Category Archives: Family

Buku Tahunan Keluarga 2015

Alhamdulillaaaaahhh…. Setelah berbulan-bulan setres sendiri, milihin ribuan foto sampe mata nanar, mikirin alur cerita sampe bingung, mendesain halaman dengan kemampuan seadanya… akhirnya buku tahunan keluarga kami untuk tahun 2015 sudah kelar, SUPERYAY!

Inilah dia penampakannya…

yearbook201501

Eaaa… cover-nya nggak nahaaannn 😀 Album tahunan ini terdiri dari dua buku yang diberi judul “2015: The Traveling Year”. Buku Satu yang tebalnya 208 halaman, berisi 306 buah foto keluarga kami sepanjang Januari hingga Juli 2015. Sedangkan Buku Dua tebalnya 224 halaman, berisi 308 buah foto dari Agustus hingga Desember 2015.

yearbook201502

Dibandingkan dengan buku tahunan sebelumnya (2014) yang aku buat pertama kali, buku tahunan 2015 ini jauh lebih baik dari sisi penceritaan. Kalau tahun lalu aku hanya mengikuti kronologis foto dan memberikan caption seadanya, di tahun ini aku membuat semacam pembatas tiap bulannya dan bercerita apa saja yang terjadi pada bulan itu.

yearbook201503

Dari segi desain tata letak, yah… mendingan sih dari buku sebelumnya. Hanya saja tetap masih ada ruang-ruang perbaikan untuk tahun depan. Ya habis gimana ya, aku nggak bisa dan nggak punya software desain di computer. Jadi menggunakan apa yang ada aja: ngerjainnya pakai pakai photosop. Yang CS5 pula. Hahahah!

yearbook201505

Secara keseluruhan, aku senang sekali dengan buku tahunan ini. Saking senangnya, malah untuk tahun 2016 sudah mulai dicicil pengerjaannya. Buatku, ini bukan hanya sekedar kumpulan foto, tapi merupakan dokumentasi penting keluarga kami: apa yang telah kami lakukan, siapa-siapa yang kami temui serta bagaimana perkembangan milestone BabyM. Buku ini juga jadi sumber bahan belajar buat BabyM. Dengan menunjukkan foto-foto di dalamnya, BabyM sudah bisa mengingat apa yang pernah dia lakukan dan bisa menceritakan kembali pengalaman tersebut.

Bukan hanya itu, buku ini juga kami cetak sebanyak tiga set. Satu set untuk di rumah, satu set untuk Atok dan Nenek BabyM di Medan dan satu set lagi untuk Nyaksyik BabyM di Aceh. Buku ini sangat membahagiakan buat mereka. Mengingat jarak yang jauh, buku ini seolah-olah membuat mereka tidak ketinggalan hal-hal yang terjadi pada cucunya.

Bagi teman-teman yang ingin membuat buku tahunan semacam ini, berikut ini ada sedikit “tips”.

1. Memilih foto adalah pekerjaan yang paling berat dari keseluruhan pekerjaan, jadi cicil dari sekarang! Contohnya nih ya, untuk bulan November, saat kami roadtrip menyusuri pantai barat Jawa, aku punya sekitar 2500an foto. Dan aku harus peras-peras otak untuk akhirnya bisa memilih 100 foto. Dan itu hanya November doang. Secara keseluruhan, sepertinya foto keluarga kami dalam setahun itu ada sekitar 8000an foto *tenggelam di lautan foto*

yearbook201504

2. Masukkan foto yang bervariasi. Mengingat bukunya lumayan tebal, fotonya jangan hanya foto kita sekeluarga melulu. Masukkan juga foto suasana dan detail, atau foto dengan angle berbeda agar yang baca tidak bosan. Misalnya, acara ulang tahun anak. Selain foto seluruh keluarga bersama kue, masukkan juga foto dekorasi, foto hadiah, foto close up anak sedang meniup lilin, foto tamu dan foto ruangan secara keseluruhan. Dengan begitu, foto-foto akan lebih “bercerita”.

yearbook201508

3. Buat desain halaman yang rapi dan bersih. Tidak perlu terlalu banyak foto dalam satu halaman. Model desain seperti ini klasik dan bertahan lama dibandingkan dengan model desain yearbook sekolahan.

yearbook201507

4. Cari tempat mencetak dan minta jilid benang. Penjilidan model ini lebih cocok untuk buku yang isinya banyak foto sehingga halamannya bisa terbuka lebih lebar. Begitupun, aku harus mengingatkan bahwa tidak banyak percetakan yang mau menerima jilid benang satuan.

Mudah-mudahan membantu ya! Selamat membuat buku tahunan juga! Kalau udah buat, kabar-kabarin yaaaa!

Who is Baby Aisyah?

Oh hello there!

Namaku baby Aisyah. Umurku baru seminggu lebih waktu Aunty Dinda, aunty-ku yang paling cantik (ehm!) foto-foto aku. Aunty Dinda bela-belain terbang ke Medan hanya untuk liat dan foto-foto aku loh! Tapi, siapakah aku sebenarnya?


A cute and colorful Greek Goddess?


Sleepy girl from the prairie?

Aspiring ballerina?


Future geek examining new technology?


Or an old-soul music junkie who loves Bill Withers?


Aaaaaahhhh… nggak juga! I’m just an ordinary baby girl, showered with extraordinary love from Ayah Kanda dan Bunda Denis!


Yang senang kalau mandi!


… dan hanya bisa pasrah kalau diapa-apain sama Aunty Dinda 😀



But i love my crazy Aunty so much! Hahahaha!

Abangku Menikah!

Saat menikah lima tahun lalu, bisa dibilang aku tidak berperan banyak untuk menyiapkannya. Namanya juga menikah hit-and-run yang super singkat (yak, dalam 10 hari saja!). Jadi, tidak punya kemewahan untuk menentukan jenis undangan, model kebaya, makanan catering, apalagi memilih fotografer.

Saat itu, semua keluarga bahu-membahu mengerjakan proyek ala bandung bondowoso itu. Jadi aku hanya tahu beres. Bahkan aku sempat “diancam”: pokoknya jangan minta macam-macam! Aku ya nurut, salah sendiri menikah dadakan!

Tapi, bulan Mei kemarin aku ‘akhirnya’ punya kesempatan untuk ngurusin pernikahan. Abangku satu-satunya, Bang Kanda, menikahi pacarnya, Denita. Yay! Jiwa ‘bridzilla’ yang terpendam akhirnya tersalurkan! Yang pasti, aku tidak berubah jadi monster-in-law bagi kakak iparku kok (eh, iya nggak ya? :P) Soalnya keluargaku, bahkan keluarga besar dari pihak mama dan papa juga senang banget si Bang Kanda akhirnya menikah. Jadi semuanya terkesan santai dan menyenangkan.

Sebelum aku tiba di Medan, si mama menyiapkan macam-macam dibantu oleh kakakku tersayang, Yuli. Tapi begitu aku datang, huuu… Yuli langsung deh kegirangan tugasnya jadi ringan. Dia jadi bebas dan bisa mengurus kepindahannya ke Jogja (mudah-mudahan nggak dijitak kalau dia baca ini!)

Pada awalnya tidak banyak yang dikerjakan. Aku ‘hanya’ didaulat untuk memotret. Tapi, saat diputuskan kami juga menggelar acara ‘ngunduh mantu’ yang sederhana di rumah, otomatis harus menyiapkan macam-macam juga.

Sebenarnya tugasku tidak terlalu banyak. Aku bertanggung jawab atas souvenir, segala macam hal yang berkaitan dengan foto, menemani Bang Kanda untuk belanja-belanja baju dan printilannya, dan bantu-bantu jadi liason keluarga pas hari-h. Termasuk menjadi ‘penasehat spiritual’ semua pihak, ya mama, papa, dan calon pengantennya :D.

Overall, acaranya santai dan menyenangkan. Tamunya banyak, walaupun temanku hanya satu yang datang :D. Tapi, yang paling membahagiakan adalah melihat Bang Kanda dan Denita, senyum terus. They look so happy together.

Mudah-mudahan rumah tangga mereka penuh kasih sayang, toleransi, dan berlimpah berkah. Aku tunggu ponakan secepatnya yaaaa! (Yang ini sih ngeles biar aku dan papin nggak ‘diminta’ terus, hahahah!)

PS: ini fotonya banyak banget deeehhh! 😀

Engagement session


 hayooo… ngapain? belum sah looooh!  


karena keukeuh pengen pake baju bola, jadinya motret ke stadion aja gitu!


ganti venue


i heart u

Akad Nikah


Awww… look at that happy faces! 


Yes. Aku motret akad nikah ini pakai kebaya lengkap dengan kain. Wedding fotografer mana coba yang bisa gini? 😀


Janji suami itu harus ditepati loh bang. 


Mama. Lega. 


Oh no… the bride went crazy!


My two sisters! Love em!

Resepsi 
Karena Denita orang Jawa, jadi pakai adat jawa. Aku nggak motret banyak, soalnya udah ada fotografernya.


Kanan: mau ndalang dimana mas? OVJ ya?  Kiri: Dengan si adek dan calon mantu satu lagi *uhuk!*


My lovely family! *Papin nggak ada karena belum cuti :(*

Ngunduh Mantu


Untuk acara ini pakai baju adat Mandailing. Duuh.. i remember wearing that headpiece back then. oh, the pain!


Ini siapa yang kawin sih? Trus, kenapa kumisnya gondrong begitu? Fans Foke ya?


Sore-sore santai dan berganti baju. Baju Denita itu desainku loooh 😀


May you have beautiful journey ahead. Amin. I love you both!

Nenek

*postingan yang sangat panjang, untuk nenekku tersayang, Chadijah.

Seberapa baik kamu mengenal nenekmu? Sayangnya pepatah ‘you don’t know what you got ‘till it’s gone’ berlaku padaku. Aku tidak pernah tau apa yang telah dialami nenek semasa hidupnya, hingga saat ia meninggal.

Aku dan semua cucu-cucunya yang sepantaran mengingat nenek, emak dari papaku, dalam memori yang serba menyenangkan. Kami tertawa terbahak saat mengenang nenek yang mengajarkan kami doa menghadapi anjing galak – salamun alanuhin fil alamin. Kami merapal doa itu keras-keras saat berjalan menuju rumah tante yang tak jauh dari situ. Seolah berbekal mantra sakti, kami berjalan dengan dada membusung dan tangan terkepal. Saat jarak hanya berupa tiga rumah dari si tante, tiba-tiba salakan dua anjing terdengar meraung. Seketika doa hanya sampai di kerongkongan, dan otak memerintakhan untuk melakukan apa yang biasa kami lakukan: LARI! Semua tunggang langgang berteriak tak karuan hingga sandal pun hilang.  

Atau betapa asyiknya menghabiskan akhir minggu bersama nenek. Dengan satu piring di tangan berisi nasi yang membubung, nenek akan menyuapi kami yang berbaris satu persatu. Tidak ada yang malas makan kala itu. Tak harus dikejar-kejar seperti anak sekarang.

Dan oh, betapa kami mencintai pohon jambu air di depan rumah nenek yang sudah ditebang jauh sebelum nenek berpulang. Cucu-cucu laki-lakinya akan gesit memanjat pohon yang berbuah sepanjang tahun, dan yang perempuan akan menampung dibawah dengan sarung. Ia lalu membuat sambal, dan itu adalah rujak paling enak di seluruh dunia. 

Aku suka menginap di rumah nenek. Sore hari, kami akan menunggu pedagang gerontol – pretelan jagung rebus yang diberi kelapa dan gula pasir – datang dengan sepeda dan caping bambunya yang khas, dan membeli satu dua pincuk untuk dimakan bersama. Atau mbok jamu, yang akan memberikanku segelas kecil bandrek manisnya. Saat waktu tidur tiba, tempat tidur nenek sangatlah istimewa. Berkelambu! Kami akan sibuk mengibas nyamuk keluar dari kelambu biru muda itu sebelum mulai terlelap berhimpitan di kasur kapuknya yang menipis. Ah, betapa menyenangkan.

Saat aku lulus kuliah dan pindah ke Jakarta, aku tak pernal lupa mengunjungi nenek saat pulang ke Medan. Membawakan makanan kegemarannya – KFC – dan bertanya kabar. Lebaran dua tahun lalu saat aku pulang, nenek masih ceria meski ia sudah harus duduk di kursi roda. Celotehnya masih lucu, dan tawanya yang khas masih terdengar. Tak lama setelah lebaran itu, kondisi nenek makin menurun dan ia hanya bisa tergolek di tempat tidur. Anak-anaknya setiap hari bergantian mengunjungi untuk mengurusnya. Sampai akhirnya sekitar enam bulan lalu, nenek dibawa kerumah orang tuaku, agar lebih intensif dijaga.

Aku sempat pulang ke Medan beberapa kali dan menitikkan air mata saat melihatnya terbaring. Ia tak kenal siapa-siapa, meski terkadang bisa menjawab jika ditanya. Selebihnya, ia menceracau. Meminta minum, minta dipeluk, memanggil-manggil ibunya, atau mengatakan kepalanya sakit. Matanya tak lagi bisa meliat meski pendengarannya masih tajam. Badannya begitu kurus dan ringkih.

Terakhir aku melihatnya adalah tanggal 13 Maret 2012. Setelah seminggu liburan di Medan, aku berpamit. “Nina pulang ya nek,” kataku sambil mencium keningnya. Ia selalu memanggilku dengan sebutan Nina. Tak pernah Ina, seperti aku kerap menyebut diri sendiri, atau Adin, seperti sebutan papa untukku. Apalagi Dinda, yang memang namaku sebenarnya.

Namun Nenek membalas, “Jangan nakku… jangan pulang dulu…” Permintaan yang membuatku tercekat. “Kepala nenek sakit,” lanjutnya. Mataku langsung menggenang. Kutenangkan dia dengan mengusap lembut kepalanya. Mengatakan bahwa aku akan kembali lagi bulan Mei. Dalam hati kubacakan Al Fatihah untuknya. Tak lama setelah kubelai kepalanya, ia tertidur. Kucium ia dan aku pergi dengan hati porak-poranda.

Itu adalah terakhir kali aku bertemu dengannya.

Kondisi nenek memburuk seminggu sebelum ia berpulang. Aku sempat membacakan surah Al-Waaqi’ah dan menangis tersedu-sedu saat tiba di ayat 83. Aku ingin pulang. Ingin menamani nenek. Ia adalah orang tua langsung yang terakhir dari orang tuaku. Aku tak pernah bertemu kedua kakekku. Ibu kandung mamaku juga meninggal saat ia masih gadis. Ibu tirinya telah meninggal beberapa tahun lalu. Aku begitu berharap, Nenek masih kuat saat aku pulang bulan Mei nanti. Masih bisa menyaksikan saudara laki-lakiku, Bang Kanda, cucu laki-laki pertama dari anak laki-lakinya, cucu kesayangannya menikah.

Sehari setelah ulang tahun perkawinaku, dua kata berupa sms yang dikirim mama membuatku lemas. ‘Nenek kritis, begitu bunyinya. Sms itu kubaca saat adzan Dzuhur terlantun dari masjid. Tanpa pikir panjang, aku langsung mandi, sholat dan packing. Namun diantara baju-baju yang kumasukkan dalam tas, telepon berbunyi. Dari kakakku, bertanya apakah aku telah mendengar kabar. Aku mengiyakan. Tapi ‘kabar’ yang kumaksud adalah kabar bahwa nenek kritis. Aku mengatakan padanya bahwa aku akan pulang sekarang.

Lalu kutelepon mama, tangisnya langsung pecah: nenek sudah tak ada. Ternyata, itulah ‘kabar’ sebenarnya. Aku dan suamiku memburu waktu ke airport. Hampir dua jam di jalan, aku berkali-kali membaca Yaasin. Namun, aku tak beruntung. Nenek akan dimakamkan selepas Ashar, dan aku baru mendapat tiket untuk jam 6 sore. Keinginanku mencium nenek sekali lagi menguap seperti air terjerang kelamaan.

“Tolong ciumkan nenek untuk Ina ya, pa,” kataku berlinang air mata saat menelepon papa. Kutau papa tak kuasa menahan tangis, ia hanya menjawab singkat sebelum menutup telepon diujung sana. Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun. Semua berasal dari Allah, dan akan kembali kepada-Nya.  
 

***

Hari ketiga setelah nenek berpulang, anak-anak perempuan dan menantunya berkumpul di rumah nenek. Kami hendak membersihkan kamar dan lemarinya. Membagikan baju-baju atau kainnya kepada semua anak, menantu dan cucu. Selebihnya, akan disedekahkan.

Aku menjadi satu-satunya cucu yang berada di situ. Memilah satu-satu baju nenek dan membauinya. Bau apak lemari, sebab menjelang akhir hayatnya, nenek tak bisa lagi mengenakan kebaya atau baju kurungnya yang cantik. Beberapa baju kuingat betul. Sebuah baju kurung biru bersulam merah muda sering ia pakai untuk mengaji. Atau, kurung sutra biru muda yang dibelikan mama saat aku menikah.

Kalau yang lain hanya menyimpan satu-dua, aku menyisihkan banyak baju nenek. Sengaja kupilih hanya yang berusia paling tua. Ada yang sudah pudar, bahkan ada yang sobek. Tapi tak mengapa. Sebuah songket ungu. Lima kebaya melayu panjang sederhana berbahan rubiah dengan warna pastel nan teduh. Sebuah kebaya renda model kartini. Lima selendang renda atau bordir model lama. Dan juga kurung biru berenda merah muda itu. Semuanya pas di badanku. Mungkin aku hanya ingin menyimpan kenangan sebanyak-banyaknya.

Kami juga menemukan ‘harta-harta’ lain. Selaci penuh mainan cucu-cucunya yang kerap ia rapikan jika dilihatnya terserak di ruang tengah. Paspor haji coklat Nenek tertanda tahun 1983 dan sebuah foto polaroid yang telah kehijauan bergambar nenek dan seorang perempuan dalam balutan baju ihram perempuan. SIM A milik suaminya, Atokku, tahun 1967 lengkap dengan foto Atok berpeci dan cap jempolnya. Kwitansi pembayaran bulanan asuransi jiwa Boemi-Poetera dari  tahun 1958 hingga 1963. Surat bukti pembayaran pajak radio dengan materai-materai lima rupiah berwarna merah tertempel diatasnya.

Dan surat nikah Nenek. Surat kawin yang dikeluarkan oleh Koordinator Urusan Agama Daerah Sumatera Timur, menyatakan telah menikah pada hari Ahad, 6 Januari 1952, Umar bin Djama’, berusia 40 tahun dengan Chadijah binti Sampai berusia 25 tahun dengan mahar 32 rupiah, tunai. Namun yang mengejutkanku adalah status nenek yang tertera disitu: Djanda balu dari Kasim.

Nenek seorang janda waktu menikah dengan Atok? Bagaimana aku bisa tidak tau ini? Malam sebelumnya, aku bertanya kepada papa soal hidup Nenek. Namun, papa tak banyak tau. Ia lebih tau banyak soal Atok, seorang keturunan Banten yang bekerja mengurus mesin-mesin besar di perkebunan. Ia adalah anak tertua, dengan satu saudara laki-laki dan satu saudara perempuan. Atok pertama kali menikah dengan seorang perempuan Banten. Kemungkinan besar, istrinya meninggal sehingga ia memboyong tiga anaknya ke Medan. Lalu, ia pergi ke Malaysia. Papa tidak tau pasti kenapa, tapi ada kabar bahwa ia berselisih paham dengan orang perkebunan. Di Malaysia ia menikah lagi dan punya satu anak. Istri yang kedua ini meninggal saat melahirkan anak kedua. Ia lantas kembali ke Medan. Lalu, ia menikah lagi dengan nenek dan punya delapan anak, termasuk papa, anak ketiga. Itu saja.

Aku lantas bertanya pada dua tanteku yang bersama-sama memilih baju. Apa arti janda balu dari Kasim? Seorang uwak, mengatakan, janda balu artinya janda yang ditinggal mati oleh suami. Lantas, mereka menceritakan apa yang mereka tau.

Nenek, adalah anak pertama dari tiga bersaudara yang semuanya adalah perempuan. Ia lahir di Tembung – daerah pinggiran kota Medan – pada tahun 1926, dari pasangan Sampai dan Sitiani (meninggal tahun 1983). Ia sempat menamatkan sekolahnya di Madrasah Ibtidaiyah sebelum menikah dengan paribannya pada usia 14 tahun. Dalam adat Batak – nenek bermarga Nasution – pariban adalah anak laki-laki dari saudara perempuan ayah, atau anak perempuan dari saudara laki-laki ibu. Entah dari sisi yang mana pariban ini. Namun, hukum alam membuktikan, bahwa pernikahan dengan saudara yang cukup dekat tidaklah baik. Nenek tak bisa mempunyai keturunan. Empat kali ia mengandung, namun ia keguguran, atau anaknya lahir dalam keadaan meninggal.

Sesuai dengan kepercayaan waktu itu, atas perintah para orang tua, mereka harus bercerai. Langsung talak tiga. Pasangan ini harus menikah lagi dengan orang lain, baru nanti bisa kembali menikah. Meski masih sangat mencintai suaminya, Nenek terpaksa tunduk dengan perintah itu.

Nenek lantas bercerai dan menikah lagi. Ia tak peduli dengan siapa, asal bisa kembali kepada suaminya semua. Ia lalu menikah dengan seorang tentara, meski ia tak suka. Dia inilah yang mungkin bernama Kasim. Sayangnya, sang tentara ternyata sangat pencemburu dan tak rela menceraikannya. Yang ada, nenek malah ‘disiksa’ secara verbal. Bahkan, nenek pernah bercerita bahwa sang tentara pernah melepaskan tembakan. Meskipun tidak kena, namun suaranya membuat nenek trauma karena hanya berjarak sekian senti dari telinganya. “Tapi, tau sendirilah. Kadang-kadang nenek kan suka lebay,” kata tanteku, “Jadi ini juga tidak tau kebenarannya.” Namun memang, kata tanteku, nenek sering kaget dan pingsan kalau mendengar suara keras. Pastinya, nenek membenci sang tentara.

Tanteku tak tau mereka menikah tahun berapa. Namun mereka sudah bersama saat perang kemerdekaan. Menurut catatan sejarah, pemuda-pemuda Medan pernah bertempur dahsyat pada peristiwa pertempuran Medan Area. Kabar bahwa Indonesia telah merdeka didengar warga Medan pada tanggal 27 Agustus 1945 dari Mr. Teuku Moh Hassan, gubernur Sumatera kala itu. Namun, dua bulan setelahnya, tentara Inggris yang diboncengi NICA Belanda kembali menyelusup ke Indonesia, dan mendarat di Medan pada tanggal 9 Oktober 1945.

Awalnya pasukan asing ini diterima dengan baik. Namun sebuah insiden mencemarinya. Seorang serdadu asing merampas lencana merah putih dari seorang pemuda Indonesia dan kemudian menginjak-injaknya. Kemarahan berkobar, dan perlawanan pun diberikan. Tanggal 1 Desember 1945, dibentuklah Komando Resimen Laskar Rakyat Medan Area. Pertempuran sengit pun terjadi. Perjuangan ini berlangsung hingga dua tahun lamanya dan terkulminasi pada tanggal 15 Februari 1947, dimana pasukan Indonesia berhasil memukul mundur musuhnya.

Mungkin, Nenek menikah dengan si tentara pada masa-masa itu. Namun, keberadaan tentara ini sesudahnya juga tidak jelas. Nenek malah harus mengungsi bersama banyak orang lain ke pinggiran kota Medan. Ia harus berenang menyeberangi Sungai Ular, sungai yang cukup besar di Kabupaten Deli Serdang. Hal yang paling mungkin terjadi adalah ia tewas saat perang tersebut. Dan nenek tidak berusaha mencarinya. Ia justru lega karena tak lagi harus bersama sang tentara. Setelahnya, tidak ada yang tau kelanjutan kisah dengan paribannya. Mungkin meninggal, mungki juga memang hidup memilihkan jalan berbeda untuk keduanya.

Perihal perjumpaannya dengan Atokku, Tanteku mengatakan, adalah seorang Haji Ilyas – atau Atok Haji, demikian dia mengenalnya – seorang guru besar Islam dari Tembung, yang menjodohkan Nenek dengan Atokku. Ia dulu bahkan sempat mengira bahwa Atok Haji lah orang tua dari Nenek. Atok yang duda dengan empat anak, dikenalkan dengan nenek yang janda. Mereka lantas menikah pada tahun 1952, mempunyai delapan anak, hingga Atok meninggal pada bulan April 1971.

Sejak itu nenek membesarkan anak-anaknya sendirian. Kehidupannya tak lagi senyaman dulu, seperti saat almarhum Atok yang berpangkat cukup tinggi di perkebunan masih ada. Ia berladang, dan juga menerima santunan dari orang-orang yang merasa sangat berhutang budi kepada almarhum Atok. Hingga anak-anaknya mulai bekerja dan menikah, ia pun di rumah, menikmati masa tuanya. Hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir, menjelang pukul satu siang pada tanggal 25 Maret 2012, dikelilingi anak-anaknya.

Kendati aku tak sempat melihatnya kembali ke pangkuan ibu bumi, aku tidak terlalu menyesal. Aku telah pernah merawatnya, meski sebentar. Menyuapkan makannya, memberinya minum, mengusap kepalanya, dan membacakan banyak doa untuknya. Aku yakin, nenek tau aku sangat sayang padanya. Mudah-mudahan semua doa yang keperuntukkan untuknya didengar oleh Yang Maha Kuasa.

… dan ini sebuah Al Fatihah lagi untukmu, nek. Bukan yang pertama, dan yang pasti juga bukan yang terakhir.

 ***

Nenek saat lebaran dua tahun lalu


Ah… tawa itu… 


Surat nikah Nenek dan Atok




Atok dan Nenek saat mereka muda.

Ritual Lebaran

Aku nggak ingat persis kapan mulainya, tapi keluargaku punya ‘ritual’ tahunan yang selalu aku tunggu-tunggu. Yang dilakukan cuma setengah jam-an, tapi kerap berhasil membuatku bergetar.

Bukan. Bukan masak ketupat bareng-bareng kayang di iklan. Masak-memasak sih cukup dilakukan mama. Soalnya malam takbiran si papa pasti sibuk di masjid untuk urusan zakat yang seringnya sampai menjelang subuh. Dan kami anak-anaknya, yaaa..biasalah, namanya juga anak muda *uhukuhuk*, jadi seringnya jalan-jalan dengan teman.

Bukan juga berkumpul di rumah nenek di lebaran hari pertama. Berkumpul bersama seluruh keluarga dari papa, dimana makan lontong sayur berkali-kali menjadi ‘ritual’ tak terpisahkan! Atau berkumpul bersama keluarga mama di lebaran ke dua di Tembung, sekitar setengah jam-an nyetir dari Medan, dimana makan siang dengan sambal terasi super pedas dan rebusan juga merupakan ‘ritual’ wajib!

Ini bukan ritual keluarga besar, tapi hanya kami: papa, mama, abang, adek, aku (dan sekarang ditambah si abang, tentunya). Dilakukan setelah sholat Ied. Yah, biasanya sih emang makan dulu, biar ada ‘energi’ untuk melakukannya :P.

Ritual itu adalah bermaafan. Dan ini bukan sekedar sungkem dan minta maaf lantas diakhiri dengan peluk dan cium. Ini adalah saat introspeksi diri yang paling jujur. Pengakuan dosa. Mengatakan kepada satu sama lain, hal-hal yang setahun lalu mengganjal di hati. Untuk kemudian meminta atau memberikan maaf setulus-tulusnya.

Termasuk papa atau mama yang dengan terbuka meminta maaf kepada kami jika mereka merasa melakukan kesalahan. Juga kami yang meminta maaf karena kadang-kadang mengecewakan. Ritual ini membuat orang secuek dan sekeras adekku bisa nangis bombay sesenggrukan. Atau juga bisa ngakak hebat karena memang setahun kemarin penuh hal-hal menyenangkan.

Setiap tahun, ritual ini seperti menjadi pembersihan diri dan pelega hati. Dan jika aku pikir-pikir lagi, ritual inilah yang mengikat keluarga kami, membuat kami selalu dekat, apapun yang terjadi: kami tidak lupa untuk saling mengatakan betapa kami menyayangi satu-sama lain, seberapa besarpun kesalahan yang dibuat.



So, what’s your family ritual for days like Lebaran?