Category Archives: Review

Review Webinar Homeschooling oleh Rumah Inspirasi

Huaahh… akhirnya kelar juga 9 minggu ber-webinar-ria plus 1 minggu sesi tanya jawab intensif bersama Rumah Inspirasi. Kalau dirangkum lagi, berikut adalah materi dan link summary yang sudah aku buat:

Minggu 1 – Dasar dan Rancangan Homeschooling

Minggu 2 – Model dan Legalitas Homeschooling

Minggu 3 – Memulai Homeschooling

Minggu 4 – Kurikulum, Materi Belajar dan Pola Kegiatan Homeschooling

Minggu 5 – Menyiapkan Pembelajar Mandiri

Minggu 6 – Belajar Melalui Keseharian

Minggu 7 – Memanfaatkan Internet untuk Homeschooling

Minggu 8 – Evaluasi dalam Homeschooling

Minggu 9 – Manajemen Keseharian

 

Secara umum, aku suka sekali dengan materi-materinya. Banyak hal-hal baru yang bisa dipelajari. Dengan contoh-contoh dan tips praktis yang sangat doable, aku dan abang pelan-pelan mulai mencoba mengaplikasikannya dalam kehidupan kami sehari-hari. Apalagi, materinya disajikan dengan cara yang menurutku cukup ringan dan sederhana, nggak berat dan dengan bahasa yang mudah dicerna. Berasa udah kenal lama deh sama Mas Aar dan Mbak Lala, hihihi. *wooo… sok akrab woooo!*

 

Dari keseluruhan materi, yang paling membuka mata itu adalah Sesi #6, Belajar Melalui Keseharian. Materi ini memberikan perspektif baru dalam melihat aktivitas sehari-hari. Bahwa ada banyak sekali yang bisa dipelajari anak dengan melibatkan mereka dalam pekerjaan rumah tangga. Selain itu, Aku juga suka Sesi #8, Evaluasi dalam Homeschooling. Konsep evaluasi bukan hanya untuk melihat perkembangan anak, tapi lebih kepada alat untuk orang tua melakukan refleksi. Kalau anak punya kebiasan buruk, orang tua lah yang harusnya pertama kali berkaca: dimana salahnya.

 

Setelah selesai Sesi #9 soal Manajemen Keseharian yang dengan pas-nya ditutup dengan berbagai tips yang sangat applicable, aku dan abang merasa jauh lebih percaya diri untuk menjalankan homeschooling untuk BabyM dibandingkan saat pertama sebelum webinar. Selain itu, aku merasakan ada perubahan signifikan dalam keluarga kami. Dulu, kalau ada ide bagus, paling kami hanya diskusi mengenai hal itu. Kalau sekarang, selain kami berdiskusi lebih intens soal isu-isu parenting, kami juga lebih cepat bergerak untuk mengeksekusi ide tersebut. Aku dan abang, sepertinya sudah mulai semakin satu frekewensi, hehehe.

 

Saat ini kami sudah menggodok Visi Pendidikan Keluarga dan sudah jadi separohnya. Gambaran besarnya sudah ada, namun kami memilih menjabarkannya dengan bertahap. Kami juga sudah sepakat mulai belajar membuat jadwal, walaupun sangat longgar. Rencananya, jadwal dibedakan antara 7 minggu saat abang bekerja, dan 5 minggu saat abang di rumah. Selain itu, pendokumentasian aktivitas dan perkembangan BabyM juga menjadi perhatian kami. Dengan ‘modal’ yearbook berisi foto-foto perkembangan babyM di tahun pertamnya yang aku buat tahun lalu, kami bermaksud untuk terus konsisten membuatnya.

 

Bagi aku dan abang, meskipun kami masih belum tau apakah akan meneruskan pelaksanaan homeschooling hingga pada saat BabyM sekolah nanti, seluruh usaha yang kami lakukan saat ini merupakan pengingat bagi kami berdua, bahwa kamilah yang paling bertanggung jawab atas tumbuh-kembang BabyM. Tidak ada salahnya mempertahankan dan terus membangun kebiasan-kebiasaan baik – terlepas dari homeschooling atau tidak.

 

Jadi, terimakasih banyak, Mas Aar dan Mbak Lala, atas semua ilmu, sharing pengalaman, serta tips-tipsnya yang oke banget! Terimakasih untuk semua praktisi homeschooling yang telah menceritakan kisah-kisah mereka lewat podcast (terutama keluarga Mbak Raken Asri yang podcastnya bikin kami berdua ketawa-ketawa tapi sekaligus belajar banyak! Jadi pengen ketemu deh!). Dan tidak lupa, terimakasih kepada rekan-rekan sesama peserta webinar yang bergabung di grup WhatsApp. Pada pinter-pinter banget sih, Pak, Bu! Bangga deh bisa kenal kalian semua. Mudah-mudahan berlanjut ke kopdar dan menjadi pertemanan yang langgeng yaaaa…. Aamiinn.

9 bye

 Salam dari keluarga kami. Sampai bertemu! *dadah-dadah*

 

Freeletics!

Oke, jadi sejak tulisan soal keren-nggak keren itu, aku semakin kepikiran untuk kembali berolahraga. Paling nggak, pengen badan lebih sehat lah. Kali aja kalo lebih banyak oksigen masuk ke kepala bisa nggak terlalu oon lagi, heheheh.

 

Sekitar dua tahun sebelum hamil BabyM, aku dan abang cukup rajin olahraga. Kami punya membership di sportclub yang letaknya di seberang cluster rumah. Fasilitasnya lumayan lengkap. Ada gym, kelas-kelas yoga, aerobic, dan sebagainya, kolam renang, juga lapangan olahraga seperti bulutangkis, tennis dan basket. Dan yang penting, kamar mandinya juga bersih banget. Walaupun kami hanya menggunakan gym dan kolam renang, tapi hampir setiap hari kami olahraga di sportclub. Ya bisa jadi, gaya hidup sehat kami (dan pasrah tingkat tinggi juga sih, hahaha) waktu itulah yang membuat aku bisa hamil dengan sehat dan melahirkan BabyM.

 

Namun, sejak ada BabyM, olahraga ke sportclub itu tentunya tidak lagi jadi pilihan. Ya anaknya mau dititipin ke siapa? Dulu, waktu BabyM masih bayi banget dan masih bisa didorong di stroller, aku selalu menyempatkan jalan pagi keliling cluster. Kadang-kadang sambil lari-lari kecil. Dan kalau dia tertidur, aku bisa melakukan peregangan dikit-dikit. Tapi makin kesini, mencari waktu untuk olahraga itu susah sekali.

 

Saking pengennya kembali olahraga, aku membeli running outfit pas ulang tahun kemarin. Niatnya, aku mau lari aja. Lari kan cukup gampang. Dan nggak usah lama-lama juga bisa. Mumpung abang lagi cuti, ya udahlah, dimulai saja. Kalau nanti dia pergi kerja lagi, palingan aku berhenti dulu larinya, heheheh….

 

Tapiii… ternyata tetep ajah! Susah bok, nyari waktunya. Apalagi harus juga bergantian dengan si Abang yang jadwal larinya pagi-pagi. Hiks. Olahraga apa sih, yang bisa dilakukan dimana aja, nggak usah ribet pake alat, nggak usah pake membership, nggak usah lama-lama, tapi tetep bikin sehat?

 

“Kamu coba ini deh,” kata si Abang sambil nunjukin henponnya. Ada apps olahraga, namanya Freeletics.

freeletics web

 

Awalnya aku skeptis. Aku pernah coba apps olahraga macam NTC (Nike+ Training Club), tapi yang ada aku bolak-balik liat henpon, karena lupa rangkaian gerakannya gimana. Belum lagi kalau loadingnya lama. Udah keburu turun moodnya.

 

Nah, si Freeletics ini ternyata gampang banget! Nggak perlu ruangan gede untuk melakukannya. Nggak perlu lama-lama juga. Satu workouts routine hanya ada tiga gerakan aja. Itu diulang-ulang sampai beberapa kali, tergantung level kita: apakah pemula, standar, atau yang mahir. Routine-nya juga ada beberapa macam. Kalau mau lebih banyak model, dan mau pakai coach, bisa juga. Harga yang termurah untuk 3 bulan coaching adalah Rp. 500ribu. Untuk aku sih, coba yang gratis aja lah dulu yaaaa…

 

Aku baru coba tiga kali sih, hehehe *baru tiga kali aja udah semangat banget bikin review, din!* Dan aku masih coba satu routine yang diberi nama Athena. Dalam routinenya ada tiga gerakan, yaitu Climber, crunches dan squats. Untuk level yang paling ringan, gerakannya adalah 25x climber, 25x crunches, 25x squats dan 25 detik istirahat. Lalu dilanjutkan dengan 20x ketiga gerakan dan 20 detik istirahat. Kemudian 15x, 10x dan 5x. Saat melakukan workout ini, kita harus ngidupin timer-nya. Jadi berapa lama waktunya akan terekam. Di percobaan pertama aku nggak sanggup buat coba full. Di percobaan kedua, aku bisa coba full, dengan waktu 12 menit 20 detik (tentunya dengan kaki rasanya kayak ager-ager!). Dan percobaan ketiga, aku bisa 11 menit 33 detik. Yay! Walaupun olagraganya nggak sampe 15 menit, jangan tanya keringet dan capeknya ya. WOW banget deh pokoknya!

 

Hal lain yang aku suka dari freeletics ini adalah caranya memotivasi. Lihat deh, greeting-nya yang dikirim ke email saat pertama bergabung:

Athlete. Welcome to Freeletics. You are not bound by a gym, machines or weights. You are free to work out anytime and anywhere. This is one of the main principles behind Freeletics. Tough. Together. Free. Freeletics focuses on short and efficient high intensity workouts that make sure you become more athletic than ever. You are now a Free Athlete. First off, take a photo of yourself. In a few weeks you’ll already change and you’ll want to see the difference. Train like an athlete to look like an athlete.

 

Boookkk… belum mulai aja, aku udah berasa jadi atliiittttt, hkahakhakahakha! Kalo gini kan jadi semangat yaaaa! Selain itu, tampilan apps-nya mirip facebook gitu, kita bisa saling follow teman dan lihat (semacam) status update atau foto-foto orang-orang lain yang berlatih. Buatku, ini lumayan jadi motivasi tambahan.

freeletics workout Hari minggu lalu nyobain freeletics di taman, sambil main sama BabyM. Foto diambil oleh si Bapak.

 

Pengennya, kedepan aku pengen terus nulis pengalaman ber-freeletics ria. Nggak, bukan karena pengen pamer-pamer olahraga. Tapi lebih kepada menjaga komitmen diri sendiri. Kalo udah nulis begini, kan pasti mikir beberapa kali kalo mau berhenti. Malu lah sama tulisan sendiri, hihihihi! Paling nggak jadi motivasi tambahan lah ya. Mudah-mudahan ini adalah awal yang baik buat hidup yang lebih sehat ya!

 

Ps: kalau ada yang ikutan freletics juga, saling follow yuk, biar semangat, hehehehe!

Blast From The Past

Sesungguhnya sedikit nostalgia membuat bahagia 🙂

Dan malam ini aku terbang ke masa-masa hormon remaja masih bergelora. Kendaraannya adalah lirik lagu ‘No Pressure Over Cappucino’-nya Alanis Morissette, yang ditemukan di sebuah file berisi tulisan-tulisan lama. It was one really good song from the Unplugged album (1999).

Alanis was my hero growing up. Ia bukan hanya saja rocker dengan suara khas, tapi juga penulis yang mumpuni. Lirik lagunya puitis dan penuh makna, meskipun dulu aku tak punya cukup referensi untuk paham apa itu chardonnay, atau emm… 69. Album ‘Jagged Little Pill’ (1995) adalah album penuh kemarahan dan kesedihan. Tapi, ia mengatakannya dengan cara yang indah.  

Aku hafal isi album itu luar kepala. Setiap intro. Setiap refrain. Setiap cengkok dan teriakan menyayat khasnya. Aku ikut marah di ‘You Oughta Know’, meskipun waktu itu belum tau rasanya patah hati. Ikut teriak-teriak sok rebellious bersama ‘All I Really Want’. Seyum-senyum sembari menerka-nerka bagaimana rasanya jatuh cinta mendengarkan ‘Head Over Feet’. Dan gongnya, adalah mendengarkan ‘Perfect’, sebagai soundtrack dari semua kesedihan yang diakibatkan oleh pertengkaran dengan si Mama. Oh. Drama!

Kalau teman sebaya mengoleksi poster boyband, aku bangga sekali bisa memperoleh poster Alanis yang merupakan cover album ‘Supposed Former Infatuation Junkie’ (1998) dengan tanda tangan tercetak diatasnya. Poster itu masih ada di rumah Medan sampai sekarang. Mama sepertinya tak pernah sampai hati untuk membuangnya.

Aku punya DVD (atau VCD ya?) berisi documenter tentang perjalanan karirnya, juga ada lagu-lagu, interview, serta cuplikan-cuplikan konser, termasuk yang di Jakarta. Juga ada potongan-potongan rekaman live, termasuk ‘No Pressure Over Cappucino’ yang diambil di Navajo Nation ini. 


And you’re like a 90’s noah 


And they laughed at you when you packed all of your things 

And they wonder why you’re frustrated 

And they wonder why you’re so angry 

And is it just me or are you fed up?



And may god bless you in your travels in your conquests and queries...

Ghostbird

Setelah masa penantian yang melelahkan *lebay!*, akhirnya CD Zee Avi berada di genggamanku. Nyampenya hanya sehari setelah ulang tahun pulak. Jadi berasa dikasih kado personal gitu, hakhakhak. Memang album Ghostbird ini udah bisa di download sebulan sebelumnya. Aku pun sudah bolak-balik memutarnya. Tapi rasanya ada yang kurang aja gitu kalo nggak dengerin musik langsung dari CD. 
yah… kecuali kalo ada yang mau hadiahin ipod touch sih yaaa… *lirik abang*

DAAAAAANNN…
Aku akan nonton konsernyaaaaaaaaaaa!!! Berhubung baru balik dari luar kota, baru deh keinget hari ini untuk beli tiket. Parahnya, tiket untuk barisan depan hanya bisa dibeli di Plaza Indonesia. Dan tinggal empat seat pulak, di pinggir-pinggir. Katanya, begitu dibuka, separoh kursi langsung terisi dalam satu hari. Untungnya Kakak Popon tersayang mau dimintai tolong buat ngebeliin *mmuuah!*
O iya, tiket bagian tengah dan belakang juga di jual di rajakarcis dan jakartaconcert sih. Tapi, duduknya mesti rebutan coy. Free seating ga ada nomer. Alamat harus dateng dari jam 1 kali ya, buat berdiri di depan pintu 😀
Jadi, yang pengen nonton encik satu ini, buruan deh. Ketemu disana yaaaa… 

Freedom Writers

But one thing’s for sure, you are an amazing teacher. Special. You have been blessed with a burden, my daughter. And I envy you that. And I admire you. And how many fathers ever get to say that to their daughters, and really mean it? 

– Steve Gruwell, to his daugter Erin Gruwell, taken from the movie “Freedom Writers”.

I looooove watching “Freedom Writers“. Film keluaran tahun 2007 ini diangkat dari kisah nyata seorang guru bernama Erin Gruwell. Meskipun udah ditonton berkali-kali, film ini tetep sukses membuat aku nangis. Termasuk barusan ini, saat ditayangkan lagi di FOX.
Yang paling buat sesenggrukan adalah scene pada saat anak-anak di kelasnya baru masuk lagi setelah libur summer. Ibu guru Erin menyambut anak-anak dengan buku-buku baru dan bergelas-gelas jus apel. Ia menyuruh setiap orang to raise their glasses and give a ‘toast for change’. Salah seorang murid maju, membacakan isi dari diary-nya.

“It all started with a phone call. My mother was crying and begging, asking for more time as if she were gasping for her last breath of air. She held me as tight as she could and cried.
Her tears hit my shirt like bullets and told me we were being evicted. She kept apologizing to me. I thought, ‘I have no home. I should have asked for something less expensive at Christmas’. 

On the morning of the eviction, a hard knock on the door woke me up. The sheriff was there to do his job. I looked up at the sky, waiting for something to happen. My mother has no family to lean on, no money coming in. Why bother coming to school or getting good grades if I’m homeless? 

The bus stops in front of the school. I feel like throwing up. I’m wearing clothes from last year, some old shoes and no new haircut. I kept thinking I’d get laughed at. Instead, I’m greeted by a couple of friends who were in my English class last year. 

And it hits me. Mrs. Gruwell, my crazy English teacher from last year, is the only person that made me think of hope. Talking with friends about last year’s English and our trips, I began to feel better. 

I receive my schedule and the first teacher is Mrs. Gruwell in Room 203. I walk into the room and feel as though all the problems in life are not so important anymore.

I am home.

Aiiihhhh…. *lap lap air mata* Yang belum pernah nonton, silahkan nonton deh. Biar kita bisa nangis bareng-bareng (apa siih!)
– quotes diambil dari sini
– gambar diambil dari sini