Category Archives: InsideOut

Today’s Happiness!

Buku ‘Happiness is Homemade’ karya Puty Puar yang di PO kemarin hari ini nyampe dan bukunya menyenangkan banget! Begitu sampai di halaman 9, langsung pengen mewek (ini sih emang cengeng aja deh kayaknya! Dikit-dikit nangis, hih!). Di halaman itu tertulis, “…and realizing that there will be just enough time for everything.” Langsung mengena sampe ulu hati, kak…

Processed with VSCO with f2 preset

 

Di tengah timbunan to-do-list yang sepertinya nggak habis-habis, rasanya selalu kekurangan waktu untuk mengerjakan semuanya. Kadang-kadang pengen toyor kepala sendiri, kenapa sih sampe segitunya. Tapi ya mau gimana lagi? Emang HARUS segitunya, kan? Membangun usaha itu kan nggak semudah mengucapkannya.

Tapi bukunya Puty mengingatkan aku untuk tarik napas sebentar dan merasa ‘cukup’ dengan diri sendiri (baca: segala kelebihan dan keterbatasan yang ada). Mengingatkan untuk bersyukur akan kebahagiaan-kebahagiaan kecil sehari-hari.

Dulu, aku dengan mudahnya menjadi ‘mindful’ akan sekitarku yang membuatku banyak sekali bersyukur. Tapi, hidup selalu berubah-ubah, dan kebiasaan-kebiasan kecil yang dulu membuat bahagia seringkali lupa untuk dilakukan. Ujung-ujungnya merasa kering dan kosong tapi nggak tau kenapa. Seringkali, kita butuh pengingat, semacam jangkar yang menjaga supaya kita tidak terbawa arus terlalu jauh. Dan karya Puty ini adalah jangkar yang manis sekali.

Sejak awal tahun, aku berjanji untuk lebih berbaik hati pada diri sendiri. Self-love, istilah kerennya. Lebih mengapresiasi apa saja yang telah dilakukan. Aku bahkan mengubah agenda tahunan – yang biasanya aku isi dengan berbagai rencana/kegiatan – menjadi gratitude journal. Setiap hari, aku menuliskan hal-hal yang membuatku senang dan karenanya bersyukur. Dulu, konsep ini terasa ‘meh’ banget buatku, karena ya seperti yang aku bilang tadi, aku cukup mindful terhadap sekitarku. Tapi, sekarang, aku sangat butuh mengingat hal-hal semacam ini untuk lebih merasa cukup dengan diri sendiri.

Di bukunya, Puty menyebutkan ini sebagai ‘reverse bucket list’ (hal. 120). Kalau Bucket List berisi tentang hal-hal yang ingin dicapai – yang sejujurnya kadang malah bikin gentar dan terintimidasi (or is it just me? Ahahahah!) – reverse bucket list adalah hal-hal yang telah dicapai. “Because success is getting what you want, but happiness is wanting what you got”. AMIN!

Jadi, terimakasih, Puty, untuk karyanya yang menghangatkan hati. Mudah-mudahan kamu diberi kebahagiaan selalu, dimanapun kamu meletakkan hatimu :-*

Processed with VSCO with f2 preset

 

So, guys. What little things that made you happy today?

2017: The Start Up Year – Perjalanan Menemukan (Kembali) Diri Sendiri

Aku memulai 2017 dengan sepenuh harap bahwa tahun ini akan lebih baik. Berjanji pada diri sendiri untuk lebih menyenangkan hati. Setelah mengalami episode depresi di tahun sebelumnya, sungguh aku tak ingin itu terulang lagi.

Logikanya, tahun ini harusnya menjadi tahun yang santai, penuh liburan serta leyeh-leyeh. Memang sih, aku cukup banyak berpergian untuk liburan walaupun tidak jauh-jauh. Cirebon, Garut, Bandung, Medan, Banda Aceh, Sabang dan Purwokerto kami kunjungi. Bahkan kami sempat membawa orang tuaku jalan-jalan ke Garut dan Cirebon, serta membawa ibu mertua ke Bandung untuk berlibur sekaligus cek kesehatan.

Tapi, ternyata tidak demikian yang terjadi. Perenungan atas apa yang telah aku lalui membuatku merasa harus berbuat sesuatu. Depresi telah mengikis kepercayaan diriku hingga hampir habis. Ini adalah saatnya untuk menemukan kembali diri sendiri.

Usaha catering di Medan, catering adinda, yang sudah dimulai di akhir tahun 2016, pelan-pelan mulai berjalan. Ini tentunya memberikan tambahan semangat untukku. Aku merasa lebih berharga, karena merasa melakukan sesuatu yang berbeda dan berguna.

Maka, saat muncul ide untuk menggarap usaha baru dari adikku dan seorang sahabat, aku dengan suka cita menyambutnya. Dulu, saat Malik baru saja lahir, aku ingin sekali memproduksi baju anak-anak. Business plan sudah digarap, desain sudah dibuat, namapun sudah ada: minimons. Namun, karena banyak hal, usaha ini tidak jadi diluncurkan. Jadi, saat ide untuk menghidupkan kembali Minimons datang, aku jadi bersemangat.

Tapi, memulai sesuatu dari nol itu bukan perkara mudah memang. Setelah berbulan-bulan brainstorming, kami muncul dengan visi yang lebih menyentuh nilai-nilai keluarga. Pertengahan 2017 kami meluncurkan koleksi perdana yang tidak melulu baju anak, melainkan baju yang matching untuk seluruh keluarga. Ada sesuatu untuk bapak dan ibunya juga.

Begitupun, jalannya tidak mulus. Awalnya aku punya ekspektasi tinggi karena timku sudah sangat berpengalaman di bidangnya. Tapi dalam perjalanannya, aku sadar bahwa tim yang terbentuk ini butuh banyak sekali adaptasi untuk bekerja sama. Ujung-ujungnya, aku harus realistis dan kembali kepada hal yang sungguh klise: semua butuh proses.

Di penghujung Oktober, saat deadline produksi mulai mengejar, partner bisnis sekaligus desainer memutuskan untuk keluar. Sungguh itu adalah pukulan telak yang membikin panik.  Tahun yang ‘harusnya’ menyenangkan, berubah jadi sekumpulan masalah yang saat itu tak terlihat jalan keluarnya.

Aku hampir menyerah. Rasanya, ingin sekali membubarkan Minimons dan melepaskan diri dari keruwetan yang terjadi. Tapi setelah berfikir lama, aku sadar. Selama ini aku selalu bertahan dengan apapun yang terjadi. I am a survivor, that is who I am. Aku bukan jenis orang yang berhenti begitu saja, tanpa berjuang hingga akhir. Dan yang membuat hati sungguh hangat, adalah sahabat-sahabat yang selalu menyemangati (you know who you are, girls. I owe it to you #MahmudSeadanya) dan orang-orang yang dipertemukan, yang memberikan banyak inspirasi.

Aku lantas mengerahkan segala yang aku punya untuk tetap meneruskan Minimons. Sebuah mantra terucap berkali-kali di hati: aku bisa! I’m a fast learner and I can learn anything I want. Aku adalah orang yang bisa beradaptasi dengan situasi apapun, itu yang menjadi kunci kenapa aku bisa survive hingga kini.

Dan di tengah ‘badai’ itu, aku seperti menemukan diriku kembali. Dinda yang punya tujuan. Dinda yang tak menyerah dengan keadaan. Dinda yang meskipun merasa takut, tapi terus berjalan.   

Maka, penghujung 2017 adalah ujian ketahanan fisik dan mental. Waktunya untuk benar-benar melakukan apa yang aku ucapkan. To walk the talk. Aku melakukan apapun yang bisa kulakukan tanpa berhenti. Tidak hanya mengurusi Minimons tentunya, aku masih harus mengurus usaha catering adinda di Medan, mengurus Malik, plus berbagai urusan keluarga besar. Sebentar di rumah, sebentar di Bandung untuk urusan Minimons, sebentar lagi sudah di Medan untuk urusan catering adinda.

Melelahkan. Sangat. Bahkan hingga aku menulis ini pun masih ada to-do-list yang menanti untuk dikerjakan. But hey, if it’s the price that I have to pay to be myself again, then so be it. I know for sure, I will not regret anything. Aku yakin – dengan seyakin-yakinnya – bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha.

Hey 2018, bring it on! 

blog 2017 2Me, proudly wearing my first ever design, scarf for minimons.

2016: A Rough Patch

Iya. Ho oh. Blog ini memang nggak di-update enam bulan. Setengah tahun. SE-TE-NGAH-TA-HUN. Kepada para pembaca setia (kayak ada aja!), mohon maaf ya. Bukannya update, yang punya blog ini malah kadang curhat panjang lebar di Instagram. Jadi, sekedar tips aja nih. Kalau disini lagi sepi tulisan, boleh lah tengok Instagram aja. Mau di-follow juga boleh banget *modus* hahahaha…

Begitulah. Sebenernya banyak yang terjadi. Banyak banget sampai kadang nggak tau lagi harus mulai dari mana. Ujung-ujungnya: ah, sudahlah! Nanti aja tulis-tulisnya. Ini juga sebenernya bingung mau nulis apa. Otak sama jari suka nggak singkron. Apalagi sama hati, eeaaaakkk…. Jadi, mumpung ini sudah penghujung tahun, kayaknya enak kalau merekap apa yang terjadi selama tahun 20016 ini. Here it goes.

Project #RumahPapa

Postingan terakhir di blog ini bercerita soal awal pembangunan Rumah Papa di Medan. Sepanjang tahun 2016, aku memang banyak berkutat dengan urusan ini. Rencana awalnya, rumah ini sudah selesai pada bulan November.

Saat ini, aku sedang berada di Medan, melihat bangunannya sudah berdiri… tapi belum ada atapnya, hahahahah! Waktu membangun struktur sih terlihat cepat. Begitu finishing, rasanya lamaaaaaa kaliiiiii! Sebenernya sih, sudah tinggal dikit lagi. Lantai 1 dan 2 paling tinggal merapikan, serta pasang pintu dan jendela. Tapi karena atap belum kelar, tentunya ada pekerjaan yang tidak bisa dilakukan, terutama untuk lantai paling atas, juga untuk tangga-tangga. Jadi yah, kebanyakan pekerjaan harus ditunda sampai atap selesai.

Memang membangun rumah itu perlu mental baja ya. Baja kokoh nan padat, bukan baja ringan – itu sih buat atap aja! Pasti ada aja yang terjadi di lapangan, diluar perhitungan awal. Ya soal desain, soal waktu, soal budget apalagi. Mohon doa ya supaya project ini bisa kelar sebelum kalender berganti, agar diriku tetap waras adanya, hahaha!

201612-atap

201612-rumah

#BabyM (yang sudah bukan baby lagi, hiks!)

Di usianya yang memasuki dua tahun, BabyM tentunya makin bisa macem-macem. Skill-nya menggebuk drum makin mencengangkan karena sudah mulai bisa mengikuti musik. Skill ‘memasak’ apalagi. Hampir tiap hari dia main dengan playdoh, tepung, wajan, sudip dan kawan-kawannya. Belakangan malah sudah bisa ditemani memasak telur dadar beneran, dan dia bahagia banget kalau diajak mencuci piring setelahnya. Mudah-mudahan rajin sampe gede, AMIN!

Terakhir cerita soal BabyM disini adalah soal kesuksesan menyapih. Ya ampun, menuliskannya bagaikan kejadian itu sudah dilewati bertahun-tahun lalu! Aku kira, setelah kelar menyapih, drama akan segera berlalu. Little did I know, drama itu malah semakin melebar kemana-mana, seiring dengan kemampuan verbalnya yang meningkat pesat bak roket menuju Mars!

Di satu sisi, BabyM sangat menggemaskan sekali. Dia udah bisa diajak ngobrol. Tapi disisi lain, bok… anak kicik ini kerjaannya membantah muluk! Padahal dulu kayaknya asik-asik aja deh nyuruh dia beresin mainan, atau makan, atau mandi atau tidur. Sekarang… OMAIGAT! Perjuangan banget!

“Malik, yuk mainannya dibereskan.”

“Nggak usah lah. Nanti aja.”

“Loh, kan sudah mau mandi. Mainannya dibereskan dulu.”

“Ibu aja yang bereskan.”

“Ih, kan kamu yang main. Ayo lah, ibu ikut bantuin deh.”

“Ibu aja lah yang bereskan. Tangan Malik lagi kotor.”

“Tangan kotor kan bisa di lap dulu.”

“Nggak mau. Nanti aja bereskannya SEKALIAN ABIS MANDI.”

….

Pengen ditujes nggak sih anak kicik ini? Iya, ngomongnya kata-per-kata kayak gitu. Pake ‘Lah’ segala. Ngelesnya pun super duper jago. Kadang-kadang sampe kepikiran, anak dua tahun kok ya udah advance banget kayak gini. Berasa ngomong sama bapaknya deh #eh.

201612-drum

201612-masak

Tentang Diri Sendiri

Nah, ini mungkin yang cukup sulit menceritakannya. Yang kayaknya menjadi akar permasalahan kenapa nggak nulis-nulis. Tahun ini terasa cukup ‘menantang’ buatku, baik fisik maupun mental. Aku tidak tau apa persisnya, tapi – tanpa harus mengkambing hitamkan masalah apapun – aku sepertinya kewalahan mengerjakan banyak hal sendirian. I think 2016 is quite rough.

Mengurus pembangunan rumah di Medan, mengurus rumah tangga sendiri, menjaga anak yang memasuki fase penuh drama membuatku sangat lelah jiwa dan raga. Dengan model kerja si Abang yang 8 minggu kerja – 5 minggu cuti, aku kebanyakan sendirian. Saat si Abang cuti pun, kami harus mengurus banyak hal. Kami juga sepakat memangkas budget liburan karena sedang membangun rumah (yang kayaknya adalah langkah yang salah, huhuhu).

Aku seperti tak punya jeda. Dan bulan puasa lalu adalah puncaknya. Aku sering menangis. Hal-hal kecil membuatku sedih dan sangat marah. Mood swing yang sangat aneh. Aku sulit tidur walaupun terasa sangat capek. Tidak punya energi untuk melakukan apapun, sulit konsentrasi dan merasa sangat tidak berdaya. Pelan-pelan aku merasa tidak mampu berkomunikasi dan menarik diri dari lingkungan sosial. Aku keluar dari grup whatsapp, atau tidak membaca whatsapp sama sekali. Log-out dari Path dan tidak menyentuh facebook. Aku bahkan berhenti menulis. Padahal menulis adalah hal yang paling aku suka – dan aku merasa tak punya tenaga melakukannya.

Sesekali aku posting di Instagram, lebih karena aku tak mampu berkata-kata, dan menyerahkan diri pada bahasa gambar: berharap ada yang membaca ‘tanda’ ini dan berusaha menarikku keluar. Aku merasa berada dalam terowongan gelap pekat, tak tau harus berbuat apa, tanpa bisa memetakan perasaan sendiri, apalagi meminta tolong. Mau minta tolong apa coba?

Suatu hari keadan menjadi semakin buruk. Aku yang selama ini tidak pernah bersuara keras kepada Malik, tiba-tiba tanpa kontrol membentaknya hingga Malik ketakutan. Aku bahkan lupa kenapa. Aku terduduk dan menangis di dapur setelah itu. Malik duduk tak jauh dariku, terdiam dan bingung memperhatikan. Setelah tangisku mereda, aku meminta maaf dan memeluknya. Sejak itu, setiap ada perubahan pada wajahku atau nada suaraku, Malik akan bertanya: “Ibu marah?” dan itu sungguh mengiris hati.

Dengan putus asa, aku mengetikkan sebuah pertanyaan di google: why am I angry all the time? Google memberikan link, merujuk pada laman yang menunjukkan gejala depresi. Astaga, memikirkan bahwa aku ‘mungkin’ depresi malah semakin membuat depresi!

Processed with VSCO with f2 preset

Sepertinya, aku memang harus meminta bantuan. Tapi tak tau harus mulai dari mana. Untungnya, menjelang lebaran, Mama Papaku datang dari Medan. Aku jadi tidak sendiri di rumah. Aku tidak bisa menjelaskan banyak kepada mereka, tapi aku berkali-kali menangis padahal membicarakan hal-hal biasa. Namanya orang tua, mereka mungkin bisa merasa, kali ya. Sepanjang lebaran rumahku juga ramai oleh keluarga sehingga aku bisa mengalihkan pikiran dari hal-hal yang tidak menyenangkan.

Dari hasil diskusi dengan si Abang, akhirnya kami memutuskan bahwa untuk saat ini, aku sedapat mungkin untuk tidak sendiri. Jadi jika si Abang sedang kerja, aku bisa terbang ke Medan. Selain aku ada temannya, Malik juga punya lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan lebih banyak orang, mengingat ia berada fase yang memang perlu bersosialisasi. Jadi sejak pertengahan tahun, aku kerap bolak-balik Medan jika si Abang sedang bekerja.

Saat ini, aku jauh lebih baik walau mood kadang-kadang masih suka drop. Aku sadar aku mungkin butuh bantuan professional untuk ini. Tapi, setidaknya, mengakui bahwa aku ‘bermasalah’, dan mampu meminta bantuan kepada orang lain, adalah sebuah langkah yang baik. Aku juga sudah mulai menulis lagi, which also a good sign, kan?

Jadi begitulah sodara-sodara. Tahun ini bukan tahun yang mudah. I can’t say I’m ready and confident enough for 2017, tapi begitulah hidup bukan? Siap nggak siap ya mesti dihadapi.

So, here I come, 2017. I’m going to take it one day at a time. Wish me luck, everybody.

201612-din

Buku Tahunan Keluarga 2015

Alhamdulillaaaaahhh…. Setelah berbulan-bulan setres sendiri, milihin ribuan foto sampe mata nanar, mikirin alur cerita sampe bingung, mendesain halaman dengan kemampuan seadanya… akhirnya buku tahunan keluarga kami untuk tahun 2015 sudah kelar, SUPERYAY!

Inilah dia penampakannya…

yearbook201501

Eaaa… cover-nya nggak nahaaannn 😀 Album tahunan ini terdiri dari dua buku yang diberi judul “2015: The Traveling Year”. Buku Satu yang tebalnya 208 halaman, berisi 306 buah foto keluarga kami sepanjang Januari hingga Juli 2015. Sedangkan Buku Dua tebalnya 224 halaman, berisi 308 buah foto dari Agustus hingga Desember 2015.

yearbook201502

Dibandingkan dengan buku tahunan sebelumnya (2014) yang aku buat pertama kali, buku tahunan 2015 ini jauh lebih baik dari sisi penceritaan. Kalau tahun lalu aku hanya mengikuti kronologis foto dan memberikan caption seadanya, di tahun ini aku membuat semacam pembatas tiap bulannya dan bercerita apa saja yang terjadi pada bulan itu.

yearbook201503

Dari segi desain tata letak, yah… mendingan sih dari buku sebelumnya. Hanya saja tetap masih ada ruang-ruang perbaikan untuk tahun depan. Ya habis gimana ya, aku nggak bisa dan nggak punya software desain di computer. Jadi menggunakan apa yang ada aja: ngerjainnya pakai pakai photosop. Yang CS5 pula. Hahahah!

yearbook201505

Secara keseluruhan, aku senang sekali dengan buku tahunan ini. Saking senangnya, malah untuk tahun 2016 sudah mulai dicicil pengerjaannya. Buatku, ini bukan hanya sekedar kumpulan foto, tapi merupakan dokumentasi penting keluarga kami: apa yang telah kami lakukan, siapa-siapa yang kami temui serta bagaimana perkembangan milestone BabyM. Buku ini juga jadi sumber bahan belajar buat BabyM. Dengan menunjukkan foto-foto di dalamnya, BabyM sudah bisa mengingat apa yang pernah dia lakukan dan bisa menceritakan kembali pengalaman tersebut.

Bukan hanya itu, buku ini juga kami cetak sebanyak tiga set. Satu set untuk di rumah, satu set untuk Atok dan Nenek BabyM di Medan dan satu set lagi untuk Nyaksyik BabyM di Aceh. Buku ini sangat membahagiakan buat mereka. Mengingat jarak yang jauh, buku ini seolah-olah membuat mereka tidak ketinggalan hal-hal yang terjadi pada cucunya.

Bagi teman-teman yang ingin membuat buku tahunan semacam ini, berikut ini ada sedikit “tips”.

1. Memilih foto adalah pekerjaan yang paling berat dari keseluruhan pekerjaan, jadi cicil dari sekarang! Contohnya nih ya, untuk bulan November, saat kami roadtrip menyusuri pantai barat Jawa, aku punya sekitar 2500an foto. Dan aku harus peras-peras otak untuk akhirnya bisa memilih 100 foto. Dan itu hanya November doang. Secara keseluruhan, sepertinya foto keluarga kami dalam setahun itu ada sekitar 8000an foto *tenggelam di lautan foto*

yearbook201504

2. Masukkan foto yang bervariasi. Mengingat bukunya lumayan tebal, fotonya jangan hanya foto kita sekeluarga melulu. Masukkan juga foto suasana dan detail, atau foto dengan angle berbeda agar yang baca tidak bosan. Misalnya, acara ulang tahun anak. Selain foto seluruh keluarga bersama kue, masukkan juga foto dekorasi, foto hadiah, foto close up anak sedang meniup lilin, foto tamu dan foto ruangan secara keseluruhan. Dengan begitu, foto-foto akan lebih “bercerita”.

yearbook201508

3. Buat desain halaman yang rapi dan bersih. Tidak perlu terlalu banyak foto dalam satu halaman. Model desain seperti ini klasik dan bertahan lama dibandingkan dengan model desain yearbook sekolahan.

yearbook201507

4. Cari tempat mencetak dan minta jilid benang. Penjilidan model ini lebih cocok untuk buku yang isinya banyak foto sehingga halamannya bisa terbuka lebih lebar. Begitupun, aku harus mengingatkan bahwa tidak banyak percetakan yang mau menerima jilid benang satuan.

Mudah-mudahan membantu ya! Selamat membuat buku tahunan juga! Kalau udah buat, kabar-kabarin yaaaa!

2015: Traveling… Inside Out.

UK24

 

Aku bisa dengan gampang menyebutkan bahwa 2015 adalah tahun traveling. Posting blog bertama di tahun ini adalah soal aku yang kangen laut, dan postingan terakhir adalah tentang perjalanan ke pantai Ujung Genteng dan Sawarna, bagian dari roadtrip yang diberi tajuk ‘Life is A Beach’.

 

Diantaranya, ada banyak perjalanan. Kami liburan ke Bali di bulan Maret untuk merayakan sewindu ulangtahun pekawinan, disusul dengan kedatangan keluarga dari Medan yang membuat kami mengunjungi banyak tempat wisata. Di bulan Juni, kami melakukan roadtrip pertama bersama BabyM, 17 hari mengelilingi Pulau Jawa. Dan sepanjang Juli-Agustus kami pulang kampung ke Medan dan Aceh untuk berlebaran. Ketagihan roadtrip, kami melakukannya lagi di bulan November. Menghabiskan 12 hari perjalanan menyusur pantai barat Jawa, kami mengunjungi Ujung Genteng, Sawarna, Ujung Kulon, hingga Tajung Lesung – yang bahkan belum kelar ditulis.

 

Traveling, memang selalu mendapat porsi yang besar dalam hidupku – dan kini, hidup kami sekeluarga. Ada begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik, jika kita benar-benar mau. Kami hendak menularkan kebiasaan ini kepada BabyM. Kami ingin ia terpapar dengan banyak hal, banyak perbedaan, banyak nuansa, banyak keadaan, banyak kehidupan; agar dia tau, bahwa hidup kadang tidak senyaman rumahnya, dan oleh karenanya ia tau kenapa dia harus bersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas kebahagiaan-kebahagiaan yang didapatkan, sesederhana apapun dia menganggapnya.

 

Perjalanan-perjalananku sepanjang tahun 2015 berkelindan dengan banyak hal lain yang terjadi dalam keluarga kami. Pada bulan Mei, misalnya. Aku dan Abang dihadapkan pada kenyataan bahwa anak kami yang umurnya belum pun dua tahun itu, harus dioperasi hernia plus disunat sekalian. Sekali lagi, ketabahan kami sebagai orang tua kembali diuji. Bagiku, ini juga adalah sebuah perjalanan. Perjalanan mental, bahkan cenderung spiritual. ‘We don’t know how strong we are until being strong is the only choice we have’, kata Bob Marley, dan aku mengamini sepenuhnya.

 

Selain itu, pada bulan September – November, aku melakukan sebuah ‘perjalanan’ yang tak kalah penting untuk menjadi orang tua yang lebih baik: Aku mengikuti webinar soal homeschooling. Ya, kami memang berencana untuk tidak memasukkan BabyM ke sekolah konvensional. Mengikuti webinar itu adalah sebuah langkah awal bagi kami untuk mempersiapkan bentuk pendidikan bagi BabyM. Aku – juga abang – sadar, bahwa perjalanan yang satu ini adalah jalur yang jarang ditempuh, the road less travelled. Tapi, tak bisa dipungkiri, bahwa hidup kami kini berpusat pada anak, dan cara ini adalah yang paling masuk akal untuk dijalani. Sejatinya, hidup adalah perjalanan. Kita yang menentukan tujuan, kita juga yang memutuskan rute mana yang hendak diambil.

 

Selamat datang, 2016. I’m ready.