Category Archives: GoTravel

Roadtrip Life is A Beach: Drama Ujung Kulon!

Day 8

Kami checkout dari Penginapan Malibo, Sawarna, dan diantarkan oleh ojek ke mobil. Maunya sih langsung tancap gas ke Ujung Kulon. Tapi apa daya, pemandangan di jalan bagusnya, Masya Allah…. Masih di seputaran Sawarna aja kami udah berenti lama, pakai makan indomi pula di warung! Belum lagi, saat melewati jalan Bayah hingga Malingping. Walaupun jalannya jelek dan sedang diperbaiki, tapi pemandanganya jangan ditanya! Ala ala ‘great ocean road’ gitu deh. Setelah habis melihat jalanan dengan pemandangan pantai, kami memasuki hutan jati. Duh, memanjakan mata dan perasaan banget deh…

 

Soal Ujung Kulon, kami tidak tau banyak informasi. Dulu, sepertinya aku pernah mencari informasi untuk kesini, tapi karena terasa ribet (terutama banyak peringatan soal jalan yang jelek), Ujung Kulon tidak menjadi prioritas. Sambil jalan dan liat-liat pemandangan cantik di kiri kanan, aku mencari berbagai info terkini mengenai Ujung Kulon.

 

Aku menelpon beberapa tur operator dan bertanya soal kondisinya. Ternyata, kalau mau ke Ujung Kulon, kita bisa berhenti di Desa Sumur (atau Taman Jaya). Nanti disitu bisa minta izin masuk ke kantor Taman Nasional Ujung Kulon. Setelah itu, kita bisa naik kapal dan mengitari taman nasional. Penginapan ada di salah satu pulau, namanya Pulau Peucang. Tapi, saat tanya harga, aku mendadak pusing tujuh keliling. Kalau lihat dari harga di website penginapannya, harga paket 3 hari 2 malam termasuk makan dan berbagai aktivitas seperti trekking, snorkeling dan memancing, dibanderol 3,4 juta per orang. Lalu, kalau dari orang travel agent, dengan paketan yang sama tapi untuk kami bertiga, harganya bahkan sampai 10 juta. Pengsan.

 

Kalau lihat foto-fotonya yang bagus banget di internet, sesungguhnya langsung pengen teriak, “Gapapa deh! Booking aja! Gapapa nanti sampe rumah makan sepiring berdua aja!” Tapi yah… nggak bisa begitu juga. Kalau harga segitu memang diluar budget kami (dan rasanya kemahalan, ya nggak sih?). Sesungguhnya yang bikin mahal adalah biaya sewa kapal dan kami ngerti banget ini. Kalau ikutan open trip yang sekali pergi 20 orang, biaya bisa jadi murah banget. Biaya satu kapal dibagi 20, sedang makan dan penginapan masing-masing. Tapiiii… gimana mau ikut open trip yang biasanya adanya kalau weekend? Kami datang hari Rabu.

 

Akhirnya kami memutuskan untuk tetap pergi ke desa Sumur. Kali aja nanti disana ada semacam penginapan dan travel agent yang bisa ditanya langsung. Atau, paling tidak jalan-jalan di daerah itu, mungkin ada pemadangan bagus biar nggak kecewa-kecewa amat. Di dekat situ katanya ada Pulau Umang, bisa jadi alternatif. Begitupun, kami sepakat, jika memang harga-harga terlalu mahal, kami langsung pulang aja. Nginep di Ancol. Ngok.

 

Kami tiba di desa Sumur sekitar jam 5 dan sholat Ashar di masjid setempat. Setelahnya, kami nanya-nanya marbot masjid soal wisata disini. Dia bilang, kalau penginapan ada di Pulau Umang. Kapalnya juga selalu ada. Yang di darat hanya satu, Wisma Sarang Badak. Ya udah, kami pun menuju penginapan ini, yang hanya beberapa ratus meter jaraknya dari masjid.

 

Begitu nyampe, nggak ada orang ahahahha! Dengan sinyal yang parah banget, aku mencoba menelepon nomer yang tertera di banner. Nyambung. Dengan Pak Edi. Hari sudah mau magrib dan Bapaknya dateng dengan sarung, sepertinya mau ke masjid, hahahah! Untunglah ada kamar yang tersedia. Banyak pun. Tapiiii…. Karena musim kemarau yang emang parah banget, di hotel ini air mati. Kami hanya diberi jatah air satu ember besar. “Kalau mau mandi enak, di rumah saya aja, nggak apa-apa,” kata Pak Edi.

 

Lepas magrib, kami ngobrol-ngobrol dengan Pak Edi soal masuk ke taman nasional. Kayaknya kami bertemu dengan orang yang tepat banget! Pak Edi menjelaskan bahwa kalau pergi hanya sekeluarga gini, memang jauh lebih mahal. Biaya kapal jadi ditanggung sendiri. Tapi, baiknya sih, kita bisa bebas mau pergi kemana aja. Dan, nginepnya bisa di kapal aja. “Kalau menginap di pulau, kamar harga 700 ribu semalam sama dengan kamar yang disini hanya 100-150 ribu,” katanya. Ooo… baiklah. Setelah diskusi dan melihat peta Taman Nasional Ujung Kulon untuk mengira-ngira itinerary, kami akhirnya sepakat untuk liveaboard di kapal 3 hari 2 malam. Dari Desa Sumur, kami akan langsung ke pulau terjauh dan tak berpenghuni, Pulau Panaitan, untuk trekking. Lalu baru ke Pulau Peucang. Setelahnya barulah menyusuri spot-spot asyik untuk snorkeling. Berapakah biayanya? Ternyata totalnya 4,5 juta saja! Itu sudah termasuk makan dan biaya-biaya admistrasi untuk masuk taman nasional. Kami tinggal tau beres. Langsung deh kami iyakan! Duh, nggak sabar nunggu besok!

 

SW45Baru juga jalan lima belas menit dari Sawarna, udah ketemu lagi pemandangan beginian….

SW44Ya udah, berenti dulu aja deh 😀

SW48  Jalan Bayah-Malingping, ala ala great ocean road! Bagus yaaa…

SW50 Pohon di kiri kanan, tandanya mulai memasuki area Taman Nasional Ujung Kulon.

UK01Wisma Sarang Badak, Desa Sumur, Ujung Kulon.

 

***

 

Day 9

Kami bangun pagi dengan semangat. Setelah sarapan (dan babyM main dengan ayam dan kucing yang berkeliaran di penginapan), kami langsung beres-beres dan loading barang ke kapal. Aku sempat beli baju di pasar karena stok baju udah tipis, hihihih! Sampai disini sih BabyM masih senang-senang aja. Tapi, begitu masuk sampan kecil yang digunakan mengantar tamu ke kapal motor yang lebih besar, dia mulai nangis. Padahal hanya 5 menit perjalanan.

 

Sampai kapal motor, tangisnya malah makin menjadi. Dia histeris. Badannya mengejang, memelukku dengan kuat, berteriak, “Nginap hotel ajaaaaaaaaaa….” Seisi kapal hening! Pak Edi yang ikut mengantar terlihat prihatin. Begitu juga Pak Kapten kapal dan ABK-nya, yang bahkan belum aku sapa, apalagi berkenalan. Aku dan abang berpandang-pandangan. Ini anak kalau dibiarin begini bisa trauma, bisa-bisa nggak mau liat laut lagi.

 

Segala cara dicoba untuk menenangkannya. Akhirnya kami meminta kapten kapal mematikan mesin dulu. Sepertinya kalau BabyM begini histerisnya, mau tidak mau kami harus mempertimbangkan opsi pembatalan perjalanan. Kami hanya akan berangkat jika ia sudah tenang. “Mau hotel ajaaaa…,” katanya masih menangis. Mau nenen? “Nenen hotel ajaaaaa….” Wah coba lihat ini ada ikan, main sama ikan mau? “Main ayam hotel ajaaaa….” Eaaaaaakkkk! Sementara itu, ternyata Pak Kapten memutuskan untuk kembali ke darat, meminta “air putih kepada seseorang” supaya BabyM tenang.

 

Dia masih meraung-raung. Dikasih nenen nggak mau. Dikasih wajan, mainan kesukaannya juga nggak mau. Lalu tiba-tiba aku teringat: masih ada satu cup nata de coco sisa beli kemaren. BabyM suka banget cup nata de coco buatan Indomaret, tapi karena terlalu manis, kami hanya membolehkan dia makan seminggu sekali setiap hari minggu. Nah, itu sebenarnya adalah jatah untuk hari minggu depan. “Nak, mau coco?” Tiba-tiba tangisnya langsung berenti *sembah coco*. Kata Pak Edi, mungkin “air putih” yang sedang diambil sudah mulai “connect” ke BabyM. Yaaahh… percaya nggak percaya aja deh, yang penting Bismillah, yaaaa!

 

Pak Kapten yang kemudian kenalan bernama Pak Nung kembali dengan Aqua kemasan seliter. Aku disuruh membasuh wajah dan kepala BabyM dengan air itu. Aku mengusapkan air itu sambil membaca shalawat dan doa-doa, Ya Allah… berikanlah keberanian untuk BabyM dan semoga kami semua bisa liburan dengan menyenangkan. Untuk jaga-jaga, kami minta ABK untuk kembali ke darat, dan beli stok nata de coco sepuluh cup, hahaha!

 

Sebenarnya, “menyogok” anak dengan makanan adalah ‘big no no’ untuk kami. Sejak awal, kami berusaha membangun kebiasan makan yang sehat. Tapi, tapiiiiii… mau gimana? Menjadi orang tua terkadang harus ambil keputusan yang sulit. Tapi ya sudahlah. telan saja, maafkan diri sendiri, move on, dan besok mulai lagi dari awal. Bolehlah coco untuk sekarang. Begitu sampai rumah, peraturannya kita ulang lagi yaaa.
Begitu BabyM sudah tenang, kapal mulai dihidupkan dan kami jalan. Jeng jrreeeeeenggg…. BabyM nangis lagi, hahahaha *tertawa pahit* Nggak sekenceng yang tadi tapi tetep, “Nenen hotel ajaaaaa….” Dikasih coco tenang dikit tapi masih nangis. “Mau keluar buuuu…”

 

Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke pulau terdekat. Pak Nung sang kapten berhenti dan parkir di dekat bagan yang berdekatan dengan Pulau Maghir dan mematikan mesin. Kata Pak Nung, snorkeling di sini lumayan bagus. Tapi, ya ternyata nggak bisa turun ke pulau. Bisa sih, tapi harus berenang, hihihi. Ya nggak mungkin juga ajak BabyM langsung nyemplung.

 

Sesungguhnya kami hampir hilang akal. Kalau nanti memang nggak mau juga, ya udah, kita balik ke Desa Sumur. Setelah sepakat untuk realistis begitu, kami justru lebih tenang dan ketawa-ketawa. Kami jadinya bersantai aja di kapal, membiarkan BabyM bermain sesukanya. Ternyata, jika mesin kapal mati, dia tenang aja. Jadi yang bikin takut sepertinya adalah suara kapal. Pak Nung membuat pancingan dan mendapatkan seekor kerapu kecil buat mainan. Tapi BabyM tentunya lebih tertarik dengan wajan. Sang ABK, yang kami panggil dengan sebutan Om Ji, memasak makan siang dan BabyM dengan antusias melihat Om Ji masak.

 

Usai makan, BabyM main sampai kelelahan. Minta nenen dan mulai tidur sekitar jam 1 siang. Kami pun meminta Pak Nung untuk jalan. Rancana ke Pulau Panaitan yang jauh dibatalkan dan kami berjalan menyusuri garis pantai. Niatnya, kalau anaknya ngamuk lagi, kami bisa berenti di Pulau Handeuleum yang jaraknya sekitar satu jam lebih. Tapi kalo berhasil, bisa lanjut ke Pulau Peucang yang jaraknya tiga jam.

 

Begitu mesin dihidupkan, jreeennggg… BabyM kebangun dan nangisssss, hahahah! Tapi, kapal jalan terus. Aku berusaha tenang dan memeluk BabyM dan memberinya macam-macam distraksi. Yang berhasil ternyata adalah musik. Aku menghidukan handphone dan lagu pilihannya adalah: Creep-nya Radiohead. Cabikan gitar dan lengkingan suara Thom Yorke ternyata mengalahkan suara mesin kapal yang menyeramkan. Creep diputar berulang-ulang dan BabyM tidur dalam pelukanku dengan posisi duduk, nggak boleh bergerak sedikitpun. Nggak papa lah pinggang pegel, si Abang dengan baik hati mijet-mijetin, hihihi. Ya Tuhaaann… kini kutau kenapa kau menciptakan Thom Yorke dan kawan-kawannya ke dunia ini: supaya bisa bikin lagu Creep yang bisa nenangin anak kami di kapal, hahahah!

 

Karena BabyM sudah tidur pulas, kami tidak berhenti di Pulau Handeuleum dan langsung ke Peucang. Sekitar jam setengah empat sore, kami bisa bersandar di dermaga Peucang. Yay, daratan! Dan, omaigatttt… Peucang itu pantainya cantik pake bangetttttttt. Pantai panjang dengan pasir putih bersih, pohon-pohon yang begitu alami, air hijau toska… oohh… surga! Dan hei, lihat itu, ada beberapa rusa berkeliaran bebas. Dan ada monyet! Dan whattt… ada babi hutan jalan santai di pantai!

 

Setelah BabyM bangun, kami turun dari kapal. Pasirnya haluuuuuuuussssss banget waktu menyentuh kaki. Kami masuk ke area camp (atau resort, sebagaimana ia juga sering disebut), dan ngobrol-ngobrol dengan para ranger/petugas taman nasional. Kami main pasir sampai magrib dan mandi di toilet camp. Usai sholat, kami naik ke kapal dan makan malam sudah tersedia. Enak banget! BabyM sempat takut saat suara genset dihidupkan. Tapi dia makan kentang goreng kesukaannya plus dengerin Radiohead lagi. Jadi cuma kadang-kadang aja merengek karena suara mesin.

 

Setelah makan, kami menggelar sleeping bag dan selimut di dekat anjungan supaya suara genset nggak terlalu kedengeran. BabyM minta matikan lampu dan dia tidur dengan cepat. Ibunya juga ketiduran, hihihi. Sekitar jam setengah sembilan, kami pindah masuk ke dalam kabin dan tidur sampai besok. Aaahhh…. hari yang penuh drama 😀

UK03 Baru lihat laut dan naik sampan ini, BabyM sudah nangis…

UK05Berbagai cara dilakukan untuk menenangkan, akhirnya dia tenang setelah makan nata de coco 😀

UK04Sempat berhenti lama di depan sebuah bagan, bermain di kapal sampai BabyM benar-benar tenang untuk melanjutkan perjalanan.

UK06Main ikan dan main di kabin kapal.

UK07Dan tentunya, main masak-masak 😀 Untung ada dua wajan di kapal hahaha!

UK08Makan duluuuuuuu…

UK17Musik juga bikin tenang. Dengerin Otis Redding dan Lorraine Ellison. Juga Radiohead dan Taylor Swift 😀 

UK12Alhamdulillaaaaahhhh… sampe juga! Anaknya akhirnya tertidur, jadi bisa langsung kesini deh!

UK10Aaaakkk… lihat ada rusa berkeliaran begitu saja di pinggir pantai!

UK13Ada yang langsung lupa sama drama begitu liat pasir putih halus 😀

UK14Pantai di dekat dermaga Pulau Peucang ini menyenangkan banget buat main!

UK16UK15I have the feeling that this is gonna be soooooo good!

 

***

 

PS: Itinerari perjalanan 12 hari Roadtrip Life is A Beach:

Rumah Cibubur – Sukabumi (2 hari) – Ujung Genteng (4 hari) – Sawarna (2 hari) – Ujung Kulon (3 hari) – Tanjung Lesung – Rumah Cibubur.

Day 1: Rumah – Sukabumi | Day 2: Selabintana, Sukabumi | Day 3: Sukabumi – Ujung Genteng | Day 4: Pantai Tenda Biru dan melepaskan tukik di Pangumbahan, Ujung Genteng | Day 5: Pantai Ombak Tujuh, Batu keris dan Cibuaya, Ujung Genteng | Day 6 : Amandaratu, Ujung Genteng | Day 7: Lima pantai di SawarnaDay 8: Perjalanan, Sawarna – Ujung Kulon | Day 9: Pulau Peucang, Ujung Kulon | Day 10: Cidaon, Ujung Kulon | Day 11: Karang Copong, Ujung Kulon | Day 12: Tanjung Lesung dan pulang…

Roadtrip Life is A Beach: Lima Pantai di Sawarna

Day 7

 

Kami bangun pagi-pagi lalu jalan beberapa ratus meter dari Penginapan Malibo, Sawarna, untuk main ke pantai pasir putih yang terbentang didepannya. Si abang lari pagi di pinggir pantai, sementara aku dan BabyM bermain pasir sambil membuat sarapan roti. Kang ojek sudah mengirim sms dan bilang mereka siap menjemput kapan saja. Tapi kami belum berminat untuk kemana-mana. Pagi itu santai sekali, kami seolah-olah tidak perduli dengan waktu dan hanya ingin menikmati pantai yang berpasir halus dan bersih itu.

 

Satu persatu warung mulai buka. Kami memesan teh dan meminumnya sambil bermain pasir. Setelah capek bermain pasir, kami sarapan di warung sambil ngobrol-ngobrol dengan pemilik warung, Kang Uday namanya. Dia bercerita betapa sulitnya membangun Sawarna. “Soalnya semua batu, semen ya harus diangkut pakai gerobak kecil. Jalannya kan cuma bisa dari jembatan gantung itu,” kenangnya. Kang Uday yang baru punya bayi berusia tiga bulan itu juga bilang, jembatan besar sedang dibangun agar mobil bisa masuk. “Mungkin tahun depan sudah bisa,” katanya.

 

Kami sempat mandi di kamar mandi umum milik warung Kang Uday, karena air di penginapan mati lagi. BabyM bahkan sempat tertidur di dipan depan warung sambil menikmati angin yang sepoi-sepoi. Saat BabyM bangun, barulah kami memanggil ojek untuk bersiap-siap jalan. Saat pamitan dengan pemilik warung, dengan baiknya dia menawarkan untuk mengantar makanan jika diperlukan. “Telepon atau sms aja mau makan apa, nanti dianterin!” Mantap kaliiiiii!

 

SW09 Nelayan baru pulang melaut di pantai pasir putih, Sawarna.

SW11 Kami sarapan sementara si Bapak lari-lari di pantai kayak di pelem-pelem

SW12 Main-main pasir

SW13 Ecieee… ada yang minum teh nih yeeee….

SW14 Lagi ngapain nak? Lagi masak pasir!

SW15

Ini cuma aku atau si Abang memang terlihat ganteng banget ya pagi ini… *YA MENURUT NGANAAAAA*

 

Matahari sudah cukup tinggi. Aku melihat jam dan sudah menunjukkan pukul 11 siang saat aku naik ke jok motor. Sebenernya sih lebih enak goler-goler di penginapan ya, heheheh. Tapi ya sudahlah, itung-itung sambil cari tempat asyik buat makan siang ini.

 

Bersama Dery, sang guide merangkap ojek driver nan handal, kami menuju tiga lokasi yang berdekatan: Karang Beureum, Lagon Pari dan Karang Taraje. Walau tidak seekstrim jalan menuju Pantai Ombak Tujuh di Ujung Genteng kemarin, kami juga melewati ladang-ladang penduduk dan hutan-hutan kecil.

SW18Kami mau ke lokasi di ujung bawah kanan.

SW16Bukan cuma di jalan masuk, di jalan ke Karang Beureum juga mesti lewat jembatan gantung begini. 

SW17Pemandangan di jalan. Ada beberapa spot yang lebih ekstrim, tapi nggak terlalu parah. 

 

Karang Beureum (yang berarti karang merah) sendiri adalah pantai dengan batu karang yang luas. Mirip Batu Keris di Ujung Genteng, tapi bebatuannya lebih tajam dan masih banyak genangan air. Jalan harus hati-hati. Kenapa namanya Karang Beureum? Aku tanya Dery. “Itu ada karang yang warnanya merah” katanya sambil menunjuk sebuah tempat. Tapi aku hanya ngeliat seonggok batu kecil warna kecoklatan, hahahah! Begitupun, kami senang memperlihatkan ke BabyM ikan-ikan kecil, umang juga kepiting di sela-sela karang.

 

“Tante, mau lihat nggak? Ada yang lagi mancing ikan,” tiba-tiba Dery menyapaku yang membuat aku kaget. Kagetnya sih karena dipanggil “tante”, hahahah! Dari kejauhan kami melihat dua orang memancing namun separoh badan mereka berada di air. Kami mendekat dan ternyata mereka sudah mendapat ikan. Ikan berbentuk panjang bergigi tajam, Ikan Cendro, namanya (Latin: Tylosurus spp.). Ikan yang masih hidup tapi luka karena kail itu diletakkan begitu saja dalam kubangan air di karang.

 

Bisa kita beli nggak ya, buat makan siang? Harganya berapaan ya? Eh, tapi masaknya dimana ya? “Paling harganya dua puluh ribuan, Tante. Nanti masaknya di sana aja, ada warung. Sering kok begitu,” kata Dery menjelaskan. Dia pun pergi menemui sang pemancing dan bertanya harga. Sang pemancing kemudian mendatangi kami. Dia mengatakan harganya duapuluh ribu. Sesungguhnya ikan itu besar sekali. Dan katanya enak banget. Kalau di Jakarta pasti udah mahal deh kayanya. Aku menyuruh Si Abang memberikan lebih. Kami akhirnya memberi 25 ribu.

 

Sebelum kami beranjak pergi mencari warung, pemancing yang satu lagi mendapatkan ikan! Kami menyaksikan prosesnya ‘bertarung’ melawan ikan yang kayaknya cukup kuat ini. Setelah bisa menguasai ikan, dia juga berjalan kea rah kami untuk memasukkan ikannya ke kubangan air. Kasihan juga dia kalau ikannya nggak dibeli. Tapi kami sudah punya ikan untuk makan siang? Ya udah lah, untuk makan malem sekalian, hahaha! Akhirnya kami juga membeli ikan (yang ukurannya lebih besar pula daripada yang pertama!) dari bapak pemancing itu. Dia bilang harganya 25 ribu, dan kami berikan 30 ribu.

SW19Pantai Karang Beureum. Lihat nggak itu disana karang warna merah? Aku sih nggak 😀

SW20 Mesti jalan dengan hati-hati karena karangnya tajam dan banyak kubangan air. 

SW23 Kanan: Cara mancing Ikan Cenro. Kiri: Yay! Dapet deh ikannya. Gede banget!

SW25Buat makan siang dan makan malam! Maksudnya ikannya ya, bukan orangnya 😀

 

Dengan menenteng dua ikan besar, kami ke Lagon Pari, pantai nelayan yang sering dijadikan tempat main pasir juga. Hanya ada satu warung yang buka. Saat ditanya apakah bisa memasak ikan, jawabannya bisa. Tapi nggak ada sayur, paling hanya lalap timun dan sambel. Ya udah nggak apa-apa.Di depan warung ada banyak nelayan yang sedang beristirahat. Langsung aja mereka semua kami ajak makan dua ikan besar tadi!

 

Ikannya sebagian di bakar dan sebagian di goreng. BabyM bahagia luar biasa! Dia ikutan kipas-kipas ikan yang sedang dibakar bersama Pak Uton, suami ibu warung. Dan saat si ibu sedang mengulek-ulek bumbu, dia juga ikutan ulek-ulek. Untungnya ibu warungnya baik banget dan membiarkan BabyM kesana kemari, hihihi.

 

Setelah penantian yang (terasa) lama (karena udah laper banget!), akhirnya ikan pun siap! Kami makan bersama para nelayan, yang punya warung, dan tentunya dua guide kami. Ternyata ikannya ENAK BANGET! Tapi yaaa, memang ikan segar pasti enak ya. Apalagi abis di pancing dan langsung dimasak. Surga! Kalau udah sampe pasar di Jakarta sih udah mati berkali-kali tuh ikannya. Mendingan makan yang lain deh.

 

Walaupun udah dimakan banyak orang, ternyata masih banyak sisa. Kami hanya mengambil beberapa potong, secukupnya untuk makan malam nanti. Sisanya, kami berikan ke ibu warung yang awalnya menolak, tapi aku paksa, hihihi. Dan saat ditanya berapakah semuanya? Si Ibu bingung dan aku membantu dia menghitung perkiraan. Akhirnya keluar angka 120 ribu saja! Ya ampun, segitu banyak kok cuma segitu. Akhirnya aku melebihkan 50ribu, hitung-hitung ucapan terimakasih karena udah mau dirusuhin BabyM.

SW24Cieeee… udah kayak si Bapak aja yang abis mancing 😀 

SW27Satu-satunya warung yang buka. Untung bisa masakin ikannya!

SW26Sementara nunggu ikan masak, sholat dulu. Abis sholat, ngajarin anaknya main kartu. Hidup harus seimbang 😀

SW28 Wiiii… tampaknya enaaaakkkk! *Abaikan sarungnya* *Berasa kayak lagi di kampung sendiri soalnya*

SW29Daaaannn… anak kicik pun turut membantu membakar ikan. Betah dia berlama-lama dekat sambil kipas-kipas.

SW30Dimanapun, kapanpun, anak kami tetep mainannya seputar masak-masak. Dia memang konsisten!

SW31 Selamat makaaaaan! Ikannya enak bangeeett!

SW32

Selesai makan, BabyM masih terus aja main. Kali ini bantuin bapak pemilik warung yang sedang benerin dinding dapur warungnya. BabyM terkesan banget dengan kegiatan ini. Sampe pulang pun dia masih ingat. Setiap ada orang bertukang, dia akan bilang “Ketok-ketok kayak Pak Uton!” :’)

 

Selepas sholat Asar, kami pamitan dan beranjak menuju Karang Taraje. Karang Taraje yang artinya karang tangga ini bentuknya memang berundak-undak. Katanya, tempat ini bagus kalau dilihat saat sunrise saat air masih pasang. Ombak dari balik karang akan meluap dan membuat efek seperti air terjun. Kalau air sedang surut di sore hari, efek air terjun ini tidak bisa dinikmati. Hanya saja, pengunjung bisa naik keatas karangnya. Dengan menggendong BabyM, kami naik ke atas karang. Dan pemandangannya baguuuuuusssss!

SW35Ada yang mau jalan sendiri, nggak mau dipegangin!

SW34Terus ada yang tiba-tiba pengen nenen -.-

SW37Cantik!

SW36Kalau lagi air pasang, airnya tumpah kesini dan membuat efek air terjun yang keren. Tapi kalau sedang surut, bisa dipanjat untuk ngeliat laut dibaliknya.

SW38Taraaaaa! Ini pemandangan dibaliknya! Bagus banget yaaaa! Jadi kayaknya mesti dua kali deh kemari. Sekali pas pasang, sekali lagi pas surut. 

SW39

SW40

 

Puas berfoto-foto di Karang Taraje, kami menuju pulang. Kami akan singgah ke Pantai Tanjung Layar untuk melihat sunset. Jalan pulang ternyata menggunakan rute yang berbeda dari jalan pergi. Saat pulang, kami melewati “Bukit Senyum” yang ternyata ada di atas penginapan kami. Kenapa namanya bukit senyum? Karena kalau lewat sini pasti senyum lihat pemandangan bagus. Yayayaa… bolehlah, hahahah!

 

BabyM sudah tertidur dalam gendongan saat kami tiba di Pantai Tanjung Layar. Pantai ini terkenal karena ada dua batu karang besar yang bentuknya seperti layar kapal. Siluet batu dengan latar matahari tenggelam dibelakangnya terlihat memesona. Begitupun, karena BabyM sudah tidur pulas dan hujan gerimis mulai turun, kami hanya foto-foto sebentar lalu kembali ke penginapan.

 

Huah! Hari yang sungguh menyenangkan! Capek, tapi menyenangkan sekali! Sesungguhnya masih ada beberapa lokasi keren lain untuk dikunjungi. Ada beberapa goa dan pantai-pantai lain yang tak kalah eksotis. Kami menghitung-hitung hari. Ini sudah hari ke tujuh, dan kami masih berniat untuk ke Ujung Kulon. Akhirnya kami memutuskan untuk menginap hanya semalam lagi di Sawarna, dan akan meneruskan perjalanan besok. Sekarang, istirahat dulu yaaa!

SW41 Kiri: Jalan pulang. Kanan: Sunset dari Bukit Senyum

SW43Sunset di Pantai Tanjung Layar.

SW42Let’s call it a day…

 

***

 

PS: Itinerari perjalanan 12 hari Roadtrip Life is A Beach:

Rumah Cibubur – Sukabumi (2 hari) – Ujung Genteng (4 hari) – Sawarna (2 hari) – Ujung Kulon (3 hari) – Tanjung Lesung – Rumah Cibubur.

Day 1: Rumah – Sukabumi | Day 2: Selabintana, Sukabumi | Day 3: Sukabumi – Ujung Genteng | Day 4: Pantai Tenda Biru dan melepaskan tukik di Pangumbahan, Ujung Genteng | Day 5: Pantai Ombak Tujuh, Batu keris dan Cibuaya, Ujung Genteng | Day 6 : Amandaratu, Ujung Genteng | Day 7: Lima pantai di SawarnaDay 8: Perjalanan, Sawarna – Ujung Kulon | Day 9: Pulau Peucang, Ujung Kulon | Day 10: Cidaon, Ujung Kulon | Day 11: Karang Copong, Ujung Kulon | Day 12: Tanjung Lesung dan pulang…

Roadtrip Life is A Beach: Tebing Amandaratu dan Menuju Sawarna

Day 6

Kami check out dari Penginapan Pondok Alief, Ujung Genteng, setelah si Bapak selesai lari pagi. Sebelum kami meneruskan perjalanan ke Pantai Sawarna, Banten, yang akan memakan waktu 4 jam menurut google map, kami sepakat untuk melihat Amandaratu yang hanya 15 menit naik mobil.

 

Katanya, Amandaratu adalah sebuah resort dengan pemandangan layaknya Tanah Lot di Bali. Namun, resortnya sendiri sudah tidak berfungsi lagi. Saat mencari lokasinya, kami sempat nyasar karena tidak ada tanda-tandanya. Saat bertanya ke warung pinggir jalan, ternyata namanya telah diganti jadi Asaba Land. Jadilah kami putar balik dan menemukan sebuah plang yang tidak terlalu menyolok di pinggir jalan. Setelah membayar retribusi, kami memasuki areal resort itu.

 

Sepanjang jalan masuk resort tersebut ditanami banyak sekali pohon kelapa. Dan saat tiba di halaman resortnya, pemandangan menakjubkan langsung terhampar. Lokasi resort ini luar biasa: diatas tebing dengan pemandangan sungai yang kemudian bermuara di laut lepas. Ditengah muara sungai itu ada pulau karang, yang (dibilang) mirip dengan Tanah Lot, Bali. Yaaa… boleh lah 😀

 

Walaupun resortnya sudah tidak lagi beroperasi, masih ada “warung” yang menjual minuman dan makanan kecil. Saung-saung di pinggiran tebing juga masih bagus, pertanda masih banyak yang datang kemari untuk sekedar menikmati pemandangan. Kami sendiri sempat memesan air kelapa muda yang diambil langsung dari pohon dan duduk-duduk di saung sambil menikmati pemandangan dan angin yang lumayan kencang. Menyenangkan!

 

UG56Kiri: Jalan masuk resort yang penuh dengan pohon kelapa. Kanan: Taraaaa….

UG57Bangunan resort yang sudah lapuk. Pas masa jayanya kayaknya bagus bener deh! Denger-denger ini dulu dibangun untuk keluarga Soeharto. Katanyaaaaa…

UG58Ini lho yang dibilang mirip sama Tanah Lot di Bali. Boleh lah yaaa…

UG59Si Bapak merenungi hidup… berat banget ya pak? 😀

UG60Sesungguhnya ini pengen memberdayakan suami sebagai instagram-husband yang memotret istrinya berpose ciamik. Tapi oh… tapi… yasudahlahyaaaaa….

UG61Kelapamuda yang langsung diambil dari pohonnya. Segaaar!

UG62Anak kicik sudah banguuuun! Minum air kelapa dulu, nak!

UG63 Bilang kejuuuuuuu! *Garis horison tak bisa lurus itu kayaknya salah satu dosa besar dalam motret landscape 🙁 Tapi yah, bagaimana lagi. Tak bawa tripod. Hidup ini tiada yang sempurna, kak…* 

 

 

Puas memandangi Amandaratu, kami jalan lagi menuju Pantai Sawarna yang sudah masuk Provinsi Banten. Jaraknya masih sekitar satu jam lagi dari Palabuhan Ratu yang sudah lama eksis sebagai tempat wisata. Kami sempat berhenti di pasar Palabuhan Ratu. Tiba-tiba pengen bakso dan melihat ada plang warung bakso di situ, hahaha! Apasih, random banget! Yang pasti kami berhenti cukup lama disitu, sebelum melanjutkan perjalanan ke Sawarna. BabyM tertarik dengan para penjual burung dan ikan, plus kami jajan-jajan yang lainnya.

SW03 SW01

SW02Pemandangan yang kayak gini ini nih, yang bikin betah buat roadtrip. 

 

Sambil jalan, aku mencari penginapan lewat internet. Ketemu dengan penginapan Malibo, yang dari iklannya mengatakan paling dekat dengan pantai. Tapi, saat tiba di Sawarna, kami tidak menemukan tanda-tanda hotel yang ingin kami tuju. Yang ada hanya segerombolan pemuda yang mengatur mobil untuk parkir di sebuah lapangan yang terlalu besar di pinggir jalan. Dengan ragu, kami ikutan parkir. Lalu, dengan gaya sok cuek *padahal khawatir* kami bertanya kepada mereka.

 

Ternyata, mereka ini adalah pemuda-pemuda lokal yang nyambi sebagai ojek sekaligus guide. Dengan sopan mereka menjelaskan bahwa hotel yang kami inginkan berada “di dalam”. Mobilnya di parkir disini, nanti bisa ke dalam dengan ojek. “Mobil tidak bisa masuk, harus menyebrangi sungai,” katanya sambil menunjuk sebuah jembatan gantung kecil yang lebarnya cuma semeter, dan goyang-goyang saat ada yang naik diatasnya (Hih, Banten! Apa kabar sih gubernurnya!). Aku menelepon nomor kontak penginapan untuk memastikan kebenaran informasi. Ternyata, memang begitulah adanya, sodara-sodara. Well, another adventure, then!

 

Karena jarak yang katanya lumayan, kami terpaksa memilih-milih lagi barang yang akan dibawa ke penginapan. Nggak boleh kebanyakan karena cuma bisa pake motor, tapi jangan sampe kekurangan karena males bolak-balik. Tak lupa, kami membeli sedikit perbekalan di Indomaret di samping parkiran (sadis nih lokasinya! Tau aja orang bakal belanja :D)

 

Setelah semua siap, kami pun jalan. Aku dan BabyM di satu ojek, sedang si abang di ojek yang lain. Deg-degan juga melewati jembatan gantung yang goyang-goyang begitu. Setelah membayar retribusi di ujung jembatan, kami memasuki perkampungan penduduk yang cukup padat. Rumah-rumah warga berselang-seling dengan homestay dengan aneka nama. Lah, tapi mana pantainya? Ternyata pantainya ada di ujung pemukiman. Penginapan Malibo yang kami cari letaknya naik ke bukit, agak jauh dari perkampungan. Walaupun mengaku paling dekat dari pantai, tetap saja jarak penginapan-pantai sekitar 300 meteran. Begitupun, karena letaknya agak tinggi, pemandangannya cukup bagus. Sunset terlihat indah dari sini. Kami pun sepakat untuk menginap disini.

 

Kalau menurut Kang Ojek (yang belakangan ternyata ketahuan bahwa dia masih SMU, hihhiih!), penginapan di Sawarna memang modelnya jauh dari pantai. Namun, disini ada berbagai objek wisata mulai dari pantai-pantai eksotis, air terjun, bahkan goa. Ada setidaknya sepuluh lokasi wisata. Umumnya para wisatawan memang ditawarin “paket” sama para guide ini. Hanya banyar Rp 150rb, tapi boleh sepuasnya dianterin kemana-mana, mulai dateng hingga pulang. Kalau mau kemana-mana tinggal sms, nanti akan disamperin ke penginapan. Mau beli makanan juga tinggal bilang, langsung dibelikan dan dianter ke penginapan. Wooh! Asyik juga ya 😀 Kami juga akhirnya mengiyakan tawaran mereka. “Bayarnya nanti aja bu, kalau sudah selesai.” Baiklaaahh…

 

Matahari mulai terbenam dan kami menikmati sunset dari penginapan. Pas mau bersih-bersih… yaaahh… air di penginapannya mati-idup! Kalaupun idup, alirannya keciiillll banget. Mau pindah udah keburu dibayar. Akhirnya kami cuma bisa ketawa-ketawa. Paling nggak si Bapak penjaga penginapan cukup mau berusaha untuk ngebenerin airnya lah. Traveling kan bukan hanya soal hepi-hepi. Tapi juga soal beradaptasi dengan berbagai macam keadaan. Latihan supaya nggak terganggu dengan hal-hal kecil dan tetap fokus pada hal yang positif dan buat hati senang. Seperti hidup ini. #uhukuhuk #benerin kerudung #MamahDinda.

 

Bring it on, Sawarna! We’re ready for your adventure!

SW04Penampakan jembatan Sawarna. Tahun 2015 udah mau habis, jembatan masih begini. *memberikan tatapan laser pada gubernurnya*SW06Ini penampakan Penginapan Malibo. Kalau seandainya bagian depannya sawah, pasti cantik banget ya. Tapi kemarau kemarin emang parah banget 🙁 Dimana-mana coklat gersang.

SW05Duo dedek-dedek ojek merangkap guide nan handal!

SW08Pemandangan dari penginapan. Cantik yaaa…

SW07

 

***

 

PS: Itinerari perjalanan 12 hari Roadtrip Life is A Beach:

Rumah Cibubur – Sukabumi (2 hari) – Ujung Genteng (4 hari) – Sawarna (2 hari) – Ujung Kulon (3 hari) – Tanjung Lesung – Rumah Cibubur.

Day 1: Rumah – Sukabumi | Day 2: Selabintana, Sukabumi | Day 3: Sukabumi – Ujung Genteng | Day 4: Pantai Tenda Biru dan melepaskan tukik di Pangumbahan, Ujung Genteng | Day 5: Pantai Ombak Tujuh, Batu keris dan Cibuaya, Ujung Genteng | Day 6 : Amandaratu, Ujung Genteng | Day 7: Lima pantai di SawarnaDay 8: Perjalanan, Sawarna – Ujung Kulon | Day 9: Pulau Peucang, Ujung Kulon | Day 10: Cidaon, Ujung Kulon | Day 11: Karang Copong, Ujung Kulon | Day 12: Tanjung Lesung dan pulang…

Roadtrip Life is A Beach: Pantai Ombak Tujuh, Batu Keris dan Cibuaya

Day 5

 

Tadi malam saat makan, kami ngobrol-ngobrol dengan staf Pondok Alief. Katanya, di Ujung Genteng ini banyak sekali tempat yang bisa dikunjungi. Kalau mau air terjun, ada Curug Cikaso. Kalau mau melihat pemandangan cantik, bisa ke Amandaratu. Kalau mau pantai lain, ada Pantai Cibuaya yang pasirnya halus banget, dan Pantai Ombak Tujuh yang sering dijadikan tempat surfing. Kabarnya, pantai-pantai di sekitar sini memang banyak surfing spot.

 

Kali ini, kami tidak terlalu berminat ke air terjun. Kalau ke Amandaratu, nanti bisa sekalian jalan pulang. Ke pantai aja kali ya. Jauhkah pantainya? Dua pantai ini jalannya searah, melewati tempat konservasi penyu kemarin. Kalau Cibuaya sih bisa naik mobil, tapi kalau ke Ombak Tujuh harus naik motor karena jalannya kecil. Hmmm… Berapa lama? Sekitar satu jam. Tapi, medannya agak lumayan. Harus lewat ladang penduduk, lewat hutan lindung, dan lewat tiga sungai. Whaattt???

 

Antara khawatir dan excited, kami sepakat untuk ke Pantai Ombak Tujuh. Menyewa 2 ojek yang dibanderol 150rb/motor, si Abang udah wanti-wanti ke kang ojeknya bahwa kami akan bawa anak kicik. Kenyamanan BabyM adalah prioritas utama yang nggak bisa ditawar. Kalau dia anteng, kita meneruskan perjalanan. Tapi kalau dia rewel dan nggak sanggup, maka kita balik kanan. Bayarnya juga nanti disesuaikan dengan perjalanan. Okelah sepakat!

 

Saat mau berangkat dan diajakin naik motor, BabyM udah merengek, “Nggak mauuu (pergi), disini ajaaaaa….” Pengalamannya naik motor memang baru bisa dihitung jari. Tapi, memang di umurnya ini, dia udah bisa bilang ‘nggak mau’ atau bahkan ‘nggak suka’. Hih, gemes. Untungnya nggak perlu waktu lama untuk meyakinkannya. Setelah aku pakaikan gendongan boba, kami udah siap melaju!

UG31Markitgo!

 

Hanya satu kata menggambarkan perjalanan ke Pantai Ombak Tujuh: DAHSYAAAAAATTTTT!!! Perjalanan ini justru menjadi high-lite liburan kami! Naik motor hampir satu jam, offroad abis! Aku dan BabyM terlonjak-lonjak di atas jok motor. Kami masuk perkampungan, jalan setapak di tengah ladang-ladang, masuk kawasan hutan lindung (kenapa setiap dengat kata hutan lindung selalu ingat Unyil dan Pak Raden?!), dan melewati sungai-sungai yang airnya kering karena kemarau yang panjang. Ada kalanya kami harus turun dari motor karena jalan terlalu curam. Kepala, tangan dan terutama kaki entah berapa kali terlibas ranting. Segitu hebohnya di jalan, bagaimanakah BabyM? Dia TIDUR, sodara-sodara, ahahahha!

 

Menurutku, pakai ojek adalah pilihan yang tepat untuk pergi ke Pantai Ombak Tujuh. Kalaupun bisa naik motor sendiri, belum tentu juga bisa sepintar itu mengendalikan motor di medan yang menantang. Butuh skill dan jam terbang tinggi! Harga 150rb langsung dirasa terlalu sedikit, hahahah! Tapiiiii, kayaknya menurutku yang paling seru adalah kalau naik sepeda. Gaya ‘offroad’-nya dapet, tapi masih santai dan menikmati sekeliling dengan seksama. Kalau naik motor terlalu berisik. Kami sempat melihat burung sebesar ayam dan berekor panjang, tapi langsung kabur begitu dengar suara motor. Kalau naik sepeda, masih bisa berhenti dan menikmati hal-hal seperti itu. Nanti deh kesini lagi kalau BabyM sudah besar dan bisa naik sepeda, Aaamiinn!

UG32Awal perjalanan sih masih santai lah jalannya…

UG33Pemandangan yang bagus :’)

UG34Oke, perlu turun nggak nih, kang? Jembatannya mengkhawatirkan…

UG35Melewati salah satu sungai. Oke, fix. Kami turun aja ya kang 😀

UG36Ini juga sungai loh. Hiks, sungai kering kerontang begini karena kemarau. 

UG37Hegghhh… iyaahh.. silahkan kang! Kami jalan aja deh kalau tanjakannya sampe begini.

UG38

Oke, mungkin fotonya kurang mencerminkan medan yang ‘ganas’ 😀 Abisnyaaa… boro-boro motret yaaa, nggak jatuh dari motor aja kayaknya prestasi 😀

 

Satu jam bermotor, kami melihat pantai. Menurut Kang Ojek kami, di sepanjang pantai ini ada beberapa spot menarik. Ke kiri ada Ombak Tujuh, dan ke kanan ada Batu Keris. Yang paling dekat (karena udah kelihatan) adalah ke kanan. Batu keris ini semacam karang yang sangat besar, udah kayak lantai permanen. Kami jalan ke balik-balik karang, naik-turun bebatuan tajam, mengikuti jalur para pemancing, dan menemukan teluk kecil dengan pantai kecil yang cukup tersembunyi. Sebagian pantainya juga berpasir halus sehingga BabyM bisa main dengan bahagia. Ombaknya lumayan besar, jadi nggak bisa berenang, tapi (bapak-ibunya) main basah-basahan seru juga kok.

 

Kami memutuskan untuk menggelar tikar dan piknik disitu. This is our kind of beach. Sepi, teduh, private serasa milik sendiri, pasir halus, ombak asyik buat mainan dan tentunya, waktu yang tak terbatas buat main bersama. Kalau sudah ketemu spot asyik begini, kami jadi agak malas untuk menjelajah pantai lain. Yang penting kan hepi-hepinya. Ya nggak? Ya nggak? *naik-naikin alis*

 

Kami main sepuasnya sampai jam makan siang. Menyerok pasir, membuat kubangan, lari-lari pura-puranya dikejar ombak, lihat umang, mengumpulkan kerang dan karang. Kami memakan bekal roti yang dibawa pagi tadi dan tidur-tiduran santai. Sampai akhirnya BabyM merengek minta pulang: “Mau nenen di hotel ajaaaa….” Bahahahaha…. anakkuuuu. Ini gara-gara sering travelling dan pindah-pindah hotel, BabyM merasa semua hotel adalah miliknya 😀 Duh, mudah-mudahan nanti kita juga bisa punya hotel sendiri ya, Nak. It’s okay to dream big, hahahah! *Mohon AMIN yang banyak ya, kak :D*

 

UG39Yaaayy…! Sampai deh di pantainya! Oke, lalu mau kemana? Kiri Ombak Tujuh, Kanan Batu Keris

UG42Memutuskan untuk ke Batu Keris, yang sebenarnya adalah karang yang luas.

UG40Foto dulu deh, anaknya masih tidur 😀

UG41Ombak Tujuh itu yang disana,” kata guide kami.

UG46Kiri: Berjalan di atas karang. Kanan: Udah mau manjat-manjat aja nih, bangun tidur 😀

UG44Melihat-lihat sekeliling sebelum menentukan spot untuk piknik.

UG43Oke, piknik disini kayaknya pas. Serasa pantai punya sendiri 😀

UG45Hati-hati turunnya, Pak!

UG48Bapaakkk… ayo mainnn!

UG49Bapaaakkk… jangan main mulu, ayo makan 😀

UG47Makan siang seadanya :D. Kami nggak banyak foto-foto disini, soalnya kebanyakan main dan menikmati pantai, jadi males foto-foto hahahah!

 

Karena BabyM sudah sangat ingin pergi dari tempat itu dan tak bisa dirayu lagi, kami memutuskan untuk berbenah dan pergi. Kami mengisi pasir kedalam beberapa botol air mineral sebagai ‘oleh-oleh’ untuk mainan BabyM di rumah. Kang Ojek lalu bertanya apa kami masih mau ke Ombak Tujuh. Kalau hanya pantainya sih itu sudah kelihatan. Tipenya miriplah dengan Pantai Pangumbahan di belakang hotel kemarin, hanya saja ombaknya memang keren. Yang senang surfing pasti suka. Tapi, kalau mau melihat pemandangan yang lebih oke, motor parkir di pantai itu, lalu kita jalan sedikit menanjak sekitar setengah jam. Pengen sih lihatnya, tapi sepertinya BabyM terlalu gelisah dan kami pun sudah agak lelah. Belum lagi jalan pulang yang lumayan ekstrim. Mudah-mudahan bisa kesini lagi deh, kapan-kapan.

 

Jalan pulang kembali ajrut-ajrutan dan BabyM tidur lagi. Saat melewati lokasi Pantai Cibuaya, kami memutuskan berhenti sebentar, supaya nggak penasaran aja. Ternyata emang lagi panasssssss banget. Enaknya sih memang pagi atau sore disini untuk main pasir. Pasirnya halus banget dan luas seperti gurun. Tapi, tidak boleh berenang atau bahkan main di bibir pantai karena ombaknya berbahaya. Jadilah kami foto-foto sebentar dan meneruskan perjalanan pulang.

UG52Pantai Cibuaya, berasa gurun daripada pantai, hihihi…

UG50Peringatan *glek*

UG51Udah ah, pulang. Panas banget dan anaknya udah gelisah.

 

Sampai di penginapan, kami istirahat sejenak sebelum makan bareng Kang Ojek. Tadinya mau dilanjutin ke Amandaratu segala, tapi sudah gempor. Enough fun for today. Palingan kami mau main di pantai depan penginapan aja sore ini. Sebelum berpisah dengan Kang Ojek nan handal dan perkasa, kami menambah tip ekstra untuk mereka. Skill bermotor dan servis mereka layak mendapatkannya!

 

Usai makan, aku dan si Abang ngobrolin rencana selanjutnya: besok mau ngapain? Pulang? Atau gimana? Sesungguhnya, dua orang ini sangatlah bahagia sampe agak nggak rela buat pulang, hahaha! Kami melihat peta dan mengira-ngira jalur pulang. lalu teringat saran sesama traveller waktu check-out hotel kemarin, “Apa kita ke Sawarna dulu?” Jika kami pulang melewati jalur Barat, kami bisa bertemu pantai-pantai lain. Palabuhan Ratu, Sawarna, lalu naik terus hingga Anyer dan pulang lewat tol Cilegon. Rencana menyusur pantai ini terdengar SANGAT menarik! “Wah boleh juga,” timpal si Abang. “Kita mungkin bisa juga nih ke Ujung Kulon!”

 

Kyaaaaa! Mata berbinar-binar, hati deg-degan membayangkan petualangan selanjutnya. Pantai-pantai… kami datang! Tunggu kami ya!

 

UG53 UG54Sunset di pantai depan penginapan. Cantik ya…

 

***

 

PS: Itinerari perjalanan 12 hari Roadtrip Life is A Beach:

Rumah Cibubur – Sukabumi (2 hari) – Ujung Genteng (4 hari) – Sawarna (2 hari) – Ujung Kulon (3 hari) – Tanjung Lesung – Rumah Cibubur.

Day 1: Rumah – Sukabumi | Day 2: Selabintana, Sukabumi | Day 3: Sukabumi – Ujung Genteng | Day 4: Pantai Tenda Biru dan melepaskan tukik di Pangumbahan, Ujung Genteng | Day 5: Pantai Ombak Tujuh, Batu keris dan Cibuaya, Ujung Genteng | Day 6 : Amandaratu, Ujung Genteng | Day 7: Lima pantai di SawarnaDay 8: Perjalanan, Sawarna – Ujung Kulon | Day 9: Pulau Peucang, Ujung Kulon | Day 10: Cidaon, Ujung Kulon | Day 11: Karang Copong, Ujung Kulon | Day 12: Tanjung Lesung dan pulang…

Roadtrip Life is A Beach: Pantai Tenda Biru dan Pantai Pangumbahan

Day 4

 

Kami menghabiskan sepagian di Turtle Beach Hotel. Main di pantai, olahraga (cieee… yang lagi demen Freeletics… olahraga dimana aja nih yeee), sarapan, dan main di kolam renang. Walaupun pantainya banyak karang, suasananya cukup lumayan kok. Memang sih harus harus benar-benar milih spot yang nggak bikin kaki sakit. Tapi, selama hati hepi, pasti semuanya hepi-hepi aja deh kayaknya. Ya kaaaannn?

 

Check-out di hotel ini ternyata jam 11 siang. BabyM masih tidur pula. Jadilah, aku beres-beres kamar duluan, dengan harapan begitu dia bangun nanti kami bisa langsung pergi. Pas masuk-masukin barang ke mobil, kebetulan ada satu keluarga lain yang juga checkout. Ternyata mereka dari Bogor, hihihi. Ngobrol-ngobrol sebentar, kami sepakat pantainya agak kurang asyik buat main anak-anak. “Lebih seru di Sawarna, Mbak,” katanya. Wah, dimana itu? “Itu masih satu jam-an lagi dari Palabuhan Ratu. Tapi pantainya panjang. Bisa asyik main ombak. Bagus.” Oohh… kirain deket-deket sini, hihihi!

 

Setelah BabyM bangun, kami sebenarnya tidak tau mau kemana. Begitupun, kami sepakat untuk menginap satu hari lagi. Sebagian sih karena capek di jalan aja kalau mau langsung pulang. Jadi kami menyusuri saja jalan yang ada. Dari Pantai Pangumbahan tempat hotel kami berada, sampai ke ujung pantai Ujung Genteng dimana ada desa nelayan dan tempat pelelangan ikan.

 

Kami melihat nelayan memilah-milah dan menimbang ikan hasil tangkapan untuk dijual. Kami sempat berusaha bertanya itu ikan apa yang panjang-panjang. Niatnya supaya BabyM bisa belajar nama ikan langsung sama nelayan (latihan belajar ala unschooling nih, hehehe!). Tapi karena mereka juga sibuk sekali, pertanyaan kami dijawab lama dan sekenanya, “Ikan Golok.” Hehehe… ya tidak apa-apa. Mereka juga kan sedang bekerja. Begitupun, BabyM cukup terkesan dengan tempat pelelangan ikan itu. Hingga kami selesai liburan pun dia masih ingat ‘Ikan Golok’ (atau latinnya chirocentrus dorab).

UG01Main di pantai belakang hotel. 

UG02Gara-gara pasirnya yang banyak karang, Baby M jadi mau main di air, YAY!

UG03Cieee… yang lagi ber-Freletics-ria. Walaupun konstum kurang mendukung, yang penting olahraga ya jeung! Ho oh!

UG04Bye hotel! Sampai ketemu lagi!

UG05Ke perkampungan nelayan dan melihat Tempat Pelelangan Ikan.

UG06Pantai nelayan Ujung Genteng dekat Tempat pelelangan Ikan. Anginyaaaaa… kenceng banget dah!

 

 

Pantai Tenda Biru

Setelah sholat Dhuhur di masjid kecil di desa nelayan itu, kami berniat untuk mencari penginapan. Di sepanjang jalan yang kami lalui tadi banyak homestay, dan ada beberapa yang terlihat cukup lumayan. Jadi kami tidak terlalu khawatir harus buru-buru. Tapi tiba-tiba ada yang menarik perhatian kami. Ada sebuah tanda bertuliskan “Pantai Tenda Biru” tapi tanda panah menunjukkan sebuah hutan. Wah apa ini?

 

Setelah tanya-tanya, hutan itu adalah area tempat latihan perang Angkatan Laut. Untuk mencapai pantainya, ya kita masuk hutan itu. Tapi tenang aja, mobil bisa masuk kok. Hanya saja memang dipungut retribusi untuk masuknya. Nggak banyak kok, limaribu perak doang. Waktu masuk, kami sempet khawatir juga dan bertanya ke bapak penjaga berkaos tentara, “Nggak ada yang sedang latihan perang kan, Pak?” Bapaknya senyum, “Nggak adalah, nanti itu latihannya. Bulan April Mei, gitu biasanya.” Oohh… kirain, ‘nanti’-nya itu nanti sorean dikit. Ya bisa panik juga kalau lagi main pasir ada suara tembakan. (Yaelah, din!)

 

Mobil kami masuk hutan dan kami kegirangan. Sudah lama sekali rasanya kami tidak masuk hutan dan lihat segitu banyak pohon, hahaha! Dengan medan yang nggak terlalu berat, kami tersadar bahwa BabyM sepertinya sudah mulai bisa kami ajak ke tempat-tempat yang lebih alami dan adventurous, nggak cuma ke resort-resort cantik dan ‘baby-friendly’ (itu sih ibunya juga kali!). Tapi tak berapa lama kemudian… BabyM mulai gelisah, hahahah! “Mau hotel ajaaaa….” katanya sambil merengek. Bahahahaha! Adventurous sebelah manaaaaa!

 

Kami berusaha mengalihkan perhatian BabyM. Tak sampai sepuluh menit menyetir dalam hutan itu, akhirnya kami tiba di pantainya dan memarkir mobil. Ternyata, pantainya juga banyak karang. Sepertinya, ciri khas pantai Ujung Genteng ini memang begini ya. Karangnya membentuk semacam lantai sehingga kita bisa jalan lumayan jauh ke tengah karena airnya cetek. Ombak pun hampir tidak ada di pinggirnya. Tapi, memang harus pakai sandal kalau tidak mau kakinya sakit.

 

BabyM sama sekali tidak tertarik untuk berpanas-panas ria di pantai yang pasirnya juga tidak bisa dimainin sama dia. Tengah hari bolong, panasnya memang terik banget. Sudah berkali-kali dia bilang mau balik ke hotel aja. Ya sudahlah, kita foto-foto aja sebentar abis itu langsung cari penginapan. Eehh.. ternyata, pas foto-foto di pohon dia malah senang! Dia manjat-manjat dahan dengan bahagia. Akhirnya kami nggak main di pantai sama sekali, dan main di pohon-pohon aja.

 

Setelah satu jam lebih main, kami pun keluar dari area Pantai Tenda Biru untuk mencari penginapan. Ternyata beberapa hotel yang kami datangi di sekitar pantai Ujung Genteng sudah penuh karena hari itu memang hari Sabtu, jadi lumayan banyak wisatawan yang datang. Dari hasil browsing-browsing sebelumnya, akhirnya kami menelepon Penginapan Pondok Alief. Ternyata letaknya malah di Pantai Pangumbahan, dekat Turtle Beach Hotel. BabyM langsung girang bertemu ‘hotel’. Dia langsung masuk kamar dan gogoleran.

 

Penginapan ini lumayan menyenangkan. Kamarnya cukup luas (3x5m) dan areanya juga luas untuk ukuran homestay. Dari gerbang depan, menyebrang jalan raya, sudah langsung pantai (yang tentunya berkarang juga). Tak hanya itu, Pondok Alief ini juga punya restoran. Kami memesan makan siang disini juga: Ikan bakar dan tumis kangkung (lagi! Hahahha).

 

UG07Wiiii…. hutaaaan!

UG08Sepuluh menit bermobil dalam hutan lalu pantainya sudah kelihatan.

UG10Nggak tega mau foto dekat air. Panasnya ampun!

UG30 Pantai Tenda Biru, pasir dengan banyak karang.

UG11Ada yang senang banget manjat pohon!

UG12 UG13Lalu kami pun juga ikutan main di pohon, hahahha! Udah lama nggak manjat-manjat 😀

UG14Begitu sampe penginapan Pondok Alief, BabyM udah berasa pulang ke rumah 😀 

 

 

Pelepasan Tukik di Pantai Pangumbahan

 

Sambil makan, kami ngobrol dengan penjaganya. Dia juga dengan baik hati menawarkan untuk mengantar kami melihat pelepasan tukik (anak penyu). Berangkatnya paling telat jam setengah lima sore. Kami tentunya mengiyakan tawaran itu. Selesai makan dan istirahat sebentar, kami berangkat dipandu oleh motor. Sekitar setengah jam melewati jalan yang lumayan berbatu, kami tiba di pusat konservasi penyu yang letaknya di Pantai Pangumbahan. Kami membayar tiket dan masuk ke lokasi yang juga terdapat bangunan kantor, perumahan pegawai dan fasilitas lain seperti mushola dan aula.

 

Kami langsung masuk dan melihat lapangan pasir tempat penetasan penyu yang semi-alami. Ada banyak lingkaran berpagar kawat dengan tanggal dan angka-angka. Tidak ada petunjuk apapun soal ini. Kami hanya mendatangi orang yang berkerumun, bertanya-tanya pada pengunjung lain, sebenernya sedang lihat apa?

 

Dari pengunjung yang kebetulan mendengar penjelasan dari guide sebuah rombongan yang datang sebelumnya, kami mendapat sedikit informasi. Jadi, para ibu penyu datang ke pantai ini malam-malam dan bertelur. Setelah ibu penyu menguburkan telur-telurnya dalam pasir, ia kembali lagi ke laut. Nah, kemudian petugas menggali lagi telur yang dikubur si ibu penyu, untuk dipindahkan ke tempat penetasan yang lebih aman yaitu lapangan pasir ini. Tidak lupa, diberi keterangan tanggal dan jumlah telurnya.

 

Kalau telur-telur ini mau menetas, pasir diatasnya akan terlihat ambles secara perlahan. Tak berapa lama, tadaaaaa… muncullah si baby penyu! Setiap hari, saat matahari tenggelam, baby penyu atau tukik ini dikumpulkan oleh petugas dan dilepaskan di pantai, sehingga mereka bisa berenang sendiri ke laut. Kami sempat melihat seekor baby penyu keluar dari pasir, dan rasanya luar biasa! Jadi ingat waktu BabyM lahir ke dunia, hihihih! Oh iya, jangan salah ya. Ini penyu, bukan kura-kura. Gampangnya, kura-kura itu punya kuku, kalau penyu tidak.

 

Menjelang sunset, kami berjalan ke arah pantai tempat pelepasan. Dan ternyataaaaa… pantainya menyenangkan sekali! Tidak ada karang dan pasirnya halus! BabyM langsung girang ketemu pantai yang beneran bisa buat main. Langsung deh dia lepas sepatu, lari-lari dan main pasir dengan bahagia. Aku dan Abang juga ikutan senang lihat dia main. Apalagi pemandangannya ada sunset yang bagus, jadi berasa kayak di iklan-iklan pasangan romantis gitu hahahah! Bagitupun, di area pantai sini tidak boleh berenang. Main air dikit-dikit boleh lah sekedar cuci kaki. Tapi kalau berenang memang dilarang karena ombaknya lumayan besar.

 

Tak lama, dua orang petugas datang dengan sebuah ember dan menyuruh pengunjung berkumpul. Sontak semuanya berkerumun di tepian garis batas yang memang sudah disiapkan. Lalu, mereka berkeliling, memperlihatkan ember yang berisi sekitar 50 tukik kepada semua pengunjung. Tenang, semuanya kebagian melihat isi ember kok, jadi nggak perlu sikut-sikutan. Selesai diperlihatkan, ember kemudian diletakkan di pasir dan perlahan digulingkan seperti roda. Tukik-tukik kecil itu keluar dari ember dan berjalan mengarah ke laut! Mungkin seperti bayi manusia yang langsung tau dimana letak puting ibu, bayi tukik juga punya insting untuk langsung berjalan ke “rumahnya”.

 

Melihat mahluk yang begitu kecil dan ringkih berjuang terseok-seok itu bikin terharuuuuuu! Belum lagi kalau ombak datang. Mereka terguling dan terlempar jauh, harus berusaha dari awal lagi. Para pengunjung juga ikutan emosional melihat perjuangan mereka yang berat. Tapi, ya mereka memang harus bisa sendiri, tidak bisa dibantu. Ombak, adalah proses mereka belajar. Tidak menyenangkan, tapi justru itu yang membuat mereka kuat. Dan 30 tahun lagi, jika mereka masih hidup dan sehat, tukik-tukik ini akan kembali ke pantai ini, untuk bertelur. Amazing. This is nature, reminding me to learn and gain wisdom from hardship. *usap air mata haru*

 

Setelah semua tukik berhasil ke laut, aku mengajak BabyM bercakap-cakap dengan salah satu staf konservasi yang ada disitu, Pak Ujang namanya. Menurut beliau, di sepanjang pantai pasir putih di Pantai Pangumbahan ini – sekitar 2,3km – ada 6 pos yang memantau kedatangan penyu tiap hari. Di bulan Agustus sampai Desember, tiap hari hampir selalu ada penyu yang bertelur disini. Kebanyakan adalah Penyu Hijau (chelonia mydas). Dulu, kata Pak Ujang, ada beberapa jenis penyu lain, termasuk Penyu Belimbing (dermochelys coriacea). Tapi sekarang sudah tidak tampak lagi. Mungkin sih mereka mencari tempat bertelur di daerah lain yang lebih sepi. Mudah-mudahan mereka masih punya tempat yang baik untuk berkembang biak yaaaa.

 

Kami kembali ke penginapan dengan hati senang. “Bye bye baby penyu,” kata BabyM saat kami meninggalkan pantai. Yay! BabyM punya kosakata baru lagi, ‘penyu’! Aahh, hari yang menyenangkan!

 

UG15Lapangan pasir tempat penetasan telur penyu. Kalau cuma lihat begini doang tanpa keterangan, bingung juga kan ya?

UG16Kiri: Dalam pagar kawat ini ada telur penyu. Keterangannya adalah nomor urut, tanggal ibu penyu bertelur, dan jumlah telurnya. Kalau sudah mau menetas, pasirnya akan mulai ambles (kelihatan tidak?). Kanan: Yaaayy, baby penyu mulai muncul! Welcome to the world!

UG17Jalan menuju pantai untuk melepaskan baby penyu.

UG18Baca baik-baik ya, tanda-tandanya!

UG19Nggak bisa liat pasir halus dikit, bawaannya udah mau gogoleran aja 😀

UG21Sunset yang cantik dan ehm, romantis 😛

UG22 Karena anaknya heboh main sendiri, Bapak-Ibu pacaran, eh, wefie dulu yaaa…

UG24Pas enak-enak liat sunset, tiba-tiba staf konservasi datang dan dalam hitungan detik semua orang berlarian dan berkerumun!

UG23 Kiri: Staf konservasi bersiap menjelaskan siklus hidup penyu. Kanan: Baby penyu diperlihatkan kepada semua pengunjung.

UG25Wiiiii….

UG26Ember digelindingkan dan baby penyu berjatuhan ke pasir.

UG27“Heii… lihat itu baby penyunya jalan,” kata Bapak ke BabyM.

UG28Baby penyu berjuang menuju laut dan kadang-kadang kena ombak lalu terhuling :_(

UG29Bye bye baby penyu… sehat-sehat sampai kembali 30 tahun lagi untuk bertelur disini yaaa…

 

***

 

PS: Itinerari perjalanan 12 hari Roadtrip Life is A Beach:

Rumah Cibubur – Sukabumi (2 hari) – Ujung Genteng (4 hari) – Sawarna (2 hari) – Ujung Kulon (3 hari) – Tanjung Lesung – Rumah Cibubur.

Day 1: Rumah – Sukabumi | Day 2: Selabintana, Sukabumi | Day 3: Sukabumi – Ujung Genteng | Day 4: Pantai Tenda Biru dan melepaskan tukik di Pangumbahan, Ujung Genteng | Day 5: Pantai Ombak Tujuh, Batu keris dan Cibuaya, Ujung Genteng | Day 6 : Amandaratu, Ujung Genteng | Day 7: Lima pantai di SawarnaDay 8: Perjalanan, Sawarna – Ujung Kulon | Day 9: Pulau Peucang, Ujung Kulon | Day 10: Cidaon, Ujung Kulon | Day 11: Karang Copong, Ujung Kulon | Day 12: Tanjung Lesung dan pulang…