Category Archives: InsideOut

2016: A Rough Patch

Iya. Ho oh. Blog ini memang nggak di-update enam bulan. Setengah tahun. SE-TE-NGAH-TA-HUN. Kepada para pembaca setia (kayak ada aja!), mohon maaf ya. Bukannya update, yang punya blog ini malah kadang curhat panjang lebar di Instagram. Jadi, sekedar tips aja nih. Kalau disini lagi sepi tulisan, boleh lah tengok Instagram aja. Mau di-follow juga boleh banget *modus* hahahaha…

Begitulah. Sebenernya banyak yang terjadi. Banyak banget sampai kadang nggak tau lagi harus mulai dari mana. Ujung-ujungnya: ah, sudahlah! Nanti aja tulis-tulisnya. Ini juga sebenernya bingung mau nulis apa. Otak sama jari suka nggak singkron. Apalagi sama hati, eeaaaakkk…. Jadi, mumpung ini sudah penghujung tahun, kayaknya enak kalau merekap apa yang terjadi selama tahun 20016 ini. Here it goes.

Project #RumahPapa

Postingan terakhir di blog ini bercerita soal awal pembangunan Rumah Papa di Medan. Sepanjang tahun 2016, aku memang banyak berkutat dengan urusan ini. Rencana awalnya, rumah ini sudah selesai pada bulan November.

Saat ini, aku sedang berada di Medan, melihat bangunannya sudah berdiri… tapi belum ada atapnya, hahahahah! Waktu membangun struktur sih terlihat cepat. Begitu finishing, rasanya lamaaaaaa kaliiiiii! Sebenernya sih, sudah tinggal dikit lagi. Lantai 1 dan 2 paling tinggal merapikan, serta pasang pintu dan jendela. Tapi karena atap belum kelar, tentunya ada pekerjaan yang tidak bisa dilakukan, terutama untuk lantai paling atas, juga untuk tangga-tangga. Jadi yah, kebanyakan pekerjaan harus ditunda sampai atap selesai.

Memang membangun rumah itu perlu mental baja ya. Baja kokoh nan padat, bukan baja ringan – itu sih buat atap aja! Pasti ada aja yang terjadi di lapangan, diluar perhitungan awal. Ya soal desain, soal waktu, soal budget apalagi. Mohon doa ya supaya project ini bisa kelar sebelum kalender berganti, agar diriku tetap waras adanya, hahaha!

201612-atap

201612-rumah

#BabyM (yang sudah bukan baby lagi, hiks!)

Di usianya yang memasuki dua tahun, BabyM tentunya makin bisa macem-macem. Skill-nya menggebuk drum makin mencengangkan karena sudah mulai bisa mengikuti musik. Skill ‘memasak’ apalagi. Hampir tiap hari dia main dengan playdoh, tepung, wajan, sudip dan kawan-kawannya. Belakangan malah sudah bisa ditemani memasak telur dadar beneran, dan dia bahagia banget kalau diajak mencuci piring setelahnya. Mudah-mudahan rajin sampe gede, AMIN!

Terakhir cerita soal BabyM disini adalah soal kesuksesan menyapih. Ya ampun, menuliskannya bagaikan kejadian itu sudah dilewati bertahun-tahun lalu! Aku kira, setelah kelar menyapih, drama akan segera berlalu. Little did I know, drama itu malah semakin melebar kemana-mana, seiring dengan kemampuan verbalnya yang meningkat pesat bak roket menuju Mars!

Di satu sisi, BabyM sangat menggemaskan sekali. Dia udah bisa diajak ngobrol. Tapi disisi lain, bok… anak kicik ini kerjaannya membantah muluk! Padahal dulu kayaknya asik-asik aja deh nyuruh dia beresin mainan, atau makan, atau mandi atau tidur. Sekarang… OMAIGAT! Perjuangan banget!

“Malik, yuk mainannya dibereskan.”

“Nggak usah lah. Nanti aja.”

“Loh, kan sudah mau mandi. Mainannya dibereskan dulu.”

“Ibu aja yang bereskan.”

“Ih, kan kamu yang main. Ayo lah, ibu ikut bantuin deh.”

“Ibu aja lah yang bereskan. Tangan Malik lagi kotor.”

“Tangan kotor kan bisa di lap dulu.”

“Nggak mau. Nanti aja bereskannya SEKALIAN ABIS MANDI.”

….

Pengen ditujes nggak sih anak kicik ini? Iya, ngomongnya kata-per-kata kayak gitu. Pake ‘Lah’ segala. Ngelesnya pun super duper jago. Kadang-kadang sampe kepikiran, anak dua tahun kok ya udah advance banget kayak gini. Berasa ngomong sama bapaknya deh #eh.

201612-drum

201612-masak

Tentang Diri Sendiri

Nah, ini mungkin yang cukup sulit menceritakannya. Yang kayaknya menjadi akar permasalahan kenapa nggak nulis-nulis. Tahun ini terasa cukup ‘menantang’ buatku, baik fisik maupun mental. Aku tidak tau apa persisnya, tapi – tanpa harus mengkambing hitamkan masalah apapun – aku sepertinya kewalahan mengerjakan banyak hal sendirian. I think 2016 is quite rough.

Mengurus pembangunan rumah di Medan, mengurus rumah tangga sendiri, menjaga anak yang memasuki fase penuh drama membuatku sangat lelah jiwa dan raga. Dengan model kerja si Abang yang 8 minggu kerja – 5 minggu cuti, aku kebanyakan sendirian. Saat si Abang cuti pun, kami harus mengurus banyak hal. Kami juga sepakat memangkas budget liburan karena sedang membangun rumah (yang kayaknya adalah langkah yang salah, huhuhu).

Aku seperti tak punya jeda. Dan bulan puasa lalu adalah puncaknya. Aku sering menangis. Hal-hal kecil membuatku sedih dan sangat marah. Mood swing yang sangat aneh. Aku sulit tidur walaupun terasa sangat capek. Tidak punya energi untuk melakukan apapun, sulit konsentrasi dan merasa sangat tidak berdaya. Pelan-pelan aku merasa tidak mampu berkomunikasi dan menarik diri dari lingkungan sosial. Aku keluar dari grup whatsapp, atau tidak membaca whatsapp sama sekali. Log-out dari Path dan tidak menyentuh facebook. Aku bahkan berhenti menulis. Padahal menulis adalah hal yang paling aku suka – dan aku merasa tak punya tenaga melakukannya.

Sesekali aku posting di Instagram, lebih karena aku tak mampu berkata-kata, dan menyerahkan diri pada bahasa gambar: berharap ada yang membaca ‘tanda’ ini dan berusaha menarikku keluar. Aku merasa berada dalam terowongan gelap pekat, tak tau harus berbuat apa, tanpa bisa memetakan perasaan sendiri, apalagi meminta tolong. Mau minta tolong apa coba?

Suatu hari keadan menjadi semakin buruk. Aku yang selama ini tidak pernah bersuara keras kepada Malik, tiba-tiba tanpa kontrol membentaknya hingga Malik ketakutan. Aku bahkan lupa kenapa. Aku terduduk dan menangis di dapur setelah itu. Malik duduk tak jauh dariku, terdiam dan bingung memperhatikan. Setelah tangisku mereda, aku meminta maaf dan memeluknya. Sejak itu, setiap ada perubahan pada wajahku atau nada suaraku, Malik akan bertanya: “Ibu marah?” dan itu sungguh mengiris hati.

Dengan putus asa, aku mengetikkan sebuah pertanyaan di google: why am I angry all the time? Google memberikan link, merujuk pada laman yang menunjukkan gejala depresi. Astaga, memikirkan bahwa aku ‘mungkin’ depresi malah semakin membuat depresi!

Processed with VSCO with f2 preset

Sepertinya, aku memang harus meminta bantuan. Tapi tak tau harus mulai dari mana. Untungnya, menjelang lebaran, Mama Papaku datang dari Medan. Aku jadi tidak sendiri di rumah. Aku tidak bisa menjelaskan banyak kepada mereka, tapi aku berkali-kali menangis padahal membicarakan hal-hal biasa. Namanya orang tua, mereka mungkin bisa merasa, kali ya. Sepanjang lebaran rumahku juga ramai oleh keluarga sehingga aku bisa mengalihkan pikiran dari hal-hal yang tidak menyenangkan.

Dari hasil diskusi dengan si Abang, akhirnya kami memutuskan bahwa untuk saat ini, aku sedapat mungkin untuk tidak sendiri. Jadi jika si Abang sedang kerja, aku bisa terbang ke Medan. Selain aku ada temannya, Malik juga punya lebih banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan lebih banyak orang, mengingat ia berada fase yang memang perlu bersosialisasi. Jadi sejak pertengahan tahun, aku kerap bolak-balik Medan jika si Abang sedang bekerja.

Saat ini, aku jauh lebih baik walau mood kadang-kadang masih suka drop. Aku sadar aku mungkin butuh bantuan professional untuk ini. Tapi, setidaknya, mengakui bahwa aku ‘bermasalah’, dan mampu meminta bantuan kepada orang lain, adalah sebuah langkah yang baik. Aku juga sudah mulai menulis lagi, which also a good sign, kan?

Jadi begitulah sodara-sodara. Tahun ini bukan tahun yang mudah. I can’t say I’m ready and confident enough for 2017, tapi begitulah hidup bukan? Siap nggak siap ya mesti dihadapi.

So, here I come, 2017. I’m going to take it one day at a time. Wish me luck, everybody.

201612-din

Buku Tahunan Keluarga 2015

Alhamdulillaaaaahhh…. Setelah berbulan-bulan setres sendiri, milihin ribuan foto sampe mata nanar, mikirin alur cerita sampe bingung, mendesain halaman dengan kemampuan seadanya… akhirnya buku tahunan keluarga kami untuk tahun 2015 sudah kelar, SUPERYAY!

Inilah dia penampakannya…

yearbook201501

Eaaa… cover-nya nggak nahaaannn 😀 Album tahunan ini terdiri dari dua buku yang diberi judul “2015: The Traveling Year”. Buku Satu yang tebalnya 208 halaman, berisi 306 buah foto keluarga kami sepanjang Januari hingga Juli 2015. Sedangkan Buku Dua tebalnya 224 halaman, berisi 308 buah foto dari Agustus hingga Desember 2015.

yearbook201502

Dibandingkan dengan buku tahunan sebelumnya (2014) yang aku buat pertama kali, buku tahunan 2015 ini jauh lebih baik dari sisi penceritaan. Kalau tahun lalu aku hanya mengikuti kronologis foto dan memberikan caption seadanya, di tahun ini aku membuat semacam pembatas tiap bulannya dan bercerita apa saja yang terjadi pada bulan itu.

yearbook201503

Dari segi desain tata letak, yah… mendingan sih dari buku sebelumnya. Hanya saja tetap masih ada ruang-ruang perbaikan untuk tahun depan. Ya habis gimana ya, aku nggak bisa dan nggak punya software desain di computer. Jadi menggunakan apa yang ada aja: ngerjainnya pakai pakai photosop. Yang CS5 pula. Hahahah!

yearbook201505

Secara keseluruhan, aku senang sekali dengan buku tahunan ini. Saking senangnya, malah untuk tahun 2016 sudah mulai dicicil pengerjaannya. Buatku, ini bukan hanya sekedar kumpulan foto, tapi merupakan dokumentasi penting keluarga kami: apa yang telah kami lakukan, siapa-siapa yang kami temui serta bagaimana perkembangan milestone BabyM. Buku ini juga jadi sumber bahan belajar buat BabyM. Dengan menunjukkan foto-foto di dalamnya, BabyM sudah bisa mengingat apa yang pernah dia lakukan dan bisa menceritakan kembali pengalaman tersebut.

Bukan hanya itu, buku ini juga kami cetak sebanyak tiga set. Satu set untuk di rumah, satu set untuk Atok dan Nenek BabyM di Medan dan satu set lagi untuk Nyaksyik BabyM di Aceh. Buku ini sangat membahagiakan buat mereka. Mengingat jarak yang jauh, buku ini seolah-olah membuat mereka tidak ketinggalan hal-hal yang terjadi pada cucunya.

Bagi teman-teman yang ingin membuat buku tahunan semacam ini, berikut ini ada sedikit “tips”.

1. Memilih foto adalah pekerjaan yang paling berat dari keseluruhan pekerjaan, jadi cicil dari sekarang! Contohnya nih ya, untuk bulan November, saat kami roadtrip menyusuri pantai barat Jawa, aku punya sekitar 2500an foto. Dan aku harus peras-peras otak untuk akhirnya bisa memilih 100 foto. Dan itu hanya November doang. Secara keseluruhan, sepertinya foto keluarga kami dalam setahun itu ada sekitar 8000an foto *tenggelam di lautan foto*

yearbook201504

2. Masukkan foto yang bervariasi. Mengingat bukunya lumayan tebal, fotonya jangan hanya foto kita sekeluarga melulu. Masukkan juga foto suasana dan detail, atau foto dengan angle berbeda agar yang baca tidak bosan. Misalnya, acara ulang tahun anak. Selain foto seluruh keluarga bersama kue, masukkan juga foto dekorasi, foto hadiah, foto close up anak sedang meniup lilin, foto tamu dan foto ruangan secara keseluruhan. Dengan begitu, foto-foto akan lebih “bercerita”.

yearbook201508

3. Buat desain halaman yang rapi dan bersih. Tidak perlu terlalu banyak foto dalam satu halaman. Model desain seperti ini klasik dan bertahan lama dibandingkan dengan model desain yearbook sekolahan.

yearbook201507

4. Cari tempat mencetak dan minta jilid benang. Penjilidan model ini lebih cocok untuk buku yang isinya banyak foto sehingga halamannya bisa terbuka lebih lebar. Begitupun, aku harus mengingatkan bahwa tidak banyak percetakan yang mau menerima jilid benang satuan.

Mudah-mudahan membantu ya! Selamat membuat buku tahunan juga! Kalau udah buat, kabar-kabarin yaaaa!

2015: Traveling… Inside Out.

UK24

 

Aku bisa dengan gampang menyebutkan bahwa 2015 adalah tahun traveling. Posting blog bertama di tahun ini adalah soal aku yang kangen laut, dan postingan terakhir adalah tentang perjalanan ke pantai Ujung Genteng dan Sawarna, bagian dari roadtrip yang diberi tajuk ‘Life is A Beach’.

 

Diantaranya, ada banyak perjalanan. Kami liburan ke Bali di bulan Maret untuk merayakan sewindu ulangtahun pekawinan, disusul dengan kedatangan keluarga dari Medan yang membuat kami mengunjungi banyak tempat wisata. Di bulan Juni, kami melakukan roadtrip pertama bersama BabyM, 17 hari mengelilingi Pulau Jawa. Dan sepanjang Juli-Agustus kami pulang kampung ke Medan dan Aceh untuk berlebaran. Ketagihan roadtrip, kami melakukannya lagi di bulan November. Menghabiskan 12 hari perjalanan menyusur pantai barat Jawa, kami mengunjungi Ujung Genteng, Sawarna, Ujung Kulon, hingga Tajung Lesung – yang bahkan belum kelar ditulis.

 

Traveling, memang selalu mendapat porsi yang besar dalam hidupku – dan kini, hidup kami sekeluarga. Ada begitu banyak pelajaran yang bisa dipetik, jika kita benar-benar mau. Kami hendak menularkan kebiasaan ini kepada BabyM. Kami ingin ia terpapar dengan banyak hal, banyak perbedaan, banyak nuansa, banyak keadaan, banyak kehidupan; agar dia tau, bahwa hidup kadang tidak senyaman rumahnya, dan oleh karenanya ia tau kenapa dia harus bersyukur kepada Yang Maha Kuasa atas kebahagiaan-kebahagiaan yang didapatkan, sesederhana apapun dia menganggapnya.

 

Perjalanan-perjalananku sepanjang tahun 2015 berkelindan dengan banyak hal lain yang terjadi dalam keluarga kami. Pada bulan Mei, misalnya. Aku dan Abang dihadapkan pada kenyataan bahwa anak kami yang umurnya belum pun dua tahun itu, harus dioperasi hernia plus disunat sekalian. Sekali lagi, ketabahan kami sebagai orang tua kembali diuji. Bagiku, ini juga adalah sebuah perjalanan. Perjalanan mental, bahkan cenderung spiritual. ‘We don’t know how strong we are until being strong is the only choice we have’, kata Bob Marley, dan aku mengamini sepenuhnya.

 

Selain itu, pada bulan September – November, aku melakukan sebuah ‘perjalanan’ yang tak kalah penting untuk menjadi orang tua yang lebih baik: Aku mengikuti webinar soal homeschooling. Ya, kami memang berencana untuk tidak memasukkan BabyM ke sekolah konvensional. Mengikuti webinar itu adalah sebuah langkah awal bagi kami untuk mempersiapkan bentuk pendidikan bagi BabyM. Aku – juga abang – sadar, bahwa perjalanan yang satu ini adalah jalur yang jarang ditempuh, the road less travelled. Tapi, tak bisa dipungkiri, bahwa hidup kami kini berpusat pada anak, dan cara ini adalah yang paling masuk akal untuk dijalani. Sejatinya, hidup adalah perjalanan. Kita yang menentukan tujuan, kita juga yang memutuskan rute mana yang hendak diambil.

 

Selamat datang, 2016. I’m ready.

 

Untuk Para Ibu Baru…

Beberapa waktu lalu, seorang teman yang baru saja punya bayi mengirim email, bertanya dengan nada putus asa: “Dinda, bagaimana kiat menjadi ibu seperti yang kau tulis? Aku seperti tidak bahagia, capek, stress….

 

Sebelumnya, seorang teman lain juga bertanya hal-hal yang kurang lebih mirip. Intinya, kenapa punya anak kok nggak hepi seperti yang dibilang orang-orang? Lihat foto-foto para ibu baru di fesbuk, kok bisa terlihat cantik, menggendong bayi yang juga lucu menawan, terlihat sangat bahagia. Kenapa diri sendiri malah depresi?

 

Pertama-tama…. Sini sini, peluk dulu sini! *peluuukkkkkk*

 

Lalu, aku mau bilang kepada semua ibu baru yang juga merasa hal yang kurang lebih sama: KALIAN NGGAK SENDIRI!

 

Aku juga adalah ibu (yang masih tergolong) baru. Anak baru satu, belum pun dua tahun. Masih belajar ini itu, dan belum pada tempatnya untuk memberi nasihat. Jadi, tulisan ini BUKAN nasihat. Tulisan ini adalah sebuah uluran tangan kepada kalian, para ibu baru, untuk usep-usep punggung dan bilang kalau kalian nggak sendiri.

 

Kalau temanku itu mengira aku ‘bahagia-bahagia’ aja punya anak, ya mungkin memang nggak salah juga. Kalau lihat-lihat tulisan di blog ini, hampir semuanya bernada happy dan riang kalau aku cerita soal BabyM. Tapiii… ya itu karena aku menulisnya saat dalam keadaan WARAS, hahahah! Itu juga datangnya sekali-sekali. Kalau sedang merasa capek, engap, kesal dan sebagainya, boro-boro nulis, ketemu pensil aja kayaknya pengen ditusuk-tusukin kemana gitu 😀

 

“There are days when I feel victorious, but there are other days that makes me feel helpless, defeated, a complete loser. There are days that I feel like throwing bricks at people, but there are days when I really need other people because I just can’t handle it. I start wondering, is this right thing to do? How other mothers do that? Why it seems so easy for them but not for me?”

 

Tulisan diatas adalah entri di sebuah halaman diaryku sebulan setelah BabyM lahir. Sebulan. Dan bahkan setelahnya masih ada cerita soal nangis di shower karena ngerasa nggak sanggup lagi. Tapi, selain itu aku juga nulis hal-hal yang membuat aku ngerasa bahagia banget dan itu karena hal-hal sederhana aja: bisa tidur empat jam tanpa terganggu, bisa meletakkan BabyM di tempat tidur tanpa membangunkannya, atau bisa menggendong dengan gendongan kain!

 

Sepertinya, setelah tiga bulan barulah aku mulai bisa agak senyum. Dan tiap ada orang yang menyapa dan bilang, “Waaahh… nggak terasa yaaa, bayinya sudah tiga bulan. Sudah bisa apa?” itu rasanya campur aduk, antara pengen nonjok, pengen nangis dan pengen cerita panjang lebar. Pengen nonjok karena TIGA BULAN ITU KERASA BANGET! Hari-hari lamaaaaaa sekali berlalu, udah kayak nggak bergerak. Pengen nangis karena capek. Tapi juga pengen cerita panjang lebar dengan antusias karena tiga bulan itu bayinya sudah bisa menggenggam sesuatu loohh… dia juga udah mulai bisa tidur malam, udah bisa ini itu ono anu blablabla nyanyanya… teruuusss… cerita sampe yang nanya nyesel kali, kita ga mau berhenti membanggakan kebisaan-kebiasaan baru si bayi

 

Kalau menurutku, segala perasan sedih, capek, kesel, moody dan sebagainya di awal-awal kelahiran itu adalah sesuatu yang wajar. Masa-masa itu adalah masa adaptasi yang gila-gilaan. Baik bagi orangtua maupun bayinya. Bukan berarti kita nggak bahagia dan bukan pula berarti kita gagal jadi ibu. Jalan ke depan masih panjang, dan definisi gagal atau berhasil itu berbeda-beda tiap orang. Ingatlah satu hal penting: Ini semua akan berlalu….

 

… dan di depan masih menanti tantangan yang nggak kalah besarnya, HAHAHHAHaahha… haha… ha… h… hu… huhu… huhuhuhu….

 

Okelah, kalau memang susah begitu. Tapi yang membuat heran, kenapa nggak ada yang ngasih tau sih kalau jadi ibu itu ternyata susah??? Hemmm… untuk pertanyaan ini, kalau aku liat-liat ada dua kemungkinan.

 

Yang pertama, ada yang yang UDAH ngasi tau, tapi kita nggak cukup peka untuk dengerin karena di kepala kita masih sibu dengan hal lain (melahirkan, misalnyaaaaa!). Pernah baca-baca soal baby-blues sebelum melahirkan? Nah, itu orang udah ‘ngasi tau’ loh. Tapi aku dulu juga ngerasa: nggak mungkin lah aku nanti baby-blues. Itu kan hanya buat orang-orang yang nggak ada persiapan. Aku kan udah persiapan banget, udah sampe ikut konsultasi laktasi bareng suami pun! Kenyataannyaaaaaa…. Jreeeenggg…

 

Yang kedua adalah, orang-orang ‘nggak tega’, bilangnya karena wajah kita udah sumringah banget mau punya bayi. Malah kadang-kadang buat pasangan baru malah udah ngebet banget mau punya bayi begitu selesai akad nikah 😀 Kadang-kadang, aku suka mengingatkan dengan halus: “Apa nggak pengen menikmati aja dulu masa berdua dengan suami, membangun hubungan yang sehat dan kuat dulu, baru punya anak?” Sebab menurut pengalamanku, adaptasi dengan suami setelah menikah aja butuh waktu lumayan panjang. Apalagi kalau harus adaptasi dengan suami DAN bayi baru. Bisa pengsan. Tapi, yang ada aku dilihat dengan pandangan aneh dan para penganten baru ini malah menceramahi aku soal ‘bagusnya’ langsung punya bayi setelah menikah. Oh, baiklah kalau begitu, heheheh.

 

Kembali kepada persoalan semula, lalu harus bagaimana menghadapi semua ini kakaaakkk? Tentunya tidak ada formula yang jitu. Setiap orang berbeda-beda. Tapi kalau seandainya aku punya mesin waktu untuk kembali ke dua tahun lalu dan bilang kepada dinda yang dulu, aku akan bilang:

 

Dinda, tarik nafas banyak-banyak dan tetaplah tenang. Belajarlah untuk tidak langsung panik. Juga, belajarlah mengasah insting. Iya, dua hal ini harus dipelajari. Cobalah untuk tidak mikir terlalu jauh apalagi mikir aneh-aneh, ‘gimana kalau begini, gimana kalau begitu’, jalani aja sehari-sehari. One day at a time. Belajar lah dengan si bayi, juga dengan suami, bersama-sama. You’re in this together. Kalian adalah sebuah tim.

 

Selain itu, belajarlah menerima kenyataan bahwa hidupmu akan berubah. Total. Ini juga perlu dipelajari, karena sungguhlah tidak mudah. Seringnya malah denial dan pengen kembali ke ‘kehidupan lama’. Semakin cepat menerima bahwa kini ada prioritas-prioritas baru dan ada hal-hal yang harus dikorbankan, semakin baik. Dan karenanya, janganlah malu untuk meminta bantuan. Aku dulu rasanya ‘terlalu pede’ bisa melakukan semuanya sendiri. Kenyataannya, kalau aku menerima bantuan, hidupku akan jauh lebih mudah, dan orang-orang disekitarku juga merasa senang karena bisa membantu.

 

Carilah orang-orang yang bisa dipercaya untuk bisa saling berbagi. Punya teman-teman senasib yang juga punya anak kecil? Ayok buat grup. Atau, bisa ikut forum-forum ibu di grup-grup seperti babycenter. Sesama ibu baru bisa saling menguatkan dan saling curhat. Aku sendiri cukup beruntung punya teman-teman baru yang bergabung dalam sebuah grup whatsapp. Kebangun jam dua pagi karena anak mau nenen pun pasti ada ibu yang sedang online juga. Lumayan bisa ngobrol, curhat atau malah sekedar saling menertawakan, hhehehe!

 

Kalau lagi capek stress kesel pengen marah, rasanya semua masalah numpuk jadi satu, ada baiknya istirahat sebentar. Titipkan bayi sebentar kepada orang yang bisa dipercaya. Kadang-kadang, emosi yang menumpuk itu hanya karena kita capek dan butuh istirahat. Atau butuh makan enak. Setelah istirahat dan makan, baru diurai masalahnya apa. Seringnya masalah ‘besar’ ternyata adalah sekumpulan masalah ‘kecil’ yang gampang solusinya, tapi menumpuk.

 

Dan yang terakhir, menjadi ibu itu sering kali berarti melakukan ‘trial and error’. Semuanya coba-coba. Kadang-kadang malah hasilnya ‘salah’ membuat diri merasa bersalah. Atau juga dalam menjaga anak, kadang anaknya jatuh atau kenapa-napa, itu buat rasanya pengen jeduk-jedukin kepala ke dinding: kok bisa bego banget siiihhh! But it happens, all the time. Jangan terlalu keras sama diri sendiri. Jadi ibu itu harus punya kemampuan untuk bisa memaafkan diri sendiri, lalu move on, sambil berjanji untuk lebih baik lagi besok. It’s okay.

 

Mudah-mudahan tulisan ini bisa membantu para ibu-ibu baru. Kalaupun tidak, aku dengan senang hati menjadi kuping untuk mendengarkan curhat kalian. Kirim saja email atau pesan di fesbuk. Aku akan senang sekali jika bisa membantu sedikit meringankan beban!

 

Selamat hari ibu, para ibu baru! You’re doing good! *tos!*

 

hari ibu

Review Webinar Homeschooling oleh Rumah Inspirasi

Huaahh… akhirnya kelar juga 9 minggu ber-webinar-ria plus 1 minggu sesi tanya jawab intensif bersama Rumah Inspirasi. Kalau dirangkum lagi, berikut adalah materi dan link summary yang sudah aku buat:

Minggu 1 – Dasar dan Rancangan Homeschooling

Minggu 2 – Model dan Legalitas Homeschooling

Minggu 3 – Memulai Homeschooling

Minggu 4 – Kurikulum, Materi Belajar dan Pola Kegiatan Homeschooling

Minggu 5 – Menyiapkan Pembelajar Mandiri

Minggu 6 – Belajar Melalui Keseharian

Minggu 7 – Memanfaatkan Internet untuk Homeschooling

Minggu 8 – Evaluasi dalam Homeschooling

Minggu 9 – Manajemen Keseharian

 

Secara umum, aku suka sekali dengan materi-materinya. Banyak hal-hal baru yang bisa dipelajari. Dengan contoh-contoh dan tips praktis yang sangat doable, aku dan abang pelan-pelan mulai mencoba mengaplikasikannya dalam kehidupan kami sehari-hari. Apalagi, materinya disajikan dengan cara yang menurutku cukup ringan dan sederhana, nggak berat dan dengan bahasa yang mudah dicerna. Berasa udah kenal lama deh sama Mas Aar dan Mbak Lala, hihihi. *wooo… sok akrab woooo!*

 

Dari keseluruhan materi, yang paling membuka mata itu adalah Sesi #6, Belajar Melalui Keseharian. Materi ini memberikan perspektif baru dalam melihat aktivitas sehari-hari. Bahwa ada banyak sekali yang bisa dipelajari anak dengan melibatkan mereka dalam pekerjaan rumah tangga. Selain itu, Aku juga suka Sesi #8, Evaluasi dalam Homeschooling. Konsep evaluasi bukan hanya untuk melihat perkembangan anak, tapi lebih kepada alat untuk orang tua melakukan refleksi. Kalau anak punya kebiasan buruk, orang tua lah yang harusnya pertama kali berkaca: dimana salahnya.

 

Setelah selesai Sesi #9 soal Manajemen Keseharian yang dengan pas-nya ditutup dengan berbagai tips yang sangat applicable, aku dan abang merasa jauh lebih percaya diri untuk menjalankan homeschooling untuk BabyM dibandingkan saat pertama sebelum webinar. Selain itu, aku merasakan ada perubahan signifikan dalam keluarga kami. Dulu, kalau ada ide bagus, paling kami hanya diskusi mengenai hal itu. Kalau sekarang, selain kami berdiskusi lebih intens soal isu-isu parenting, kami juga lebih cepat bergerak untuk mengeksekusi ide tersebut. Aku dan abang, sepertinya sudah mulai semakin satu frekewensi, hehehe.

 

Saat ini kami sudah menggodok Visi Pendidikan Keluarga dan sudah jadi separohnya. Gambaran besarnya sudah ada, namun kami memilih menjabarkannya dengan bertahap. Kami juga sudah sepakat mulai belajar membuat jadwal, walaupun sangat longgar. Rencananya, jadwal dibedakan antara 7 minggu saat abang bekerja, dan 5 minggu saat abang di rumah. Selain itu, pendokumentasian aktivitas dan perkembangan BabyM juga menjadi perhatian kami. Dengan ‘modal’ yearbook berisi foto-foto perkembangan babyM di tahun pertamnya yang aku buat tahun lalu, kami bermaksud untuk terus konsisten membuatnya.

 

Bagi aku dan abang, meskipun kami masih belum tau apakah akan meneruskan pelaksanaan homeschooling hingga pada saat BabyM sekolah nanti, seluruh usaha yang kami lakukan saat ini merupakan pengingat bagi kami berdua, bahwa kamilah yang paling bertanggung jawab atas tumbuh-kembang BabyM. Tidak ada salahnya mempertahankan dan terus membangun kebiasan-kebiasaan baik – terlepas dari homeschooling atau tidak.

 

Jadi, terimakasih banyak, Mas Aar dan Mbak Lala, atas semua ilmu, sharing pengalaman, serta tips-tipsnya yang oke banget! Terimakasih untuk semua praktisi homeschooling yang telah menceritakan kisah-kisah mereka lewat podcast (terutama keluarga Mbak Raken Asri yang podcastnya bikin kami berdua ketawa-ketawa tapi sekaligus belajar banyak! Jadi pengen ketemu deh!). Dan tidak lupa, terimakasih kepada rekan-rekan sesama peserta webinar yang bergabung di grup WhatsApp. Pada pinter-pinter banget sih, Pak, Bu! Bangga deh bisa kenal kalian semua. Mudah-mudahan berlanjut ke kopdar dan menjadi pertemanan yang langgeng yaaaa…. Aamiinn.

9 bye

 Salam dari keluarga kami. Sampai bertemu! *dadah-dadah*