Category Archives: Musings

2013 : The Year of Love

*Masih bulan januari kan ya? Masih boleh lah merekap kejadian tahun lalu. Daripada tidak sama sekali :D*

Aku hampir tidak percaya kalau aku memasuki tahun 2013 dengan kemarahan yang amat sangat, dan meninggalkannya dengan penuh kebahagiaan. Tapi itulah hidup, kan? Pada akhirnya kita tak perlu larut terlalu dalam. Sebab apapun yang terjadi – kesedihan, juga kebahagiaan – ia akan lewat. Kita, hanya perlu menikmati.

Dari seluruh naik-turunnya, ada tiga hal besar yang terjadi di tahun lalu. Di awal tahun, rumah impian kami akhirnya selesai juga! Setelah melalui “perjuangan” yang penuh keringat dan air mata, pada bulan April kami mengundang keluarga dan sahabat untuk datang ke acara syukuran rumah. Acaranya sangat-sangat menyenangkan dan kami sangat senang banyak yang bisa menyempatkan datang.

Menempati rumah ini juga tidak kalah menyenangkan. Meskipun banyak kekurangan disana-sini, kami berusaha menikmatinya. Dekorasi rumah kami pikirkan sendiri, termasuk mendesain furnitur agar sesuai dengan kebutuhan dan luas ruangan yang terbatas. Atas rekomendasi sang arsitek, rumah ini bahkan sudah beberapa kali diliput media. Senang!

Seluruh cerita soal rumah, bisa dilihat disini: Dream House

Selain rumah, hal besar lain yang terjadi tahun lalu adalah peluncuran bukuku. Dibantu oleh teman-teman di Galeri Foto Jurnalistik Antara, buku yang bermula dari project pribadi ini menggelinding menjadi besar. Buku berjudul “mail – a love letter” yang menampilkan foto-foto yang aku ambil dengan telepon genggam dan dicampur dengan prosa plus desain yang sangat personal ini adalah buku pertamaku.

Kadang-kadang, memikirkannya aku masih takjub. Aku yang cuma segini doang, bisa menerbitkan sebuah buku fotografi, dan melakukan pameran tunggal di galeri yang prestisius. Betapa Tuhan Maha Baik.

Seluruh cerita soal buku foto, bisa dilihat disini: Project Love. Yang ingin memiliki, silahkan isi formulir disini.

Tapi, kejutan yang paling besar tahun lalu adalah sesuatu yang sangat diluar dugaan kami. Yang membaca tulisan soal pameran foto, atau berteman di facebook-ku mungkin sudah bisa menduga: ya, aku hamil 🙂

Terlepas dari kebahagiaan yang sangat, ada kekhawatiran yang juga luar biasa, mengingat sejarah kesehatanku yang kurang baik. Ini adalah satu dari berbagai sebab yang membuatku memutuskan untuk tidak bercerita banyak di blog soal kehamilan ini. Saat ini, aku tinggal menunggu hari kelahiran. Sejauh ini semuanya baik-baik saja. Aku mohon doa, agar semuanya tetap begitu hingga saatnya tiba.

Yang pasti, 2014 akan menjadi tahun yang berbeda. Dan aku membuka hati selebar-lebarnya untuk apa saja….

 

Tentang Kecewa dan Mengecewakan

Hei kamu…
Jangan terlalu bersedih. Dari dulu kau sudah tau bahwa hidup itu penuh kekecewaan. Dan kau pun sudah tau bahwa yang paling menyedihkan adalah jika kau dikecewakan orang yang sungguh-sungguh kau sayang. Tapi tahu tidak? Ini sesungguhnya hanya satu dari banyak cara yang dilakukan oleh hidup, untuk membuatmu berkaca. Bahwa kau pun pernah mengecewakan orang yang menyayangimu. Orang yang mempercayaimu sepenuh hati. Dan mereka terluka karenanya.

Jadi tak perlu larut. Kau toh sudah memutuskan langkah selanjutnya. Jadi berjalan saja. Pelan-pelan tak mengapa. Doakan mereka yang mengecewakanmu, sebagaimana kau ingin dimaafkan karena mengecewakan orang lain. Mereka hanya manusia biasa yang bisa berbuat salah, begitupun dirimu sendiri yang jauh dari sempurna. Pada akhirnya, kita hanya bisa berusaha berbuat yang terbaik yang kita tau. Yang kita mampu.

Mudah-mudahan mereka mendapatkan pelajaran dari ini semua, sebagaimana kau belajar menjadi orang yang lebih baik dari kesalahan-kesalahan yang pernah kau buat.

Bahkan jika semua yang terjadi tak memberi bekas apapun buat mereka, ini tetap menjadi ‘kemenangan’ untukmu. Bahwa kau tak lantas membenci, oleh karenanya hatimu tak terkotori. Bahwa kau justru jadi mawas diri, karena kau pun tahu hidup itu seperti roda pedati. Bahwa setiap orang yang hadir dan bersinggungan denganmu punya fungsi sendiri: untuk mengajari, atau untuk menguji.

Jadi, senyumlah : ) 

Dancing…

I really miss the good old day when i was able to pour my heart out instantly in this blog. The excitement i felt when an idea popped out, and the urge to jot it down and share it. I tried to finish my deadlines as soon as i possibly could, ‘just’ to blog.

Most of the time, it was silly and often embarrassing. I shrugged every time i re-visited my old writings. But somehow, re-reading my old stuff, i feel the writings are glowing. With passion. There is some kind of freedom. And freshness. A whole different world, really.

Writing here, unedited, was my kind of dancing-like-no-one’s-watching. What’s yours?

 

Blast From The Past

Sesungguhnya sedikit nostalgia membuat bahagia 🙂

Dan malam ini aku terbang ke masa-masa hormon remaja masih bergelora. Kendaraannya adalah lirik lagu ‘No Pressure Over Cappucino’-nya Alanis Morissette, yang ditemukan di sebuah file berisi tulisan-tulisan lama. It was one really good song from the Unplugged album (1999).

Alanis was my hero growing up. Ia bukan hanya saja rocker dengan suara khas, tapi juga penulis yang mumpuni. Lirik lagunya puitis dan penuh makna, meskipun dulu aku tak punya cukup referensi untuk paham apa itu chardonnay, atau emm… 69. Album ‘Jagged Little Pill’ (1995) adalah album penuh kemarahan dan kesedihan. Tapi, ia mengatakannya dengan cara yang indah.  

Aku hafal isi album itu luar kepala. Setiap intro. Setiap refrain. Setiap cengkok dan teriakan menyayat khasnya. Aku ikut marah di ‘You Oughta Know’, meskipun waktu itu belum tau rasanya patah hati. Ikut teriak-teriak sok rebellious bersama ‘All I Really Want’. Seyum-senyum sembari menerka-nerka bagaimana rasanya jatuh cinta mendengarkan ‘Head Over Feet’. Dan gongnya, adalah mendengarkan ‘Perfect’, sebagai soundtrack dari semua kesedihan yang diakibatkan oleh pertengkaran dengan si Mama. Oh. Drama!

Kalau teman sebaya mengoleksi poster boyband, aku bangga sekali bisa memperoleh poster Alanis yang merupakan cover album ‘Supposed Former Infatuation Junkie’ (1998) dengan tanda tangan tercetak diatasnya. Poster itu masih ada di rumah Medan sampai sekarang. Mama sepertinya tak pernah sampai hati untuk membuangnya.

Aku punya DVD (atau VCD ya?) berisi documenter tentang perjalanan karirnya, juga ada lagu-lagu, interview, serta cuplikan-cuplikan konser, termasuk yang di Jakarta. Juga ada potongan-potongan rekaman live, termasuk ‘No Pressure Over Cappucino’ yang diambil di Navajo Nation ini. 


And you’re like a 90’s noah 


And they laughed at you when you packed all of your things 

And they wonder why you’re frustrated 

And they wonder why you’re so angry 

And is it just me or are you fed up?



And may god bless you in your travels in your conquests and queries...