Category Archives: Review

a ballad.

We’re going down,
And you can see it, too
We’re going down
And you know that we’re doomed
My dear, we’re slow dancing in a burning room…
Don’t you think we ought to know by now?
Don’t you think we should have learned somehow?

~John Mayer – Slow Dancing In A Burning Room~

Home

Senin kemarin aku dan si abang nonton Home di Plaza Senayan.

Sejak 5 juni kemarin, film tentang bumi besutan Yann Arthus-Bertrand ini diputar serentak di seluruh dunia. Melihat trailernya, film ini lumayan oke. Apalagi dengan membeli tiketnya kita sekalian memberikan donasi ke WWF dan WALHI.

Dengan pengalaman nonton Earth, atau March of the Penguins yang sangat luar biasa (langsung nyari dvd-nya dan ditonton berulang-ulang!), kami mengharapkan Home juga akan memberikan sensasi yang sama.

Tapi, ternyata kok jauh berbeda ya? Aku sempet tidur aja gitu (dua kali pula) dalam bioskop. Gambarnya kurang cring. Anglenya membosankan, dari atas melulu. Pergerakannya lambat. Nggak ada ‘tokoh sentral’, jadi cuma gambar-gambar plus narasi doang.

Liat aja disini: homeproject

Untung setelah nonton makan tostados di Cofee Club yang superduper enak. Jadi gapapa lah jauh-jauh ke Senayan juga 😀

Duapuluhtiga.

Permintaan ini sudah lama, dan Melly juga mungkin sudah lupa :D. Tapi, karena berjanji pada diri sendiri untuk kembali berlatih menulis, dan tentunya menepati janji ke Melly, aku tulis aja ya.

Satu yang paling penting: I have no regrets. Semua masa dalam hidupku itu memberikan warna sendiri. Memberikan kesan dan pelajarannya sendiri-sendiri. Tapi kalau ditanya pengen balik ke umur berapa, sekarang ini aku pengen balik sebentar ke masa-masa duapuluhtiga, untuk menyerap esensi kemudaan dan kemerdekan.

Gara-garanya lagu sialan ini. Denger lagu ini pertama kali sekitar dua bulan lalu. Si Adek yang waktu itu menginap di rumahku menjejalkan earphone-nya dengan semangat ke kupingku. Matanya berbinar, “Aduuhh.. ini laguku ‘kali dindaaaa…” katanya sambil menyuruh aku mencerna liriknya.

Going back to the corner where I first saw you,
Gonna camp in my sleeping bag I’m not gonna move,
Got some words on cardboard got your picture in my hand,
Saying if you see this girl can you tell her where I am,
Some try to hand me money they don’t understand,

I’m not…broke I’m just a broken hearted man,
I know it makes no sense, but what else can I do,
How can I move on when I’m still in love with you…

Cos if one day you wake up and find that you’re missing me,
And your heart starts to wonder where on this earth I can be,
Thinking maybe you’ll come back here to the place that we’d meet,
And you’d see me waiting for you on the corner of the street.

So I’m not moving…
I’m not moving.

Yeah..yeah.. yeah… memang “si adek bangeettt” lagunya: menye-menye tak menentu. Dan aku tak tertarik sama sekali waktu itu.

Tapi dua hari lalu aku mendengar lagu ini di radio dan tiba-tiba aja terdengar asyik. Jadilah aku memutar lagu ini berkali-kali-kali-kali.

Somehow, lagu ini mengingatkan diriku pada masa muda dulu, hahahah! Exactly: menye-menye tak menentu, doing silly stuff in the name of what-so-called love. Dan dari hasil melamun-melamun tentang jaman dulu itu, rasanya umur 23 itu umur paling seru! Umur yang paling menggambarkan kegembiraan masa duapuluhan. That was surely my best year in my 20-ies so far.

Dimulai dari menghadiahi diri sendiri sebuah kamar kos berbugdet murah, sebuah cita-cita dari zaman dahulu (iya.. dulu cita-citanya cukup simple: pengen jadi anak kos!). Kamar kos itu menahbiskan aku sebagai anak yang mandiri, bisa hidup sendiri, on my own two feet, di rantau orang (halaaahhh!).

Sepanjang 23, aku begitu bebas merdeka dan menikmati setiap detiknya. Pergi ke Aceh untuk jadi relawan Tsunami, dan kembali lagi untuk liputan sambil berenang di Sabang. Berpacu dengan deadline dan tak tidur 48 jam untuk liputan bom Bali 2. Melihat lumba-lumba di laut lepas, mendekati komodo, berenang bersama manta dan kura-kura juga menjelajah gua pre-historic di Flores. Berkeliling kota dan melihat kembang api di Monas. Walking barefoot di Bunderan HI dini hari selepas begadang malam mingguan. I felt like I was on top of the world dan bisa melakukan APA saja.

Sebenarnya perasaan itu yang sedang dirindukan: being alive! Saat ide bisa dipungut dengan mudah dari mana saja. Saat melakukan kesalahan adalah pelajaran berharga.

Hmmm… melamunkan itu semua, aku jadi semangat lagi 😀


*Suamikuuuu… ayo kita jalan-jalan!!!*