Category Archives: InsideOut

Freeletics!

Oke, jadi sejak tulisan soal keren-nggak keren itu, aku semakin kepikiran untuk kembali berolahraga. Paling nggak, pengen badan lebih sehat lah. Kali aja kalo lebih banyak oksigen masuk ke kepala bisa nggak terlalu oon lagi, heheheh.

 

Sekitar dua tahun sebelum hamil BabyM, aku dan abang cukup rajin olahraga. Kami punya membership di sportclub yang letaknya di seberang cluster rumah. Fasilitasnya lumayan lengkap. Ada gym, kelas-kelas yoga, aerobic, dan sebagainya, kolam renang, juga lapangan olahraga seperti bulutangkis, tennis dan basket. Dan yang penting, kamar mandinya juga bersih banget. Walaupun kami hanya menggunakan gym dan kolam renang, tapi hampir setiap hari kami olahraga di sportclub. Ya bisa jadi, gaya hidup sehat kami (dan pasrah tingkat tinggi juga sih, hahaha) waktu itulah yang membuat aku bisa hamil dengan sehat dan melahirkan BabyM.

 

Namun, sejak ada BabyM, olahraga ke sportclub itu tentunya tidak lagi jadi pilihan. Ya anaknya mau dititipin ke siapa? Dulu, waktu BabyM masih bayi banget dan masih bisa didorong di stroller, aku selalu menyempatkan jalan pagi keliling cluster. Kadang-kadang sambil lari-lari kecil. Dan kalau dia tertidur, aku bisa melakukan peregangan dikit-dikit. Tapi makin kesini, mencari waktu untuk olahraga itu susah sekali.

 

Saking pengennya kembali olahraga, aku membeli running outfit pas ulang tahun kemarin. Niatnya, aku mau lari aja. Lari kan cukup gampang. Dan nggak usah lama-lama juga bisa. Mumpung abang lagi cuti, ya udahlah, dimulai saja. Kalau nanti dia pergi kerja lagi, palingan aku berhenti dulu larinya, heheheh….

 

Tapiii… ternyata tetep ajah! Susah bok, nyari waktunya. Apalagi harus juga bergantian dengan si Abang yang jadwal larinya pagi-pagi. Hiks. Olahraga apa sih, yang bisa dilakukan dimana aja, nggak usah ribet pake alat, nggak usah pake membership, nggak usah lama-lama, tapi tetep bikin sehat?

 

“Kamu coba ini deh,” kata si Abang sambil nunjukin henponnya. Ada apps olahraga, namanya Freeletics.

freeletics web

 

Awalnya aku skeptis. Aku pernah coba apps olahraga macam NTC (Nike+ Training Club), tapi yang ada aku bolak-balik liat henpon, karena lupa rangkaian gerakannya gimana. Belum lagi kalau loadingnya lama. Udah keburu turun moodnya.

 

Nah, si Freeletics ini ternyata gampang banget! Nggak perlu ruangan gede untuk melakukannya. Nggak perlu lama-lama juga. Satu workouts routine hanya ada tiga gerakan aja. Itu diulang-ulang sampai beberapa kali, tergantung level kita: apakah pemula, standar, atau yang mahir. Routine-nya juga ada beberapa macam. Kalau mau lebih banyak model, dan mau pakai coach, bisa juga. Harga yang termurah untuk 3 bulan coaching adalah Rp. 500ribu. Untuk aku sih, coba yang gratis aja lah dulu yaaaa…

 

Aku baru coba tiga kali sih, hehehe *baru tiga kali aja udah semangat banget bikin review, din!* Dan aku masih coba satu routine yang diberi nama Athena. Dalam routinenya ada tiga gerakan, yaitu Climber, crunches dan squats. Untuk level yang paling ringan, gerakannya adalah 25x climber, 25x crunches, 25x squats dan 25 detik istirahat. Lalu dilanjutkan dengan 20x ketiga gerakan dan 20 detik istirahat. Kemudian 15x, 10x dan 5x. Saat melakukan workout ini, kita harus ngidupin timer-nya. Jadi berapa lama waktunya akan terekam. Di percobaan pertama aku nggak sanggup buat coba full. Di percobaan kedua, aku bisa coba full, dengan waktu 12 menit 20 detik (tentunya dengan kaki rasanya kayak ager-ager!). Dan percobaan ketiga, aku bisa 11 menit 33 detik. Yay! Walaupun olagraganya nggak sampe 15 menit, jangan tanya keringet dan capeknya ya. WOW banget deh pokoknya!

 

Hal lain yang aku suka dari freeletics ini adalah caranya memotivasi. Lihat deh, greeting-nya yang dikirim ke email saat pertama bergabung:

Athlete. Welcome to Freeletics. You are not bound by a gym, machines or weights. You are free to work out anytime and anywhere. This is one of the main principles behind Freeletics. Tough. Together. Free. Freeletics focuses on short and efficient high intensity workouts that make sure you become more athletic than ever. You are now a Free Athlete. First off, take a photo of yourself. In a few weeks you’ll already change and you’ll want to see the difference. Train like an athlete to look like an athlete.

 

Boookkk… belum mulai aja, aku udah berasa jadi atliiittttt, hkahakhakahakha! Kalo gini kan jadi semangat yaaaa! Selain itu, tampilan apps-nya mirip facebook gitu, kita bisa saling follow teman dan lihat (semacam) status update atau foto-foto orang-orang lain yang berlatih. Buatku, ini lumayan jadi motivasi tambahan.

freeletics workout Hari minggu lalu nyobain freeletics di taman, sambil main sama BabyM. Foto diambil oleh si Bapak.

 

Pengennya, kedepan aku pengen terus nulis pengalaman ber-freeletics ria. Nggak, bukan karena pengen pamer-pamer olahraga. Tapi lebih kepada menjaga komitmen diri sendiri. Kalo udah nulis begini, kan pasti mikir beberapa kali kalo mau berhenti. Malu lah sama tulisan sendiri, hihihihi! Paling nggak jadi motivasi tambahan lah ya. Mudah-mudahan ini adalah awal yang baik buat hidup yang lebih sehat ya!

 

Ps: kalau ada yang ikutan freletics juga, saling follow yuk, biar semangat, hehehehe!

(Aku) Nggak Keren.

Dari kemaren aku mencari-cari foto lama, dan nggak ketemu karena harddisk rusak. Yang ketemu cuma beberapa foto dari blog jaman dulu yang sudah dihapus. Foto yang diambil satu decade lalu.

Bromo051

Yang ini waktu aku backpacking sendirian di penghujung tahun 2005. Ke Gambir tanpa tujuan dan melihat jadwal kereta terdekat akan kemana. Ternyata ada yang ke Solo. Lalu aku beli tiket dan naik. Habis senang-senang di Solo seharian, aku naik bis dengan tujuan mau ke Bromo. Tanpa tau harus berhenti dimana, hahahah! Lalu, jam 2 dini hari, aku sampai terminal Probolinggo, makan indomi rebus sambil nungguin mobil minibus untuk naik ke Pananjakan, melihat sunrise. Segitu perjuangannya, ternyata sunrise nggak kelihatan, tertutup kabut, hahahahah! Menghabiskan tahun baru 2006 di gurun pasir dan kawah Bromo juga bukit telletubbies. Berkenalan dengan sesama pelancong, dan kami foto-foto bersama. Aku bahkan dikirimin dvd foto-foto kami yang masih ada sampe sekarang (barusan diputer dan, omaygat, kocak! Hahahaha). Abis Bromo ini aku masih terus jalan sendirian ke Surabaya, dan Mojokerto.

 

lampung

Kalau yang ini juga backpacking sendirian, ketagihan setelah Bromo. Tujuannya Lampung, naik bis Damri malam-malam, dari Gambir juga. Aku ke Way Kambas dan main-main dengan gajah seharian. Nggak cuma itu, aku ke Kalianda dan mencari perahu nelayan yang mau membawaku ke Anak Karakatau. Perginya seruuu… sempat snorkeling segala. Pulangnya, hari mulai gelap, ombak tinggi bikin kapal terbang-terbang, dan kami nggak nyampe-nyampe. Mulai dari ketawa-ketawa sama yang punya perahu, sampe semuanya membisu karena dalem hati khawatir malam-malam masih di tengah laut.

 

Hihihi… seru ya jaman dulu. Kayaknya dulu aku cukup keren yah? Hahahaha!

 

Beberapa waktu lalu, topik ‘kurang keren’ ini sempat dibahas di grup whatsapp Mahmud Gosip Bermutu kesayangan. Aku merasa saat ini aku nggak keren sama sekali. Belum lagi, pelan-pelan kayaknya semakin bego. Yang dikepala paling seputar urusan domestik dan urusin anak. Kalau bertemu teman-teman, pembicaraan seputar topik politik selalu sukses buat senyum-senyum ngangguk-ngangguk dikit, biar dikira ngerti, ahahahaha!

 

Dan sejujurnya, ngeliat teman-teman yang karirnya pada kinclong mentereng, dan otaknya masih pada encer-encer semua, aku merasa tak pantas berteman dengan mereka. Apalah aku ini, huhuhuh….

 

Diantara teman-teman yang memberi semangat, Dewi yang udah kenal aku cukup lama justru jujur mengatakan, “Iya Dinda. Kamu dulu keren, sekarang… nggg… kurang keren.” HAHAHAHHA! * Cium Dewi* Seperti aku, Dewi juga ngerasa makin kesini dia juga makin oon. terus kami berdua tertakjub-takjub melihat teman-teman kami yang masih rajin-rajin banget (dan mampu!) belajar. Jadilah kami ngakak-ngakak berdua menertawakan diri kami sendiri.

 

Aku sangat menghargai kejujuran Dewi. Dan dari obrolan kami, kayaknya sindrom ‘merasa lebih bego’ atau ‘merasa kurang keren’ ini banyak dialami para ibu-ibu. Itu justru membuatku bertanya, kenapa ya aku sekarang nggak sekeren dulu? (Kalo Dewi mah menurutku tetep keren, abisnya diantara ngurus anak dan aktif kerja, masih sempat pula rutin lari dan olahraga!)

 

Tapi memang rumput tetangga selalu lebih hijau yah :D. Setelah melalui kontemplasi panjang #eaakkkk, kadar kekerenan ini sepertinya berkaitan dengan prioritas hidup. Setidaknya bagiku.

 

Dulu, aku adalah Dinda yang adventurous. Dinda yang siap mencoba apa saja, dan ingin membuktikan diri bahwa dia bisa. Bisa survive sendirian, hidup jauh dari keluarga. Bisa tidak bergantung sama orang lain. Dinda yang memaksa diri untuk mengetes sejauh apa limitnya. Mungkin, umur duapuluhan memang masanya seperti itu ya. Punya nyali dan tenaga besar, semua dilakukan. Membiarkan diri melakukan kesalahan dan punya keberanian menertawakannya.

 

Tapi sesungguhnya ada sebuah kegelisahan di sudut hati yang seringkali ditutupi. Bahwa dulu aku kerap merasa sendiri. Merasa lelah karena selalu ‘bergerak’ nggak berhenti. Kalau ngomong berandai-andai, dulu pernah bilang,: kalau suatu saat nanti aku punya anak, aku pengen istirahat. Tentunya waktu itu bilangnya sambil ketawa-ketawa nggak jelas. Boro-boro mikirin anak. Pacar aja dulu nggak ada meskipun cemceman nggak terhitung jumlahnya. *uhukuhuk* * batuk rejan*

 

You really have to be careful of what you wish for, it may come true.

 

And here I am now. Umur 34, punya suami satu dan anak juga satu. Yang dikerjain cuma urusan domestik dan anak melulu tiap hari. Sama sekali nggak keren, agak oon dan lambat loading, tapi anehnya kok ya merasa jaaaauuuuuhhhh lebih bahagia. Walaupun kadang-kadang bosan dan bete dan jenuh dan capek sama urusan rumah tangga, tapi Dinda yang sekarang jauh lebih santai, nggak merasa kayak dikejar-kejar melulu, nggak merasa harus meng-impress siapapun, nggak merasa harus membuktikan diri ke siapa-siapa, dan nggak perlu menyenangkan siapa-siapa kecuali diri sendiri.

 

Prioritasnya berubah. Faktor umur? Mungkin. People change? Bisa jadi. Tapi yang pasti, kalau dulu aku nggak segelisah itu, mungkin sekarang juga nggak sesantai ini. Setiap orang sepertinya harus melewati jalannya sendiri untuk menemukan dirinya.

 

Dan kalau sekarang konsekwensinya aku tidak sekeren dulu, melainkan jadi ibu-ibu rumah tangga yang ngurusin anak dan suami melulu, ya sudah tidak apa-apa. Yang penting aku bahagia. Siapa yang tau masa depan nanti bagaimana, saat situasi dan kondisi berubah lagi.

34

I was cool once. I think that’s enough.

 

Happy birthday, Dinda!

2014: The Baby Year!

No doubt, 2014 was the year of the baby! Sejak awal tahun, kedatangan BabyM sudah diantisipasi. Begitupun, saat ia lahir di penghujung Januari, aku belum sepenuhnya menyadari perubahan drastis yang menanti di depan. Bukan hanya soal rutinitas setiap hari, tapi juga soal pemikiran, nilai-nilai dan kebiasaan yang selama ini aku yakini dan aku lakukan.

Dan ternyata, begitu ya rasanya punya anak. Hidupku berputar dengan sang bayi sebagai porosnya. Dia adalah pusat semestaku kini. Semua dilakukan agar bisa memberikan yang terbaik untuknya. Segala bacaan soal bayi dan parenting dilahap dengan rakus, demi bisa memahami dunianya. Memahami caranya melihat dunia sesuai dengan perkembangan usianya.

Dengan informasi dan pengetahuan baru setiap hari, mau tidak mau, aku jadi merenungi banyak hal. Aku menelusuri kembali nilai-nilai penting yang aku yakini. Dari mana asalnya? Masih relevankah nilai-nilai itu saat ini? Jika iya, perlukah ditanamkan kepada anakku? Jika perlu, siapkah aku dengan segala konsekwensi yang akan diakibatkannya? Jika siap, bagaimanakah cara menanamkannya, cara merawat nilai-nilai itu hingga ia bisa berbuah manis kelak?

Aku mempertanyakan semua keputusan yang kubuat dari bangun pagi hingga tidur malam. Menganalisa sendiri, mengapa aku lebih melakukan A dan bukan B. Apakah A lebih baik dari B? Mengapa pilihannya hanya A dan B, kenapa aku tidak mencari C, D, atau bahkan XYZ.

Ribet, memang. Bikin pusing. Tapi aku tak bisa berhenti.

Aku percaya, suatu saat nanti BabyM akan mempertanyakan nilai-nilai dan keputusan-keputusan itu. Sebab, kini aku juga mempertanyakan keputusan-keputusan yang dulu dibuat oleh orang tuaku. Keputusan yang membuat aku punya kenangan-kenangan indah yang kupilih untuk kuingat selamanya; juga untuk luka-luka yang inginnya kulupakan tapi entah mengapa kerap muncul lagi dan lagi.

Tapi, semua pertanyaan itu juga membantuku memahami banyak hal. Yang rasanya dulu tidak masuk akal, kini jadi mengerti. Hal-hal yang dulu terlihat remeh-temeh, sesungguhnya kompleks Dan aku berkali-kali diingatkan, dunia toh tidak hitam-putih. Tidak ada keputusan yang sepenuhnya salah atau sepenuhnya benar. Masing-masing punya konsekwensi dan aku harus berdamai dengan itu. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku punya pertimbangan yang cukup untuk memutuskan, apapun itu.

Anak adalah cermin diri yang paling cemerlang. Apapun yang aku lakukan, APAPUN, akan meninggalkan jejak dalam memorinya kelak. Dan karena aku tidak bisa memilihkan memori untuk disimpannya, aku jadi lebih berhati-hati akan segala ucapan dan tindakanku. Aku membiasakan diri untuk melakukan hal-hal baik. Berbicara yang baik-baik. Sebab, mengubah kebiasaan itu tidak mudah. Aku hanya berharap, saat dia sudah mengerti nanti, aku sudah bisa menjadi orang yang pantas untuk ditirunya. Semoga.

Selamat datang, 2015.

 

 

ibunm01

2013 : The Year of Love

*Masih bulan januari kan ya? Masih boleh lah merekap kejadian tahun lalu. Daripada tidak sama sekali :D*

Aku hampir tidak percaya kalau aku memasuki tahun 2013 dengan kemarahan yang amat sangat, dan meninggalkannya dengan penuh kebahagiaan. Tapi itulah hidup, kan? Pada akhirnya kita tak perlu larut terlalu dalam. Sebab apapun yang terjadi – kesedihan, juga kebahagiaan – ia akan lewat. Kita, hanya perlu menikmati.

Dari seluruh naik-turunnya, ada tiga hal besar yang terjadi di tahun lalu. Di awal tahun, rumah impian kami akhirnya selesai juga! Setelah melalui “perjuangan” yang penuh keringat dan air mata, pada bulan April kami mengundang keluarga dan sahabat untuk datang ke acara syukuran rumah. Acaranya sangat-sangat menyenangkan dan kami sangat senang banyak yang bisa menyempatkan datang.

Menempati rumah ini juga tidak kalah menyenangkan. Meskipun banyak kekurangan disana-sini, kami berusaha menikmatinya. Dekorasi rumah kami pikirkan sendiri, termasuk mendesain furnitur agar sesuai dengan kebutuhan dan luas ruangan yang terbatas. Atas rekomendasi sang arsitek, rumah ini bahkan sudah beberapa kali diliput media. Senang!

Seluruh cerita soal rumah, bisa dilihat disini: Dream House

Selain rumah, hal besar lain yang terjadi tahun lalu adalah peluncuran bukuku. Dibantu oleh teman-teman di Galeri Foto Jurnalistik Antara, buku yang bermula dari project pribadi ini menggelinding menjadi besar. Buku berjudul “mail – a love letter” yang menampilkan foto-foto yang aku ambil dengan telepon genggam dan dicampur dengan prosa plus desain yang sangat personal ini adalah buku pertamaku.

Kadang-kadang, memikirkannya aku masih takjub. Aku yang cuma segini doang, bisa menerbitkan sebuah buku fotografi, dan melakukan pameran tunggal di galeri yang prestisius. Betapa Tuhan Maha Baik.

Seluruh cerita soal buku foto, bisa dilihat disini: Project Love. Yang ingin memiliki, silahkan isi formulir disini.

Tapi, kejutan yang paling besar tahun lalu adalah sesuatu yang sangat diluar dugaan kami. Yang membaca tulisan soal pameran foto, atau berteman di facebook-ku mungkin sudah bisa menduga: ya, aku hamil 🙂

Terlepas dari kebahagiaan yang sangat, ada kekhawatiran yang juga luar biasa, mengingat sejarah kesehatanku yang kurang baik. Ini adalah satu dari berbagai sebab yang membuatku memutuskan untuk tidak bercerita banyak di blog soal kehamilan ini. Saat ini, aku tinggal menunggu hari kelahiran. Sejauh ini semuanya baik-baik saja. Aku mohon doa, agar semuanya tetap begitu hingga saatnya tiba.

Yang pasti, 2014 akan menjadi tahun yang berbeda. Dan aku membuka hati selebar-lebarnya untuk apa saja….