Category Archives: InsideOut

2015: Traveling… Inside Out.

UK24

 

Aku bisa dengan gampang menyebutkan bahwa 2015 adalah tahun traveling. Posting blog bertama di tahun ini adalah soal aku yang kangen laut, dan postingan terakhir adalah tentang perjalanan ke pantai Ujung Genteng dan Sawarna, bagian dari roadtrip yang diberi tajuk ‘Life is A Beach’.

 

Diantaranya, ada banyak perjalanan. Kami liburan ke Bali di bulan Maret untuk merayakan sewindu ulangtahun pekawinan, disusul dengan kedatangan keluarga dari Medan yang membuat kami mengunjungi banyak tempat wisata. Di bulan Juni, kami melakukan roadtrip pertama bersama BabyM, 17 hari mengelilingi Pulau Jawa. Dan sepanjang Juli-Agustus kami pulang kampung ke Medan dan Aceh untuk berlebaran. Ketagihan roadtrip, kami melakukannya lagi di bulan November. Menghabiskan 12 hari perjalanan menyusur pantai barat Jawa, kami mengunjungi Ujung Genteng, Sawarna, Ujung Kulon, hingga Tajung Lesung – yang bahkan belum kelar ditulis.

 

Traveling, memang selalu mendapat porsi yang besar dalam hidupku – dan kini, hidup kami sekeluarga. Ada begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik, jika kita benar-benar mau. Kami hendak menularkan kebiasaan ini kepada BabyM. Kami ingin ia terpapar dengan banyak hal, banyak perbedaan, banyak nuansa, banyak keadaan, banyak kehidupan; agar dia tau, bahwa hidup kadang tidak senyaman rumahnya, dan oleh karenanya ia tau kenapa dia harus bersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas kebahagiaan-kebahagiaan yang didapatkan, sesederhana apapun dia menganggapnya.

 

Perjalanan-perjalananku sepanjang tahun 2015 berkelindan dengan banyak hal lain yang terjadi dalam keluarga kami. Pada bulan Mei, misalnya. Aku dan Abang dihadapkan pada kenyataan bahwa anak kami yang umurnya belum pun dua tahun itu, harus dioperasi hernia plus disunat sekalian. Sekali lagi, ketabahan kami sebagai orang tua kembali diuji. Bagiku, ini juga adalah sebuah perjalanan. Perjalanan mental, bahkan cenderung spiritual. ‘We don’t know how strong we are until being strong is the only choice we have’, kata Bob Marley, dan aku mengamini sepenuhnya.

 

Selain itu, pada bulan September – November, aku melakukan sebuah ‘perjalanan’ yang tak kalah penting untuk menjadi orang tua yang lebih baik: Aku mengikuti webinar soal homeschooling. Ya, kami memang berencana untuk tidak memasukkan BabyM ke sekolah konvensional. Mengikuti webinar itu adalah sebuah langkah awal bagi kami untuk mempersiapkan bentuk pendidikan bagi BabyM. Aku – juga abang – sadar, bahwa perjalanan yang satu ini adalah jalur yang jarang ditempuh, the road less travelled. Tapi, tak bisa dipungkiri, bahwa hidup kami kini berpusat pada anak, dan cara ini adalah yang paling masuk akal untuk dijalani. Sejatinya, hidup adalah perjalanan. Kita yang menentukan tujuan, kita juga yang memutuskan rute mana yang hendak diambil.

 

Selamat datang, 2016. I’m ready.

 

Untuk Para Ibu Baru…

Beberapa waktu lalu, seorang teman yang baru saja punya bayi mengirim email, bertanya dengan nada putus asa: “Dinda, bagaimana kiat menjadi ibu seperti yang kau tulis? Aku seperti tidak bahagia, capek, stress….

 

Sebelumnya, seorang teman lain juga bertanya hal-hal yang kurang lebih mirip. Intinya, kenapa punya anak kok nggak hepi seperti yang dibilang orang-orang? Lihat foto-foto para ibu baru di fesbuk, kok bisa terlihat cantik, menggendong bayi yang juga lucu menawan, terlihat sangat bahagia. Kenapa diri sendiri malah depresi?

 

Pertama-tama…. Sini sini, peluk dulu sini! *peluuukkkkkk*

 

Lalu, aku mau bilang kepada semua ibu baru yang juga merasa hal yang kurang lebih sama: KALIAN NGGAK SENDIRI!

 

Aku juga adalah ibu (yang masih tergolong) baru. Anak baru satu, belum pun dua tahun. Masih belajar ini itu, dan belum pada tempatnya untuk memberi nasihat. Jadi, tulisan ini BUKAN nasihat. Tulisan ini adalah sebuah uluran tangan kepada kalian, para ibu baru, untuk usep-usep punggung dan bilang kalau kalian nggak sendiri.

 

Kalau temanku itu mengira aku ‘bahagia-bahagia’ aja punya anak, ya mungkin memang nggak salah juga. Kalau lihat-lihat tulisan di blog ini, hampir semuanya bernada happy dan riang kalau aku cerita soal BabyM. Tapiii… ya itu karena aku menulisnya saat dalam keadaan WARAS, hahahah! Itu juga datangnya sekali-sekali. Kalau sedang merasa capek, engap, kesal dan sebagainya, boro-boro nulis, ketemu pensil aja kayaknya pengen ditusuk-tusukin kemana gitu 😀

 

“There are days when I feel victorious, but there are other days that makes me feel helpless, defeated, a complete loser. There are days that I feel like throwing bricks at people, but there are days when I really need other people because I just can’t handle it. I start wondering, is this right thing to do? How other mothers do that? Why it seems so easy for them but not for me?”

 

Tulisan diatas adalah entri di sebuah halaman diaryku sebulan setelah BabyM lahir. Sebulan. Dan bahkan setelahnya masih ada cerita soal nangis di shower karena ngerasa nggak sanggup lagi. Tapi, selain itu aku juga nulis hal-hal yang membuat aku ngerasa bahagia banget dan itu karena hal-hal sederhana aja: bisa tidur empat jam tanpa terganggu, bisa meletakkan BabyM di tempat tidur tanpa membangunkannya, atau bisa menggendong dengan gendongan kain!

 

Sepertinya, setelah tiga bulan barulah aku mulai bisa agak senyum. Dan tiap ada orang yang menyapa dan bilang, “Waaahh… nggak terasa yaaa, bayinya sudah tiga bulan. Sudah bisa apa?” itu rasanya campur aduk, antara pengen nonjok, pengen nangis dan pengen cerita panjang lebar. Pengen nonjok karena TIGA BULAN ITU KERASA BANGET! Hari-hari lamaaaaaa sekali berlalu, udah kayak nggak bergerak. Pengen nangis karena capek. Tapi juga pengen cerita panjang lebar dengan antusias karena tiga bulan itu bayinya sudah bisa menggenggam sesuatu loohh… dia juga udah mulai bisa tidur malam, udah bisa ini itu ono anu blablabla nyanyanya… teruuusss… cerita sampe yang nanya nyesel kali, kita ga mau berhenti membanggakan kebisaan-kebiasaan baru si bayi

 

Kalau menurutku, segala perasan sedih, capek, kesel, moody dan sebagainya di awal-awal kelahiran itu adalah sesuatu yang wajar. Masa-masa itu adalah masa adaptasi yang gila-gilaan. Baik bagi orangtua maupun bayinya. Bukan berarti kita nggak bahagia dan bukan pula berarti kita gagal jadi ibu. Jalan ke depan masih panjang, dan definisi gagal atau berhasil itu berbeda-beda tiap orang. Ingatlah satu hal penting: Ini semua akan berlalu….

 

… dan di depan masih menanti tantangan yang nggak kalah besarnya, HAHAHHAHaahha… haha… ha… h… hu… huhu… huhuhuhu….

 

Okelah, kalau memang susah begitu. Tapi yang membuat heran, kenapa nggak ada yang ngasih tau sih kalau jadi ibu itu ternyata susah??? Hemmm… untuk pertanyaan ini, kalau aku liat-liat ada dua kemungkinan.

 

Yang pertama, ada yang yang UDAH ngasi tau, tapi kita nggak cukup peka untuk dengerin karena di kepala kita masih sibu dengan hal lain (melahirkan, misalnyaaaaa!). Pernah baca-baca soal baby-blues sebelum melahirkan? Nah, itu orang udah ‘ngasi tau’ loh. Tapi aku dulu juga ngerasa: nggak mungkin lah aku nanti baby-blues. Itu kan hanya buat orang-orang yang nggak ada persiapan. Aku kan udah persiapan banget, udah sampe ikut konsultasi laktasi bareng suami pun! Kenyataannyaaaaaa…. Jreeeenggg…

 

Yang kedua adalah, orang-orang ‘nggak tega’, bilangnya karena wajah kita udah sumringah banget mau punya bayi. Malah kadang-kadang buat pasangan baru malah udah ngebet banget mau punya bayi begitu selesai akad nikah 😀 Kadang-kadang, aku suka mengingatkan dengan halus: “Apa nggak pengen menikmati aja dulu masa berdua dengan suami, membangun hubungan yang sehat dan kuat dulu, baru punya anak?” Sebab menurut pengalamanku, adaptasi dengan suami setelah menikah aja butuh waktu lumayan panjang. Apalagi kalau harus adaptasi dengan suami DAN bayi baru. Bisa pengsan. Tapi, yang ada aku dilihat dengan pandangan aneh dan para penganten baru ini malah menceramahi aku soal ‘bagusnya’ langsung punya bayi setelah menikah. Oh, baiklah kalau begitu, heheheh.

 

Kembali kepada persoalan semula, lalu harus bagaimana menghadapi semua ini kakaaakkk? Tentunya tidak ada formula yang jitu. Setiap orang berbeda-beda. Tapi kalau seandainya aku punya mesin waktu untuk kembali ke dua tahun lalu dan bilang kepada dinda yang dulu, aku akan bilang:

 

Dinda, tarik nafas banyak-banyak dan tetaplah tenang. Belajarlah untuk tidak langsung panik. Juga, belajarlah mengasah insting. Iya, dua hal ini harus dipelajari. Cobalah untuk tidak mikir terlalu jauh apalagi mikir aneh-aneh, ‘gimana kalau begini, gimana kalau begitu’, jalani aja sehari-sehari. One day at a time. Belajar lah dengan si bayi, juga dengan suami, bersama-sama. You’re in this together. Kalian adalah sebuah tim.

 

Selain itu, belajarlah menerima kenyataan bahwa hidupmu akan berubah. Total. Ini juga perlu dipelajari, karena sungguhlah tidak mudah. Seringnya malah denial dan pengen kembali ke ‘kehidupan lama’. Semakin cepat menerima bahwa kini ada prioritas-prioritas baru dan ada hal-hal yang harus dikorbankan, semakin baik. Dan karenanya, janganlah malu untuk meminta bantuan. Aku dulu rasanya ‘terlalu pede’ bisa melakukan semuanya sendiri. Kenyataannya, kalau aku menerima bantuan, hidupku akan jauh lebih mudah, dan orang-orang disekitarku juga merasa senang karena bisa membantu.

 

Carilah orang-orang yang bisa dipercaya untuk bisa saling berbagi. Punya teman-teman senasib yang juga punya anak kecil? Ayok buat grup. Atau, bisa ikut forum-forum ibu di grup-grup seperti babycenter. Sesama ibu baru bisa saling menguatkan dan saling curhat. Aku sendiri cukup beruntung punya teman-teman baru yang bergabung dalam sebuah grup whatsapp. Kebangun jam dua pagi karena anak mau nenen pun pasti ada ibu yang sedang online juga. Lumayan bisa ngobrol, curhat atau malah sekedar saling menertawakan, hhehehe!

 

Kalau lagi capek stress kesel pengen marah, rasanya semua masalah numpuk jadi satu, ada baiknya istirahat sebentar. Titipkan bayi sebentar kepada orang yang bisa dipercaya. Kadang-kadang, emosi yang menumpuk itu hanya karena kita capek dan butuh istirahat. Atau butuh makan enak. Setelah istirahat dan makan, baru diurai masalahnya apa. Seringnya masalah ‘besar’ ternyata adalah sekumpulan masalah ‘kecil’ yang gampang solusinya, tapi menumpuk.

 

Dan yang terakhir, menjadi ibu itu sering kali berarti melakukan ‘trial and error’. Semuanya coba-coba. Kadang-kadang malah hasilnya ‘salah’ membuat diri merasa bersalah. Atau juga dalam menjaga anak, kadang anaknya jatuh atau kenapa-napa, itu buat rasanya pengen jeduk-jedukin kepala ke dinding: kok bisa bego banget siiihhh! But it happens, all the time. Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Jadi ibu itu harus punya kemampuan untuk bisa memaafkan diri sendiri, lalu move on, sambil berjanji untuk lebih baik lagi besok. It’s okay.

 

Mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu para ibu-ibu baru. Kalaupun tidak, aku dengan senang hati menjadi kuping untuk mendengarkan curhat kalian. Kirim saja email atau pesan di fesbuk. Aku akan senang sekali jika bisa membantu sedikit meringankan beban!

 

Selamat hari ibu, para ibu baru! You’re doing good! *tos!*

 

hari ibu

Review Webinar Homeschooling oleh Rumah Inspirasi

Huaahh… akhirnya kelar juga 9 minggu ber-webinar-ria plus 1 minggu sesi tanya jawab intensif bersama Rumah Inspirasi. Kalau dirangkum lagi, berikut adalah materi dan link summary yang sudah aku buat:

Minggu 1 – Dasar dan Rancangan Homeschooling

Minggu 2 – Model dan Legalitas Homeschooling

Minggu 3 – Memulai Homeschooling

Minggu 4 – Kurikulum, Materi Belajar dan Pola Kegiatan Homeschooling

Minggu 5 – Menyiapkan Pembelajar Mandiri

Minggu 6 – Belajar Melalui Keseharian

Minggu 7 – Memanfaatkan Internet untuk Homeschooling

Minggu 8 – Evaluasi dalam Homeschooling

Minggu 9 – Manajemen Keseharian

 

Secara umum, aku suka sekali dengan materi-materinya. Banyak hal-hal baru yang bisa dipelajari. Dengan contoh-contoh dan tips praktis yang sangat doable, aku dan abang pelan-pelan mulai mencoba mengaplikasikannya dalam kehidupan kami sehari-hari. Apalagi, materinya disajikan dengan cara yang menurutku cukup ringan dan sederhana, nggak berat dan dengan bahasa yang mudah dicerna. Berasa udah kenal lama deh sama Mas Aar dan Mbak Lala, hihihi. *wooo… sok akrab woooo!*

 

Dari keseluruhan materi, yang paling membuka mata itu adalah Sesi #6, Belajar Melalui Keseharian. Materi ini memberikan perspektif baru dalam melihat aktivitas sehari-hari. Bahwa ada banyak sekali yang bisa dipelajari anak dengan melibatkan mereka dalam pekerjaan rumah tangga. Selain itu, Aku juga suka Sesi #8, Evaluasi dalam Homeschooling. Konsep evaluasi bukan hanya untuk melihat perkembangan anak, tapi lebih kepada alat untuk orang tua melakukan refleksi. Kalau anak punya kebiasan buruk, orang tua lah yang harusnya pertama kali berkaca: dimana salahnya.

 

Setelah selesai Sesi #9 soal Manajemen Keseharian yang dengan pas-nya ditutup dengan berbagai tips yang sangat applicable, aku dan abang merasa jauh lebih percaya diri untuk menjalankan homeschooling untuk BabyM dibandingkan saat pertama sebelum webinar. Selain itu, aku merasakan ada perubahan signifikan dalam keluarga kami. Dulu, kalau ada ide bagus, paling kami hanya diskusi mengenai hal itu. Kalau sekarang, selain kami berdiskusi lebih intens soal isu-isu parenting, kami juga lebih cepat bergerak untuk mengeksekusi ide tersebut. Aku dan abang, sepertinya sudah mulai semakin satu frekewensi, hehehe.

 

Saat ini kami sudah menggodok Visi Pendidikan Keluarga dan sudah jadi separohnya. Gambaran besarnya sudah ada, namun kami memilih menjabarkannya dengan bertahap. Kami juga sudah sepakat mulai belajar membuat jadwal, walaupun sangat longgar. Rencananya, jadwal dibedakan antara 7 minggu saat abang bekerja, dan 5 minggu saat abang di rumah. Selain itu, pendokumentasian aktivitas dan perkembangan BabyM juga menjadi perhatian kami. Dengan ‘modal’ yearbook berisi foto-foto perkembangan babyM di tahun pertamnya yang aku buat tahun lalu, kami bermaksud untuk terus konsisten membuatnya.

 

Bagi aku dan abang, meskipun kami masih belum tau apakah akan meneruskan pelaksanaan homeschooling hingga pada saat BabyM sekolah nanti, seluruh usaha yang kami lakukan saat ini merupakan pengingat bagi kami berdua, bahwa kamilah yang paling bertanggung jawab atas tumbuh-kembang BabyM. Tidak ada salahnya mempertahankan dan terus membangun kebiasan-kebiasaan baik – terlepas dari homeschooling atau tidak.

 

Jadi, terimakasih banyak, Mas Aar dan Mbak Lala, atas semua ilmu, sharing pengalaman, serta tips-tipsnya yang oke banget! Terimakasih untuk semua praktisi homeschooling yang telah menceritakan kisah-kisah mereka lewat podcast (terutama keluarga Mbak Raken Asri yang podcastnya bikin kami berdua ketawa-ketawa tapi sekaligus belajar banyak! Jadi pengen ketemu deh!). Dan tidak lupa, terimakasih kepada rekan-rekan sesama peserta webinar yang bergabung di grup WhatsApp. Pada pinter-pinter banget sih, Pak, Bu! Bangga deh bisa kenal kalian semua. Mudah-mudahan berlanjut ke kopdar dan menjadi pertemanan yang langgeng yaaaa…. Aamiinn.

9 bye

 Salam dari keluarga kami. Sampai bertemu! *dadah-dadah*

 

Freeletics!

Oke, jadi sejak tulisan soal keren-nggak keren itu, aku semakin kepikiran untuk kembali berolahraga. Paling nggak, pengen badan lebih sehat lah. Kali aja kalo lebih banyak oksigen masuk ke kepala bisa nggak terlalu oon lagi, heheheh.

 

Sekitar dua tahun sebelum hamil BabyM, aku dan abang cukup rajin olahraga. Kami punya membership di sportclub yang letaknya di seberang cluster rumah. Fasilitasnya lumayan lengkap. Ada gym, kelas-kelas yoga, aerobic, dan sebagainya, kolam renang, juga lapangan olahraga seperti bulutangkis, tennis dan basket. Dan yang penting, kamar mandinya juga bersih banget. Walaupun kami hanya menggunakan gym dan kolam renang, tapi hampir setiap hari kami olahraga di sportclub. Ya bisa jadi, gaya hidup sehat kami (dan pasrah tingkat tinggi juga sih, hahaha) waktu itulah yang membuat aku bisa hamil dengan sehat dan melahirkan BabyM.

 

Namun, sejak ada BabyM, olahraga ke sportclub itu tentunya tidak lagi jadi pilihan. Ya anaknya mau dititipin ke siapa? Dulu, waktu BabyM masih bayi banget dan masih bisa didorong di stroller, aku selalu menyempatkan jalan pagi keliling cluster. Kadang-kadang sambil lari-lari kecil. Dan kalau dia tertidur, aku bisa melakukan peregangan dikit-dikit. Tapi makin kesini, mencari waktu untuk olahraga itu susah sekali.

 

Saking pengennya kembali olahraga, aku membeli running outfit pas ulang tahun kemarin. Niatnya, aku mau lari aja. Lari kan cukup gampang. Dan nggak usah lama-lama juga bisa. Mumpung abang lagi cuti, ya udahlah, dimulai saja. Kalau nanti dia pergi kerja lagi, palingan aku berhenti dulu larinya, heheheh….

 

Tapiii… ternyata tetep ajah! Susah bok, nyari waktunya. Apalagi harus juga bergantian dengan si Abang yang jadwal larinya pagi-pagi. Hiks. Olahraga apa sih, yang bisa dilakukan dimana aja, nggak usah ribet pake alat, nggak usah pake membership, nggak usah lama-lama, tapi tetep bikin sehat?

 

“Kamu coba ini deh,” kata si Abang sambil nunjukin henponnya. Ada apps olahraga, namanya Freeletics.

freeletics web

 

Awalnya aku skeptis. Aku pernah coba apps olahraga macam NTC (Nike+ Training Club), tapi yang ada aku bolak-balik liat henpon, karena lupa rangkaian gerakannya gimana. Belum lagi kalau loadingnya lama. Udah keburu turun moodnya.

 

Nah, si Freeletics ini ternyata gampang banget! Nggak perlu ruangan gede untuk melakukannya. Nggak perlu lama-lama juga. Satu workouts routine hanya ada tiga gerakan aja. Itu diulang-ulang sampai beberapa kali, tergantung level kita: apakah pemula, standar, atau yang mahir. Routine-nya juga ada beberapa macam. Kalau mau lebih banyak model, dan mau pakai coach, bisa juga. Harga yang termurah untuk 3 bulan coaching adalah Rp. 500ribu. Untuk aku sih, coba yang gratis aja lah dulu yaaaa…

 

Aku baru coba tiga kali sih, hehehe *baru tiga kali aja udah semangat banget bikin review, din!* Dan aku masih coba satu routine yang diberi nama Athena. Dalam routinenya ada tiga gerakan, yaitu Climber, crunches dan squats. Untuk level yang paling ringan, gerakannya adalah 25x climber, 25x crunches, 25x squats dan 25 detik istirahat. Lalu dilanjutkan dengan 20x ketiga gerakan dan 20 detik istirahat. Kemudian 15x, 10x dan 5x. Saat melakukan workout ini, kita harus ngidupin timer-nya. Jadi berapa lama waktunya akan terekam. Di percobaan pertama aku nggak sanggup buat coba full. Di percobaan kedua, aku bisa coba full, dengan waktu 12 menit 20 detik (tentunya dengan kaki rasanya kayak ager-ager!). Dan percobaan ketiga, aku bisa 11 menit 33 detik. Yay! Walaupun olagraganya nggak sampe 15 menit, jangan tanya keringet dan capeknya ya. WOW banget deh pokoknya!

 

Hal lain yang aku suka dari freeletics ini adalah caranya memotivasi. Lihat deh, greeting-nya yang dikirim ke email saat pertama bergabung:

Athlete. Welcome to Freeletics. You are not bound by a gym, machines or weights. You are free to work out anytime and anywhere. This is one of the main principles behind Freeletics. Tough. Together. Free. Freeletics focuses on short and efficient high intensity workouts that make sure you become more athletic than ever. You are now a Free Athlete. First off, take a photo of yourself. In a few weeks you’ll already change and you’ll want to see the difference. Train like an athlete to look like an athlete.

 

Boookkk… belum mulai aja, aku udah berasa jadi atliiittttt, hkahakhakahakha! Kalo gini kan jadi semangat yaaaa! Selain itu, tampilan apps-nya mirip facebook gitu, kita bisa saling follow teman dan lihat (semacam) status update atau foto-foto orang-orang lain yang berlatih. Buatku, ini lumayan jadi motivasi tambahan.

freeletics workout Hari minggu lalu nyobain freeletics di taman, sambil main sama BabyM. Foto diambil oleh si Bapak.

 

Pengennya, kedepan aku pengen terus nulis pengalaman ber-freeletics ria. Nggak, bukan karena pengen pamer-pamer olahraga. Tapi lebih kepada menjaga komitmen diri sendiri. Kalo udah nulis begini, kan pasti mikir beberapa kali kalo mau berhenti. Malu lah sama tulisan sendiri, hihihihi! Paling nggak jadi motivasi tambahan lah ya. Mudah-mudahan ini adalah awal yang baik buat hidup yang lebih sehat ya!

 

Ps: kalau ada yang ikutan freletics juga, saling follow yuk, biar semangat, hehehehe!

(Aku) Nggak Keren.

Dari kemaren aku mencari-cari foto lama, dan nggak ketemu karena harddisk rusak. Yang ketemu cuma beberapa foto dari blog jaman dulu yang sudah dihapus. Foto yang diambil satu decade lalu.

Bromo051

Yang ini waktu aku backpacking sendirian di penghujung tahun 2005. Ke Gambir tanpa tujuan dan melihat jadwal kereta terdekat akan kemana. Ternyata ada yang ke Solo. Lalu aku beli tiket dan naik. Habis senang-senang di Solo seharian, aku naik bis dengan tujuan mau ke Bromo. Tanpa tau harus berhenti dimana, hahahah! Lalu, jam 2 dini hari, aku sampai terminal Probolinggo, makan indomi rebus sambil nungguin mobil minibus untuk naik ke Pananjakan, melihat sunrise. Segitu perjuangannya, ternyata sunrise nggak kelihatan, tertutup kabut, hahahahah! Menghabiskan tahun baru 2006 di gurun pasir dan kawah Bromo juga bukit telletubbies. Berkenalan dengan sesama pelancong, dan kami foto-foto bersama. Aku bahkan dikirimin dvd foto-foto kami yang masih ada sampe sekarang (barusan diputer dan, omaygat, kocak! Hahahaha). Abis Bromo ini aku masih terus jalan sendirian ke Surabaya, dan Mojokerto.

 

lampung

Kalau yang ini juga backpacking sendirian, ketagihan setelah Bromo. Tujuannya Lampung, naik bis Damri malam-malam, dari Gambir juga. Aku ke Way Kambas dan main-main dengan gajah seharian. Nggak cuma itu, aku ke Kalianda dan mencari perahu nelayan yang mau membawaku ke Anak Karakatau. Perginya seruuu… sempat snorkeling segala. Pulangnya, hari mulai gelap, ombak tinggi bikin kapal terbang-terbang, dan kami nggak nyampe-nyampe. Mulai dari ketawa-ketawa sama yang punya perahu, sampe semuanya membisu karena dalem hati khawatir malam-malam masih di tengah laut.

 

Hihihi… seru ya jaman dulu. Kayaknya dulu aku cukup keren yah? Hahahaha!

 

Beberapa waktu lalu, topik ‘kurang keren’ ini sempat dibahas di grup whatsapp Mahmud Gosip Bermutu kesayangan. Aku merasa saat ini aku nggak keren sama sekali. Belum lagi, pelan-pelan kayaknya semakin bego. Yang dikepala paling seputar urusan domestik dan urusin anak. Kalau bertemu teman-teman, pembicaraan seputar topik politik selalu sukses buat senyum-senyum ngangguk-ngangguk dikit, biar dikira ngerti, ahahahaha!

 

Dan sejujurnya, ngeliat teman-teman yang karirnya pada kinclong mentereng, dan otaknya masih pada encer-encer semua, aku merasa tak pantas berteman dengan mereka. Apalah aku ini, huhuhuh….

 

Diantara teman-teman yang memberi semangat, Dewi yang udah kenal aku cukup lama justru jujur mengatakan, “Iya Dinda. Kamu dulu keren, sekarang… nggg… kurang keren.” HAHAHAHHA! * Cium Dewi* Seperti aku, Dewi juga ngerasa makin kesini dia juga makin oon. terus kami berdua tertakjub-takjub melihat teman-teman kami yang masih rajin-rajin banget (dan mampu!) belajar. Jadilah kami ngakak-ngakak berdua menertawakan diri kami sendiri.

 

Aku sangat menghargai kejujuran Dewi. Dan dari obrolan kami, kayaknya sindrom ‘merasa lebih bego’ atau ‘merasa kurang keren’ ini banyak dialami para ibu-ibu. Itu justru membuatku bertanya, kenapa ya aku sekarang nggak sekeren dulu? (Kalo Dewi mah menurutku tetep keren, abisnya diantara ngurus anak dan aktif kerja, masih sempat pula rutin lari dan olahraga!)

 

Tapi memang rumput tetangga selalu lebih hijau yah :D. Setelah melalui kontemplasi panjang #eaakkkk, kadar kekerenan ini sepertinya berkaitan dengan prioritas hidup. Setidaknya bagiku.

 

Dulu, aku adalah Dinda yang adventurous. Dinda yang siap mencoba apa saja, dan ingin membuktikan diri bahwa dia bisa. Bisa survive sendirian, hidup jauh dari keluarga. Bisa tidak bergantung sama orang lain. Dinda yang memaksa diri untuk mengetes sejauh apa limitnya. Mungkin, umur duapuluhan memang masanya seperti itu ya. Punya nyali dan tenaga besar, semua dilakukan. Membiarkan diri melakukan kesalahan dan punya keberanian menertawakannya.

 

Tapi sesungguhnya ada sebuah kegelisahan di sudut hati yang seringkali ditutupi. Bahwa dulu aku kerap merasa sendiri. Merasa lelah karena selalu ‘bergerak’ nggak berhenti. Kalau ngomong berandai-andai, dulu pernah bilang,: kalau suatu saat nanti aku punya anak, aku pengen istirahat. Tentunya waktu itu bilangnya sambil ketawa-ketawa nggak jelas. Boro-boro mikirin anak. Pacar aja dulu nggak ada meskipun cemceman nggak terhitung jumlahnya. *uhukuhuk* * batuk rejan*

 

You really have to be careful of what you wish for, it may come true.

 

And here I am now. Umur 34, punya suami satu dan anak juga satu. Yang dikerjain cuma urusan domestik dan anak melulu tiap hari. Sama sekali nggak keren, agak oon dan lambat loading, tapi anehnya kok ya merasa jaaaauuuuuhhhh lebih bahagia. Walaupun kadang-kadang bosan dan bete dan jenuh dan capek sama urusan rumah tangga, tapi Dinda yang sekarang jauh lebih santai, nggak merasa kayak dikejar-kejar melulu, nggak merasa harus meng-impress siapapun, nggak merasa harus membuktikan diri ke siapa-siapa, dan nggak perlu menyenangkan siapa-siapa kecuali diri sendiri.

 

Prioritasnya berubah. Faktor umur? Mungkin. People change? Bisa jadi. Tapi yang pasti, kalau dulu aku nggak segelisah itu, mungkin sekarang juga nggak sesantai ini. Setiap orang sepertinya harus melewati jalannya sendiri untuk menemukan dirinya.

 

Dan kalau sekarang konsekwensinya aku tidak sekeren dulu, melainkan jadi ibu-ibu rumah tangga yang ngurusin anak dan suami melulu, ya sudah tidak apa-apa. Yang penting aku bahagia. Siapa yang tau masa depan nanti bagaimana, saat situasi dan kondisi berubah lagi.

34

I was cool once. I think that’s enough.

 

Happy birthday, Dinda!