Category Archives: MarriageLife

Eleven is a Strange(r) Thing

Tahun yang aneh, bukan begitu, sayang? Lebih satu dekade bersama, kita pikir kita sudah khatam tiap kelok, turunan dan tanjakan. Tapi pada akhirnya, kita hanyalah manusia yang tak luput dari kesalahan. Sekeras apapun kita mencoba, itu adalah hal yang tak terelakkan.

Ada banyak air mata yang mengalir, tahun ini. Kadang ia tertahan di kerongkongan, lebih banyak lagi yang mengucur tak berhenti. Kesedihan yang menggumpal bersama kekecewaan pada diri sendiri. Emosi yang sering kali hilang kendali.

Kita menyalahkan jarak. Mengutuk waktu yang terserak. Membenci suara-suara sumbang yang kerap bersorak. Menyumpahi isi kepala dan ego yang tak kunjung melunak.

Tapi kurasa Tuhan memang mendengar doa yang terlantun dengan sungguh. Kita selalu meminta dijauhkan dari penyesalan, dari pikiran yang keruh. Kita selalu memohon untuk diberikan kekuatan dan hati yang teguh. Untuk selalu bisa mencintai satu sama lain dengan utuh.

Memaafkan diri sendiri bukan perkara yang mudah. Ia mewajibkan kita untuk berkaca demi mengenali dan mengakui semua ketakutan yang kerap tersamar sebagai amarah. Butuh keberanian yang besar untuk mengaku salah. Memaafkan, tidak dilakukan oleh orang yang lemah.

Pada akhirnya kita akan kembali pada pertanyaan paling klise sedunia: percayakah kita pada cinta? Dan mata kita yang beradu, serta tangan yang bergenggaman menyatu, adalah jawabannya. Cinta saja memang tidak cukup untuk membina rumah tangga. Tapi cinta adalah fondasinya. Aku percaya.

Selamat ulang tahun perkawinan ke-11, abang.

I love you, I really do.

This one is for you :-*

 

Looking back on anniversaries: 10th, 9th, 8th, 7th, 6th, 5th, 4th, 3rd, 2nd

Sembilan Berjalan

Ini tahun yang cukup menyenangkan, bukan begitu, suamiku? Ada begitu banyak perjalanan ke tempat-tempat yang menakjubkan. Begitupun, ada cukup banyak kesempatan untuk berhenti sejenak, dan berpandangan dengan tatapan sayang. Yang meskipun tanpa banyak berkata-kata, kita berdua sudah tau artinya: betapa beruntungnya kita.

Beruntung bahwa kita semakin paham bahwa hidup juga adalah perjalanan panjang. Semua manusia berakhir sama, oleh karenanya ini bukan semata soal tujuan. Tapi soal cara. Bahwa berniat baik adalah baik, tapi berucap dan berbuat baik lebih utama.

Ego terkadang mirip baju zirah yang melekat kuat untuk melindungi diri. Untuk melepaskannya, butuh bantuan orang lain. Dan meskipun butuh waktu lama, kita selalu berusaha saling membantu untuk menanggalkannya. Sebab pernikahan bukan medan perang. Ia justru lapangan luas penuh kasih sayang. Dan apalah artinya perjalanan ke tempat eksotis nan indah tanpa ada tangan lain untuk digenggam?

Terimakasih untuk sembilan tahun yang naik-turun dan berliku, suamiku. Apapun yang ada di balik tikungan itu, aku tau, kau akan selalu ada untukku. Dan akupun ingin kau tak pernah ragu, bahwa aku, juga akan selalu ada untukmu.

Aku, mencintaimu.

annv9

PKS #2 : Bukan ayam biasa.

Karena masih belum sempet nulis macem-macem, marilah kita update blog ini dengan PKS* saja. Mahap kalo terlalu garing. Sambil makan krupuk gih 😀

—–

 

Ini kejadian tiga tahun-an lalu. Kami sedang nonton acara radioshow di tvone, dan The Paps, band raggae indonesia sedang nyanyi.

Dinda: Aduh, ini kenapa sih lead vocal-nya matanya merem melulu? Udah hafal liriknya kali ya, hahahaa *ketawa sendiri*. Kamu tau kan joke itu? Kenapa ayam berkokok matanya merem?
Abang: Karena ayamnya udah hafal?
Dinda: Iya, hahahaha…
Abang: Oh, mungkin penyanyinya dulu juga ayam…

 

 

* PKS alias Percakapan Keluarga Sakinah. Karena kadang-kadang dalam keluarga kami ini terjadi percakapan-percakapan absurd yang… yah begitulah 😀 Dikumpulin sejak lama tapi kadang ragu, apa harus dipublish apa nggak saking absurdnya 😀

 

Delapan Bertahan

Tahun yang melelahkan, bukan begitu, sayang?

Kupikir kita telah melewati semuanya dan bisa bebas lenggang kangkung sesukanya. Tapi hidup memang selalu tak terduga. Pernikahan ternyata semakin tak mudah. Kerikil-kerikil kadang membuat kaki terluka dan tenaga terkuras untuk meminggirkan batu besar yang menghadang ditengah.

Begitupun, bahagia kini menjadi kian sederhana. Sesederhana punya waktu untuk saling memeluk sambil bertatapan dalam diam. Sesederhana membicarakan hal-hal tak penting yang mengundang tawa berkepanjangan. Atau jalan berdua saja sambil bergandengan tangan.

Pernikahan tahun ke delapan, dan kita masih bertahan. Sewindu, dan kita masih bersatu. Semoga kita selalu diberikan banyak kesabaran, banyak kekuatan, untuk terus berjalan.

Aku mencintaimu, suamiku.

 

8th

PKS a.k.a Percakapan Keluarga Sakinah #1

sakina1

 

Karena kadang-kadang dalam keluarga kami ini terjadi percakapan-percakapan absurd yang… yah begitulah 😀  Udah dikumpulin sejak lama dan selalu ragu, apa harus di-publish apa nggak saking absurdnya. Nah, berhubung si Abang sudah membolehkan, maka marilah kita tertawakan bersama hidup ini. Why so serious 😀

 

 

PKS #1 – Permisi, mau amnesia dulu!

Henponku bunyi dan ada sms masuk dari seorang teman dan aku sibuk membalas. Lalu terjadilah percakapan antara Abang (A) dan aku (D).

A: Siapa yang kirim sms?
D: Atta, temen nge-blog.
A: Oh iya inget.
D: Ih, sama nama cewek aja inget!
A: Yah kalo sama nama cewek nggak inget, nanti aku nggak inget nama kamu…