Category Archives: Musings

2015: Traveling… Inside Out.

UK24

 

Aku bisa dengan gampang menyebutkan bahwa 2015 adalah tahun traveling. Posting blog bertama di tahun ini adalah soal aku yang kangen laut, dan postingan terakhir adalah tentang perjalanan ke pantai Ujung Genteng dan Sawarna, bagian dari roadtrip yang diberi tajuk ‘Life is A Beach’.

 

Diantaranya, ada banyak perjalanan. Kami liburan ke Bali di bulan Maret untuk merayakan sewindu ulangtahun pekawinan, disusul dengan kedatangan keluarga dari Medan yang membuat kami mengunjungi banyak tempat wisata. Di bulan Juni, kami melakukan roadtrip pertama bersama BabyM, 17 hari mengelilingi Pulau Jawa. Dan sepanjang Juli-Agustus kami pulang kampung ke Medan dan Aceh untuk berlebaran. Ketagihan roadtrip, kami melakukannya lagi di bulan November. Menghabiskan 12 hari perjalanan menyusur pantai barat Jawa, kami mengunjungi Ujung Genteng, Sawarna, Ujung Kulon, hingga Tajung Lesung – yang bahkan belum kelar ditulis.

 

Traveling, memang selalu mendapat porsi yang besar dalam hidupku – dan kini, hidup kami sekeluarga. Ada begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik, jika kita benar-benar mau. Kami hendak menularkan kebiasaan ini kepada BabyM. Kami ingin ia terpapar dengan banyak hal, banyak perbedaan, banyak nuansa, banyak keadaan, banyak kehidupan; agar dia tau, bahwa hidup kadang tidak senyaman rumahnya, dan oleh karenanya ia tau kenapa dia harus bersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas kebahagiaan-kebahagiaan yang didapatkan, sesederhana apapun dia menganggapnya.

 

Perjalanan-perjalananku sepanjang tahun 2015 berkelindan dengan banyak hal lain yang terjadi dalam keluarga kami. Pada bulan Mei, misalnya. Aku dan Abang dihadapkan pada kenyataan bahwa anak kami yang umurnya belum pun dua tahun itu, harus dioperasi hernia plus disunat sekalian. Sekali lagi, ketabahan kami sebagai orang tua kembali diuji. Bagiku, ini juga adalah sebuah perjalanan. Perjalanan mental, bahkan cenderung spiritual. ‘We don’t know how strong we are until being strong is the only choice we have’, kata Bob Marley, dan aku mengamini sepenuhnya.

 

Selain itu, pada bulan September – November, aku melakukan sebuah ‘perjalanan’ yang tak kalah penting untuk menjadi orang tua yang lebih baik: Aku mengikuti webinar soal homeschooling. Ya, kami memang berencana untuk tidak memasukkan BabyM ke sekolah konvensional. Mengikuti webinar itu adalah sebuah langkah awal bagi kami untuk mempersiapkan bentuk pendidikan bagi BabyM. Aku – juga abang – sadar, bahwa perjalanan yang satu ini adalah jalur yang jarang ditempuh, the road less travelled. Tapi, tak bisa dipungkiri, bahwa hidup kami kini berpusat pada anak, dan cara ini adalah yang paling masuk akal untuk dijalani. Sejatinya, hidup adalah perjalanan. Kita yang menentukan tujuan, kita juga yang memutuskan rute mana yang hendak diambil.

 

Selamat datang, 2016. I’m ready.

 

Untuk Para Ibu Baru…

Beberapa waktu lalu, seorang teman yang baru saja punya bayi mengirim email, bertanya dengan nada putus asa: “Dinda, bagaimana kiat menjadi ibu seperti yang kau tulis? Aku seperti tidak bahagia, capek, stress….

 

Sebelumnya, seorang teman lain juga bertanya hal-hal yang kurang lebih mirip. Intinya, kenapa punya anak kok nggak hepi seperti yang dibilang orang-orang? Lihat foto-foto para ibu baru di fesbuk, kok bisa terlihat cantik, menggendong bayi yang juga lucu menawan, terlihat sangat bahagia. Kenapa diri sendiri malah depresi?

 

Pertama-tama…. Sini sini, peluk dulu sini! *peluuukkkkkk*

 

Lalu, aku mau bilang kepada semua ibu baru yang juga merasa hal yang kurang lebih sama: KALIAN NGGAK SENDIRI!

 

Aku juga adalah ibu (yang masih tergolong) baru. Anak baru satu, belum pun dua tahun. Masih belajar ini itu, dan belum pada tempatnya untuk memberi nasihat. Jadi, tulisan ini BUKAN nasihat. Tulisan ini adalah sebuah uluran tangan kepada kalian, para ibu baru, untuk usep-usep punggung dan bilang kalau kalian nggak sendiri.

 

Kalau temanku itu mengira aku ‘bahagia-bahagia’ aja punya anak, ya mungkin memang nggak salah juga. Kalau lihat-lihat tulisan di blog ini, hampir semuanya bernada happy dan riang kalau aku cerita soal BabyM. Tapiii… ya itu karena aku menulisnya saat dalam keadaan WARAS, hahahah! Itu juga datangnya sekali-sekali. Kalau sedang merasa capek, engap, kesal dan sebagainya, boro-boro nulis, ketemu pensil aja kayaknya pengen ditusuk-tusukin kemana gitu 😀

 

“There are days when I feel victorious, but there are other days that makes me feel helpless, defeated, a complete loser. There are days that I feel like throwing bricks at people, but there are days when I really need other people because I just can’t handle it. I start wondering, is this right thing to do? How other mothers do that? Why it seems so easy for them but not for me?”

 

Tulisan diatas adalah entri di sebuah halaman diaryku sebulan setelah BabyM lahir. Sebulan. Dan bahkan setelahnya masih ada cerita soal nangis di shower karena ngerasa nggak sanggup lagi. Tapi, selain itu aku juga nulis hal-hal yang membuat aku ngerasa bahagia banget dan itu karena hal-hal sederhana aja: bisa tidur empat jam tanpa terganggu, bisa meletakkan BabyM di tempat tidur tanpa membangunkannya, atau bisa menggendong dengan gendongan kain!

 

Sepertinya, setelah tiga bulan barulah aku mulai bisa agak senyum. Dan tiap ada orang yang menyapa dan bilang, “Waaahh… nggak terasa yaaa, bayinya sudah tiga bulan. Sudah bisa apa?” itu rasanya campur aduk, antara pengen nonjok, pengen nangis dan pengen cerita panjang lebar. Pengen nonjok karena TIGA BULAN ITU KERASA BANGET! Hari-hari lamaaaaaa sekali berlalu, udah kayak nggak bergerak. Pengen nangis karena capek. Tapi juga pengen cerita panjang lebar dengan antusias karena tiga bulan itu bayinya sudah bisa menggenggam sesuatu loohh… dia juga udah mulai bisa tidur malam, udah bisa ini itu ono anu blablabla nyanyanya… teruuusss… cerita sampe yang nanya nyesel kali, kita ga mau berhenti membanggakan kebisaan-kebiasaan baru si bayi

 

Kalau menurutku, segala perasan sedih, capek, kesel, moody dan sebagainya di awal-awal kelahiran itu adalah sesuatu yang wajar. Masa-masa itu adalah masa adaptasi yang gila-gilaan. Baik bagi orangtua maupun bayinya. Bukan berarti kita nggak bahagia dan bukan pula berarti kita gagal jadi ibu. Jalan ke depan masih panjang, dan definisi gagal atau berhasil itu berbeda-beda tiap orang. Ingatlah satu hal penting: Ini semua akan berlalu….

 

… dan di depan masih menanti tantangan yang nggak kalah besarnya, HAHAHHAHaahha… haha… ha… h… hu… huhu… huhuhuhu….

 

Okelah, kalau memang susah begitu. Tapi yang membuat heran, kenapa nggak ada yang ngasih tau sih kalau jadi ibu itu ternyata susah??? Hemmm… untuk pertanyaan ini, kalau aku liat-liat ada dua kemungkinan.

 

Yang pertama, ada yang yang UDAH ngasi tau, tapi kita nggak cukup peka untuk dengerin karena di kepala kita masih sibu dengan hal lain (melahirkan, misalnyaaaaa!). Pernah baca-baca soal baby-blues sebelum melahirkan? Nah, itu orang udah ‘ngasi tau’ loh. Tapi aku dulu juga ngerasa: nggak mungkin lah aku nanti baby-blues. Itu kan hanya buat orang-orang yang nggak ada persiapan. Aku kan udah persiapan banget, udah sampe ikut konsultasi laktasi bareng suami pun! Kenyataannyaaaaaa…. Jreeeenggg…

 

Yang kedua adalah, orang-orang ‘nggak tega’, bilangnya karena wajah kita udah sumringah banget mau punya bayi. Malah kadang-kadang buat pasangan baru malah udah ngebet banget mau punya bayi begitu selesai akad nikah 😀 Kadang-kadang, aku suka mengingatkan dengan halus: “Apa nggak pengen menikmati aja dulu masa berdua dengan suami, membangun hubungan yang sehat dan kuat dulu, baru punya anak?” Sebab menurut pengalamanku, adaptasi dengan suami setelah menikah aja butuh waktu lumayan panjang. Apalagi kalau harus adaptasi dengan suami DAN bayi baru. Bisa pengsan. Tapi, yang ada aku dilihat dengan pandangan aneh dan para penganten baru ini malah menceramahi aku soal ‘bagusnya’ langsung punya bayi setelah menikah. Oh, baiklah kalau begitu, heheheh.

 

Kembali kepada persoalan semula, lalu harus bagaimana menghadapi semua ini kakaaakkk? Tentunya tidak ada formula yang jitu. Setiap orang berbeda-beda. Tapi kalau seandainya aku punya mesin waktu untuk kembali ke dua tahun lalu dan bilang kepada dinda yang dulu, aku akan bilang:

 

Dinda, tarik nafas banyak-banyak dan tetaplah tenang. Belajarlah untuk tidak langsung panik. Juga, belajarlah mengasah insting. Iya, dua hal ini harus dipelajari. Cobalah untuk tidak mikir terlalu jauh apalagi mikir aneh-aneh, ‘gimana kalau begini, gimana kalau begitu’, jalani aja sehari-sehari. One day at a time. Belajar lah dengan si bayi, juga dengan suami, bersama-sama. You’re in this together. Kalian adalah sebuah tim.

 

Selain itu, belajarlah menerima kenyataan bahwa hidupmu akan berubah. Total. Ini juga perlu dipelajari, karena sungguhlah tidak mudah. Seringnya malah denial dan pengen kembali ke ‘kehidupan lama’. Semakin cepat menerima bahwa kini ada prioritas-prioritas baru dan ada hal-hal yang harus dikorbankan, semakin baik. Dan karenanya, janganlah malu untuk meminta bantuan. Aku dulu rasanya ‘terlalu pede’ bisa melakukan semuanya sendiri. Kenyataannya, kalau aku menerima bantuan, hidupku akan jauh lebih mudah, dan orang-orang disekitarku juga merasa senang karena bisa membantu.

 

Carilah orang-orang yang bisa dipercaya untuk bisa saling berbagi. Punya teman-teman senasib yang juga punya anak kecil? Ayok buat grup. Atau, bisa ikut forum-forum ibu di grup-grup seperti babycenter. Sesama ibu baru bisa saling menguatkan dan saling curhat. Aku sendiri cukup beruntung punya teman-teman baru yang bergabung dalam sebuah grup whatsapp. Kebangun jam dua pagi karena anak mau nenen pun pasti ada ibu yang sedang online juga. Lumayan bisa ngobrol, curhat atau malah sekedar saling menertawakan, hhehehe!

 

Kalau lagi capek stress kesel pengen marah, rasanya semua masalah numpuk jadi satu, ada baiknya istirahat sebentar. Titipkan bayi sebentar kepada orang yang bisa dipercaya. Kadang-kadang, emosi yang menumpuk itu hanya karena kita capek dan butuh istirahat. Atau butuh makan enak. Setelah istirahat dan makan, baru diurai masalahnya apa. Seringnya masalah ‘besar’ ternyata adalah sekumpulan masalah ‘kecil’ yang gampang solusinya, tapi menumpuk.

 

Dan yang terakhir, menjadi ibu itu sering kali berarti melakukan ‘trial and error’. Semuanya coba-coba. Kadang-kadang malah hasilnya ‘salah’ membuat diri merasa bersalah. Atau juga dalam menjaga anak, kadang anaknya jatuh atau kenapa-napa, itu buat rasanya pengen jeduk-jedukin kepala ke dinding: kok bisa bego banget siiihhh! But it happens, all the time. Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Jadi ibu itu harus punya kemampuan untuk bisa memaafkan diri sendiri, lalu move on, sambil berjanji untuk lebih baik lagi besok. It’s okay.

 

Mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu para ibu-ibu baru. Kalaupun tidak, aku dengan senang hati menjadi kuping untuk mendengarkan curhat kalian. Kirim saja email atau pesan di fesbuk. Aku akan senang sekali jika bisa membantu sedikit meringankan beban!

 

Selamat hari ibu, para ibu baru! You’re doing good! *tos!*

 

hari ibu

(Aku) Nggak Keren.

Dari kemaren aku mencari-cari foto lama, dan nggak ketemu karena harddisk rusak. Yang ketemu cuma beberapa foto dari blog jaman dulu yang sudah dihapus. Foto yang diambil satu decade lalu.

Bromo051

Yang ini waktu aku backpacking sendirian di penghujung tahun 2005. Ke Gambir tanpa tujuan dan melihat jadwal kereta terdekat akan kemana. Ternyata ada yang ke Solo. Lalu aku beli tiket dan naik. Habis senang-senang di Solo seharian, aku naik bis dengan tujuan mau ke Bromo. Tanpa tau harus berhenti dimana, hahahah! Lalu, jam 2 dini hari, aku sampai terminal Probolinggo, makan indomi rebus sambil nungguin mobil minibus untuk naik ke Pananjakan, melihat sunrise. Segitu perjuangannya, ternyata sunrise nggak kelihatan, tertutup kabut, hahahahah! Menghabiskan tahun baru 2006 di gurun pasir dan kawah Bromo juga bukit telletubbies. Berkenalan dengan sesama pelancong, dan kami foto-foto bersama. Aku bahkan dikirimin dvd foto-foto kami yang masih ada sampe sekarang (barusan diputer dan, omaygat, kocak! Hahahaha). Abis Bromo ini aku masih terus jalan sendirian ke Surabaya, dan Mojokerto.

 

lampung

Kalau yang ini juga backpacking sendirian, ketagihan setelah Bromo. Tujuannya Lampung, naik bis Damri malam-malam, dari Gambir juga. Aku ke Way Kambas dan main-main dengan gajah seharian. Nggak cuma itu, aku ke Kalianda dan mencari perahu nelayan yang mau membawaku ke Anak Karakatau. Perginya seruuu… sempat snorkeling segala. Pulangnya, hari mulai gelap, ombak tinggi bikin kapal terbang-terbang, dan kami nggak nyampe-nyampe. Mulai dari ketawa-ketawa sama yang punya perahu, sampe semuanya membisu karena dalem hati khawatir malam-malam masih di tengah laut.

 

Hihihi… seru ya jaman dulu. Kayaknya dulu aku cukup keren yah? Hahahaha!

 

Beberapa waktu lalu, topik ‘kurang keren’ ini sempat dibahas di grup whatsapp Mahmud Gosip Bermutu kesayangan. Aku merasa saat ini aku nggak keren sama sekali. Belum lagi, pelan-pelan kayaknya semakin bego. Yang dikepala paling seputar urusan domestik dan urusin anak. Kalau bertemu teman-teman, pembicaraan seputar topik politik selalu sukses buat senyum-senyum ngangguk-ngangguk dikit, biar dikira ngerti, ahahahaha!

 

Dan sejujurnya, ngeliat teman-teman yang karirnya pada kinclong mentereng, dan otaknya masih pada encer-encer semua, aku merasa tak pantas berteman dengan mereka. Apalah aku ini, huhuhuh….

 

Diantara teman-teman yang memberi semangat, Dewi yang udah kenal aku cukup lama justru jujur mengatakan, “Iya Dinda. Kamu dulu keren, sekarang… nggg… kurang keren.” HAHAHAHHA! * Cium Dewi* Seperti aku, Dewi juga ngerasa makin kesini dia juga makin oon. terus kami berdua tertakjub-takjub melihat teman-teman kami yang masih rajin-rajin banget (dan mampu!) belajar. Jadilah kami ngakak-ngakak berdua menertawakan diri kami sendiri.

 

Aku sangat menghargai kejujuran Dewi. Dan dari obrolan kami, kayaknya sindrom ‘merasa lebih bego’ atau ‘merasa kurang keren’ ini banyak dialami para ibu-ibu. Itu justru membuatku bertanya, kenapa ya aku sekarang nggak sekeren dulu? (Kalo Dewi mah menurutku tetep keren, abisnya diantara ngurus anak dan aktif kerja, masih sempat pula rutin lari dan olahraga!)

 

Tapi memang rumput tetangga selalu lebih hijau yah :D. Setelah melalui kontemplasi panjang #eaakkkk, kadar kekerenan ini sepertinya berkaitan dengan prioritas hidup. Setidaknya bagiku.

 

Dulu, aku adalah Dinda yang adventurous. Dinda yang siap mencoba apa saja, dan ingin membuktikan diri bahwa dia bisa. Bisa survive sendirian, hidup jauh dari keluarga. Bisa tidak bergantung sama orang lain. Dinda yang memaksa diri untuk mengetes sejauh apa limitnya. Mungkin, umur duapuluhan memang masanya seperti itu ya. Punya nyali dan tenaga besar, semua dilakukan. Membiarkan diri melakukan kesalahan dan punya keberanian menertawakannya.

 

Tapi sesungguhnya ada sebuah kegelisahan di sudut hati yang seringkali ditutupi. Bahwa dulu aku kerap merasa sendiri. Merasa lelah karena selalu ‘bergerak’ nggak berhenti. Kalau ngomong berandai-andai, dulu pernah bilang,: kalau suatu saat nanti aku punya anak, aku pengen istirahat. Tentunya waktu itu bilangnya sambil ketawa-ketawa nggak jelas. Boro-boro mikirin anak. Pacar aja dulu nggak ada meskipun cemceman nggak terhitung jumlahnya. *uhukuhuk* * batuk rejan*

 

You really have to be careful of what you wish for, it may come true.

 

And here I am now. Umur 34, punya suami satu dan anak juga satu. Yang dikerjain cuma urusan domestik dan anak melulu tiap hari. Sama sekali nggak keren, agak oon dan lambat loading, tapi anehnya kok ya merasa jaaaauuuuuhhhh lebih bahagia. Walaupun kadang-kadang bosan dan bete dan jenuh dan capek sama urusan rumah tangga, tapi Dinda yang sekarang jauh lebih santai, nggak merasa kayak dikejar-kejar melulu, nggak merasa harus meng-impress siapapun, nggak merasa harus membuktikan diri ke siapa-siapa, dan nggak perlu menyenangkan siapa-siapa kecuali diri sendiri.

 

Prioritasnya berubah. Faktor umur? Mungkin. People change? Bisa jadi. Tapi yang pasti, kalau dulu aku nggak segelisah itu, mungkin sekarang juga nggak sesantai ini. Setiap orang sepertinya harus melewati jalannya sendiri untuk menemukan dirinya.

 

Dan kalau sekarang konsekwensinya aku tidak sekeren dulu, melainkan jadi ibu-ibu rumah tangga yang ngurusin anak dan suami melulu, ya sudah tidak apa-apa. Yang penting aku bahagia. Siapa yang tau masa depan nanti bagaimana, saat situasi dan kondisi berubah lagi.

34

I was cool once. I think that’s enough.

 

Happy birthday, Dinda!

2014: The Baby Year!

No doubt, 2014 was the year of the baby! Sejak awal tahun, kedatangan BabyM sudah diantisipasi. Begitupun, saat ia lahir di penghujung Januari, aku belum sepenuhnya menyadari perubahan drastis yang menanti di depan. Bukan hanya soal rutinitas setiap hari, tapi juga soal pemikiran, nilai-nilai dan kebiasaan yang selama ini aku yakini dan aku lakukan.

Dan ternyata, begitu ya rasanya punya anak. Hidupku berputar dengan sang bayi sebagai porosnya. Dia adalah pusat semestaku kini. Semua dilakukan agar bisa memberikan yang terbaik untuknya. Segala bacaan soal bayi dan parenting dilahap dengan rakus, demi bisa memahami dunianya. Memahami caranya melihat dunia sesuai dengan perkembangan usianya.

Dengan informasi dan pengetahuan baru setiap hari, mau tidak mau, aku jadi merenungi banyak hal. Aku menelusuri kembali nilai-nilai penting yang aku yakini. Dari mana asalnya? Masih relevankah nilai-nilai itu saat ini? Jika iya, perlukah ditanamkan kepada anakku? Jika perlu, siapkah aku dengan segala konsekwensi yang akan diakibatkannya? Jika siap, bagaimanakah cara menanamkannya, cara merawat nilai-nilai itu hingga ia bisa berbuah manis kelak?

Aku mempertanyakan semua keputusan yang kubuat dari bangun pagi hingga tidur malam. Menganalisa sendiri, mengapa aku lebih melakukan A dan bukan B. Apakah A lebih baik dari B? Mengapa pilihannya hanya A dan B, kenapa aku tidak mencari C, D, atau bahkan XYZ.

Ribet, memang. Bikin pusing. Tapi aku tak bisa berhenti.

Aku percaya, suatu saat nanti BabyM akan mempertanyakan nilai-nilai dan keputusan-keputusan itu. Sebab, kini aku juga mempertanyakan keputusan-keputusan yang dulu dibuat oleh orang tuaku. Keputusan yang membuat aku punya kenangan-kenangan indah yang kupilih untuk kuingat selamanya; juga untuk luka-luka yang inginnya kulupakan tapi entah mengapa kerap muncul lagi dan lagi.

Tapi, semua pertanyaan itu juga membantuku memahami banyak hal. Yang rasanya dulu tidak masuk akal, kini jadi mengerti. Hal-hal yang dulu terlihat remeh-temeh, sesungguhnya kompleks Dan aku berkali-kali diingatkan, dunia toh tidak hitam-putih. Tidak ada keputusan yang sepenuhnya salah atau sepenuhnya benar. Masing-masing punya konsekwensi dan aku harus berdamai dengan itu. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku punya pertimbangan yang cukup untuk memutuskan, apapun itu.

Anak adalah cermin diri yang paling cemerlang. Apapun yang aku lakukan, APAPUN, akan meninggalkan jejak dalam memorinya kelak. Dan karena aku tidak bisa memilihkan memori untuk disimpannya, aku jadi lebih berhati-hati akan segala ucapan dan tindakanku. Aku membiasakan diri untuk melakukan hal-hal baik. Berbicara yang baik-baik. Sebab, mengubah kebiasaan itu tidak mudah. Aku hanya berharap, saat dia sudah mengerti nanti, aku sudah bisa menjadi orang yang pantas untuk ditirunya. Semoga.

Selamat datang, 2015.

 

 

ibunm01

2013 : The Year of Love

*Masih bulan januari kan ya? Masih boleh lah merekap kejadian tahun lalu. Daripada tidak sama sekali :D*

Aku hampir tidak percaya kalau aku memasuki tahun 2013 dengan kemarahan yang amat sangat, dan meninggalkannya dengan penuh kebahagiaan. Tapi itulah hidup, kan? Pada akhirnya kita tak perlu larut terlalu dalam. Sebab apapun yang terjadi – kesedihan, juga kebahagiaan – ia akan lewat. Kita, hanya perlu menikmati.

Dari seluruh naik-turunnya, ada tiga hal besar yang terjadi di tahun lalu. Di awal tahun, rumah impian kami akhirnya selesai juga! Setelah melalui “perjuangan” yang penuh keringat dan air mata, pada bulan April kami mengundang keluarga dan sahabat untuk datang ke acara syukuran rumah. Acaranya sangat-sangat menyenangkan dan kami sangat senang banyak yang bisa menyempatkan datang.

Menempati rumah ini juga tidak kalah menyenangkan. Meskipun banyak kekurangan disana-sini, kami berusaha menikmatinya. Dekorasi rumah kami pikirkan sendiri, termasuk mendesain furnitur agar sesuai dengan kebutuhan dan luas ruangan yang terbatas. Atas rekomendasi sang arsitek, rumah ini bahkan sudah beberapa kali diliput media. Senang!

Seluruh cerita soal rumah, bisa dilihat disini: Dream House

Selain rumah, hal besar lain yang terjadi tahun lalu adalah peluncuran bukuku. Dibantu oleh teman-teman di Galeri Foto Jurnalistik Antara, buku yang bermula dari project pribadi ini menggelinding menjadi besar. Buku berjudul “mail – a love letter” yang menampilkan foto-foto yang aku ambil dengan telepon genggam dan dicampur dengan prosa plus desain yang sangat personal ini adalah buku pertamaku.

Kadang-kadang, memikirkannya aku masih takjub. Aku yang cuma segini doang, bisa menerbitkan sebuah buku fotografi, dan melakukan pameran tunggal di galeri yang prestisius. Betapa Tuhan Maha Baik.

Seluruh cerita soal buku foto, bisa dilihat disini: Project Love. Yang ingin memiliki, silahkan isi formulir disini.

Tapi, kejutan yang paling besar tahun lalu adalah sesuatu yang sangat diluar dugaan kami. Yang membaca tulisan soal pameran foto, atau berteman di facebook-ku mungkin sudah bisa menduga: ya, aku hamil 🙂

Terlepas dari kebahagiaan yang sangat, ada kekhawatiran yang juga luar biasa, mengingat sejarah kesehatanku yang kurang baik. Ini adalah satu dari berbagai sebab yang membuatku memutuskan untuk tidak bercerita banyak di blog soal kehamilan ini. Saat ini, aku tinggal menunggu hari kelahiran. Sejauh ini semuanya baik-baik saja. Aku mohon doa, agar semuanya tetap begitu hingga saatnya tiba.

Yang pasti, 2014 akan menjadi tahun yang berbeda. Dan aku membuka hati selebar-lebarnya untuk apa saja….