari nol itu bukan perkara mudah memang. Setelah berbulan-bulan brainstorming, kami muncul dengan visi yang lebih menyentuh nilai-nilai keluarga. Pertengahan 2017 kami meluncurkan koleksi perdana yang tidak melulu baju anak, melainkan baju yang matching untuk seluruh keluarga. Ada sesuatu untuk bapak dan ibunya juga.

Begitupun, jalannya tidak mulus. Awalnya aku punya ekspektasi tinggi karena timku sudah sangat berpengalaman di bidangnya. Tapi dalam perjalanannya, aku sadar bahwa tim yang terbentuk ini butuh banyak sekali adaptasi untuk bekerja sama. Ujung-ujungnya, aku harus realistis dan kembali kepada hal yang sungguh klise: semua butuh proses.

Di penghujung Oktober, saat deadline produksi mulai mengejar, partner bisnis sekaligus desainer memutuskan untuk keluar. Sungguh itu adalah pukulan telak yang membikin panik.  Tahun yang ‘harusnya’ menyenangkan, berubah jadi sekumpulan masalah yang saat itu tak terlihat jalan keluarnya.

Aku hampir menyerah. Rasanya, ingin sekali membubarkan Minimons dan melepaskan diri dari keruwetan yang terjadi. Tapi setelah berfikir lama, aku sadar. Selama ini aku selalu bertahan dengan apapun yang terjadi. I am a survivor, that is who I am. Aku bukan jenis orang yang berhenti begitu saja, tanpa berjuang hingga akhir. Dan yang membuat hati sungguh hangat, adalah sahabat-sahabat yang selalu menyemangati (you know who you are, girls. I owe it to you #MahmudSeadanya) dan orang-orang yang dipertemukan, yang memberikan banyak inspirasi.

Aku lantas mengerahkan segala yang aku punya untuk tetap meneruskan Minimons. Sebuah mantra terucap berkali-kali di hati: aku bisa! I’m a fast learner and I can learn anything I want. Aku adalah orang yang bisa beradaptasi dengan situasi apapun, itu yang menjadi kunci kenapa aku bisa survive hingga kini.

Dan di tengah ‘badai’ itu, aku seperti menemukan diriku kembali. Dinda yang punya tujuan. Dinda yang tak menyerah dengan keadaan. Dinda yang meskipun merasa takut, tapi terus berjalan.   

Maka, penghujung 2017 adalah ujian ketahanan fisik dan mental. Waktunya untuk benar-benar melakukan apa yang aku ucapkan. To walk the talk. Aku melakukan apapun yang bisa kulakukan tanpa berhenti. Tidak hanya mengurusi Minimons tentunya, aku masih harus mengurus usaha catering adinda di Medan, mengurus Malik, plus berbagai urusan keluarga besar. Sebentar di rumah, sebentar di Bandung untuk urusan Minimons, sebentar lagi sudah di Medan untuk urusan catering adinda.

Melelahkan. Sangat. Bahkan hingga aku menulis ini pun masih ada to-do-list yang menanti untuk dikerjakan. But hey, if it’s the price that I have to pay to be myself again, then so be it. I know for sure, I will not regret anything. Aku yakin – dengan seyakin-yakinnya – bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha.

Hey 2018, bring it on! 

blog 2017 2Me, proudly wearing my first ever design, scarf for minimons.

Buku Tahunan Keluarga 2015

Alhamdulillaaaaahhh…. Setelah berbulan-bulan setres sendiri, milihin ribuan foto sampe mata nanar, mikirin alur cerita sampe bingung, mendesain halaman dengan kemampuan seadanya… akhirnya buku tahunan keluarga kami untuk tahun 2015 sudah kelar, SUPERYAY!

Inilah dia penampakannya…

yearbook201501

Eaaa… cover-nya nggak nahaaannn 😀 Album tahunan ini terdiri dari dua buku yang diberi judul “2015: The Traveling Year”. Buku Satu yang tebalnya 208 halaman, berisi 306 buah foto keluarga kami sepanjang Januari hingga Juli 2015. Sedangkan Buku Dua tebalnya 224 halaman, berisi 308 buah foto dari Agustus hingga Desember 2015.

yearbook201502

Dibandingkan dengan buku tahunan sebelumnya (2014) yang aku buat pertama kali, buku tahunan 2015 ini jauh lebih baik dari sisi penceritaan. Kalau tahun lalu aku hanya mengikuti kronologis foto dan memberikan caption seadanya, di tahun ini aku membuat semacam pembatas tiap bulannya dan bercerita apa saja yang terjadi pada bulan itu.

yearbook201503

Dari segi desain tata letak, yah… mendingan sih dari buku sebelumnya. Hanya saja tetap masih ada ruang-ruang perbaikan untuk tahun depan. Ya habis gimana ya, aku nggak bisa dan nggak punya software desain di computer. Jadi menggunakan apa yang ada aja: ngerjainnya pakai pakai photosop. Yang CS5 pula. Hahahah!

yearbook201505

Secara keseluruhan, aku senang sekali dengan buku tahunan ini. Saking senangnya, malah untuk tahun 2016 sudah mulai dicicil pengerjaannya. Buatku, ini bukan hanya sekedar kumpulan foto, tapi merupakan dokumentasi penting keluarga kami: apa yang telah kami lakukan, siapa-siapa yang kami temui serta bagaimana perkembangan milestone BabyM. Buku ini juga jadi sumber bahan belajar buat BabyM. Dengan menunjukkan foto-foto di dalamnya, BabyM sudah bisa mengingat apa yang pernah dia lakukan dan bisa menceritakan kembali pengalaman tersebut.

Bukan hanya itu, buku ini juga kami cetak sebanyak tiga set. Satu set untuk di rumah, satu set untuk Atok dan Nenek BabyM di Medan dan satu set lagi untuk Nyaksyik BabyM di Aceh. Buku ini sangat membahagiakan buat mereka. Mengingat jarak yang jauh, buku ini seolah-olah membuat mereka tidak ketinggalan hal-hal yang terjadi pada cucunya.

Bagi teman-teman yang ingin membuat buku tahunan semacam ini, berikut ini ada sedikit “tips”.

1. Memilih foto adalah pekerjaan yang paling berat dari keseluruhan pekerjaan, jadi cicil dari sekarang! Contohnya nih ya, untuk bulan November, saat kami roadtrip menyusuri pantai barat Jawa, aku punya sekitar 2500an foto. Dan aku harus peras-peras otak untuk akhirnya bisa memilih 100 foto. Dan itu hanya November doang. Secara keseluruhan, sepertinya foto keluarga kami dalam setahun itu ada sekitar 8000an foto *tenggelam di lautan foto*

yearbook201504

2. Masukkan foto yang bervariasi. Mengingat bukunya lumayan tebal, fotonya jangan hanya foto kita sekeluarga melulu. Masukkan juga foto suasana dan detail, atau foto dengan angle berbeda agar yang baca tidak bosan. Misalnya, acara ulang tahun anak. Selain foto seluruh keluarga bersama kue, masukkan juga foto dekorasi, foto hadiah, foto close up anak sedang meniup lilin, foto tamu dan foto ruangan secara keseluruhan. Dengan begitu, foto-foto akan lebih “bercerita”.

yearbook201508

3. Buat desain halaman yang rapi dan bersih. Tidak perlu terlalu banyak foto dalam satu halaman. Model desain seperti ini klasik dan bertahan lama dibandingkan dengan model desain yearbook sekolahan.

yearbook201507

4. Cari tempat mencetak dan minta jilid benang. Penjilidan model ini lebih cocok untuk buku yang isinya banyak foto sehingga halamannya bisa terbuka lebih lebar. Begitupun, aku harus mengingatkan bahwa tidak banyak percetakan yang mau menerima jilid benang satuan.

Mudah-mudahan membantu ya! Selamat membuat buku tahunan juga! Kalau udah buat, kabar-kabarin yaaaa!

Jongos Indonesia*

Apa jadinya kalau seniman Batak tulen, ketemu sama seniman Jawa yang juga tulen, dan diminta bekerja sama menggelar sebuah acara?

Oh, tidak. Ini sama sekali bukan anekdot. Ini beneran kejadian. Lalu, apa jawaban pertanyaan diatas? Well… It’s complicated! 😀

Sang seniman Batak adalah Bapak Rizaldi Siagian, seorang etnimusikolog dari kampung halamanku, Medan. Ia juga sempat menjadi dekan di Etnomusikologi almameterku, USU, sebelum hijrah ke Jakarta dan total bermusik. Salah satu karyanya, Megalitikum Kuantum, pernah membuat aku begitu excited, sampai membeli baju baru khusus untuk menontonnya!

Dan sang seniman Jawa adalah Bapak Suprapto Suryodarmo, atau Mbak Prapto, begitu ia sering dipanggil. Kerap dianggap sebagai ‘penasihat spritual’ para seniman tari, ia adalah pencipta Meditasi Gerak Joget Amerta yang kini tersebar di berbagai belahan dunia. Padepokannya Lemah Putih yang terletak di Karanganyar, Surakarta, hingga kini menjadi wadah kolaborasi kesenian lintas disiplin bagi seniman seluruh dunia.

Kedua orang hebat ini menggagas sebuah konsep festival budaya yang disponsori oleh salah satu kementerian. Acaranya sendiri adalah festival tiga hari yang mendatangkan delapan komunitas adat ke Jakarta untuk melaksanakan upacara adat mereka, plus pagelaran kesenian tradisional dan kontemporer. Yang pertama umumnya adalah domain Pak Rizaldi, yang berikutnya umumnya adalah domain Pak Prapto.

Terus, apa hubungannya dengan aku? Aku berkenalan dan bekerja sama dengan kedua bapak-bapak ini karena “dijeburkan” dengan penuh sengaja oleh Bunda Sari Madjid. Bundaku tersayang dan tercinta (sambil cubit pipi dikit nih, hahaha!) ini juga merupakan salah seorang tim kreatif untuk acara tersebut, bersama dengan mas Muhammad Cahyo Novianto, seorang arsitek handal asal Surabaya, dan Om Nano Riantiarno, pimpinan Teater Koma. Job description-nya sih gampang: jadi asisten para tim kreatif ini. 

Tapi, yaaaa… orang waras manapun pasti tau ya, nggak ada yang gampang kalau jadi asisten, hahahha! Apalagi jadi asistennya orang-orang sekaliber ini. Analoginya, aku yang baru lancar baca tulis, sudah disuruh ngetik desertasi Einstein. Modyar kowe!!!

Berbagai drama mewarnai hidupku yang abu-abu ini (halah!) sejak pertengahan September hingga acara selesai terlaksana di akhir Oktober. Sehabis diskusi berapi-api khas Medan dengan Pak Rizaldi (yang kalo dilihat sekilas mungkin kayak orang berantem!), lantas harus bersikap lembut halus dan bersuara pelan menghadapi Pak Prapto (tak lupa sambil senyum manis).

Setelah kepala ini berusaha berfikir sistematis dan terencana dengan pak rizaldi (ya secara beliau juga akademisi ya!), langsung terobrak-abrik lagi saat ketemu Pak Prapto yang otak kanannya hebat banget, bisa dapat berbagai ide baru dalam sekejap, sehingga membuat rundown acara terus berubah!

Sehabis ‘cakap-cakap’ pake Bahasa slang Medan/Melayu yang asli bikin ngakak sampe perut keriting sama Pak Rizaldi (contohnya: “Tau kau apa itu STM kan? Sibuk Tak Menentu!”, atau “Jangan awak disuruh ngajari tupai melompat dan limau berduri, bekeringat awak dibuatnya!”), plus anekdot-anekdot ‘saru’ khas Pak Rizaldi tentunya, alisku langsung bersatu, meringis begitu nerima sms dari Pak Prapto yang berisi bahasa Jawa halus. (Ini sms yang dikirimnya hari ini kepadaku: “Hehehe.. jawane theklek. Theklek kejegur kalen katimbak golek lowung balen”). Mamaaakkk… apalah katanya ini???

Sementara Pak Rizaldi sangat techie – menginstall whatsapp di blackberry, bekerja lewat email yang sangat efisien, membuat mindmap di Ipad, menenteng voice recorder HD dan DSLR kemana-mana, Pak Prapto tak pernah membuka email, dan mempertahankan ke-oldschool-an Nokia bututnya. Beliau akan tertunduk khidmat, mengetik sms yang kalau diketik ulang di word, bisa jadi setengah halaman. Kenapa aku bisa tau? Karena aku sering mengetik ulang sms-nya untuk kemudian di sebarkan lewat email ke semua orang. Daaan.. email-email dari orang juga harus kembali dikirimkan dalam bentuk sms ke Pak Prapto. Heeeee…!

Dan Dinda, si jongos ini harus tabah menghadapi keduanya. Sekarang sih lucu. Tapi kemarin, rasanya udah pengen getok kepala sendiri pake martilnya Thor. 

Tapi terlepas dari semua chaos itu, ada begitu banyak hal baru yang aku pelajari dari dua orang eksentrik ini. Kecintaan mereka terhadap nusantara tak perlu diuji lagi. Hei, lihat! Aku menggunakan kata ‘nusantara’, bukan negara, bukan pula nasionalisme. Dari mereka aku paham, bahwa nusantara ini, dan masyarakat adatnya, sudah ada jauh sebelum negara ini berdiri. Kearifan-kearifan tradisional yang begitu harmoni dengan alam, sudah ada jauh sebelum kita berkoar-koar soal go-green.

Mereka membuat aku berkontemplasi soal banyak hal. Soal nasionalisme yang salah kaprah. Soal kekayaan budaya yang sesungguhnya jauh lebih dalam dari sekedar pertunjukan seni. Soal harmonisasi manusia dengan alam semesta. Hal-hal yang sesungguhnya pantas untuk dijadikan tulisan panjang terpisah.

Bangga kepada Indonesia, bukan hanya berarti tau cara menarikan tari Melayu Serampang Duabelas dengan fasih, atau menggelar pertunjukan tradisi megah dengan penari-penari cantik ke mancanegara. Tapi mengenali akar dari budaya itu, yang sarat dengan filosofi dan kearifan lokalnya. Disanalah letak kekayaan Indonesia sesungguhnya. Kalian sungguh tidak akan percaya betapa kita teramat sangat kaya akan hal semacam ini. Hal-hal yang terkadang kita anggap remeh temeh, tapi sangat luar biasa. Pergi ke sebuah kota kecil ditemani dengan seorang antropolog atau seniman yang memberitahu begitu banyak cerita behind the scene, jauh lebih berharga daripada menjadi turis keliling dunia.

Terlepas dari segala yang terjadi, adalah sebuah kehormatan besar untuk bekerja bersama dua orang hebat ini. Secuil pengetahuan mereka yang sempat aku curi, menyisakan pertanyaan-pertanyaan baru untuk berkontemplasi. Dua bulan meresapi pemikiran mereka, aku merasa terlahir baru.

Aku, adalah jongos yang paling bahagia.

***

* Tulisan ini adalah sebuah ucapan terimakasih dari hati yang paling dalam, untuk segala ilmu, pengalaman, kasih sayang, perhatian dan persahabatan yang telah diberikan kepadaku. Terimakasih Pak Prapto. Terimakasih Pak Rizaldi (juga istrinya yang hebat, Ibu Adek). Juga terimakasih untuk Bunda Sari Madjid yang telah menjeburkan aku sampai hampir kelelep. Dan tak lupa kepada Mas Cahyo, yang menjadi partner kerja hebat. 

Abangku Menikah!

Saat menikah lima tahun lalu, bisa dibilang aku tidak berperan banyak untuk menyiapkannya. Namanya juga menikah hit-and-run yang super singkat (yak, dalam 10 hari saja!). Jadi, tidak punya kemewahan untuk menentukan jenis undangan, model kebaya, makanan catering, apalagi memilih fotografer.

Saat itu, semua keluarga bahu-membahu mengerjakan proyek ala bandung bondowoso itu. Jadi aku hanya tahu beres. Bahkan aku sempat “diancam”: pokoknya jangan minta macam-macam! Aku ya nurut, salah sendiri menikah dadakan!

Tapi, bulan Mei kemarin aku ‘akhirnya’ punya kesempatan untuk ngurusin pernikahan. Abangku satu-satunya, Bang Kanda, menikahi pacarnya, Denita. Yay! Jiwa ‘bridzilla’ yang terpendam akhirnya tersalurkan! Yang pasti, aku tidak berubah jadi monster-in-law bagi kakak iparku kok (eh, iya nggak ya? :P) Soalnya keluargaku, bahkan keluarga besar dari pihak mama dan papa juga senang banget si Bang Kanda akhirnya menikah. Jadi semuanya terkesan santai dan menyenangkan.

Sebelum aku tiba di Medan, si mama menyiapkan macam-macam dibantu oleh kakakku tersayang, Yuli. Tapi begitu aku datang, huuu… Yuli langsung deh kegirangan tugasnya jadi ringan. Dia jadi bebas dan bisa mengurus kepindahannya ke Jogja (mudah-mudahan nggak dijitak kalau dia baca ini!)

Pada awalnya tidak banyak yang dikerjakan. Aku ‘hanya’ didaulat untuk memotret. Tapi, saat diputuskan kami juga menggelar acara ‘ngunduh mantu’ yang sederhana di rumah, otomatis harus menyiapkan macam-macam juga.

Sebenarnya tugasku tidak terlalu banyak. Aku bertanggung jawab atas souvenir, segala macam hal yang berkaitan dengan foto, menemani Bang Kanda untuk belanja-belanja baju dan printilannya, dan bantu-bantu jadi liason keluarga pas hari-h. Termasuk menjadi ‘penasehat spiritual’ semua pihak, ya mama, papa, dan calon pengantennya :D.

Overall, acaranya santai dan menyenangkan. Tamunya banyak, walaupun temanku hanya satu yang datang :D. Tapi, yang paling membahagiakan adalah melihat Bang Kanda dan Denita, senyum terus. They look so happy together.

Mudah-mudahan rumah tangga mereka penuh kasih sayang, toleransi, dan berlimpah berkah. Aku tunggu ponakan secepatnya yaaaa! (Yang ini sih ngeles biar aku dan papin nggak ‘diminta’ terus, hahahah!)

PS: ini fotonya banyak banget deeehhh! 😀

Engagement session


 hayooo… ngapain? belum sah looooh!  


karena keukeuh pengen pake baju bola, jadinya motret ke stadion aja gitu!


ganti venue


i heart u

Akad Nikah


Awww… look at that happy faces! 


Yes. Aku motret akad nikah ini pakai kebaya lengkap dengan kain. Wedding fotografer mana coba yang bisa gini? 😀


Janji suami itu harus ditepati loh bang. 


Mama. Lega. 


Oh no… the bride went crazy!


My two sisters! Love em!

Resepsi 
Karena Denita orang Jawa, jadi pakai adat jawa. Aku nggak motret banyak, soalnya udah ada fotografernya.


Kanan: mau ndalang dimana mas? OVJ ya?  Kiri: Dengan si adek dan calon mantu satu lagi *uhuk!*


My lovely family! *Papin nggak ada karena belum cuti :(*

Ngunduh Mantu


Untuk acara ini pakai baju adat Mandailing. Duuh.. i remember wearing that headpiece back then. oh, the pain!


Ini siapa yang kawin sih? Trus, kenapa kumisnya gondrong begitu? Fans Foke ya?


Sore-sore santai dan berganti baju. Baju Denita itu desainku loooh 😀


May you have beautiful journey ahead. Amin. I love you both!

Satu Langkah

*Story behind the scene Naturelé Yogurt 

Here’s a blatant honesty: what I fear is not failure; it’s the fear of success that has been holding me back for the past two years.

Dan membuat akun Facebook plus twitter untuk Naturalé Yogurt, bagiku adalah sebuah langkah berani untuk menghadapi ketakutan itu. Karena, ini berarti aku mengambil satu langkah lebih maju untuk serius menjalani usaha ini – dan pada akhirnya menerima segala konsekwensi yang akan ditimbulkannya.

Sejak resign dari LA Times sekitar tiga tahun lalu, kayaknya aku merasa sangat nyaman berlindung dibalik status “istri kesayangan” seorang Papin Ismail. Segala yang aku lakukan menjadi semacam pekerjaan tertier yang tak perlu banyak perhitungan. Termasuk berbisnis. Dalam kasus ini usaha Naturalé Yogurt ku.

Mungkin karena pada awalnya usaha ini dimulai dengan tidak sengaja. Dengan niatan membantu kakak iparku, aku melahirkan Naturalé Yogurt. Berdua, kami bekerja sama. Ia urusan produksi, selebihnya aku yang mengatur.

Aku sungguh tak punya ekspektasi apa-apa saat pertama memasarkannya. Lagipula, aku tak punya pengalaman berdagang. So, I’d like to keep it small, simple and manageable. Maksudnya, apa-apa bisa aku kerjakan sendiri, biar gampang.

Usaha ini pun dimulai dari sebuah meja di Bazaar Florence, Kota Wisata, Cibubur yang menjual sarapan tiap akhir minggu. Disini, aku berinteraksi langsung dengan konsumen. Mengalami berbagai hal yang sama sekali baru, karena seumur-umur aku bekerja untuk orang lain.

Lama-lama, rutinitas sabtu-minggu ini menjadi hal yang paling aku tunggu. Ia “memaksaku” belajar dari nol besar dan mengajakku berpikir dengan cara yang tidak biasa. Ada kesenangan yang susah digambarkan. Si Abang malah pernah bilang, tiap kali aku selesai bazaar, pasti aku terlihat radiant. Bahagia.

No matter how cheesy this might sound, tapi berjualan yogurt memberiku banyak pelajaran hidup: You don’t have to be ashamed of what you do. Selama itu halal dan bekerja keras, the rest wont matter.

Soalnya, pertama kali menawarkan yogurt, ada sedikit (eh, banyak kaleeee!) rasa malu. Malu karena belum pernah. Malu karena terasa aneh. Dan pastinya malu karena kok rasanya “turun kelas”. Dari reporter sebuah koran besar di Amerika, kok malah jadi tukang es. Setiap kali orang bertanya, “Kerjanya apa?”, aku akan mengawali jawaban dengan, “DULUNYA sih, di LA Times….” Hanya supaya disangka aku bukan orang ‘bego’ (padahal sih emang iyaaaaa :D)

But now, even if you offered me kerjaan seperti dulu, kayaknya I will politely say no, thank you. Berjualan yogurt, membuatku super bahagia. Ada kepuasan tersendiri yang tidak aku dapatkan dengan bekerja untuk perusahaan besar.

Kepuasan bahwa orang melihatku sebagai diriku sendiri. The real Dinda. Bukan karena dimana aku bekerja, atau berapa banyak gaji yang aku dapat. Dan sebaliknya, I see people just as people. Bukan karena embel-embel yang mengikutinya. Semua orang adalah konsumen, tak peduli siapa. Dan melihat setiap konsumen ini berbinar matanya sambil sincerely bilang, “Enaaakkkk…”, that’s the real happiness.

Selling yogurt keeps me humble. And even better, it keeps me sane. It helps me see that the world is a good place. I’m less cynical. Yogurt makes me healthy inside out. And therefore, I’m happy. That’s all that matter, right?

Dan seperti yang aku bilang tadi, dengan semua kebahagiaan yang aku terima, tak sepantasnya aku mengerjakan ini dengan setengah hati. Tak seharusnya aku “takut” bahwa segala kenyamanan yang aku punya sekarang akan hilang jika usaha ini semakin besar (termasuk kebebasan untuk bilang: ga jualan ah, lagi capek/males/ada acara)

This business is going to another level. And I have to accept it. Embrace it. Mudah-mudahan, seperti niat awalnya, ini bisa membantu lebih banyak orang.

Jadi, perkenalkan: Saya Dinda. Saya tukang es. Dan saya bahagia.



Yuk, yang mau pesan Naturalé yogurt, silahkan klik via Facebook, twitter atau email: naturaleyogurt@gmail.com